[SEDANG HIATUS!]
Diana Xylaria, Gadis cantik yang ceria dan optimis, ternyata ada rahasia besar tentang dirinya yang bahkan dia tidak tau.
Hidupnya yang biasa saja tiba tiba terusik karena pertemuannya dengan CEO dari sebuah perusahaan besar, Rylan Axelion. Namun sayang, keduanya bahkan tak ingat telah menghabiskan malam bersama.
Ditengah badai perebutan kekuasaan di keluarga Rylan, serta tentangan dari wanita yang berkuasa, Rylan dan Diana harus terus berjuang agar bisa bersama.
Akankah mereka bisa bersama?
Dan Apa sebenarnya Rahasia kelam Diana?
Simak ceritanya di sini.
ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩـ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
「 ✦ UPDATE SENIN DAN KAMIS ✦ 」
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Aku termenung dalam taxi, memandang malam yang sunyi, tanpa cahaya purnama.
Aku tau ada sesuatu yang tidak beres disini. Firasatku bilang begitu. Dan, aku selalu belajar untuk percaya padanya.
Itu seperti tangan yang menarik aku keluar dari jurang kegelapan, seperti angin semilir yang mendorongku bertindak, atau bahkan seperti batu berat yang membuat aku tenggelam.
Taxi bergerak semakin cepat, menyusuri kota yang belum sepenuhnya aku kenal, yang setiap cahaya-nya terasa asing.
Perlahan, Taxi itu berhenti tepat di depan rumah sakit besar. Aku melangkah turun, menjejak permukaan tanah yang berbatu.
Ketika aku masuk, bau obat obatan memenuhi hidung dan seluruh pikiranku. Nuansa putih membuat mataku tenang.
Aku segera pergi ke ruang psikologis, dituntun oleh seorang perawat. Ketika aku membuka pintu, seorang dokter paruh baya tersenyum lembut padaku.
"Diana Xylaria, kan? Ayo, silahkan duduk."
Aku duduk di kursi. Menatap mata dokter itu.
"boleh sampaikan keluhanmu?" Dokter itu mengeluarkan pen, siap mencatat.
"Dulu, aku pernah di diagnosa lupa ingatan jangka pendek. Dan aku merasa sepertinya akhir akhir ini jadi lebih sering terjadi, lupa ingatan."
"boleh ceritakan spesifik, situasi saat kau lupa?"
"Rasanya nafasku berat, pandangan mulai kabur, dan ketika aku buka mata lagi, aku melupakan sesuatu."
"oke. Teruskan."
"aku juga kadang kadang bermimpi, atau mungkin terbayang, sesuatu yang aku lakukan ketika aku lupa."
Aku berpikir sebentar.
"Lalu, aku sering mimpi buruk, namun tidak ingat itu mimpi apa."
Dokter itu mengerutkan alisnya.
"mimpi buruk, tapi tidak tau itu mimpi apa? Jadi bagaimana kau bisa yakin bahwa itu adalah mimpi buruk?"
"Entahlah. Firasat kurasa."
"hm... Apa ada faktor pemicu kau lupa ingatan? Seperti setiap kali kau lewati suatu tempat, kau pasti akan lupa."
"aku tidak yakin ...."
Mataku terpejam sebentar. Jika aku melihat Calantha, aku lupa. Tapi itu baru terjadi sekali.
"aku rasa, setiap kali aku merasa khawatir, atau keselamatanku terancam, aku akan lupa." jawabku pelan.
"Oke.. Nah Diana, dari penjelasanmu, ada dua kemungkinan."
"yang pertama, lupa ingatan jangka pendek. Mungkin kau sudah pernah dijelaskan soal ini. Kau akan melupakan sesuatu, apalagi yang tak ingin kau ingat."
"yang kedua lebih serius. Dissociative Identity Disorder, atau lebih dikenal dengan sebutan Kepribadian ganda."
Aku sedikit tersentak saat mendengar yang kedua. Entah kenapa, jantungku berdebar cepat, antara antusias atau khawatir. Dua perasaan itu bercampur jadi satu.
"kepribadian ganda juga membuatmu lupa jika sang alter terbangun dan mengambil alih tubuh. Pemicunya Trauma, atau bisa juga perlindungan."
Aku mengernyit bingung.
"perlindungan?"
"ya, ada beberapa kasus dimana alter bangun untuk melindungi, seperti buff bertahan hidup pasif. Kepribadian utama tidak sadar, tapi dia selamat."
"baik dokter. Aku mengerti. Jadi kasus ku termasuk apa?"
"untuk saat ini, aku belum bisa memastikan. Bisa jadi yang pertama, atau kedua, atau bahkan dua duanya."
"saran dariku, segera bertemu denganku lagi saat kau lupa, dan ceritakan secara rinci. Selain itu, jangan sampai terlalu stress, perhatikan juga kesehatanmu."
"baik dokter, terima kasih." Aku berdiri, membungkuk sekali, lalu keluar ruangan.
Aku berdiri diam menatap pintu rumah sakit. Lupa ingatan, atau malah Kepribadian ganda?
Aku berjalan keluar, tidak sadar ada seseorang yang memanggilku, sampai dia menepuk bahuku.
"Tuan Gavin?"
"maaf, aku membuatmu terkejut. Kau mau pulang kemana? Biar aku yang antar."
"tidak apa apa tuan, aku pulang naik taksi."
"tidak masalah Diana, sudah malam. Tidak aman."
Aku berpikir sejenak. Baiklah, ikut saja.
"terima kasih tuan Gavin."
Dia masuk ke dalam mobil, mulai menyalakan mesin dan jalan.
"tak perlu sungkan. Lain kali jangan panggil aku tuan lagi. Aku rasa kita seumuran."
"tapi, sulit untuk mengubah kebiasaan. Itu adalah ungkapan hormat dariku."
"yah.. Terserah kau saja Diana. Aku juga tak bisa memaksamu. Omong omong, kau tinggal dimana?"
"aku, di hotel The Aethel."
"kau belum tinggal di sebuah rumah?"
"belum tuan. Aku memang ada rencana untuk pindah, tapi belum tau kemana."
Tuan Gavin terdiam sejenak.
"aku punya seorang kenalan yang mengelola bisnis perumahan. Mungkin ada beberapa yang cocok untukmu. Jika boleh, aku akan kirim file data rumah rumah itu, biar kau pilih mana yang cocok."
Wah, sungguh. Ini adalah kabar baik.
"terima kasih tuan."
Sisa sisa perjalanan diisi oleh beberapa percakapan ringan. Dan tidak terasa, aku sudah sampai ke tujuanku.
"Terima kasih atas tumpangannya tuan."
"sama sama. Aku pulang dulu. Jaga dirimu."
Aku tersipu ketika kalimat terakhir diucapkan. Untung saja Tuan Gavin sudah tancap gas dan pergi.
Aku naik, dan segera masuk ke kamarku. Kepalaku berputar lagi, mengenai percakapan dengan dokter.
Jika itu memang kepribadian ganda, harus ada yang mengenalku ketika aku lupa.
Apakah sikapku berbeda saat itu?
Orang yang aku tau hanya ... Calantha dan CEO Rylan. Tidak mungkin aku bertanya pada Calantha. Maka alternatif yang tersisa hanya CEO Rylan.
Mungkin besok, ketika aku masuk kerja, aku akan menanyakannya.
...****************...
Gadis itu duduk di depan meja rias yang dipenuhi aneka ragam kosmetik.
"berpikir sebagai seorang Vixen. Jika ada musuh, lenyapkan sampai ke akar akarnya."
Calantha mengetuk ngetuk mejanya dengan kuku panjangnya. Matanya tajam melihat bayangan dirinya dalam cermin.
"Diana memegang kelemahanku. Aku juga harus pegang kelemahannya. Apa itu?"
"mungkin, seseorang yang punya dendam atau kebencian besar padanya. Atau rahasia kelam yang tak ingin diungkapkan pada siapapun."
"kalau begitu, aku harus menyelidiki hidupnya, dari dia lahir sampai sekarang. Siapa yang dulu pernah berhubungan dengan dia."
"untuk saat ini, biarkan dia bahagia. Tapi, ketika dia jatuh nanti, dia akan menangis, memohon ampun padaku."
Calantha tersenyum puas. Dia menunjuk cermin, berbicara sendiri.
"Pintar. Kau adalah Vixen paling pintar yang pernah dilahirkan di muka bumi ini, Calantha."
"dan sekarang, mari kita hubungi Rylan."
...----------------...
Rylan duduk menikmati makan malamnya di dapur. Kelihatannya tenang seperti permukaan air, tapi pikirannya kacau seperti benang kusut.
Tentang tanggung jawab yang dia sendiri tidak tau apakah harus dipenuhi atau tidak.
'malam itu, yang bersamaku adalah Xena, bukan Diana. Kalau aku tanggung jawab pada Xena, otomatis itu adalah Diana juga.'
'bagaimana jika Diana menganggap aku gila?'
Pikiran tentang tanggung jawab terus mengganggunya, dan sekarang gangguan pikirannya bertambah satu. Ponselnya berdering pelan, menampilkan Nama Calantha sebagai penelepon.
walaupun kepribadian xena kuat dan bisa diandelin, tapi bisa nyelakain kamu juga kalo gak terkendali 😖