Galaxy Adhitama, cowok manja dan posesif, membangun rumah tangga dengan sahabatnya sendiri—Davina Brawijaya, perempuan penyabar dengan hati selembut salju dan kesabaran setebal kamus.
Awalnya, pernikahan mereka terlihat manis dan harmonis. Tapi semuanya mulai berubah sejak Galaxy mengenal Athar Diaskara, CEO muda tempat Davina bekerja.
Athar yang terlihat tengil, royal, dan ugal-ugalan, ternyata menyimpan rasa pada Davina. Hal itu membuat Galaxy makin cemas dan terus dihantui rasa takut kehilangan.
Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan rumah tangga mereka?
Atau justru rasa cemburu yang akan menghancurkannya perlahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tanzila mutiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22 [revenge]
Malam yang kelam, Terlihat Darra sedang berjalan menuju suatu tempat. Dengan ekspresi datar dan langkah yang terburu-buru, ia menyeret koper yang berisi barang-barang penting yang ada di kost nya.
Tak lama kemudian, akhirnya Darra tiba di tempat tujuan.
Ia yang berdiri di depan pintu, mengetuk cukup keras pintu tersebut. tak lama setelah itu, seseorang pun membuka pintu.
"Siapa sih, ganggu aja malem malem!" Marah seorang wanita yang membuka pintu, wanita itu adalah pemilik kost.
Setelah si pemilik kost membuka pintu, tanpa banyak omong Darra langsung melemparkan segepok uang ke hadapan si pemilik kost.
Pemilik kost itu terkejut dan terdiam sejenak. Lalu, dengan cepat tangannya mengambil uang itu sambil menatap Darra dengan ekspresi tak percaya.
"Kamu gak nyuri kan?" tanya si pemilik kost, sembari menunjukkan segepok uang yang tadi Darra lempar.
Mendengar itu, Darra hanya diam, ekspresinya datar, tapi tatapan tajam seakan ingin menelan si pemilik kost hidup-hidup.
"Atau jangan jangan, kamu beneran jadi simpenan sugar daddy? makanya selalu pulang pagi, iya kan?" Tuduh si pemilik kost yang curiga karena Darra selalu pulang pagi akhir-akhir ini.
Plak!
Lima jari Darra membekas di pipi bulat si pemilik kost. Akhirnya, keinginan Darra menampar pipi bulat si pemilik kost bisa terwujudkan malam itu.
"Kurang ngajar–" Baru saja si pemilik kost ingin balas menampar, sudah keduluan di tampar lagi oleh Darra.
Yang tadinya hanya pipi kanan yang memerah. kini, pipi kiri si pemilik kost juga memerah di tampar Darra.
"Sudah, diam lah. Ambil saja uang itu, dan urus kost tua mu Itu!" ketus Darra sembari melemparkan kunci kost nya pada si pemilik kost. Lalu, berjalan pergi sambil menyeret kopernya.
Dari kejauhan, terlihat seorang pria yang sedari tadi memperhatikan mereka. ia tersenyum smirk setelah melihat Darra bejalan pergi dari rumah si pemilik kost.
"Hem ... kurang memuaskan. Apa aku saja yang menyelesaikan nya?" tanyanya pada diri sendiri.
Setelah membayar uang kost, Darra langsung pergi menghampiri mobil yang menunggu nya sedari tadi.
Melihat kedatangan Darra, seorang pria tampan berkemeja hitam keluar dari dalam mobil.
"Sudah semua?" tanyanya sembari membukakan bagasi mobil.
"Sudah," jawab Darra sembari mengangguk kecil dan meletakkan kopernya kedalam bagasi mobil.
Mendengar itu, pria tersebut hanya tersenyum kecil sembari menutup bagasinya. Setelah itu, mereka berdua pun masuk ke dalam mobil, lalu pergi entah kemana.
Beberapa hari yang lalu...
Darra terlihat sedang bejalan sendirian di lorong yang sepi dan juga gelap. Raut wajah nya sedih, pikiran nya kacau, dan langkah kaki nya terus berjalan tanpa ada arah tujuan.
Saat Darra berjalan belok ke lorong kiri, ia tak sengaja menyenggol bahu seorang pria bertubuh besar yang terlihat seperti sedang mabuk.
Tanpa rasa perduli, Darra terus melanjutkan jalannya. Si pria yang di senggol awalnya ingin marah. Namun, saat melihat wajah Darra yang cantik jelita membuat dirinya tergoda.
Dengan berani, pria itu pun langsung menarik dan menggenggam kuat pergelangan tangan Darra. Darra yang tersadar akan bahaya, berusaha melepaskan tangan pria itu darinya.
Tapi sayangnya, tenaganya kalah kuat. Pria itu benar-benar sekuat tenaga menggenggam tangan Darra.
"Hey cantik, mau kemana?" tanya pria itu dengan suara beratnya, sembari terus menatap bibir Darra.
"Lepasin!!" teriak Darra sembari terus berusaha melepaskan genggaman pria asing itu.
"Sudahi buang-buang waktu, baby. Ayo kita senang-senang malam ini," ajak pria tersebut sembari menarik tangan Darra untuk pergi bersamanya.
"Tolong ... Tolong ...Tolong aku!!" teriak Darra minta tolong.
"Teriak lah sepuas mu, tidak ada orang lain di sini." Pria tersebut pun dengan tenang terus menarik tangan Darra. Namun, tiba-tiba ia mendapat hantaman di wajah nya hingga membuatnya tersungkur ke tanah.
Melihat ada orang lain yang menolong nya, Darra langsung berlari—bersembunyi di belakang orang tersebut.
"Sialan! Beraninya kau ikut campur urusan ku!!" Marah Pria itu sembari berdiri dan berjalan mendekati orang yang menghantam wajahnya.
Orang tersebut hanya diam sembari menatap datar pria asing itu.
"Apa kau sudah bosan hidup ha?!" tanya pria tersebut sembari menatap tajam orang itu.
"Pergi, biar aku yang urus," ucapnya pelan seperti berbisik.
Darra yang mendengar itu, berusaha percaya pada orang tersebut. Lalu, ia pun berlari dengan kencang–menjauh dari sana.
"ARGHH ... anj**!!" Pria tersebut terlihat sangat kesal, ia mengacak-acak rambutnya—frustasi.
Pria itu yang kesal langsung mengayunkan tangannya untuk memukul wajah orang yang mengganggunya.
Tapi, dengan kecepatan kilat, orang itu langsung manahan tangan si pria. Lalu, ia memelintirkan nya ke belakang.
"AAARGH!!" teriaknya kesakitan, sambil tangan kirinya berusaha melepaskan tangan kanannya yang di pelintir kebelakang.
"Pergi atau lengan mu ku patahkan." Ancamnya dengan suara pelan namun penuh tekanan. Membuat pria asing itu merinding ketakutan.
"I-iya iya, saya pergi. To-tolong lepaskan tangan saya, saya mohon." Gagap si pria.
Mendengar ucapan si pria, orang itu pun hanya diam sambil melepaskan tangan si pria. Lalu pergi begitu saja, meninggalkan si pria yang mengelus lengannya yang sakit.
Darra yang sedari tadi memperhatikan mereka dari jauh. Tiba-tiba di buat kaget oleh bayangan seorang pria di belakang punggung nya. Saat ia menoleh, ternyata pria tersebut ialah orang yang menolongnya tadi. Pria itu terlihat dingin dan misterius.
"Terima kasih sudah membantu," ucap Darra berterima kasih.
"Kamu Darra kan?" tanya nya dengan ekspresi wajah datar.
"Kok tau?" Darra balik bertanya, ia heran pada pria tersebut. Bagaimana bisa ia tahu nama Darra.
"Aku Damar, kakak tingkat mu waktu SD." Beri tau nya, membuat Darra mengingat-ingat nama itu. Dan tak lama setelahnya, Darra pun ingat dengan kakak kelas yang menolong nya saat masih SD.
"Kamu yang menolong ku di sungai kah?" tanya Darra yang ingin memastikan.
"Iya," jawabnya singkat.
"Astaga, lagi lagi kamu menolong ku. Maaf kalau aku merepotkan," ucap Darra sembari menundukkan kepalanya.
"Apa dunia mu sangat kejam? Apa yang kamu pikirkan? Bunuh diri lagi?" tanya Damar bertubi-tubi, membuat emosi Darra kembali naik karena mengingat ucapan pemilik kost.
"Gak ... aku belum mau mati sebelum menyelesaikan urusan ku dengan wanita gila itu," jawab Darra dengan emosi yang menggebu-gebu, ia tak terima dengan ucapan si pemilik kost saat itu.
Melihat Amarah Darra yang begitu besar, Damar tersenyum smirk. Entah apa yang ada di pikiran nya, ia seakan bahagia melihat seseorang yang menyimpan dendam begitu dalam.
"Mau ku bantu?" tanya Damar dengan raut wajah datar. Tapi, matanya seperti sedang
Menikmati permainan yang hanya dia pahami.
...( ◜‿◝ )...
...🙌🏻 see you in the next chapter 🙌🏻...
Penulisannya pun aku suka. Bagus dan rapi. Setiap kata-katanya penuh makna dan ngena🥰❤❤
Terkhususnya untuk tokoh utama Galaxy dan Davina. Suka hubungan mereka yang adem ayem dan tidak banyak pertengkaran, karena dewasanya pemikiran Davina, walau Galaxy nya yang kadang-kadang kayak bocah🤭😂😂
Pokoknya semangat untuk Kakak. Semangat untuk nulisnya dan sukses selalu💪🥰🥰😘😘😘❤