NovelToon NovelToon
Ha Tan Wa

Ha Tan Wa

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Romansa Fantasi
Popularitas:458.5k
Nilai: 5
Nama Author: Si_Ro

*Harta Tahta dan Wanita*
Prekuel dari novel 'Kutumbalkan Tubuhku'

Laras tidak pernah menduga, kalau semua kekayaan yang dia nikmati selama ini, didapat dengan cara paling laknat.

Sang suami tidak pernah mau bercerita banyak tentang pekerjaanya, walau dipaksa.

Hingga suatu malam...

Dengan mata dan kepalanya sendiri, Laras melihat sang suami tercinta masuk ke dalam satu-satunya kamar, yang sangat terlarang bagi semua penghuni rumah. Termasuk dirinya, tentu. Tubuh Laras langsung bergetar hebat, ketika dia berhasil mencuri lihat isi didalamnya, melalui lubang kunci.

Dan sejak malam itu, Laras bisa menebak apa yang telah dilakukan oleh suaminya untuk mendapatkan semua kemewahan.

Keadaan semakin rumit, saat Laras mengetahui kalau di dalam rahimnya telah tumbuh benih cinta. Dia tidak mau kejadian lalu terulang, lagi. Cukup satu kali saja.

Laras tidak akan rela, kalau sang calon jabang bayi yang masih sucinya, ikut menanggung dosa. Lalu, langkah seperti apa yang akhirnya akan diambil oleh Laras?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si_Ro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HTW 22

Masih Tyo atau Bram POV

/***/***/***/***/***/***/***/***/***/

Aku hanya mampu mendesah, karena lagi-lagi harus terbangun dalam keadaan terikat. Ada jarum infus yang kembali menembus kulit punggung tanganku, dan menyalurkan isi botol yang tergantung di tiang samping ranjang.

“Syukurlah kamu sudah bangun, Nak.”

Perkataan Ayah yang berbalut kekhawatiran adalah suara pertama yang aku dengar, begitu membuka mata.

Seorang dokter memeriksa keadaanku dengan teliti, di bantu oleh perawat yang sepertinya mencatat perkembangan kesehatanku.

“Bagaimana, Dok?” Tanya Ayah pada Dokter, sembari menggenggam tanganku.

“Kondisinya sudah mulai membaik, Tuan Besar. Kita hanya perlu memastikan kalau jarum ini tidak terlepas lagi. Karena kalau tidak, terpaksa anak anda harus segera saya bawa ke Rumah Sakit. Hanya jarum ini satu-satunya alat yang bisa membantu untuk menyalurkan nutrisi, karena anak anda tidak makan sama sekali.”

Setelah mengerti dengan penjelasan dari Dokter, aku bisa mendengar helaan nafas lega dari Ayah.

“Sejak kemarin, handphone milikmu terus bergetar dan berdering. Ayah tidak tahu harus menjawab apa, jadi Ayah tidak berani mengangkat beberapa panggilan dari Nuri.”

Ayah membuka obrolan begitu Dokter dan perawat sudah meninggalkan kami berdua. Kemudian beliau kembali menundukkan kepalanya cukup lama. Sosok yang biasanya sangat berwibawa dan juga tegas, hari ini terlihat begitu lesu.

“Tapi… tadi Ayah sempat membaca salah satu pesan yang dikirim oleh Adikmu. Dan sepertinya dia sangat marah, karena bulan ini kamu belum mengunjunginya.”

Meski tubuhku masih sangat lemah, tapi aku mencoba mencerna ucapan Ayah. Adik? Ah benar, aku punya adik. Si Cempreng.

Ayah merogoh saku celana, lalu menyodorkan sebuah gawai. Tapi karena aku terlalu malas untuk mengulurkan tangan, akhirnya Ayah hanya meletakkan gawai itu di samping bantal.

“Segeralah memberi kabar! Jangan membuat Ibu dan Adikmu semakin membenci Ayah, karena menganggap Ayah melarangmu berhubungan dengan mereka.”

Tunggu dulu!

Ibu?

Aku masih punya Ibu?

Bagaimana bisa, aku lupa kalau masih memiliki Ibu dan Adik yang selalu menungguku datang? Bagaimana bisa, aku lupa akan keberadaan mereka?

Buru-buru, aku menyambar gawai dengan tangan gemetar. Rasanya sudah sangat lama, aku tidak menyentuh benda canggih itu. Benda yang biasanya selalu aku bawa kemana pun aku pergi.

Mengingat sosok Ibu dan Nuri, tiba-tiba air mataku mengalir tanpa permisi. “Ibu… maafkan Tyo,” batinku.

Ayah mulai beranjak dari kursi yang berada di samping ranjang. Seolah memberikan aku waktu untuk sendiri. Waktu untuk meluapkan beban hati yang selama ini aku simpan, lalu mencoba berpikir dengan tenang.

Namun sebelum menyentuh pegangan pintu, langkah Ayah terhenti dan berucap tanpa berbalik badan. “Ayah tidak tahu, kalau kamu sudah punya kekasih. Tapi Ayah senang, karena akhirnya kamu bisa merasakan rasanya jatuh cinta pada seorang gadis. Dan semoga kisahmu bisa lebih baik dari kisah hidup Ayah.”

Aku cukup terkejut dengan perubahan sikap Ayah yang mendadak menggodaku. Entah kenapa aku bisa menangkap ada sedikit nada kebahagiaan dari suara Ayah, yang terus berjalan ke luar kamar.

-

Aku harus mendapat perawatan intensif, selama hampir satu bulan penuh. Sungguh bosan rasanya, karena setiap hari harus dihadapkan dengan butiran obat terus menerus. Tapi tidak ada yang bisa aku lakukan selain menuruti semua perintah Dokter untuk segera sembuh, dan bisa cepat pulang ke pelukan Ibu.

Di tengah masa penyembuhan dan pemulihan, hal yang paling ingin aku dengar adalah pernyataan Dokter tentang kesembuhanku. Dan kemarin pagi, aku mendapatkan apa yang aku inginkan.

“Horee aku bisa pulang!” sorakku dalam hati.

Sayangnya, kepulanganku kali ini harus mengalami beberapa kali penundaan. Itu semua karena Ayah yang bersikeras untuk tetap tidak memberikan izin. Lagi-lagi dengan alasan kesehatanku yang belum benar-benar pulih.

Huh! Gagal lagi deh. Padahal aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Nuri dan Ibu.

-

Nuri menerorku dengan mengirim puluhan pesan. Dari yang berisi rengekan, sampai dengan ancaman. Dia benar-benar marah, karena aku melewati jadwal kunjungan dan tidak memberi kabar apapun.

“Cepat pulang, Kak! Karena kalau tidak, aku akan mencarikan pacar baru untuk Ajeng!”

Itu adalah pesan terakhir yang dikirim oleh Nuri, semalam. Kami sempat berbincang setelah aku bertukar kabar dengan Ibu.

Deg

Ajeng?

Iya benar, aku punya Ajeng. Gadis yang berhasil menyita hari-hariku, hanya dengan senyuman manisnya.

“Awas saja kalau berani! Kakak tidak akan memberimu uang jajan lagi!”

“Aku bisa memintanya pada Ibu!”

Ck dasar bocah itu, dia selalu punya jawaban untuk semua ancamanku.

-

Selama dalam perjalanan, bibirku sama sekali tidak pernah lepas dari senyuman. Bahkan sesekali aku bersiul, atau malah ikut bernyanyi bersama suara radio. Terbayang sudah wajah Ibu dan Nuri, yang akan menyambutku kedatanganku dengan gembira.

Di perbatasan terakhir sebelum memasuki wilayah kampung Nenek, aku menyempatkan diri untuk mampir di salah satu toko oleh-oleh. Aku membeli beberapa makanan kesukaan Ibu dan Nuri. Tambahan senjata untuk mengurangi kemarahan Nuri.

Aku melihat sekelebat bayangan gadis yang aku incar, saat aku keluar toko. Di dera rasa penasaran, aku bergegas mengejar sosok itu dengan tangan yang penuh bungkusan oleh-oleh.

Dan benar, itu adalah Ajeng.

“Kenapa Ajeng ada di sini?” batinku.

Dor!

Tiba-tiba dari arah samping, aku dikejutkan oleh suara cempreng yang sangat aku kenal. Suara Nuri. Suara yang melengking keras di telinga sebelah kiri itu, sejenak membuatku kehilangan pendengaran.

“Nuri?!”

Aku ingin marah dan membentak. Tapi begitu melihat butiran kristal yang meluncur mulus di pipi putihnya, mulutku yang hampir terbuka malah terasa terkunci.

Sekarang bukan hanya suaranya, tapi wajahnya terlihat sangat menakutkan. Kali ini, aku tidak berani manambah dosa untuk memanggilnya dengan sebutan Si Cempreng.

“Kakak jahat!” teriak Nuri.

Aku menjatuhkan semua barang yang berada di genggaman tanganku. Tidak peduli dengan keadaan sekitar yang cukup ramai, serta tatapan aneh dari para pejalan kaki. Kuraih salah satu tangan Nuri dan menariknya ke dalam pelukan.

“Kakak jahat! Kakak lupa sama Nuri!”

Aku membiarkan Nuri memukuliku. Aku membiarkan mulut Nuri mengataiku. Aku juga membiarkan gadis kecilku puas mengotori bajuku dengan air matanya.

Meski aku laki-laki, tapi aku tidak sanggup berkata apa-apa jika dihadapkan dengan situasi seperti ini. Aku hanya bisa memberikan waktu, sampai Nuri puas meluapkan semua kekesalannya padaku.

“Sudah puas nangisnya?” godaku pada Nuri, begitu dia melepas pelukan dan sibuk menghapus sisa air mata.

“Apa?!” balasnya, ketus.

“Busyet, galak amat Neng. Habis makan apa sih?”

“Habis makan orang!”

“Waduh! Kenapa ngga ngajak-ngajak. Kakak kan juga pengen nyobain.”

“Apaan sih?!”

Aku kembali memeluk tubuh Nuri. Sekilas membelai punggungnya, untuk mengurangi kemarahan.

“Kakak kangen sama Nuri.”

“Bohong!”

“Kalau bohong, Kakak tidak akan ada di sini dan membeli banyak oleh-oleh buat kamu.”

Nuri mengikuti arah yang aku tunjuk. Beberapa bungkus barang dan makanan yang tergeletak pasrah di samping kanan kiri, kaki Nuri.

“Hampir tiga bulan Kakak tidak pulang, dan Kakak cuma beli oleh-oleh segini? Pelit!” sembur Nuri.

“Apa yang ingin kamu beli? Ayo! Mumpung kita masih di sini,” jawabku cepat, seolah menyanggupi tantangan dari Nuri.

“Banyak! Pokoknya hari ini, Nuri akan menghabiskan semua isi dompet Kakak. Dan ini adalah hukuman, jadi dilarang protes!”

“Baiklah. Kakak akan menuruti semua keinginanmu.”

Nuri tersenyum lebar, begitu mendengar pernyataanku. Ah rasanya sudah lama sekali, aku tidak melihat wajahnya yang ceria.

Tunggu sebentar, bukankah tadi aku sedang membuntuti Ajeng? Lalu kemana gadis itu menghilang?

“Nuri? Sepertinya tadi Kakak melihat Ajeng, apa itu benar? Dan kenapa kalian ada di sini?”

“Iya itu benar, Kak. Nuri dan teman-teman sedang mencari bahan untuk tugas sekolah.”

“Teman-teman?” ulangku.

Kepala Nuri mengangguk, dan menunjuk segerombolan anak-anak seusia Nuri yang sedang berdiri di depan sebuah toko.

Dari kejauhan, aku bisa melihat Ajeng yang berdiri di samping seorang pemuda. Dadaku terasa panas, saat pemuda itu berkali-kali melirik pada Ajeng.

“Cemburu ya?” bisik Nuri.

“Apan sih,” aku menolak mengakuinya.

“Makanya, jangan ditinggal kelamaan. Nanti keburu disamber orang. Apalagi lawan-lawan Kakak itu cukup berat loh.”

“Apanya yang berat?” sungutku tidak terima.

“Saingan Kakak punya lebih banyak kelebihan. Lebih ganteng, lebih perhatian, lebih muda, dan lebih sering ketemu dengan Ajeng. Kakak tahu kan, kalau cinta akan tumbuh dengan sendirinya karena sering ketemu?”

Kedua pundakku luruh. Semua yang baru saja disebutkan oleh Nuri, adalah kekuranganku. Kecuali soal wajah ganteng. Jelas aku tidak setuju.

“Lalu apa maksudmu dengan lawan-lawan?” Aku bersiap untuk mendengar kenyataan.

“Ya karena lawan Kakak, bukan cuma satu.”

“Apa?” Tanganku mengepal seketika.

“Lihat Tuh! Cowok yang pakai baju biru celana hitam, dan cowok yang pakai jaket denim!” Nuri menunjuk dua pemuda yang sedang menatap Ajeng.

“Kenapa dengan mereka?” Tanyaku ketus.

“Mereka berdua teman sekelas kami yang naksir sama Ajeng. Belum lagi dengan anak murid kelas lain. Ck saingan Kakak banyak. Kalau ngga gerak cepat, Kakak bakal kehilangan kesempatan.”

Nuri sukses membuatku terancam. Aku tidak punya apapun untuk melawan semua kenyataan yang baru saja aku dengar. Sungguh aku menyesal, karena melewatkan banyak waktu dan membuangnya dengan sia-sia.

Menarik tanganku dengan paksaan, Nuri mengajakku untuk mendekati teman-temannya yang sedang berkumpul.

“Hai teman-teman?” Sapaan Nuri disambut baik. “Apa semua barang yang kita cari sudah ketemu?”

Deg

Aku bisa melihat kilat keterkejutan di mata Ajeng, saat tatapan kami bertemu.

“Sudah,” jawab pemuda yang tadi di tunjuk oleh Nuri. Dia salah satu dari sekian banyak laki-laki yang menaruh hati pada Ajengku. Sepertinya di sini, dia berdiri sebagai ketua kelompok.

Entah apalagi yang dibicarakan Nuri dengan teman-temannya, sampai mereka akhirnya membubarkan diri. Aku tidak begitu peduli, karena aku lebih suka memusatkan perhatianku pada Ajeng. Dan entah dengan alasan apa, Nuri bisa membawa Ajeng untuk ikut pulang bersama kami.

“Ajeng…aku mau tidur di kursi belakang, jadi kamu duduk di kursi depan ya?!”

Seolah mengerti dengan keinginanku, Nuri mengatur Ajeng untuk duduk di kursi penumpang depan. Tepat di samping kiriku.

Ajeng tidak sempat menolak, karena Nuri sudah lebih dulu masuk dan merebahkan diri di kursi belakang. Aku mengulum senyum melihat akal-akalan Nuri.

Ah tolong ingatkan aku untuk memberikan bonus pada Nuri, atas usahanya untuk mendekatkanku dengan Ajeng, lagi.

-

“Kakak payah!” Seru Nuri, sembari melipat dua lengan di depan dada. Selesai mengantar Ajeng sampai depan rumahnya, Nuri berpindah tempat duduk.

Aku bisa mengerti dengan kekesalan Nuri kali ini. Bagaimana tidak? Dia sudah memberi banyak waktu dengan berpura pura tidur, tapi aku malah merusak usahanya.

Aku dan Ajeng hanya sempat bertegur sapa. Selebihnya, kami malah saling diam, dalam suasana yang sangat kaku.

“Mm K-kakak…”

“Payah! Payah! Payah!” sembur Nuri.

Aku menghela nafas dalam. Nuri benar, aku memang payah. Super payah.

Dari kejauahan, aku bisa melihat Ibu yang sudah berdiri di depan halaman. Aku menginjak rem, dan langsung keluar untuk memeluk Ibu.

“Apa kabar, Bu?”

“Ibu baik, kamu sendiri?”

“Tyo baik, Bu.”

Sambil menghentak-hentakkan kaki, Nuri meninggalkan aku dan Ibu yang masih berpelukan.

“Kenapa dengan adikmu? Kok kalian bisa pulang bareng?”

“Ngobrolnya di dalam saja ya, Bu?”

Hampir semua makanan kesukaanku telah tersaji di atas meja makan. Dan itu adalah cara Ibu menyambut setiap kepulanganku. Aku senang, karena Ibu tidak pernah lupa denganku.

-

Setelah membersihkan diri dan istirahat sejenak, aku memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Nuri.

Tok tok tok

“Nuri? Ini Kakak. Boleh masuk ngga?”

“Masuk aja!”

Dari nada suaranya, sepertinya Nuri masih kesal dengan kejadian tadi siang.

“Apa Nuri punya saran buat Kakak?”

Aku merendahkan diri di hadapan Nuri. Terus terang, aku kehilangan rasa percaya diri yang biasanya kumiliki. Untuk mendapatkan Ajeng, aku tidak bisa menggunakan cara nakal yang biasa aku gunakan pada wanita lain.

“Apa?!” Tanya Nuri, ketus. Gadis itu masih tengkurap di kasur miliknya, tanpa mau menatapku.

“Saran untuk menarik perhatian Ajeng lagi?”

Sukses. Nuri mulai bergerak dan duduk di tengah ranjang.

“Gampang! Pertama, jawab semua pesan yang dikirim Ajeng.”

“Apa? Pesan?” Tanyaku memastikan.

“Iya. Ajeng sering mengeluh dengan kebiasaan Kakak, yang jarang membalas pesannya akhir-akhir ini.”

“I-itu karena Kakak sibuk. Ada banyak pekerjaan yang harus Kakak selesaikan.”

“Mau sesibuk apapun, Kakak harus menyempatkan waktu untuk membalas pesan yang dikirim Ajeng. Kalau Kakak memang jujur, Ajeng pasti bisa memaklumi kesibukan Kakak.”

Kepalaku terus mengangguk, mendengar saran dan nasehat Nuri.

.

.

.

Maaf sedikit, lanjut besok lagi ya..

By Si_Ro

**

Ayo dukung dan berikan POIN sebanyak-banyaknya untuk novel ‘Ha Tan Wa’, dan dapatkan giveaway menarik.

***

Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu mungkin sebuah kebetulan semata.

Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.

Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.

Dimanapun kita berada, jaga kesehatan dan ikuti anjuran pemerintah.

RAJIN CUCI TANGAN, JAGA JARAK DAN JUGA PAKAI MASKER

1
Nur Secha
lanjut thor,Q menunggu up nya lg,kpn nih d lnjut ceritanya....makin penasaran,💪💪 trs thor
Rinda_Rey
lanjuutt thor,sehat selalu.
apa anaknya laras bakal jadi jodohnya sekar ya🤔🤔
trus tyo terbebas dari iblis itu saat pembangunan jembatan itu ya thor 😲😲
Rinda_Rey
aku juga😭😭
Bunda Silvia
kalo ajeng alias laras ibunya sekar mengapa bram membenci anaknya
Aishnina(✿ ♥‿♥)
blm smpe ke cerita tentang sekar knp sdh ga lanjut lg thor...
pdahal mampir kesini krna abis baca Serena, ,penasaran sm kisah tentang sekar
Ibuk Kumaiyah
lama gak liat ternyata masih stak di sini belum ending jugak/Smug/
Arieee
meninggal nanti yang hidup Sekar anak ke 2 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Arieee
benang merah mulai terlihat 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Sri Yati
aku mampir author 🤗🤗 abis baca Serena lanjut kesini
Rendi
kenapa enggak dilanjutin padahal cerita sangat baguss, saya sangat suka ceritanya....
Komisah Izza
Luar biasa
Bayu Linggau
tulisanya kek gerak2😭
Bayu Linggau
lain kali tulisanya jgn kek gini kak mata ku pusing bacanya😭
Yuniar
kok ga mudeng ya ma alurnya
Rami Martha
Yaaaahhh
terpaksa menunggu deh
udah up nya dikit dikit malah bersambung lagi 🤦
Eline Yulistianti
lama banget gk up²... d lanjut khan cerita nya???
Ni Umayah
ak mampir lg
Rodiah Rodiah
semangat baca ceritanya Thor,seru bangeet
Rodiah Rodiah
semangat dan sehat selalu Thor💪🤲
Raffa&kaifa& Ibrahim
Thor apa kabar, cerita nya kenapa ga dilanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!