NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Genggaman Mafia

Cinta Dalam Genggaman Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / CEO / Pengasuh / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia / Tamat
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: adelita

Liburan seharusnya menjadi pelarian bagi Cassandra Evans setelah dipecat secara tidak adil dari pekerjaannya. Ia hanya ingin menjauh dari masalah, melupakan tuntutan keluarganya yang terus mendesaknya untuk segera menikah, dan menikmati sedikit kebebasan di Roma, Italia. Namun, siapa sangka? Satu kesalahan kecil justru menyeretnya ke dalam dunia yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan—dunia mafia. Rafael “Rafe” Montenegro bukan sekadar pria kaya dan berpengaruh. Di balik ketampanannya yang dingin, ia menyimpan rahasia gelap. Duda dengan seorang putra kecil ini menjalankan bisnisnya dengan tangan besi, menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Tidak ada tempat untuk kelemahan dalam hidupnya—terutama setelah dikhianati oleh istri dan sahabatnya sendiri. Ketika Cassandra tanpa sengaja masuk ke dalam kehidupannya, Rafe tidak punya pilihan selain menahannya di sisinya. Awalnya, hanya untuk mengasuh putranya. Namun, semakin lama, Cassandra bukan sekadar pengasuh biasa. Ia menantang, membangkang, dan menghadirkan sesuatu yang sudah lama hilang dalam hidup Rafe—kehangatan. Tapi dunia Rafe bukan dunia yang aman. Dan Cassandra? Ia terlalu polos untuk terjebak dalam kekacauan ini. Namun, semakin ia mencoba melepaskan diri, semakin dalam ia jatuh ke dalam genggaman sang mafia. Di antara bahaya, rahasia, dan batas-batas yang tak boleh dilanggar, Cassandra harus memilih: tetap berjuang untuk keluar, atau menyerahkan hati pada pria yang bisa menghancurkannya kapan saja. Karena ketika mafia menginginkan sesuatu, mereka tidak akan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Tanpa banyak bicara, Ed langsung keluar ruangan. "Saya akan mencari tahu di luar," katanya sebelum pintu tertutup di belakangnya.

Suasana semakin sunyi. Rafael mulai mengetukkan jarinya ke meja dengan ritme yang tidak beraturan. Itu kebiasaannya saat berpikir dalam keadaan marah.

Franco hanya berdiri dengan ekspresi waspada. Ia tahu, badai akan segera pecah.

Tidak sampai lima menit kemudian—

BRAK!

Pintu terbuka dengan kasar, dan Ed muncul dengan napas terengah-engah. Wajahnya penuh keringat, seakan baru saja berlari maraton.

"Tuan Rafael! Mereka bertiga—mereka semua—menghilang!"

JLEB.

Jantung Rafael seolah berhenti berdetak sejenak. Napasnya memburu, dadanya naik-turun tak terkendali.

Lalu...

BRAK!

Rafael menyapu semua benda di atas mejanya dengan brutal! Laptop, dokumen, lampu meja—semuanya beterbangan dan jatuh berantakan ke lantai.

"SIALAN!" teriaknya, matanya membara dengan amarah yang tak terbendung.

Tangannya mencengkeram rambutnya sendiri, rahangnya mengeras hingga hampir bergemeletuk.

"Mereka adalah DALANGNYA! Ed, Franco! CARI TAHU DIMANA MEREKA SEKARANG! LACAK KEBERADAAN MEREKA! DAN DIMANA MEREKA MEMBAWA CASSANDRA!"

Tangan Rafael mengepal begitu keras hingga buku-buku jarinya memutih.

"BAGAIMANA AKU BISA KECOLONGAN SEBEGINI PARAH?!"

Amarahnya memuncak, dan seperti ledakan yang tak bisa ditahan lagi, ia langsung mengarah ke Ed.

"KAU, ED! KAU YANG MEREKRUT MEREKA! APA KAU BUTA?! APA KAU TIDAK BISA MELIHAT INI SEMUA JELAS-JELAS?! APA YANG KAU LAKUKAN SELAMA INI?!"

Suara Rafael menggema di seluruh ruangan, penuh dengan kemarahan yang nyaris meluap-luap.

Ed menundukkan kepalanya, menerima semua sumpah serapah yang keluar dari mulut Rafael. Ia tahu, tuannya sedang berada dalam titik emosional paling parah.

"JIKA TERJADI SESUATU PADA CASSANDRA... JIKA DIA TERLUKA..." Rafael menggertakkan giginya, dadanya naik-turun dengan brutal.

Suaranya bergetar, bukan hanya karena amarah—tetapi juga ketakutan yang merayapi tubuhnya.

Ketakutan akan kemungkinan bahwa Cassandra mungkin sudah... terlambat untuk diselamatkan.

Dan itu bukan sesuatu yang bisa diterima Rafael Montenegro.

"AKU BERSUMPAH, AKU AKAN MENJADIKAN KEHIDUPAN MEREKA NERAKA!"

...➰➰➰➰...

Angin berembus kencang, membawa hawa dingin yang seakan menambah ketegangan di mansion keluarga Montenegro.

Rafael berdiri tegak di halaman belakang, matanya membara seperti bara api dalam gelap. Seluruh pasukan kepercayaannya berkumpul di hadapannya, termasuk Ed dan Franco.

"Dengarkan aku baik-baik," suara Rafael terdengar dingin dan tajam, penuh ancaman yang tak tersurat. "Cassandra diculik.Nyonya Muda kalian diculik oleh musuh besar kita bernama Emerick, aku tidak peduli sejauh apa mereka bersembunyi—kita akan menemukan mereka. Malam ini juga."

Semua orang diam. Tidak ada yang berani berbicara.

Lalu—

"SEKARANG MENYEBAR!" Rafael menggeram, suaranya seperti ledakan bom yang memecah keheningan.

Puluhan anak buahnya langsung bergerak. Mereka bukan polisi, bukan detektif swasta, tetapi mafia kelas atas yang memiliki jaringan lebih luas daripada aparat hukum mana pun.

Franco mengambil alih tim investigasi, matanya tajam saat memberikan perintah kepada tim teknologi dan mata-mata di luar negeri.

"Kerahkan semua koneksi di perbatasan. Cek semua CCTV, semua jalur keluar masuk kota. Cari keberadaan mobil atau transportasi apa pun yang mencurigakan sejak jam dua siang tadi. Aku ingin semua rekaman itu di mejaku dalam waktu tiga puluh menit!"

Tim teknologi segera bergerak, mengakses jaringan ilegal yang hanya bisa diakses oleh orang-orang di dunia bawah.

Sementara itu, Ed memimpin tim lapangan. Ia dan beberapa anak buah Rafael mulai mendatangi tempat-tempat yang sering menjadi sarang kriminal. Mereka memeriksa gudang kosong, pelabuhan gelap, hingga bar bawah tanah yang sering digunakan untuk transaksi ilegal.

Di sebuah gudang tua di pinggiran Roma—

"Di mana dia?" Ed menyandarkan seorang pria bertubuh besar ke dinding, menekan lehernya dengan satu tangan. "Katakan, atau aku pastikan kau tidak akan pernah bisa berbicara lagi!"

Pria itu menggertakkan giginya, menolak berbicara.

Tanpa peringatan, Ed mencabut pistolnya dan menekan larasnya ke dahi pria itu.

"Aku tidak punya waktu untuk permainan ini," katanya dingin. "Bicaralah, atau kau akan mati dalam tiga detik."

Pria itu gemetar, lalu mengangkat tangan dengan panik. "S-saya tidak tahu! Tapi saya mendengar ada pergerakan mencurigakan di bandara militer tua dekat perbatasan! Beberapa orang berbicara tentang pengiriman spesial malam ini!"

Ed menyipitkan matanya. "Pengiriman spesial?"

"Saya tidak tahu pasti, tapi... mereka menyebutkan seorang gadis. Gadis muda dengan kulit tan."

Ed langsung membeku. Matanya membesar.

Cassandra.

Tanpa membuang waktu, ia langsung menekan tombol komunikasi di earpiece-nya.

"Tuan Rafael, kita punya petunjuk. Cassandra mungkin ada di bandara militer tua dekat perbatasan."

Dari sisi lain komunikasi, terdengar suara Rafael yang penuh kemarahan dan tekad.

"Siapkan tim. Kita berangkat sekarang."

...➰➰➰➰...

Konvoi kendaraan hitam melesat di jalanan sepi menuju bandara militer tua di perbatasan. Mesin-mesin mobil meraung, ban menggerus aspal dengan kecepatan tinggi. Di dalam SUV terdepan, Rafael duduk di kursi depan dengan rahang mengatup kuat, tatapannya tajam menembus gelapnya malam.

"Berapa jauh lagi?" suaranya dingin dan tegang, nyaris seperti geraman binatang buas.

Franco, yang duduk di belakang kemudi, melirik GPS dengan ekspresi serius. "Sepuluh menit lagi."

Di kursi belakang, Ed menyesuaikan earpiece-nya, menghubungi tim yang lebih dulu sampai di lokasi. "Status?"

Suara berat salah satu anak buahnya terdengar di kanal komunikasi. "Tidak ada tanda-tanda pergerakan mencurigakan, Tuan. Tapi kami menemukan jejak ban baru di dekat hanggar utama."

Rafael mengepalkan tangan, napasnya pendek dan kasar. "Mereka sudah ada di sana. Jangan sampai ada yang keluar hidup-hidup kalau mereka menyentuh Cassandra."

Sesampainya di lokasi, kendaraan berhenti mendadak, menimbulkan suara gesekan keras antara ban dan aspal. Rafael turun lebih dulu, disusul oleh Franco, Ed, dan beberapa anak buah mereka yang langsung menyebar.

Bangunan bandara tua itu gelap dan sunyi. Hanya ada deretan hanggar besi yang sudah usang, beberapa kendaraan terbengkalai, serta rerumputan liar yang menjalar di sekitar area landasan pacu yang sudah tidak terpakai.

Suara langkah mereka bergema di antara kesunyian.

"Pisah jadi dua tim," Franco berbisik. "Ed, bawa orang-orangmu ke sisi timur. Aku dan Rafael akan masuk lewat hanggar utama."

Ed mengangguk dan segera bergerak dengan timnya.

Rafael melangkah masuk ke dalam hanggar dengan pistol terhunus, jantungnya berdetak kencang. Bayangan kemungkinan terburuk terus berputar di benaknya.

Tapi begitu mereka mencapai bagian dalam hanggar—

Kosong.

Tidak ada satu pun orang di sana.

Tidak ada tanda-tanda perlawanan.

Tidak ada Cassandra.

Hanya sebuah ruangan berdebu dengan beberapa peti kayu kosong dan ban kendaraan yang tertinggal.

Rafael memicingkan mata, mencoba mencerna situasi.

"Sial," Franco mengumpat pelan. "Kita terlambat."

Ed muncul dari sisi lain hanggar dengan wajah gelap. "Tidak ada siapa-siapa di luar. Sepertinya mereka sudah pergi sebelum kita sampai."

Rafael menggeram, lalu menghantamkan tinjunya ke salah satu peti kayu hingga kayunya retak. Napasnya memburu, amarahnya membara. "Bagaimana aku bisa kecolongan seperti ini?"

Ed menelan ludah, menatap Franco dengan pandangan cemas. Rafael bukan tipe orang yang bisa menerima kegagalan.

Franco mengamati jejak ban di lantai berdebu. "Mereka baru saja pergi. Mungkin sekitar setengah jam yang lalu."

"Mereka membawa Cassandra ke mana?" Rafael menyeringai marah, matanya menyala seperti api neraka.

Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaannya. Ed bergegas memilih bertanya menyingkir bertanya pada salah satu karyawan disana atau mungkin pengunjung beberapa menit barulah

Ed datang dengan langkah cepat, wajahnya serius. Nafasnya masih berat setelah berlari ke arah Rafael dan Franco.

"Tuan, saya sudah bertanya pada salah satu penumpang yang akan naik." Ed berbicara cepat, sedikit terengah-engah. "Tidak ada perempuan dengan ciri seperti Nona Cassandra yang datang ke sini. Bandara ini hanya digunakan oleh para imigran, dan dalam satu minggu terakhir, tidak ada satupun perempuan yang datang atau pergi."

Rafael mengepalkan tangan. Rahangnya menegang, matanya memancarkan kilatan marah yang semakin sulit dikendalikan. "Mereka membuang waktu kita. Sial!"

Dengan geram, Rafael menendang salah satu peti kayu di dekatnya hingga terpelanting dan berdebum keras di lantai hanggar. Franco dan Ed hanya bisa diam, mengetahui betapa frustasinya Rafael saat ini.

Tiba-tiba, ponsel Franco bergetar di sakunya. Dia langsung mengangkatnya. "Bicara."

Dari seberang telepon, suara anak buahnya terdengar. "Kami berhasil melacak keberadaan Emily dan Jeremy."

Rafael yang sedang berjalan mondar-mandir penuh amarah langsung berhenti, menatap Franco tajam.

"Dimana mereka?" Franco bertanya cepat.

"Mereka melintasi kereta cepat Italia. Sepertinya mereka dalam perjalanan ke luar kota, kemungkinan membawa Cassandra."

Mata Rafael menyipit, emosinya kembali naik. "Di mana posisi terakhirnya?"

"Kami masih melacak rute pastinya, Tuan, tapi mereka naik dari stasiun Termini. Mereka menuju arah utara."

Rafael tidak butuh mendengar lebih lama lagi. Dia langsung menoleh ke Ed. "Siapkan kendaraan. Kita ke sana sekarang."

Ed langsung memberi kode pada anak buahnya yang lain, sementara Franco terus berbicara dengan timnya, memastikan mereka tetap memantau pergerakan target.

Saat mereka kembali ke SUV hitam dan melesat keluar dari bandara tua itu, Rafael hanya memiliki satu pemikiran di kepalanya:

"Jika mereka berani menyentuh Cassandra sedikit saja... mereka tidak akan pernah sampai ke tujuan mereka dengan utuh."

1
Elizabeth Zoe
sekolah minggu? tadi di bab 1 ada kalimat "jangan lupa solat di negara orang". kocak🤣
Fara Rasta
ceritanya bagus banget
Irabiya
kelamaan baru ad lanjutan x,,lelah nunggu x/Facepalm/
merry jen
jhtt bgtt rafe ngejerat Casandra bgtuu ,,ngmgyy Casandra bhongg pdhll diabyg culik paksa sekpp casandraa tgll drmhh dia ,,skrg jlkinn Casandra ddpn orgtua y lgg ,,
merry jen
kshh Casandra jdii twnnn ,,pdhll sstss bukn pekerjaan Isti atauu pun budakk ,,aneh mafia satu inn
merry jen
apa nntii Casandra gk truma ya atas kjdian yg menimpa yy🤔🤔
merry jen
si amorr itu sapa yaa pnsrann ygg sm ed
merry jen
kshnn sandraa jdii tahannn pdhll dia ajj di culikk dr fareal
Tara
kuberikan secangkir coffee hangat kak. Semangat!!!
Mari kita berdoa berjamaah semoga dapat suami yg kaya, gagah, setia dan mencintai kita selamanya. Amin🤔🤗🥰👏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!