Kaisar Hou adalah seorang kaisar bijaksana dan baik hati. Ia juga menyandang gelar sebagai kaisar termuda di dinasti Ming. Pada umurnya ke 17 tahun ia sudah di nobatkan sebar seorang raja dan mampu membawa kerajaannya pada puncak kejayaan.
Namun hidupnya berakhir dengan begitu tragis di tangan saudaranya. Bahkan kekasihnya juga mengkhianati dirinya.
Namun dewa masih menyayanginya. Alhasil ia bereinkarnasi pada tubuh seorang siswa lelaki pada abad ke 21.
Namun sayangnya kehidupan siswa lelaki itu cukup sulit. Ia di cap sebagai pecundang dan selalu jadi objek bullyan teman temannya.
Lalu bagaimana Hou melalui rumitnya kehidupan barunya itu? Mampukah dia bertahan pada kerasnya dunia asing ini?
Yuk ikuti berjalanan Hou dalam menghadapi keras nya abad ke 21. Next reading guys😀😁😁😁
*Update setiap hari Selasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sofie Otviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
“Aria kau sudah bangun?” ucap Lena dengan tersenyum cerah menatap Aria yang baru saja membuka matanya, setelah tidur sepanjang hari.
“Ugh.. ya? Memang ada apa dengan diriku?” tanya Aria balik, ia beranjak duduk di bibir ranjang dengan memijit pelipisnya yang terasa sedikit pusing.
“Tidak ada masalah.. kau hanya tidur lama setelah Lino membawamu pulang. Apa kau sudah merasa lebih sehat saat ini?” tanya Lena lagi, sambil mengusap kening Aria, merasakan panas yang sudah sedikit berkurang dari sebelumnya.
“Ya.. terimakasih. Apakah dia menggendongku turun dari gunung?” tanya Aria menatap Lena dengan pandangan lemas.
“Tidak.. dia menyeretmu! Tentu saja dia menggendongmu, belum lagi ia sangat perhatian padamu. Ah.. kau membuatku sedikit iri sekarang”
“Apa? Kenapa harus begitu?”
“Tentu saja karna pacarmu yang sekarang berbeda dengan idiot yang dulu kau cintai setengah mati itu. Menyebalkan sekali melihatmu tetap saja cuek dan kejam padanya saat ini” omel Lena dengan bibir yang sudah maju 5cm.
Aria hanya diam tak menyehutinya. Ia memilih untuk menatap apa yang ada di luar jendela tersebut dengan suasana hati yang sedang tenang.
“Owh.. Lena, itu kakakmu dengan Raja Devan” ucap Aria langsung membuat Lena ikutan bergabung dengannya untuk melihat pemandangan di luar.
“Salam Yang Mulia” ucap Ivan menyambut kedua lelaki paruh baya yang masih memiliki penampilan gagah dan wajah yang rupawan tersebut.
“Aku membawa beberapa pasien di kereta kuda. Aku harap kau bisa memeriksa mereka anak muda” ucap Raja Devan dengan turun dari kudanya.
Ivan pun menundukan kepalanya hormat “Dengan senang hati Yang Mulia” ucap Ivan dan berjalan ke arah yang di tunjukan oleh seorang pengawal padanya.
“Kakak.. anda datang berkunjung?” ucap Lena dengan senyum lembut.
Namun Johan hanya melemparkan pandangan dingin kepada putri bungsunya tersebut. “Kau disini ternyata. Pantas aku tidak mendengar keributan dirumah akhir akhir ini” ucap Johan dengan pandangan yang acuh.
Lena hanya mampu tersenyum masam melihat perlakukan ayahnya yang selalu dingin padanya tersebut. “Salam untuk Yang Mulia Raja dan Paman” ucap Aria dengan membungkukan badanya, memberi mereka berdua penghormatan.
“Ah.. Lino tolong bantu aku” ucap Ivan ketika melihat kawannya yang baru datang dengan sebuah keranjang besar berisikan buah buahan segar, yang baru saja ia petik dari dalam hutan bersama dengan beberapa pengawal lainnya.
“Baiklah.. aku akan menaruh ini terlebih dahulu di dalam gudang” ucap Lino sambil berjalan melalui Raja Devan dan Johan yang tepat berada di sampingnya.
“Stacia..” ucap Raja Devan dengan mencekal bahu Lino, hingga membuat keranjang yang ia pegang terjatuh dan isinya berserakan di atas tanah.
“Ah.. buahnya...” ucap Lino menatap sayang buah buahan yang sudah terkontaminasi oleh tanah tersebut.
“Maaf tuan.. aku tidak mengenal anda. Dan tolong lebih sopan dalam bertindak. Kau membuat barang bawaanku terjatuh” ucap Lino dengan memungut kembali buah buahan tersebut, dengan di bantu oleh Aria dan Lena.
“Dia itu Raja loh! Dan kamu membentaknya. Itu sangat tidak sopan” tutur Aria dengan menyenggol bahu Lino lumayan keras.
Lino pun membelalakan matanya dan menatap kembali pada lelaki yang baru saja di bentaknya. “Ma.. maafkan hamba Yang Mulia.. hamba sangat lancang. Mohon hukum hamba Yang Mulia” ucap Lino dengan bersujud di hadapan kaki Deven.
Namun Devan masih terpaku setelah melihat wajah Lino yang sangat mirip dengan wajah adiknya yang sudah meninggal 18 tahun yang lalu.
“Yang Mulia” panggil Johan dengan nada sopan.
Lamunan Devan pun terpecahkan dengan suara lembut kepala keluarga Ary tersebut. “Ya? Owh.. bangunlah anakku. Tidak apa, aku memang sengaja tidak mengenakan pakaian mewah, dan jubahku ini juga seperti jubah pada umumnya. Wajar kau tak mengenaliku. Bangunlah!” pinta Devan dengan membantu Lino bangkit.
Namun saat Devan menatap wajah Lino semakin lama, wajahnya semakin mirip dengan mendiang adiknya tersebut. Bahkan rambut, mata dan wibawanya yang kuat nan lembut itu sangat mirip dengan adiknya.
Namun aura yang di miliki oleh Lino jauh lebih gelap dari milik adiknya. Dan pandangan matanya lebih tajam, tapi juga lembut.
Mata Devan membulat lebar, ia mundur beberapa langka dan eksperesi wajahnya terlihat sangat terkejut “Bagaimana kau bisa memiliki pandangan seperti itu?” ucap Raja Devan membuat Lino dan yang lainnya merasa bingung.
“Maafkan kelancangan hamba. Sebaiknya Yang Mulia berkeliling bersama hamba. Mari Yang Mulia..” ucap Ivan yang langsung mengambil alih dalam keadaan tersebut.
Raja Devan pun menatap Ivan dengan pandangan curiga. “Mari Yang Mulia..” ajak Ivan lagi dan Raja Devan pun mulai melangkahkan kakinya, menjauh dari mereka dengan pandangan ragu.
“Kau.. apa yang kau tau anak muda?” ucap Devan dengan menatap Ivan yang tiba tiba membuat hawa mencengkram yang sangat kuat di sekitarnya.
Ivan melirik raja Devan dengan pandangan tegas nan tajam. “Maaf yang mulia, hamba akan menjelaskannya jika anda berkenan mendengarkan kisah pahit ini”
“Kau..”
“Ya.. Saya keturunan dari mendiang Lady Listte, saya putra semata wayang beliau yang sudah mati” jelas Ivan membuat raja Devan terdiam beribu bahasa.
“Ba.. bagaimana bisa kalian? Semua keluarga pelayan Ratu Stacia sudah terbunuh di malam itu?” ucap raja Devan dengar gemetaran. Entah perasaan menggebu apa yang ada di dalam dadanya ini. Ia sanang bingung dengan perasaannya saat ini.
“Saya juga bersama dengan keturunan asli tuan Olive.. kami semua memiliki tugas khusus dari mending orang tua kami. Dan saya harap yang mulia bisa merahasiakan ini”
“Apa yang sedang kalian lakukan dengan mendekati keluarga kerajaan? Bukankah semua keluarga kalian sudah dilenyapkan? Lalu bagaimana kalian bisa berada disini? Berdiri kokoh dengan kepercayaan diri tinggi seperti ini? Raja Devan mulai menampakan wajah sedihnya.
Namun Ivan malah tersenyum lembut padanya “Tidak apa yang mulia. Kami baik baik saja saat ini. Bahkan kami juga memiliki gelar bangsawan yang sangat tinggi saat ini” jelas Ivan membuat Devan menatapnya dengan pandangan penuh iba.
“Kalian sungguh anak anak yang kuat. Seperti mendiang orang tua kalian. Kalian juga sangat setia dan taat. Aku sangat salut pada kalian. Wahai anak muda, berjuanglah demi tujuan yang di wariskan kepadamu tersebut. Aku akan membantumu sekuat tenaga demi mewujudkannya” ucap Devan dengan pandangan meyakinkan.
Ivan pun tersenyum miring. “Apakah anda yakin akan membantu hamba yang mulia? Ini mungkin akan membuat kerajaan anda menjadi musuh kerajaan Hasely”
“Apa maksudmu? Sebenarnya apa tujuan yang di wariskan padamu itu anakku?” ucap Devan dengan dahi yang mencuram dalam.
Ivan tersenyum sinis dan matanya pun berkilat merah “Menggulingkan penguasa Hasely sekarang!”
Selalu Semangat ya kak. Dan Mari kita saling mendukung. Terima-kasih