Diperbarui 27 September 2020
_______________________________
Perjodohan dengan lancar tidak ada kebencian. Eliana dipaksa namun dengan rela hati menerima, sebab kesabaran Arsya merubah status mereka dari adik kakak menjadi sejoli penuh cinta.
Ujian menimpa selalu pada Arsya, sejak awal sabar dengan hubungannya, kemudian takdir membawanya pada penyakit yang tidak disangka.
Eliana tidak menyesali dengan kehidupan barunya. Gadis yang semula manja, menjadi sangat tegar, sebab ujian yang menimpa Arsya --suaminya-- menuntut dia untuk menerimanya juga dan seakan menjadi single parent.
Pesan moral dari cerita ini = tidak ada sesuatu yang berjalan sesuai keinginan kita, jika pun itu ada, ujian akan tetap ada untuk mengingatkan pada kita bahwa dalam hidup itu selalu ada dua sisi -- Hitam & Putih, Sedih & Bahagia, Ujian & Kedewasaan, DLL--
Selamat menikmati untuk teman-teman yang sudah mampir pada novel ini. Terima kasih sebelumnya. 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Nurcahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eliana Marah
Eliana berdiri di dekat jendela yang berada di kamarnya. Dia menatap ke luar dengan pandangan tak menentu, tidak ada yang menarik di luar sana, tidak ada juga yang ia cari. Sesekali ditariknya nafas panjang yang begitu berat.
"Kenapa aku tidak bisa menolak lamaran kak Arsya? tapi tidak ada alasan juga untukku menolak, aku akan dianggap seorang anak yang egois jika aku menolak tanpa alasan. Aku bukan anak kecil lagi, yang tidak memiliki pendirian. Tapi lamaran ini ... huft ...." Beberapa kali El melepaskan nafas beratnya, tapi sepertinya tak sekalipun menemukan perasaan lega.
Tok ... Tok ...!
El hanya menoleh ketika mendengar suara pintu kamarnya diketuk. Dia tidak peduli siapapun yang berada di luar sana. Eliana masih menyelami dasar hatinya, kenapa dirinya tidak bisa terbuka dan menerima dengan ringan lamaran Arsya.
"Eliana, kamu baik-baik saja?" suara Arysa dari balik pintu, mengejutkan Eliana.
"Mau apa Kakak kemari? mau melihat kesedihanku, atau mau merasa hebat di depanku dan menunjukkan bahwa Kakak adalah pemenangnya, begitu?" Eliana sewot.
Arsya kaget, tak menyangka Eliana akan semarah itu. Ditutupnya pintu, kemudian melangkah dengan penuh hati-hati menuju tempat dimana Eliana berdiri. Saat ini Arsya harus hati-hati sekali menghadapi Eliana, dia tidak boleh melakukan hal yang dibenci gadis itu.
Tiba-tiba El menoleh, lalu membuang muka kembali. "Masih berani juga Kakak kemari?"
"Tenang sayang, jika kamu merasa hubungan ini sebuah kesalahan, aku minta maaf. Aku terlalu terburu-buru, aku akui kerena takut kehilanganmu, Eliana ...."
"Ih .... Sudah aku katakan jangan panggil aku sayang!" nada suara El meninggi.
Arsya panik, jikalau kemarahan El sampai terdengar oleh semua orang yang berada di rumah itu. Tanpa pikir panjang Arsya memeluk Eliana yang sejak tadi melihat keluar jendela. Arsya memeluknya dari belakang, tanpa Eliana sadari. Tidak tau lagi apa yang harus dia lakukan, yang dia tau hanyalah memeluk seorang wanita jika jiwanya sedang kacau. Maka, Arsya melakukan itu saat ini.
Eliana meronta berusaha lepas dari pelukan Arsya. Kata-kata ingin melepaskan diri berkali-kali diucapkannya. Semakin Eliana meronta, semakin erat pelukan Arsya.
Tiba-tiba badan Eliana melemah dan menangis lirih, itu tandanya emosi mulai mereda. Eliana pasrah berada dalam pelukan calon suaminya itu, dia tak berdaya lagi untuk melawan segala emosi jiwanya, apalagi terlepas dari pelukan Arsya sangat tidak mungkin.
"Eliana tenang, coba tenangkan dirimu ...." suara Arsya lirih, dia mengucapkan dengan penuh hati-hati.
"Hiks ... hiks ...." Eliana nangis sesenggukan.
"Menangislah, jika itu membuat kamu lega. Menangislah ...!" Ucap Arsya lembut, sambil terus memeluk gadis itu.
"Aku tidak mau menikah, hiks, hiks ... aku tidak mau ...!" Ucapa Eliana dalam tangisnya.
"Iya, iya ... kita tidak akan menikah. Sudah, jangan sedih lagi. Kemari, lihat Kakak!" Arsya berusaha membalikkan badan Eliana.
Eliana menurut apa kata Arsya, dia membalikkan badannya tapi masih dengan kepala menunduk. Arsya mengangkat dagu Eliana perlahan, kemudian mengeringkan air matanya dengan penuh kasih sayang. Ditariknya nafas panjang, kemudian digenggamlah tangan Eliana.
"Eliana, Adikku. Maafkan Kakak ya ...!" Arsya hendak melanjutkan ucapannya, akan tetapi Eliana kembali menangis, kali ini dia sendiri yang bersandar di dada Arsya dan mencengkram kemeja calon suaminya itu dengan erat. Eliana menumpahkan kesedihannya, sekaligus emosi jiwanya.
Arsya bingung, apa yang terjadi pada Eliana? Dipeluknya kembali gadis berbadan mungil itu. Diusapnya lembut rambut hitamnya yang masih terikat rapih. Arsya tak berani berkata apapun kali ini.
Dibiarkannya Eliana menangis, sampai air matanya membasahi kemeja coklat seragam Bhayangkara yang dikenakan Arsya. Apa daya, Arsya hanya bisa menunggu gadis yang dicintainya itu kembali tenang. Dipejamkannya mata Arsya dan ditariknya nafas panjang, dia menahan dirinya agar sabar menghadapi semua itu. Tak hentinya Arsya mengusap kepala Eliana dengan lembut.
"De, lebih baik kita duduk. Lalu, katakan apa yang ingin Ade katakan! jangan sungkan, jangan juga ditahan. Kita sudah dewasa, tidak boleh mendiamkan masalah seperti ini. Katakan agar semuanya menjadi jelas, sehingga dapat menemukan solusinya." Ucap Arsya.
Eliana tidak menjawab sepatah kata pun, tapi dia menuruti saran yang dikatakan Arsya. Eliana kemudian duduk di tepi tempat tidurnya. Arsya mengambil kursi yang berada di kamar itu, dan di tempatkan tepat di hadapan Eliana.
"Sekarang, jika Ade sudah tenang, katakan sesuatu. Jangan dipendam, keluarkan semua yang mengganjal di hati. Kakak janji tidak akan membahas tentang lamaran, jika Ade tidak suka. Kakak akan menjadi Kakaknya Eliana seperti dulu, Kakak siap mendengarkan apa yang membuat kamu sedih, tapi jangan menangis lagi sampai sesenggukan seperti itu ...."
Suasana hening, tak ada sepatah kata pun setelah perkataan terakhir Arsya. Keduanya diam membisu. Eliana duduk di tepi tempat tidur dengan kepala menunduk. Tangannya tak henti memainkan jemarinya, sesekali kain bajunya ia mainkan juga.
Arsya dengan tenang duduk tepat di hadapan Eliana, tangannya dilipat didepan kedua dadanya, pandanganya lurus tertuju pada gadis yang dicintainya itu. Entah berapa lama waktu yang mereka habiskan hanya dengan kebisuan.
Arsya merasakan ponselnya bergetar, dilihatnya layar benda kecil persegi itu, tertera pesan dari ibunya.
"Nak, kamu dimana ...? kenapa lama?"
"Aku di kamar El, Bu. Tolong sampaikan permintaan maafku kepada Tante dan Om Permana. Eliana sepertinya tidak siap dengan lamaran ini. Aku sedang menenangkannya." Balas Arsya.
"Baiklah, nanti Ibu sampaikan."
Arsya jadi ingat dengan ponsel Eliana, diambilnya ponsel itu yang masih berada dalam tas selendang El. Semalam Arsya menggantungkannya di tiang tempat tidur sebelah kanan, dekat meja rias. Mungkin El tidak melihat tas itu karena terhalang kelambu dan gadis itu bisa juga sedang tergesa-gesa, sehingga tidak menemukan tasnya.
"Ini ponsel Ade, semalam sengaja Kak matikan supaya tidak mengganggu tidur Ade yang terlihat pulas dan lelah. Kakak simpan di samping meja rias, tapi mungkin terhalang kelambu, jadi Ade tidak melihat tas itu." Arsya menyerahkan ponsel milik Eliana, seraya duduk di samping gadis itu.
Arsya mengusap-usap bahu El, agar gadis itu jangan bersedih lagi. Arsya tau, jika hanya diam saja tidak akan menyelesaikan masalah, maka ia yang harus lebih dewasa untuk mnenghadapi gadis itu. Arsya harus mengalah, dia harus lebih aktif memancing suasana agar kebisuan terpecah.
"Kakak aktifkan ponselnya ya!" pinta Arsya sambil membawa ponsel Eliana yang hanya tergeletak di samping gadis itu.
Setelah beberapa saat ponsel itu aktif, tapi baterainya hanya sisa beberapa persen lagi. Arsya mengambil charger kemudian mengisi daya di samping meja dekat tempat tidur El.
Beberapa pesan masuk ketika Arsya masih memegang ponsel Eliana. Dia sempat melihat dari pemberitahuan layar, ada beberapa nama kontak yang mengirim pesan. Nama Rendy membuat Arsya terhenti sejenak dan terdorong untuk mengklik notif itu.
Arsya tidak membuka pesan dari Rendy, dia hanya melihat dari kontak pesan masuk saja. Ada 5 pesan yang Rendy kirim untuk Eliana. Entah kenapa meski dia tidak akan peduli lagi tentang Rendy, tapi rasa penasaran selalu ada.
Sayang kenapa?
Tulisan itu jelas terlihat oleh Arsya, ada rasa panas mengalir diseluruh tubuhnya. Dia hanya melrik pada Eliana yang sepertinya sudah terlihat tenang. Diletakkannya ponsel itu, dia kembali duduk di samping Eliana.
"Jika kamu, nggak mau mengatakan apapun sekarang, tak apa. Kakak pulang ya ...? nggak enak sama Om dan Tante, Kakak terlalu lama di sini." Suara Arsya agak sedikit berat, dia menahan rasa cemburunya kepada Rendy.
"Oya, barusan aku lihat ada beberapa pesan yang masuk. Coba lihat, siapa tau itu penting. Rendy juga mengirim banyak pesan buat kamu. Jangan membuat orang khawatir. Ayo semangat ...!" lanjut Arsya, mengalihkan rasa cemburunya dengan menunjukkan perhatiannya.
Eliana terkejut mendengar Arsya menyebut nama Rendy, "dia mengirim pesan apa?" batin Eliana.
BERSAMBUNG....
dimana letak moral novelmu jika tindakan2 tidak bermoral kau bela dan kau benarkan
ini tindakan2 tidak bermoral yang kau benarkan
*genta selalu sok baik dan mencari perhatian pada istri sahabatnya sendiri,
*eliana seorang istri yang selalu terbuka dan menerima kehadiran genta
*interaksi genta dan eliana, kontak fisik, perhatian, curhat, suap suapan, papah, bahkan ada yang pakai perasaan kau benarkan
dimana letak moralmu saat kelakuan pebinor dan istri yang mudah menerima kebaikan lelaki kau benarkan
miris sekali
*apakah interaksi eliana dan genta masih wajar thor
gini aja thor jika ada wanita lain kayak genta yang baik pada suamiku kayak kebaikan dan perhatian genta pada eliana, apakah kau anggap wanita itu wanita baik2
thor adil lihat pelakir dan pebinor
jangan pelakor kau laknat tapi pebinor dan sok baik pada istri orang kau muliakan
egois yang terkesan munafik
sukses
semangat
mksh
Buat tmn2 yg baru/mau belajar nulis kudu bgt baca tulisannya kaka Author ini deh❤
maaf baru sempat mulai baca..
edisi, suka baca yg sudah the end biar ga pinisirin.. Tetap semangat berkarya 😘