Warning : Cerita ini hanya untuk pembaca dewasa
Pasca berakhirnya pertunangan dengan mantan kekasihnya yang kasar dan super toxic, Lila memutuskan untuk kembali ke Brisbane, kota tempat ia tumbuh bersama empat sahabat masa kecilnya yang dulu ia perlakukan sebagai kacung.
Henry, Jacob, Aiden dan Pierre. Mereka yang dulu Lila anggap sebagai anak buah, kini menjelma menjadi empat pria dewasa yang super tampan dan sangat mapan. Sementara Lila justru bertahan dengan sisa tabungannya dan honor sebagai novelis tidak terkenal yang sangat sedikit.
Setelah dipermalukan oleh Henry di acara reuni SMA, Lila justru mendapatkan kejutan demi kejutan tak terduga dari keempat sahabat masa kecilnya yang diam-diam mencintainya sejak lama.
Jika kamu suka cerita ini, jangan lupa like, coment dan follow ya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azmi McFadden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debaran
"Kau akan selalu melindungiku. Kau ingat semua yang kau katakan saat itu padaku, iyakan?" Aiden tersenyum lembut. Tatapan matanya menancap kuat ke dalam jiwa Lila.
"Benarkah? Aku tidak ingat pernah bilang begitu!" Lila berpura-pura lupa untuk mengusir suasana yang terasa semakin intim.
"Kau pura-pura lupakan? Aku tahu kau hanya berpura-pura! Lagipula kau sudah berjanji padaku, mana boleh kau mengingkarinya begitu saja!" Ucap Aiden protes. Wajah merajuknya terlihat menggemaskan, membuat Lila tidak tahan untuk mencubit pipinya.
"Hahaha...itu hanya janji anak kecil, Aiden! Lagi pula sekarang kau sudah jauh lebih kuat untuk menjaga dirimu sendiri'kan?" Ujar Lila sembari mencubit pipi Aiden.
Aiden menatapnya sejenak, ia tahu Lila akan mengatakan hal seperti itu dan dia juga tidak akan kehilangan cara untuk membuat Lila menepati janjinya.
Aiden membuja kaos hitam yang ia kenakan, menunjukan tubuh kekarnya yang membuat Lila terkejut.
"Hei, kenapa kau buka baju? Apa yang mau kau-" belum lagi ia menyelesaikan kalimatnya. Pemandangan di depan matanya membuatnya kehilangan kata-kata untuk diucapkan.
Tubuh Aiden dipenubi bekas luka. Goresan panjang dan juga bekas jahitan. Ia sadar kalau itu bukanlah luka yang Aiden dapatkan semasa kecil.
"Kau salah, Lila! Aku tidak bisa menjaga diriku sendiri. Tanpamu, aku tidak bisa mengendalikan diriku!"
"Apa yang terjadi padamu? Ada apa dengan luka-luka ini?" Tangan Lila gemetar, mencoba menyentuh tubuh Aiden. Dadanya terasa sesak karena ini benar-benar mengejutkannya.
Aiden tersenyum lembut padanya, seolah mengatakan bahwa ia baik-baik saja dan apa yang terjadi padanya bukanlah hal yang pantas untuk dikhawatirkan.
"Saat kau tidak ada disisiku, aku merasa sangat kacau. Kau tahu bahwa kau adalah tempat aku bersandar selama ini. Tapi kau malah pergi, tanpa mengucapkan perpisahan. Kau membuatku menderita karena harus belajar untuk terbiasa tanpamu. Tapi kepergianmu juga yang membuatku kuat dan mencoba menghadapi rasa sakit itu sendirian. Kau itu teman yang sangat jahat!"
"Bukankah ada Pierre, Henry dan Jake? Mereka pasti selalu membantumukan? Iyakan?"
"Ya, mereka selalu ada di sisiku. Tapi semua itu tidak akan ada artinya jika kau tak ada."
Air mata Lila mengalir, ia tak tahu kesedihan apa yang Aiden alami selama 10 tahun ini. Sejak dulu, Aiden selalu menerima begitu banyak rasa sakit dan sekarangpun tampaknya itu tak pernah berubah.
Aiden mengusap air mata Lila dan menyenderkan kepalanya di pundaknya. Aiden meminta Lila untuk memeluknya.
"Kau itu hangat sekali, seperti seorang ibu. Aku ingin kau menjagaku lagi seperti waktu itu. Aku ingin kau mengingatkanku untuk makan, memakaikan jaket saat aku pergi keluar rumah, aku ingin kau membawakan payung untukku saat aku terjebak di tengah hujan seperti waktu itu. Aku ingin kau mengusap kepalaku dan membuatku merasa lebih baik seperti waktu itu. Selamatkan aku, Lila! Hanya kau saja yang bisa melakukannya!" Pundak Aiden gemetar. Ia ingin Lila tahu bahwa ia sangat membutuhkannya lebih dari apapun.
Lila tak sadar bahwa ia pernah merawat dan menjaga Aiden seperti itu. Yang ia tahu, dia selalu memukul Aiden saat Aiden melakukan kesalahan ataupum saat ia merasa kesal.
"Saat kita bertemu lagi hari itu, aku tidak akan menyangka bahwa kau masih tetap manja seperti ini. Dulu kau selalu saja membuat lelucon dan juga masalah. Sekarang kau sudah cukup dewasa untuk menjaga dirimu sendiri, kau tidak butuh aku lagi!"
"Tidak...! Aku tidak mau! Kau harus menjagaku! Kau harus menepati janjimu!"
"Kau ini tidak sadar diri ya? Tubuhmu itu jauh lebih besar dari pada tubuhku. Bagaimana mungkin bisa kau meminta wanita seperti aku menjagamu? Dasar bodoh!"
"Wanita sepertimu yang menendang wajah pelanggan di hari pertama bekerja? Kau yang harusnya sadar diri-"
Satu pukulan mendarat ke wajah Aiden, memaksanya berhenti mengatakan sesuatu yang bodoh.
"Aaagh...kenapa kau memukulku?" Aiden berteriak sembari menyentuh wajahnya.
"Kau itu memang pantas untuk dipukul! Dasar brengsek! Bikin kesal saja!"
"Kenapa kau marah? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya! Kau itu sangat kuat, karena itu-"
"Jika kau bicara bodoh lagi, aku mau pulang saja!" Ucapnya sembari bangkit dan membuka pintu. Namun angin justru membawa air hujan masuk ke dalam rumah pohon itu.
Lila langsung menutup pintu itu kembali saat menyadari bahwa bajunya basah terkena cipratan air hujan.
"Kenapa? Tidak jadi pulang?" Aiden berusaha menggodanya dengan pertanyaan yang membuat Lila semakin kesal.
"Kau harus mengantar aku pulang saat hujannya sudah reda!" Ucapnya sembari mengusap rambutnya yang basah dengan sapu tangan.
"Mungkin akan ada badai! Hujannya deras sekali!"
"Jika badai, mungkin pohon ini akan tumbang!"
"Pohon ini sangat kuat! Tidak akan tumbang semudah itu! Kau mau tetap memakai baju basah itu?"
"Mau bagaimana lagi, aku tidak bawa baju ganti!"
"Buka saja, jika tetap seperti itu kau akan kedinginan dan demam!"
"Mana mungkin aku buka baju di depanmu, dasar bodoh!"
"Kenapa? Kau pasti buka baju di depan Pierre, iyakan? Kenapa di depanku tidak mau?" Tanya Aiden sambil tersenyum dingin. Lila tertunduk, ia benar-benar merasa sangat malu mengingat kegilaan yang sudah ia lakukan semalam.
"Semalam aku mabuk, jadi-"
"Jadi?"
"Sudahlah! Jangan tanya itu lagi!"
"Apa kau menyukai Pierre?"
"Apa? Apa maksudmu?"
"Aku hanya ingin tahu saja! Soalnya sejak dulu pun kau selalu mengandalkan dia!"
"Aku mengandalkan Pierre karena dia yang paling tenang dan bijaksana. Kau si pembuat masalah dan selalu saja bercanda, Henry sangat sombong dan menyebalkan, Jake sangat penakut dan juga cengeng. Mau tidak mau, hanya Pierre yang bisa aku harapkan!"
"Begitu ya? Karena itu kau merasa lebih nyaman saat berada di dekatnya?"
"Ya ampun, Aiden! Ada apa denganmu? Kau bertingkah seperti orang yang sedang cemburu saja, dasar bodoh!"
"Kau benar! Aku memang cemburu kok!" Ucap Aiden. Lila mengangkat wajahnya dan menatap Aiden yang duduk di hadapannya.
Lila tak ingin mengartikan kecemburuan Aiden sebagai sebuah perasaan yang romantis. Mau bagaimanapun dia sangat tahu bahwa tak satupun dari mereka memiliki perasaan seperti itu padanya sejak dulu. Mereka tak pernah menganggapnya sebagai perempuan yang layak untuk dicintai.
"Kau ini bicara apa sih? Dasar sialan!"
Aiden menarik tubuh Lila ke dalam pelukannya dan menciumnya dengan agresif. Lila berusaha untuk menolak, namun tenaga Aiden jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain menerima ciuman itu sampai Aiden melepaskannya.
Sesaat setelah ciuman itu berakhir, mereka membuka mata dan saling memandang. Lila bisa mendengar suara detak jantungnya dan detak jantung Aiden. Ia takut bahwa ini akan berakhir seperti malam sebelumnya.
***