Setelah di jatuhkan talak 6 tahun lalu dalam keadaan hamil yang ternyata tidak mengubah apapun dalam kehidupan Saffana.
Sakit hati yang dia terima membuat Saffana tetap mengakhiri pernikahan itu dengan laki-laki yang pasti dia cintai.
Semua keputusan itu di ambil dengan melibatkan sang pencipta.
Setelah 6 tahun. Saffana yang akhirnya hidup masing-masing dengan mantan suaminya. Tetapi hubungan mereka tetap baik. Karena mereka masih saudara dan juga masih ada anak yang bernama Alisha buah hati mereka berdua.
Hubungan mantan pasangan suami istri itu tetap baik dan kompak dengan merawat Alisha. Tetapi tetap harus berjarak.
Seiring berjalannya waktu, Saffana dan Aksa sama-sama menemukan pasangan hidup mereka masing-masing untuk memulai kehidupan baru setelah 6 tahun lebih sendiri.
Saffana yang sedang dalam proses perencanaan pernikahan.
Bagaimana kehidupan Aksa dan Saffana saat mereka berdua memutuskan untuk memulai kehidupan baru dengan pasangan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 Saffana Yang Sadar.
"Aliyah kenapa kamu diam saja. Ayo katakan perbuatan siapa?" tanya Rachel yang sangat memaksa Aliyah untuk berbicara dengan jujur karena dia memang tahu jika Aliyah mengetahui banyak hal.
"Hmmm, aku tidak bisa mengatakannya karena akan takut menjadi fitnah. Aku juga sebenarnya tidak tahu perbuatan siapa dan aku hanya kepikiran saja," sahut Aliyah yang mengelak.
"Ya kamu katakan saja siapa yang kamu pikirkan jangan membuat orang penasaran kamu tidak itu selalu punya rahasia sendiri. Jika terjadi sesuatu pada Saffana, kamu mau semua orang menyalahkan kamu!" tegas Rachel yang sekarang benar-benar harus mengingatkan Aliyah yang terlalu banyak rahasia.
Aliyah menjadi takut dengan apa yang di katakan Rachel. Dia juga tidak mau mendapatkan masalah.
"Aliyah kamu katakan saja," sahut Shofia dengan lembut. Aksa juga terlihat sangat penasaran dan sangat mengharapkan sang adik berbicara dengan jujur.
"Aliyah kamu jangan membuat kamu orang menunggu kamu. Ayo cepat katakan dan jangan sampai kamu yang menjadi di salahkan atas apa yang terjadi!" desak Rachel.
"Apaan sih mah. Aku memikirkan jangan-jangan itu perbuatan Andre, tapi itu tidak mungkin sama sekali. Aku hanya menduga-duga saja,"sahut Aliyah yang akhirnya jujur setelah semua orang benar-benar sudah mendesak dia.
"Maksud kamu Andre suami Saffana," sahut David.
"Mantan suami," sahut Rachel menegaskan.
"Hanya memikirkan saja dan juga belum tentu benar," sahut Aliyah memang tidak mau salah sasaran walau dia yakin 100%.
"Jika sampai iya. Dia sudah sangat kelewatan," batin Aksa.
Aksa juga sebenarnya mencurigai jika terjadi sesuatu hal buruk kepada Saffana ada yang tidak beres dengan mantan suami Saffana. Tetapi, lagi-lagi Aksa tidak mungkin mencampuri urusan Saffana.
"Tapi kenapa dia melakukan hal itu?" tanya Adam.
"Hanya menduga Pah dan aku aku juga tidak tahu benar apa tidak," sahut Aliyah.
"Tetapi memang pasti bukan dia yang melakukan hal itu dan sangat tidak mungkin bukan," sahut Shofia yang berpikiran positif karena mereka semua dan tidak tahu bagaimana kelakuan Andre.
"Sudahlah kita jangan menuduh orang lain, nanti saja kita tanya Saffana," sahut David, semua orang mengangguk.
"Aksa, kamu pasti sangat lelah menggendong Alisha. Sini biar Bunda saja," sahut Shofia yang tidak tega melihat Aksa yang sejak tadi memang mengurus Alisha.
"Tidak apa-apa Bunda!" Aksa yang menolak yang memang tidak ingin merepotkan orang-orang atas Alisha. Karena dia masih bisa mengurus Alisha.
"Semoga saja Saffana baik-baik saja dan bisa menceritakan kepada kita semua atas apa yang terjadi," sahut Adam dengan penuh harapannya.
**********
Mentari pagi yang kembali tiba yang akhirnya membuat Saffana terbangun dengan perlahan membuka mata itu yang terlihat sangat sayu. Saffana yang terlihat sangat lemas dengan mata yang terbuka sedikit. Dahi yang masih di perban dengan kondisi yang memang sangat memprihatikan.
Di dalam ruangan itu ada Aksa, Bunda, Ayah dan juga Rachel, adalah dan Aliyah.
"Saffana!" lirih Shofia yang melihat Saffana yang terlihat masih begitu lemas.
"Saffana kamu baik-baik saja sayang?" tanya Shofia. Saffana yang belum bisa membuka mulut untuk berbicara melihat suatu persatu orang yang tidak dalam ruang itu.
Tiba-tiba air mata Saffana jatuh yang membuat semua orang bingung dengan mereka saling melihat dan hati mereka tersentuh seperti ada rasa sakit yang dirasakan Saffana.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Shofia dengan memegang tangan dingin Saffana.
Saffana yang tidak menjawab dan tetap saja meneteskan air mata dan juga perlahan memejamkan mata itu.
"Saffana mungkin masih trauma dengan apa yang terjadi, sebaiknya kita biarkan Saffana untuk istirahat sebentar," ucap Adam yang juga tidak tega melihat Saffana yang seperti itu.
"Ya sudah kamu istirahat ya Saffana!" ucap Shofia.
"Alisha mana!" dua kata itu sangat sulit keluar dari mulut Saffana yang langsung mengingatkan putri.
"Alisha sedang sekolah dan sebentar lagi aku akan menjemput Alisha," jawab Aksa.
Saffana yang terlihat bernafas lega mendengar apa yang dikatakan Aksa. Mungkin dia sangat takut saat kejadian tadi malam dua wanita jahat itu juga menyakiti Alisha.
"Saffana kamu jangan memikirkan apapun yang terjadi dan jangan memikirkan Alisha. Kamu harus percaya kepada kami. Jika Alisha pasti akan baik-baik saja," ucap Shofia dengan lembut. Saffana menganggukkan kepala.
**********
"Ya sudah kak. Biar Aliyah saja yang menjemput Alisha," ucap Aliyah yang berada di parkiran bersama Aksa.
"Aliyah, kakak ingin bicara dengan kamu," ucap Aksa yang tiba-tiba terlihat serius yang berdiri di depan adiknya itu.
"Mau bicara apa?" tanya Aliyah yang terlihat malah sangat gugup.
"Aliyah kamu yang selama ini bersama Saffana dan kamu yang pasti tahu apa yang terjadi kepada Saffana. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Aksa dengan rasa yang sangat penasaran.
Aliyah terdiam dengan menunduk yang tidak berani untuk mengungkapkan apapun kepada Aksa.
"Aliyah, Kakak juga sangat yakin jika yang terjadi tadi malam itu juga karena permasalahan yang dihadapi Saffana. Jadi, kamu harus jujur apa yang sebenarnya terjadi. Saffana tidak mungkin bercerai begitu saja dengan laki-laki yang baru menikah dengan dia!" tegas Aksa menekankan.
"Kak Aksa sebenarnya Saffana telah di khianati suaminya. Andre ketahuan tidur dengan wanita lain wanita yang selama ini dikatakan Andre sebagai sahabat yaitu Tasya," ucap Aliya yang sudah mengangkat kepalanya dan berani menatap sangka.
Aksa jelas begitu terkejut mendengar apa yang dikatakan Aliyah.
"Awalnya aku juga sudah mencurigai hal itu saat pertama kali mereka menikah. Aku juga melihat Andre dan Tasya yang keluar dari dalam kamar pengantin Saffana. Tetapi, saat itu aku tidak mengatakan apa-apa kepada Saffana, karena aku takut dikatakan mencampuri urusan rumah tangga mereka. Jadi aku diam dan sampai akhirnya Saffana mengetahui sendiri itu ada mendapatkan suaminya yang bersama wanita lain di kamar ruang tamu mereka," jelas Aliyah.
"Saffana yang meminta cerai dari Andre yang tidak disetujui oleh Ibu Andre dan mereka juga sempat menahan Saffana dan Alisha dan untung saat itu aku datang dan memberikan ancaman kepada mereka sehingga Saffana dan Alisha bisa bebas dari dua orang itu," jelas Aliyah.
"Saffana mengalami hal seberat itu dan bahkan Alisha terbawa-bawa, kenapa kamu tidak mengatakan kepada ayah, bunda dan keluarga kita. Jika sudah bermain dengan kekerasan dan juga bermain fisik. Aliyah seharusnya kamu tidak bisa tinggal diam begitu saja," ucap Aksa.
"Aku juga ingin mengatakannya kepada semua orang kan termasuk kepada Bunda dan juga Ayah. Tetapi Saffana yang melarang untuk melakukan itu," jawab Aliyah.
"Astagfirullah!" Aksa mengusap wajahnya dengan kedua tangan yang sangat tidak percaya dengan apa yang terjadi.
"Jadi apa yang terjadi tadi malam juga sangat berkaitan dengan hal itu. Jangan-jangan Saffana mendapatkan perlakuan tidak baik dari mereka," ucap Aksa yang bisa menebak.
"Aku juga kepikiran hal itu," sahut Aliyah.
"Kak kita sebaiknya lapor polisi atas kejadian ini. Karena ini sudah kelewat batas dan aku takut jika mereka akan melakukan hal yang sama lagi. Lagi pula jika mereka bukan pelakunya ya sudah kita hanya melaporkan Polisi agar polisi menyelidiki kasus ini," ucap Aliyah yang tiba-tiba punya ide.
"Tapi kita harus tanya Saffana. Kita tidak bisa mengambil keputusan begitu saja. Karena semua Saffana yang menjalani semua ini," sahut Aksa.
"Iya kak," sahut Aliyah.
"Ya sudah kalau begitu, Aliyah jemput Alisha dulu," ucap Aliyah pamit. Aksa menganggukkan kepala
Bersambung
please lah...