Kisah sepasang suami istri yang menikah karena sebuah perjodohan.
Ara dan Fawwaz.
Berawal dari tidak saling kenal, lalu dipaksa hidup dalam satu atap.
Ara bersikap sangat dingin dan acuh, berbanding balik dengan Fawwaz yang begitu hangat dan penuh perhatian. Walau sudah berkali-kali di acuhkan, ia tak pernah merasa bosan sedikitpun.
Suatu ketika Ara merasa kasihan dan ingin memperbaiki sikapnya. Benih-benih cinta mulai bersemi, tapi justru ujian berbalik kepadanya.
Dia harus melewati berbagai ujian untuk mendapatkan Fawwaz seutuhnya. Hingga suatu hari ia di melihat kenyataan yang membuat dunianya serasa runtuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiva cahya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Dan ketahuilah, sesungguhnya kemenangan itu beriringan dengan kesabaran. Jalan keluar beriringan dengan kesukaran. Dan sesudah kesulitan pasti akan datang kemudahan." -HR. Tirmidzi
• • • •
Malam semakin larut, tapi Fawwaz masih duduk di sofa kamar, menyibukkan diri di depan laptopnya.
Fawwaz melirik jam yang di di pojok bawah layar, lalu ia matikan layar monitornya.
Fawwaz melirik istrinya yang sedang tidur dengan lelap, lalu ia berjalan ke kamar mandi untuk wudhu sebelum tidur.
Perlahan Fawwaz mendekat ke ranjang Ara, ia rebahkan tubuhnya di samping Ara.
Namun detak jantungnya berdegup begitu kencang, tubuhnya terasa panas padahal AC di kamar Ara sudah cukup dingin, keringat dingin mulai bercucuran.
Ia paksa matanya untuk terpejam tapi lagi-lagi ia tidak bisa tidur.
Kemudian, dia beranjak keluar dari kamar. Dia berjalan menuju dapur.
Glek glek.
"Alhamdulillah," ucapnya.
"Apa yang terjadi denganku?" gumam Fawwaz dalam hati.
Setelah tenggorokanya sudah basah ia kembali ke kamar Ara.
Ia rebahkan tubuhnya di sebelah Ara, tapi tubuh Ara berbalik ke arahnya, selimutnya tersingkap hingga membuat sebagian tubuh Ara terlihat.
Tubuh yang selama ini ingin ia sentuh.
Fawwaz memejamkan matanya, lalu ia meraba selimut tersebut, tapi bukan selimut yang ia dapat, melainkan tanganya menyentuh bagian kewanitaan Ara.
Fawwaz langsung membelalakkan matanya, Jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya.
Bahkan kali ini bagian dada Ara terbuka.
Tanganya tidak tahan ingin segera meraba seluruh tubuh Ara, tapi hatinya menolak.
"Tahan, tahan. Ara baru saja berbaik hati padamu, jangan lakukan." gumam Fawwaz dalam hati.
"Kapan lagi, ini adalah kesempatanmu." Jawab sisi lain Fawwaz.
Untuk sekejap dia mendengar bisikan dari pihak baik nya dan dari pihak buruknya.
Namun dia tidak bisa membendung hasratnya lagi.
Sudah hampir satu tahun Fawwaz menunggu hal ini.
Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini meski pernikahanya yang menjadi taruhan.
Mula-mula Fawwaz mencium mesra bibir Ara, Ara langsung terperanjat. Matanya melotot, bahkan ia berusaha meloloskan diri dari Fawwaz tapi Fawwaz menahan kedua tanganya.
Fawwaz sudah tidak mempedulikan dengan aturan-aturan Ara. Ia adalah kepala keluarga dan ia lebih berhak mengatur rumah tangganya.
Lalu ciumanya turun ke leher, Fawwaz juga melepas bra nya dengan lembut.
Ara sudah tidak membrontak lagi justru ia ikut menikmatinya.
Tubuh Ara mulai menggeliat hingga membuat Fawwaz semakin berhasrat..
Bahkan desahan dari bibir Ara mendorong Fawwaz untuk melakukan hal yang lebih liar lagi.
Fawwaz membuka lingerie Ara dan membuangnya ke segala arah, dan juga membuka T-shirt dan celananya.
Fawwaz tidak berhenti mencumbu bibir sexi istrinya.
Bahkan jarinya kini mulai memainkan bagian ******nya.
Ara berdesah, ia tidak bisa menolak suaminya.
Justru ia menikmati setiap sentuhan mesra suaminya.
Fawwaz tidak tahan ingin segera memasukkan miliknya ke dalam lubang kenikmatan.
"Au, sakit Mas." Erang Ara.
"Aku akan melakukanya dengan lembut." Jawabnya berbisik di bagian belakang telinga Ara, membuat Ara semakin bernafsu.
"Kamu masih perawan Ra?" tanya Fawwaz saat melihat darah pada miliknya.
Fawwaz meraba mesra bagian Pa Da nya, membuat Ara semakin berhasrat.
****
Sayup-sayup terdengar suara lantunan Ayat-ayat Suci Al-Qur'an di telinga Fawwaz.
Fawwaz memicing, mengatur cahaya masuk ke dalam kornea matanya.
Fawwaz merasa berat di lengan kananya, ia melihat Ara masih terlelalap di pelukanya.
Kemudian ia membelai rambut istrinya, lalu mencium mesra keningnya.
"Au," erang Ara.
Ia merasakan sakit di bagian ******nya.
"Ada apa Ra?" tanya Fawwaz khawatir.
Kemudian perlahan Ara bangun dari tidurnya.
"Apa itu benar-benar sakit?" Fawwaz coba menyentuh bagian intim Ara.
Ara mengangguk.
"Mas minta maaf ya Ra. Mas tidak bisa menahan hasrat Mas."
Ara menggeleng.
Lalu Ara beranjak dari ranjangnya dan ia membersihkan dirinya di dalam kamar mandi.
"Ra," Fawwaz mencegatnya sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
"Apa kamu marah karena Mas mengambil ... "
Ara menggeleng cepat.
"Ara harus terbiasa dengan ini. Ara gak apa, Ara hanya belum terbiasa." Jawabnya kemudian berlalu melewati Fawwaz.
Fawwaz menggaruk kasar kepalanya yang tidak gatal.
"Cerobohnya aku," umpat Fawwaz.
Lalu ia keluar dan membersihkan diri di kamar mandi ruang kerja.
Setelah selesai mandi, Fawwaz keluar hanya memakai handuk setengah badan. Ia mencari baju di dalam lemarinya.
"Dimana semua pakaianku?" ujar Fawwaz saat tidak melihat satu pun pakaian di dalam lemarinya.
"Biik ... " teriak Fawwaz dari dalam ruang kerjanya.
"Baju Fawwaz di pindah kemana?"
"Aish, aku lupa jika semua pakaianku di pindah ke kamar Ara." Gerutu Fawwaz sambil menepuk pelan keningnya.
Ceklek.
"Ini pakaian Mas," ucap Ara sembari memberikan baju koko dan sarung untuk Shalat.
"Terimakasih Ra," sahut Fawwaz.
Ara hendak berenjak keluar tapi langkahnya tercekat oleh suara Fawwaz.
"Eee Ra, kita Shalat Subuh berjamaah ya."
Ajak Fawwaz.
Ara pun mengangguk.
"Ara tunggu di Mushala." Sahut Ara kemudian keluar dari ruangan tersebut.
****
Cahaya matahari sudah menyebar ke seluruh ruangan. Ara menyiapkan beberapa menu masakan di meja makan.
"Sudah selesai Bik?" tanya Ara.
"Sudah Neng." Sahut Bibik.
"Kalau begitu Ara panggil Mas Fawwaz dulu ya,"
"Iya Neng."
Tok tok
"Mas," Ara membuka pintu ruang kerja suaminya.
"Iya Ra," jawab Fawwaz yang masih sibuk dengan aktifitasnya.
"Ara sudah siapkan sarapan untuk Mas." Kata Ara.
"Sebentar lagi Mas keluar." Jawab Fawwaz.
"Eee Ra, kamu temani Mas sarapan kan."
Ara mengangguk.
"Ara tunggu di meja makan."
Jam sudah menunjuk angka tujuh. Ara dan Fawwaz sudah menyelesaikan sarapanya.
"Mas berangkat dulu ya," pamit Fawwaz sembari memberikan tanganya ke Ara.
Ara mengangguk, "hati-hati ya Mas." Sahut Ara.
"Muach." Fawwaz mengecup kening Ara.
"Kamu juga hati-hati ya di rumah." Pesan Fawwaz.
Ara melambaikan tangan, mengantar kepergian suaminya.
Tak lupa Ara menarik kedua garis bibirnya, Fawwaz pun menyeringai.
****
"Selamat pagi." Sapa Fawwaz kepada para stafnya.
Bahkan Fawwaz menyapa setiap orang yang ia temui di kantornya.
"Selamat pagi juga Pak." Sahut kedua staf tersebut dengan pandangan keheranan.
"Tumben Pak Fawwaz menyapa kita dulu, biasanya saat kita sapa saja beliau hanya berdehem." Bisik salah satu staf Fawwaz kepada temanya.
Temanya hanya mengangkat kedua bahunya, "Habis dapat jackpot kali." Jawabnya gurau.
"Selamat pagi Ribka," Sapa Fawwaz kepada Sekertarisnya.
"Pagi Pak ... " jawabnya. Ribka mengernyitkan kening, menatap curiga kepada Bosnya.
"Tolong antarkan semua berkas di ruangan saya," Ujar Fawwaz. Bibirnya tak berhenti-berhentinya tersenyum.
"Semua Pak? Bapak Serius?" tanya Ribka ragu.
"Apa kamu melihat ketidak seriusan di wajah saya?" Fawwaz menatap serius Ribka.
"I ... iya Pak, baik." Jawab Ribka.
"Bagus, saya akan kasih kamu bonus bulan ini," ujar Fawwaz kemudian berjalan memasuki ruanganya.
Dari lift, Alfin keluar dengan wajah tegang.
Setengah berlari ke ruangan Fawwaz.
"Mbak, Fawwaz sudah datang belum?" suara Alfin terengah-engah.
"Maksud saya Bapak Wakil Direktur." Alfin membetulkan kata-katanya.
"Sudah Pak, beliau ada di dalam." Jawab Ribka.
Tanpa mengucapkan terimakasih. Alfin nyelonong begitu saja.
"Syukur kamu sudah datang," ucap Alfin dengan suara terengah-engah.
"Lu kenapa?" tanya Fawwaz.
"Habis di kejar Setan?" tambahnya.
"Ini bukan setan lagi tapi iblis betina." Jawab Alfin dengan nada kesal.
"Maksud lu siapa?" tanya Fawwaz penasaran.
"Si Ange ... "
Belum selesai Alfin meneruskan kalimatnya, terdengar suara ketukan dari pintu ruanganya.
Bersambung.
•
•
•
•
Jangan lupa kasih like nya ya, komen juga, kasih vote juga biar Author makin semangat up nya.
Dan klik tanda love nya biar kalian gak ketinggalan sama kelanjutan ceritanya.
pasti ada hati yg tersakiti.
Duhh knpa ujungnya kek gini sih😥
dasar laki laki