“Gue ngelakuin itu tanpa ada rasa ke lo, Na.”
Hidup Alana yang sempurna berubah drastis ketika dia hamil anak mantan kakak kelasnya, Rayyan.
Mimpi Alana sudah di depan mata yaitu untuk kuliah di Seoul National University. Sedangkan Rayyan, laki-laki itu punya pacar yang sangat dicintai. Tapi bagaimana dengan bayi dalam rahim Alana?
Update hari jumat, sabtu, dan minggu!
Happy Reading, Guys
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22 - Tinggal Berdua?
Rayyan pulang menjelang tengah malam. Kondisinya sudah terlihat lebih baik dari sebelum pergi. Walaupun hatinya masih sakit, Rayyan mencoba untuk bersikap baik-baik saja.
Saat Rayyan pulang, Ira masih duduk di teras rumah untuk mengerjakan pekerjaannya sambil menghirup udara segar.
“Bun, kok masih di luar sih? Ini udah malem loh,” ucap Rayyan. Dia ikut duduk di kursi teras.
“Bunda masih ada kerjaan. Kamu dari mana aja? Bunda telpon gak aktif.”
“Main aja, Bun. Cari udara segar.”
“Ray, inget loh kamu udah menikah, jangan main-main terus.”
“Iya, Bunda, Lana juga tau kok Ray pergi.”
“Iya tapi kamu juga harus inget waktu.”
Rayyan hanya mengangguk pelan mengiyakan ucapan Ira.
“Ohiya, Ray, Bunda rencananya mau sewa apartemen. Tadi Bunda udah cari-cari dan nemu satu apartemen yang pas.”
Rayyan mengerutkan kening.
“Bunda pikir, Alana gak akan nyaman tinggal disini. Apalagi tetangga-tetangga udah mulai gosip-gosip tentang kamu sama Alana, ya kecuali kalau kamu sama Alana udah siap kasih tahu orang lain kalau kalian sudah menikah.”
Rayyan menggeleng pelan. Jujur saja Rayyan belum siap untuk itu, apalagi Alana.
“Kalau kalian tinggal sendiri, itu juga lebih baik untuk hubungan kalian. Kalian jadi bisa mengenal lebih jauh dan membangun rumah tangga kalian sendiri.”
“Ray bicarain dulu sama Lana ya, Bun,” ucap Rayyan yang diangguki oleh Ira.
“Ya sudah, kamu masuk, istirahat.”
“Bunda juga.”
“Bunda bentar lagi, ini kerjaannya bentar lagi selesai.”
Rayyan mengangguk. “Ray masuk dulu, Bun.”
Rayyan bangun dan masuk ke dalam rumah. Rayyan langsung menuju ke kamar. Dilihatnya Alana masih terjaga sambil memegangi perutnya.
Rayyan langsung mendekati Alana, duduk di kasur.
“Kenapa, Na?”
“Perut gue sakit, nyeri.”
Raut wajah Rayyan berubah panik. “Ayo ke rumah sakit, Na.”
Rayyan memegang lengan Alana untuk mengajaknya, tapi Alana menggeleng.
“Gak usah, kram ringan aja kok.”
“Na.”
“Beneran gak papa. Ini udah sembuh kok.”
“Beneran?”
Alana mengangguk membuat Rayyan menghela napas lega.
Alana menoleh pada Rayyan. “Lo gak papa?”
“Gak papa apanya?”
“Soal… tadi….”
“Oohh gak papa.” Rayyan mengulas senyum tipis sebentar.
Alana mengangguk. Dia takut Rayyan marah padanya soal tadi siang, karena tadi siang Rayyan bicara dingin padanya.
“Ohiya, Na, tadi Bunda bilang ke gue katanya Bunda mau sewa apartemen buat kita.”
“Gue… ikut lo?”
“Iyalah, Na, kan sekarang kita-
Rayyan menghentikan ucapannya. Rasanya aneh mengucapkan kata-kata seperti itu.
“Gimana menurut lo?” tanya Rayyan.
“Tinggal ber… dua aja?”
“Bertiga sama adek bayi,” celetuk Rayyan asal. Sedetik kemudian, dia menoleh pada Alana yang menunduk sambil memegangi perutnya.
“Eh sori,” ucap Rayyan lagi. “Maksudnya ya… ya kita tinggal… berdua aja.”
Situasi macam apa ini? Rayyan mengumpat dalam hati.
“Ya kalau lo gak mau juga gak papa. Kita bisa tetap tinggal disini. Gak masalah. Bunda juga pasti gak keberatan kok.”
“Gue ikut aja,” ucap Alana pelan.
“Ikut? Pindah ke apartemen?” tanya Rayyan memastikan.
“Ikut enaknya gimana.”
Rayyan menghela napas pelan.
“Kalau gitu kita pindah aja?”
Alana mengangguk.
“Atau disini aja?”
Alana menoleh pada Rayyan yang hanya tersenyum kecil.
“Kita pindah ke apartemen aja ya,” ucap Rayyan mengambil keputusan.
Alana mengangguk pelan.
“Gue ngomong Bunda dulu.”
Lagi, Alana hanya mengangguk.
Rayyan keluar dari kamar untuk menemui Ira yang masih duduk di teras. Rayyan membicarakan hal itu dengan Ira. Setelah beberapa saat, Rayyan kembali masuk ke dalam rumah untuk mandi dan bersih-bersih.
Saat Rayyan kembali ke kamar untuk mengambil baju, Rayyan melihat Alana yang masih saja terjaga.
“Kok belum tidur, Na?”
Alana menggeleng pelan. “Belum ngantuk,” jawab Alana pelan tanpa menoleh pada Rayyan yang bertelanjang dada.
Rayyan hanya mengangguk sebagai balasannya. Dia dengan cepat mengambil satu kaos dan memakainya. Rayyan kemudian duduk di depan meja belajar dan memainkan ponselnya.
Mendengar suara kursi, Alana menoleh menatap Rayyan.
“Lo… tidur dimana?” tanya Alana pelan.
Rayyan menoleh. “Gue mah gampang. Bisa tidur dimana aja. Mm… nanti kalau bunda udah tidur gue bisa tidur di luar. Lo tidur aja,” ucap Rayyan.
Alana mengangguk pelan. Dia berbaring di atas kasur, mepet ke tembok, menutupi seluruh tubuhnya kecuali kepala, dengan selimut. Tidak butuh waktu lama bagi Alana untuk terlelap dalam tidurnya.
Rayyan menoleh pada Alana, memastikan dia sudah tertidur. Rayyan menguap lebar. Sepertinya Ira belum tidur, Rayyan dapat mendengar suara Ira dari arah dapur.
Rayyan merebahkan kepalanya di atas meja belajar.
...***...
Rayyan bangun dari tidurnya. Dia memegang leher dan punggung yang terasa nyeri akibat tidur di meja. Rayyan menoleh ke kasur, Alana sudah tidak ada disana. Sebagai gantinya, Rayyan samar-samar dapat mendengar suara Alana yang muntah-muntah.
Rayyan bangun, meregangkan tubuh, kemudian berjalan keluar. Dilihatnya, Alana baru saja keluar dari kamar mandi.
“Gak papa, Na?” tanya Rayyan sambil mengusap lehernya.
Alana menggeleng pelan.
“Badan lo pasti sakit ya?” tanya Alana pelan.
“Gak papa, pegel dikit doang.”
“Sori.”
“Apa sih minta maaf mulu lo. Gak perlu minta maaf, lagi.”
Alana hanya diam tidak menanggapi ucapan Rayyan.
“Bunda mana?” tanya Rayyan. Biasanya pagi-pagi begini Ira sedang memasak, tapi kali ini tidak ada.
“Tadi pagi-pagi banget bunda pergi, katanya ada urusan kerjaan. Tadi bunda juga bilang mau langsung ke apartemen setelah kerja. Kita diminta nyusul nanti. Kata bunda sekarang kita siap-siap aja, beresin barang yang mau dibawa.”
“Akhirnya setelah sekian lama lo ngomong panjang juga,” celetuk Rayyan tanpa dosa. Hal itu membuat Alana kembali diam dan menunduk.
“Eh gue salah ngomong ya,” ucap Rayyan.
Alana tidak menanggapi ucapan Rayyan.
“Ya udah lo siapin aja barang lo, masukin koper.”
“Barang gue kebanyakan masih di koper,” jawab Alana.
Dia memang belum sempat menurunkan barang-barang dari dalam koper. Hanya beberapa baju yang belakangan dipakai. Lagipula tidak ada tempat untuk menyimpan semua barangnya itu. Keberadaan 4 koper itu saja sudah membuat kamar Rayyan terasa lebih sempit.
“Ohiya, barang gue yang masih berantakan. Ah elah, nanti deh.”
Tanpa banyak bicara lagi, Rayyan masuk ke dalam kamar mandi.
Menjelang siang, Rayyan mulai membereskan barang-barang, memasukkannya ke dalam koper. Alana juga melakukan hal yang sama, hanya saja pekerjaannya lebih sedikit karena hanya ada sedikit barang yang perlu dimasukkan ke dalam koper.
Rayyan merebahkan tubuhnya di atas kasur setelah selesai memasukkan barang-barangnya ke dalam sebuah koper berukuran sedang. Sangat berbanding terbalik dengan bawaan Alana.
Memang tidak semua barang Rayyan akan dibawa ke apartemen, hanya barang-barang yang dibutuhkan dan penting. Bahkan Rayyan tidak membawa semua bajunya untuk berjaga-jaga jika Rayyan menginap di rumah. Jadi, tidak perlu membawa baju ganti.
Berbeda dengan Alana, Alana tidak memiliki tempat lain untuk menyimpan barang-barangnya selain di apartemen itu. Alana merasa tidak enak jika harus meninggalkan barangnya di rumah Rayyan.
Beberapa waktu berlalu, Rayyan mendapatkan pesan dari Ira untuk segera menyusul ke apartemen baru. Ira mengirimkan alamatnya pada Rayyan. Apartemen itu berada tidak jauh dari kampus Rayyan. Mungkin itu salah satu alasan Ira memilih apartemen itu.
Rayyan segera mengajak Alana untuk pergi. Mereka pergi dengan menggunakan taksi online. Tidak mungkin dengan barang bawaan sebanyak itu, mereka bisa menggunakan motor. Untuk motor, nanti Rayyan bisa pulang lagi untuk mengambilnya.
Rayyan membawa satu per satu koper Alana yang ternyata berat, entah apa isinya. Rayyan sampai mengeluh dalam hati. Alana hanya menatapnya dengan perasaan tidak enak.
Setelah selesai memasukkan semua barang, mereka pun pergi ke alamat yang Ira berikan.
Keluhan Rayyan kembali terulang saat dia lagi-lagi harus menggotong koper itu untuk menurunkannya dari bagasi mobil. Belum selesai sampai disana, Rayyan juga harus membawa koper-koper itu naik ke lantai 5, tempat unit apartemen mereka berada.
Karena kesulitan membawa keempat koper itu sekaligus ke lantai 21. Rayyan memutuskan untuk membawa dua koper lebih dulu, dua lagi dititipkan di lobby. Alana sendiri membantu membawa koper Rayyan yang tidak terlalu berat. Itu pun sebenarnya karena Alana memaksa ingin membantu Rayyan. Alana merasa tidak enak pada Rayyan.
Rayyan mendorong dua koper Alana dengan kedua tangannya. Sedangkan Alana menarik koper Rayyan. Mereka berjalan menuju lift, kemudian menyusuri lorong menuju unit apartemen mereka.
Mereka langsung masuk ke dalam. Di dalam sudah ada Ira yang menunggu dengan senyuman.
“Akhirnya kalian sampai juga,” ucap Ira.
Alana hanya tersenyum. Sedangkan Rayyan sudah berbalik badan.
“Ray, mau kemana lagi?” tanya Ira.
“Ambil koper, Bun,” jawab Rayyan dengan napas tersengal.
Tanpa berbalik badan ataupun menghentikan langkahnya, Rayyan kembali keluar dari unit apartemen itu.
Ira tertawa kecil melihat itu, sedangkan Alana hanya bisa tersenyum canggung.
...***...
lanjuuuut..