NovelToon NovelToon
SKY HIGH SCHOOL "Menaklukkan Langit Dan Mimpi"

SKY HIGH SCHOOL "Menaklukkan Langit Dan Mimpi"

Status: tamat
Genre:Time Travel / Sistem / Aplikasi Ajaib / Transmigrasi ke Dalam Novel / Transmigrasi / Masuk ke dalam novel / Barat / Tamat
Popularitas:17.7k
Nilai: 5
Nama Author: Adhylheid

Dean Alexandre, pemuda yang hobi menulis buku cerita anak-anak. Dia selalu tidur di dalam kelas, suatu hari dia tidur lebih lama dari biasanya. Di waktu di mandi tiba-tiba lantai kamar mandinya berguncang dan menjadi miring. Begitu tahu penyebabnya adalah seorang perempuan asing yang muncul di sana mengatakan dia adalah pemuda yang terpilih masuk ke dunia Sky High di mana semua adalah anak-anak super.
Apa yang terjadi?

Ayo, bacalah SKY HIGH SCHOOL.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adhylheid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Jatuh

Dean dan Chyntia tidak mampu membunuh semua makhluk itu, mereka sekarang terjebak di bibir jurang.

Jurang ini dinamakan dengan jurang Nestapa.

Sedikit orang yang berhasil lolos di tempat itu. Dean melihat ke belakang badannya. Astaga! Aku harus bagaimana ini, kita terkepung, Chintya!

Chyntia yang masih sibuk menghancurkan sebagian pasukan capung sakti, sebagian lagi para monster semut, belum laba-laba biru kecil yang selalu memojokkan dia dengan benang biru mereka.Dia benar-benar lelah dengan serangan beruntun para makhluk itu.

"Dean!" panggilnya,

"Lakukan sesuatu!" teriak Chyntia terus melakukan mode on butterfly effect. Dia semakin cemas karena dirinya tahu kalau mode on dari butterfly effect tidak bisa sering digunakan. Ada sebab-akibat yang bisa timbul jika terlalu banyak dipakai. Bisa-bisa dia pendarahan dalam atau ada bahaya lain. Sel tubuhnya bisa rusak!

Chyntia terpuruk, beberapa kali dia jatuh—dia berusaha bangun dan menyerang lagi para monster semut. Karena terlalu lelah, Chyntia terpental ke sisi bukit di sekitar tebing itu. Batu-batu besar menimpanya. Sekarang dia tidak bisa lagi berdiri. Melihat Chyntia yang sudah roboh.

"Aaaaaa!" Chyntia tertusuk kaki berduri milik semut merah. Salah satu pasukan siluman semut merah Mazi yang melakukannya. Chyntia terjatuh di bibir jurang dengan tidak berdaya. Ia memegang perutnya sambil meringis kesakitan.

"Chyntia!" Dean yang juga sudah terkepung oleh para pasukan siluman laba-laba biru terkena serangan bertubi-tubi dari ludah api laba-laba siluman itu.

"Aaaaaaaaaa!"

Dean terjatuh ke jurang Nestapa. Mujur dia berpegang pada sebatang ranting yang tumbuh di sekitar dinding jurang yang curam. Dean berpikir " mungkin aku akan mati, tetapi setidaknya Chyntia harus bertahan dan bisa melarikan diri. Sistem KA di mana bisa tolong Chyntia?"

Dean memanggil sistemnya melalui telepati.

[kau bisa melakukan teleportasi, tuan Dean. Mengapa tuan terus memikirkan Chyntia. Tolong saja nyawa anda!]

Dean menggeleng lemah, "Aku tidak akan melakukan teleportasi, kalau aku meninggalkan Chyntia di sini, dia akan terbunuh!"

"Sistem, kenapa kau tidak membantu kami? Kau ini bersembunyi di mana?" Dean mengeluh. Pedangnya sudah patah tadi ketika dia menghalangi para musuh. Kini dia hanya bisa bertahan dengan memegang erat ujung dahan.

[Tuan, sampai kapan anda akan menunggu dan bergelantungan di ujung dahan itu. Dahan itu terlalu kecil tentu tidak dapat menahan tubuhmu. Tuan, anda kan memiliki droid ball tuan harus mengaktifkan mode nya! Lemparkan droid itu ke atas!]

"Kalau ku lempar apa yang akan terjadi?" tanya Dean pada Jennie.

[Droid akan meledak dan membentuk makhluk yang bisa tuan andalkan.]

Dean melakukan seperti yang diucapkan Jennifer. Ia melempar droid ball yang dia bawa di ikat pinggangnya ke atas kepalanya. Benar saja perkataan Jennie. Bola robot itu meledak di udara ketika bersentuhan dengan angin, bolanya membentuk seekor harimau putih. Makhluk itu mengaum lalu melihat Dean yang bergelantungan.

"Naiklah ke pundak hamba, tuan Dean Alexandre. Hamba akan membawa anda pergi dari jurang ini!" perintahnya

"Tidak! Tolonglah Chyntia, kau pastikan dia selamat, jangan hiraukan saya!" tukas pemuda itu.

"Tidak, hamba hanya bisa menolong anda, tidak dapat menolong orang lain selain anda!" Harimau putih menolak permintaan Dean.

"Apa!!"

"Jennie, apa maksudmu, kenapa harimau menolak permintaan ku?"

[Maafkan saya tuan, droid ball hanya diprogram khusus untuk anda. Di buku yang anda gambar, makhluk itu memang hanya menolong satu orang yaitu anda sendiri ketika dalam bahaya.]

Dean tidak habis pikir mengapa dia membuat buku tidak berguna seperti itu. Dia kira droid bisa dia aktifkan untuk melakukan apa pun yang dia inginkan. Ternyata dia keliru. Harimau putih dirancang untuk menolong orang untuk diri sendiri.

"Aku sangat egois! Kalau begitu baiklah aku mati saja daripada tidak bisa membawa Chyntia keluar dari sini!" Dean melepaskan satu tangannya.

[Tuan jangan gila! Bahaya jika anda masuk ke jurang nestapa. Anda sukar keluar hidup-hidup. Ada kemungkinan anda mati di sana!]

Dean tertawa sumbang.

"Hahahaha, untuk apa hidup jika tidak bisa menolong orang lain. Aku tidak mau jadi egois begitu, kalau begitu baiklah," katanya.

Dean kemudian melepaskan kedua tangannya dan jatuh. Tubuh Dean seperti anak panah yang terlepas dari busurnya. Ia pasrah saja.

Chyntia yang melihat Dean terjatuh dengan sengaja melepaskan diri berteriak histeris. "Deaaan! Kamu bodoh!"

Chyntia memaksa diri melakukan butterfly effect dengan mengaktifkan mode on untuk menolong temannya.

"Butterfly effect mode on!" teriaknya. Ia kembali menyerang musuhnya, ketika ada kesempatan keluar dari sana, Chyntia berhasil melarikan diri dan masuk ke jurang nestapa. Dia terjun bebas ke arah Dean.

"Aku akan menyusul Dean!" Chyntia memiliki tali pelangi. Sayapnya yang sudah robek itu tidak dapat mengepak lagi, tetapi masih memiliki tali pelangi. Ia memakai senjata terakhir yaitu senjata rahasianya.

Tali pelangi : tingkat 6 upgrade tingkat 7

Kekuatan: Melilit, mengikat lawan. Dapat menghancurkan musuh dengan kekuatan upgrade sampai tingkat 9.

"Dean, bertahanlah!" teriak Chyntia. Gadis itu melemparkan tali pelangi ke arah Dean dan menariknya. Tali pelangi berhasil mencapai Dean, ketika benda itu menyentuh tubuh Dean. Maka tubuhnya akan terikat dengan erat. Chyntia mengeluarkan darah dari mulutnya karena energi di tubuh habis terkuras. Ia memaksa menarik Dean ke atas. Ketika tali itu sampai ke tubuh Dean, ujung satunya dia ikatkan ke dahan pohon yang tertancap di dinding jurang.

"Hei, tidak usah pedulikan aku. Tarik saja dirimu!" teriak Dean mengalahkan angin di mukanya.

"Bodoh! Apa yang kau lakukan, huh!"

Chyntia terus menolong Dean. Ia memaksa menarik Dean dengan naik lebih dulu. Sekarang mereka berdua bergelantungan di dahan.

"Kenapa kau peduli?" tanya Dean ketika mencapai dinding jurang. Mereka berpegang dengan tubuh gemetar. Dean melihat ke bawah betapa dalamnya jurang nestapa. Seolah jurang itu tidak berdasar. Dasar jurang pun tertutup dengan kabut tebal seperti awan-awan abu-abu. Benar-benar gelap. Dia tidak mau membayangkan apa jadinya dirinya kalau masuk menembus kabut abu-abu itu.

"Kau tahu, begitu kita masuk ke jurang nestapa dan kalau kita mati di sana, kita tidak bisa bereinkarnasi lagi?" bisik Dean. Ia masih memandang ke bawah.

"Aku tahu. Ibuku pernah menceritakan tentang jurang ini waktu aku masih kecil. Katanya kalau aku main terlalu jauh ke dalam Mazi, aku akan tersesat dan jatuh ke jurang nestapa. Jurang penuh penderitaan," pungkas Chyntia. Dia juga ikut melihat ke bawah.

"Dean, kenapa kau tadi menjatuhkan dirimu, apa kau mau bunuh diri?" tanya Chyntia. Wajahnya yang cantik terbungkus asap yang kadang-kadang keluar dari dasar jurang.

"Kau kira aku pemuda putus asa?" tanya Dean kemudian terus tersenyum. Setidaknya ada wanita cantik yang menemani dia bergelantungan di dahan kecil itu.

"Kenapa malah senyum-senyum seperti itu?" Chyntia merona karena Dean terus memerhatikan wajahnya. Dia membuang muka menunduk dan melihat asap-asap di bawah kakinya.

"Aku baru sadar sekarang. Kau ini cukup cantik juga, ya," kata Dean terus memandangi muka Chyntia. Dia baru tahu, ada kesempurnaan wajah wanita lain di sisinya. Chintya menjadi salah tingkah.

Perempuan itu menunduk dengan merona. "Hush. Jangan pandang aku. Lakukan sesuatu, kita bisa habis kalau terus seperti ini," ucapnya malu-malu.

Sementara Jennifer di tempat itu, mendengar jelas pembicaraan mereka. Ia mengepal tinju. [Kenapa tuan Dean sekarang malah menggombal wanita. Dia tidak ingin selamat rupanya. Kalau begitu aku akan menghapus lagi ingatannya dan melenyapkan perempuan jelek itu, gumamnya.]

Dean menyadari sesuatu. Tubuh Chyntia tiba-tiba saja bersinar. Cahaya putih kebiruan itu keluar dari tubuhnya. Ia ingat dengan cahaya itu saat dia menghapus Ellene dan melenyapkan karakter Ellen.

"Kenapa kau terus melihat aku, menyebalkan!" gerutu Chyntia tanpa tahu apa-apa.

"Diamlah. Kau sedang terhapus. Aku tidak melakukannya jadi siapa?" Dean bertanya. Chyntia yang bingung tidak bisa bicara apa-apa. Ia memerhatikan dirinya yang bercahaya putih kebiruan.

"Cahaya apa ini?" batinnya.

Dia berpikir itu cahaya dari malaikat kematian. Maut sudah datang mengambil dirinya. Dean memeriksa sistemnya dan bertanya melalui telepati. Namun, Jennie tidak menjawab setiap pertanyaan Dean. Seakan Jennie sengaja atau tidak menggubris pemuda itu.

"Sekarang bagaimana," tanya Chyntia dengan air mata berurai. Ia memegang kedua tangan Dean. Tangannya itu gemetar. Dia merasa dia akan mati.

"Tenang saja. Jurang nestapa tidak akan melukai kita barang sehelai rambut pun. Jurang ini menghubungkan penderitaan di kehidupan kita di bumi. Kita akan masuk ke dalam penderitaan yang panjang menjadi seorang manusia," kata Dean.

Matanya terbelalak. Sekarang dia ingat. Dia pernah menulis di buku sketsanya tentang jurang nestapa. Matanya terpejam beberapa saat. Semoga ingatan lainnya yang terputus akan bersambung kembali setelah dia masuk ke jurang ini.

"Kau sudah siap?" tanya Dean pada Chyntia.

"Apa-apa maksudmu?" Chintya tidak mengerti dengan pertanyaan Dean. Dia menggeleng ketakutan. "Aku tidak mau jatuh ke dalam. Aku benar-benar takut!"

Kedua tangan perempuan itu menjadi dingin dan gemetar.

"Kita akan masuk bersama-sama ke dalamnya. Jurang tidak berujung ini akan membawa kita kembali ke masa lalu, entah aku akan bertemu denganmu di sana atau kita tetap bisa saling mengenal meskipun tidak bertemu semua terserah takdir." Dia menatap dalam mata Chyntia.

Gadis itu hanya menangis dan terus menggeleng.

"Kuatkan hatimu, Chyntia. Kita akan me–,

Belum habis Dean berbicara dahan yang mereka pegang itu tiba-tiba saja berbunyi "kretek", kayu yang dipegang oleh keduanya patah. Tubuh keduanya tidak seimbang lagi mereka terjatuh ke bawah dan meluncur dengan cepat melewati lubang kosong dan berputar-putar di celah-celah sempit yang mengerikan. Terdengar teriakan kesedihan. Orang-orang riuh menangis. Warna celah yang kelam dan gelap. Chyntia menjerit kencang. Dia histeris karena merasakan segalanya. Hatinya tersayat tipis seperti benda tajam yang melukai mengirisnya. Ia terus menangis tanpa sebab, air matanya terus keluar tanpa dia inginkan. Melewati jurang nestapa membuat dirinya merasakan apa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

"Aaaaaaaaaa ...!"

Dean juga ikut merasakan seperti yang Chyntia rasakan. Kesedihan yang panjang hanya bedanya Dean tidak mengeluarkan air mata. Dia hanya merasakan sakit hati yang tidak mendasar. Jurang itu membawa mereka masuk lebih dalam ke kegelapan yang tidak ada arahnya. Bagai labirin rumit yang gelap. Sesekali mata Dean yang sempat terpejam itu melihat Chyntia di sisinya. Ya. Mereka jatuh dengan posisi saling berpelukan.

Namun, posisi itu tidak bisa menjamin mereka akan aman melewati jurang ini. Setiap kali tubuh mereka singgah di sebuah celah yang gelap dan dingin, sepotong tangan bahkan ribuan tangan menggapai tubuh mereka, ingin mengoyaknya. Chyntia terus memejamkan matanya dengan kening berkerut. Ia panik. Dean yang di sampingnya terus menjaganya dengan merengkuh tubuh Chyntia. Ia menenggelamkan kepala Chyntia ke dadanya. Perempuan itu tetap saja tidak merasa aman, bahkan Chyntia merasa kepalanya sakit sekali. Pusing dan mau muntah. Belum lagi aroma tak sedap menguar di setiap celah labirin yang mereka jumpai.

"Mau mati rasanya," gumamnya pelan. Berkali-kali dia terlepas dari pegangan Dean.

"Bertahan saja," bisik Dean menguatkannya. Dia memegang erat lengan gadis itu. Tubuh mereka semakin masuk lebih dalam lagi ke dalam. Lorong waktu nestapa semakin menyusut. Ketika mereka melalui celah-celah kecil itu tubuh mereka tersayat lebih cepat. Tubuh Dean dan Chyntia seolah ada tangan yang merobeknya memisahkan mereka berdua. Tangan yang begitu banyak dan mengerikan. Darah-darah orang yang mati tercabik-cabik di sana.

T B C ...

Ikuti terus kisah Dean cs, ya...

[Karya ini merupakan karya jalur kreatif]

Semoga suka dan jangan lupa dukung karya dengan subscribe, vote, like komentar. 😃🙏

1
Honeybee🐝🥀
terima kasih kk atas crtnya yg gk jelas ahahah yg semangat ea kk
Honeybee🐝🥀
ini alur ceritanya ya kk sekarang baru ngertos
Honeybee🐝🥀
sudsh balik yg dean
Rara
/Scowl/ semoga mereka sanggup hadepin sistem jahatnya om dean
Honeybee🐝🥀
apa kubilang klu jeni ini memang robot mana bisa mereka melawan robot apa sudah gilakah
Honeybee🐝🥀
cien udah jago udah bisa mengendalikan pikiran org lain eaa tp bukannx meri dkk udah dead ya
Honeybee🐝🥀
apa gunanya memiliki jantung itu tdk berguna disaat dia tersungkur huh
Honeybee🐝🥀
nenek tua jeni ini knp blm mati mati siii kesel gw
Rara
cari mati!🤪
Rara
Yu Wuximing siapakah anda
Honeybee🐝🥀
wah nona maxi dead
ELVANN: thanks selama ini dukungan anda
total 1 replies
Honeybee🐝🥀
emang boleh sihir ngelawan laser
Honeybee🐝🥀
typo thorr
Honeybee🐝🥀
pen nanyak kak kelas awal apa sih
Honeybee🐝🥀
pen nanyak kak kelas awal apa sih
ELVANN: kelas pertama
total 1 replies
ELVANN
seharusnya Dean, saya salah ketik 🙏😅
Rara
/Toasted/
Rara
/Toasted/
Lullaby
next kk
Rara
kapan kelanjutannya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!