" Ayo kita cerai....!!! " ucap Laras dengan lantang kepada Erlangga
" Ada apa kenapa tiba tiba kamu ingin bercerai..? " tanya Erlangga yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
" Aku rasa kamu sudah tau kenapa saya ingin bercerai Mas, aku ini Istri kamu tapi sejak menikah aku belum mendapatkan hak ku sebagai istri mas " jawab Laras dengan suara bergetar
Erlangga bankit dari duduknya dan menghadap Laras.
" Jangan pergi demi Nathan dan Nala Laras " ucap Erlangga
Saat mereka tengah berbicara Nathan masuk dan menghampiri keduanya.
" Bunda.. bunda jangan pergi jangan tinggalin Nathan " ucap Nathan yang mendengar ucapan kedua orangtuanya
" Nathan, ayo ikut bunda kita ke taman belakang " ucap Laras menghibur anaknya
Entah mengapa Laras tak pernah tega untuk meninggalkan Nathan dan Laras, walaupun ia sendiri tau jika kedua anak itu bukan anak kandung Laras dan Erlangga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
" Raka " ucap Fransiska saat melihat Raka yang berdiri didepan pintu rumahnya
" Jadi benar kamu masih hidup Siska " ucap Raka dengan raut wajah bahagia
" Pergi sana jangan pernah menemui aku, aku sudah jijik sama kamu " ucap Fransiska yang sudah sangat membenci Raka
" Kenapa kamu sangat membenci ku Siska, aku sangat rindu sama kamu " ucap Raka kembali
" Rindu kamu bilang..? Kamu ga ingat kalau kamu hampir membunuh aku dan anak anak ku..? Bahkan kamu lebih mempercayai mulut sampah daripada istri kamu sendiri. Harusnya kamu tau justru Resti itu sebenarnya bukan anak kamu, tapi kamu malah menuduh aku hamil dengan laki laki lain " Fransiska meluapkan emosinya
" Lalu dimana anak anak kita..?? Apa mereka masih hidup..? "
" Anak anak kita..?? Setelah bertahun tahun kamu masih bisa bilang Anak kita..?? Saya ga Sudi Raka kamu menyebut mereka anak kamu " bentak Fransiska
Fransiska mencoba menutup pintu namun dengan cepat Raka menahan tangannya.
" Lepaskan Mamah saya " bentak Rian dari kejauhan
Rian dan Laras yang baru saja sampai langsung menghampiri Mamahnya yang tengah bersama dengan Raka.
" Ooo ini dia orang kita tengah cari, Laras hubungi Bang Jeri " ucap Rian dan dengan seger Laras mengeluarkan ponselnya
" Mamah ga apa apa Mah..? " ucap Raka yang langsung menghampiri sang Mamah
" Mau apa kalian ikut campur" tanya Raka dengan emosi
" Jelas kami ikut campur karena dia adalah Mamah kamu, bukan seperti kamu pembunuh " bentak Rian
" Dimana keluarga kamu itu hah..? Keluarga kalian itu harus bertanggung jawab atas semua kesalahannya " ucap Rian kembali
" Siska apa mereka anak anak kita..? " tanya Raka
" Anak ?? Saya ga Sudi punya orang tua seperti anda ..!!! " Bentak Rian kembali
Raka terkejut saat mengetahui Laras dan Rian adalah anak anak Siska, yang berarti mereka adalah anak kandung dirinya.
" Bang Jeri sebentar lagi datang " ucap Laras kepada Rian dan Siska
" Laras kamu anak saya " ucap Raka hendak memeluk
" Jangan sentuh dia " bentak seorang laki laki yang baru saja datang
" Erlangga" ucap Fransiska
Laras sengaja menghubungi Erlangga, dan benar saja laki laki itu kini hadir dirumah Siska
" Jangan pernah kamu sentuh istri saya, katakan dimana Resti dan Istri anda " ucap Erlangga dengan emosi
" Mau apa kamu ikut campur, kamu bilang Laras istri kamu..? Tapi kamu sendiri masih bertemu dengan mantan istri kamu, seharusnya kamu malu Erlangga mengatakan itu " ucap Raka
" Brengsek " Erlangga memukul dengan keras wajah Raka
" Mas Erlangga" Laras menghentikan Erlangga
Tak lama Jeri datang dengan kedua polisi.
" Berhenti" ucap Salah satu polisi
" Dia sudah melukai adik saya, dan juga membunuh orangtua adik saya pak " ucap Jeri kepada Raka
" Jangan sembarang kamu yah, kamu gatau apa apa " ucap Raka memberontak
" Silahkan jelaskan nanti di kantor pak " ucap polisi sambil memborgol tangan Raka
Rian langsung memeluk tubuh Siska yang syok, begitu juga dengan Erlangga yang memeluk tubuh Laras.
" Bang Jeri nanti aku dan yang lain menyusul " ucap Rian dan Jeri mengangguk
" Ayo kita masuk dulu " ajak Rian
Rian memegangi Fransiska karena tubuhnya yang lemas, ia benar benar sangat benci dengan Raka terlebih saat dia mengatakan dia adalah ayahnya.
" Mamah duduk dulu yah, biar Rian buatin minum buat Mamah " Rian pun segera pergi ke dapur
" Erlangga, terimakasih kamu juga sudah memberi tau jika Raka lah pelaku dari kecelakaan Angel ya " ucap Siska kepada Erlangga
" Sama sama Ma.. Eh Tan " ucap Erlangga ia takut salah dalam memanggil
" Ga apa apa kamu panggil saja saya Mamah " ucap Siska
" Mah apa yang dikatakan Om Raka benar Mah..? Apa dia ayah Laras dan Rian..? " tanya Laras yang ingin mengetahui kebenarannya
" Hemm tapi dia dulu hampir membunuh kalian, dia menuduh Mamah selingkuh dengan laki laki lain sayang " ucap Siska
" Dia ga pantas di sebut sebagai orangtua, dia itu iblis " ucap Rian yang baru kembali dari dapur
" Kita harus segera menangkap Jeni dan juga Resti, karena bagaimana pun mereka ikut terlibat dalam masalah ini " ucap Erlangga dengan tegas
" Bukannya kamu masih menyayangi Resti..? kenapa kamu ingin memenjarakannya..? " tanya Laras kepada Erlangga
" Kata siapa aku masih mencintai Resti..? Setelah dia selingkuh mana mungkin aku mencintai dia, aku hanya menghargai dia karena dia ibu dari Naya dan Nathan Laras " Jawab Erlangga
Driing.. Driingg
Ponsel milik Erlangga berbunyi panggilan masuk, dengan segera Erlangga mengangkatnya.
" Hallo Ya Bi ada apa..? " ucap Erlangga mendapatkan panggilan dari Artinya
" Non Naya dan Tuan Nathan di bawa paksa sama Bu Resti tuan " ucap Art rumah Erlangga
" Dibawa kemana Bi..? kapan .? " tanya Erlangga dengan panik
" Barusan tuan, kami diancam dengan pisau jika menghalangi sebab ia datang dengan 3 laki lki "
" saya akan segera mencari Naya dan Nathan "
Erlangga segera menutup panggilan tersebut.
" Kenapa dengan Naya dan Nathan..? " tanya Rian yang ikut khawatir
" Resti menculik mereka, aku harus segera mencari " ucap Erlangga yang bersiap untuk pergi.
" Aku ikut Mas " ucap Laras yang juga khawatir dengan keberadaan kedua anak tirinya
" Rian kamu temani Jeri, nanti jika aku butuh bantuan aku akan menghubungi kamu " ucap Erlangga dan Rian mengangguk
Dengan segera Erlangga dan Laras pergi untuk mencari Nathan dan Naya, Erlangga coba memantau dari maps yang dari ponsel Nathan.
" Sial anak itu tidak membawa hp " ucap Erlangga yang semakin panik
Driing.. Driing
Laras melihat ponsel milik Erlangga kembali berdering, kali ini panggilan tersebut dari Resti
" Hallo dimana Naya dan Nathan " ucap Erlangga tanpa berbasa basi
" Hallo Mas Erlangga, jadi kamu ingin kedua anak kamu yaa ." ucap Resti dari sebrang sana
" Katakan dimana dia..? " tanya Erlangga yang semakin tersulut emosi
" Ssstt jangan berisik Mas, kalau kamu mau tau kamu datang ke alamat yang sudah aku kirimkan. Jangan terlambat untuk menyaksikan kepergian dua anak kita daah "
Belum sempat Erlangga menjawab Resti sudah lebih dulu mengakhiri panggilan
Erlangga membuka alamat yang Resti kirimkan, dan alamat itu tak jauh dari tempatnya Semarang.
Resti membawa Naya dan Nathan kesebuah jurang yang dimana ada danau, Resti mengikat keduanya.
" Ssstt jangan menangis sayang, setelah ini kalian akan hidup bahagia bersama Mamah " ucap Resti
Naya dan Nathan hanya bisa menangis, mulut mereka di tutup oleh lakban hitam oleh Resti.
Tak lama mobil Erlangga sampai ditempat dimana Resti mengirim alamat, Erlangga melihat mobil Resti yang sudah mendekati jurang.
" Resti lepaskan Naya dan Nathan " ucap Erlangga dengan kesal
" Lepaskan kamu bilang Mas..? hahaha tidak akan mas Erlangga, aku akan membawa mereka bersamaku " ucap Resti
" Resti tolong lepaskan mereka " ucap Laras yang ikut keluar dari mobil
" Waahh ternyata kamu datang Laras, kamu juga ikut bersama denganku yaa " ucap Laras
Tiba tiba sebuah pisau mengarah di leher Laras.