Ratna Duhita harus menerima nasib kurang baik. Niat hati ingin menghadiri pesta pernikahan sang sahabat yang sudah seperti saudara. Tapi sebelum masuk ke pintu gerbang ia diculik dan disekap hingga tak sadarkan diri.
Saat tersadar ia sudah berada di tempat asing dengan tangan terikat dan mata tertutup kain. Ketika penutup mata itu terbuka, ia terkejut bukan main ketika laki-laki yang berada dihadapannya adalah cinta pertamanya.
Bagaimana mungkin laki-laki itu berada ditempat yang sama dengannya? Apakah dia juga diculik sama seperti dirinya? Atau diakah dalang dari penculikan itu? Apa yang sebenarnya terjadi?
Yuk ikuti kelanjutannya hanya di noveltoon!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom yara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Tidak sadarkan diri
"Bagaimana keadaan pasien, Dok?" tanya Ratna mewakili keluarga sebab sedari datang orang tua korban hanya menangis.
"Pasien harus dipindahkan ke rumah sakit pusat," jawab Dokter itu pasti.
"Apa pasien sangat parah, Dok?"
"Peralatan medis di sini belum memadai, sebab rumah sakit ini masih baru berjalan."
"Apa tidak bisa, Dok, dirawat di sini saja?" Ratna melihat ke arah orang tua korban. "Mereka sudah tua untuk menemani pasien ke Jakarta."
"Kau bisa mewakilinya."
"Aku?" tanya Ratna terkejut. Bagaimana bisa Dokter itu menyuruhnya padahal mereka tidak ada hubungna saudara, kalu kenal, sih iya, mereka bekerja dalam satu profesi.
"Segeralah mengambil keputusan lebih cepat lebih baik. Jika kau setuju maka prosenya akan cepat."
"Baik," jawab Ratna kurang semangat. Setelah itu dokter itupun pergi karena harus memeriksa pasien lain.
"Ada apa?" tanya Sayla. "Santi baik-baik saja 'kan?" Sayla tampak khawatir. Santi adalah nama korban kecelakaan itu.
"Dia tidak baik-baik saja, dia harus dibawa kerumah sakit pusat karena di sini peralatan belum memadai."
"Lakukan saja yang terbaik!"
"Tapi aku yang harus mewakilinya karena orang tuanya sudah tua, kasihan kalau mereka harus melakukan perjalanan jauh."
"Kau tak ingin pergi?" Ratna pun menggeleng.
"Aku menghawatirkanmu, sepertinya kau tidak baik-baik saja sejak kecelakaan itu."
Sayla tersenyum. "Pergilah dan segera kembali," kata Sayla dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.
"Kalau begitu aku akan memberi tahu Dokter. Tapi apa kau akan baik-baik saja aku tinggal?" Mereka berjalan menuju ruangan Dokter.
"Tentu, jangan terlalu menghawatirkanku. Jagalah dia untukku! Aku tidak mau kehilangan karyawan dengan cara seperti ini." Ratna pun menganggguk pasti, tapi entah kenapa hatinya terasa berat untuk meninggalkan wanita itu.
Namun, belum sampai di ruangan Dokter, di tengah jalan mereka bertemu dengan Dokter yang tadi berbicara dengan Ratna. Sayla menatap Dokter itu begitupun sebaliknya.
"Dok, saya setuju untuk mewakili dan menemani pasien."
"Emmm... jika kau sudah mengambil keputusan, segeralah urus administrasinya!"
"Baik, Dok." Ratna melihat ke arah Sayla. "Aku yang akan mengurusnya." Sayla pun mengangguk lalu menatap punggung sang sahabat yang sudah pergi meninggalkannya bersama dokter itu. Sayla melihat ke arah dokter itu sebelum berjalan pergi. Baru satu langkah, kakinya berhenti setelah mendengar ucapan dokter itu.
"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di kota kecil ini. Pria kaya mana lagi yang kau tipu?"
Sayla berbalik lalu menatap Dokter Vino.
"Sepertinya dokter Vino sangat memperhatikanku, tapi kali ini dokter salah mendiagnosa. Aku tidak pernah menipu Dok, aku hanya bersenag-senang saja. Hidup ini terlalu singkat jika hanya digunakan untuk membuku baca tebal." Sayla mengembangkan senyum tercantiknya sebelum pergi meninggalkan dokter itu sendirian.
Dokter Vino masih menatap punggung wanita itu. Wanita yang selalu membuatnya emosi jika bertemu. Kemudian Vino melanjutkan langkahnya untuk mengunjungi pasien yang lain.
*
*
Ratna pun kembali ke Jakarta dengan tugas menemani teman sejawatnya yang sedang sakit. Sebelumnya ia sudah menghubungi sahabatnya yang tinggal di Jakarta untuk menanyakan tentang kode pintu apartemen. Ternyata sang sahabat belum mengganti kode apartemennya dan untuk sementara dia akan tinggal di apartemen tersebut. Sudah dua hari ia menemani Santi, tapi belum ada perkembangan sedikitpun. Wanita itu tetap tak sadarkn diri.
Hari ini ia akan menemani Dokter yang merawat Santi karena menurutnya luka Santi tidak terlihat parah sekali. Ia khawatir ada luka dalam yang tak terlihat.
"Dok, Bagiamana keadaan Pasien. Kenapa dia belum sadarkan diri? Apa ada penyakit dalam, Dok?"
Dokter itu menatap Ratna setelah cukup menenangkan dirinya, sang Dokter merasa gugup.
"Pasien tidak mengalami luka dalam, dia hanya merasa trauma dan itu yang membuatnya tidak sadarkan diri."
"O... begitu, ya, Dok." Ratna manggut saja meskipun ia merasa aneh dengan jawaban Dokter itu.
*
*
Sore ini Ratna pulang ke apartemen untuk istirahat karena tubuhnya sangat lelah, besok pagi dia akan kembali lagi ke rumah sakit, saat ini sudah ada perawat yang khusus menjaga Santi. Sebenarnya Ratna merasa heran dengan fasilitas yang diberikan pihak rumah sakit, tapi ia tidak mau berpikir terlalu dalam, biarlah itu urusan rumah sakit.
Namun, tanpa sepengetahuan Ratna, ada orang lain yang masuk ke dalam ruangan Santi. Seorang laki-laki berpakain hitam, lengkap dengan masker dan topi hitam. Santi membuka kedua matanya ketika merasakan ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan, ia terkejut dan ketakutan melihat sosok misterius itu. Tapi setelah laki-laki itu membuka masker dan topinya ia bisa bernapas lega. Laki-laki yang berdiri tegak di hadapannya adalah laki-laki yang menemuinya ketika ia sampai di rumah sakit tersebut.
Sebelumnya ia tidak mengenal laki-laki itu, yang rela memberinya uang banyak jika dirinya berpura-pura tak sadarkan diri untuk waktu yang belum bisa ditentukan. Awalnya ia menolak, tapi mendengar cerita laki-laki itu dengan rasa bersalah pada Ratna ia memutuskan untuk menerima permintaan pria yang baru ditemuinya itu.
"Sampai kapan aku akan menutup mata seperti ini? Aku kasian padanya, dia terlihat kelelahan menjagaku. Ratna tulus menjagaku, tapi aku malah membohonginya."
"Aku akan membayarmu untuk itu, aku mohon bertahanlah sebentar lagi." Setelah mengucapkan maksudnya, laki-laki itu pun pergi.
Raditya menarik dan menghembuskan napasnya pelan setelah masuk ke dalam mobil. Menutup kedua matanya sejenak lalu mengusap wajahnya kasar.
"Maafkan aku harus melakukan ini semua padamu, aku mencintaimu dulu, sekarang dan nanti." Ya Raditya juga menyadari jika dulu ia sudah punya rasa terhadap wanita itu. Hanya saja ia tidak mempedulikan hatinya karen jodohnya sudah ditetapkan oleh keluarga.
Raditya melajukan mobilnya, beberapa menit kemudian mobil tersebut berhenti di depan gedung apartemen. Ia turun dari mobil lalu masuk ke gedung itu. Apartemen yang baru seminggu ini ia beli dengan harga yang fantastis. Bukannya masuk ke dalam apartemen yang di belinya ia malah mengetuk pintu apartemen yang berada tepat di sebelahnya.
Tak lama pintu apartemen di buka dari dalam menampilkan sosok yang membuatnya rindu hingga ke tulang rusuk.
Deg
Hening. Keduanya hanya saling menatap dalam diam.
Kenapa begitu cepat aku bertemu dengannya. Tidak bisakah di saat seperti ini, aku istirahat sebentar saja. Baru kemarin ditolak jadi mantu sekarang harus mengahdapi laki-laki yang baru aku tahu kalau dia punya sifat keras kepala. Ratna.
Bolehkah aku menciummu dan memeluk tubuh mungilmu itu erat? Aku merindukanmu, Sayang. Jika waktu bisa diputar aku ingin kembali pada masa remaja kita. Dimana kau selalu mengejarku dan mencintaiku dengan berani. Gadis ajaib mencintai pria kaya dan tampan. Tapi kali ini pria tampan dan kaya itu yang mengejarmu. Raditya.
"Perutku sakit. Apa kau punya obat?" Bukan kata sapaan atau kata cinta yang keluar dari mulut laki-laki tersebut, entah dari mana ia mendapatkan ide bodoh itu.