Jangan menilai seseorang hanya dari penampilan, karena Hati yang kaya mungkin berada dibawah Mantel yang buruk, sebelum menilai seseorang, selalu ingat tidak ada orang suci atau Pendosa yang murni.
Menjadi seorang Gangster memang bukan pilihan, namun karena pernah mendapatkan bullyan saat masih menuntut ilmu di negara orang, Ruby Ajeng Apsari nekad masuk dalam sebuah kumpulan Gangster dengan tujuan sebagai perlindungan diri.
Namun diumurnya yang sudah menginjak kepala tiga, mau tidak mau dia harus kembali ke negara asal, bahkan disebuah perkampungan yang jauh dari kata kemewahan, karena Ibunya memilih tinggal di desa untuk menikmati masa tuanya, walau sebenarnya dia punya usaha dan rumah mewah di kota.
Sebenarnya dia sudah nyaman tinggal di negara orang, namun sebelum Ibunya mengamuk dan menjemput langsung ke luar negri, Ruby memilih pulang.
Dan siapa sangka, ternyata tujuan Ibunya menyuruh pulang karena punya niat terselubung, untuk menjodohkan putrinya dengan pemuda desa biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iska w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22.Kamulah Orangnya!
Sepanjang perjalanan selama hampir kurang lebih tiga jam, Zack selalu mengajak Ruby untuk berdebat, bahkan wajahnya terlihat begitu masam, apalagi saat melihat wajah Abiseka yang masih tergeletak dipangkuan Ruby, membuat Zack merasa iri, bahkan seolah tangannya gatal untuk mengeluarkan pistol miliknya dan mengarahkan ke kepala Abiseka, namun itu hanya ada didalam angan-angannya saja, karena jika sampai itu terjadi, entah apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri.
"Pesankan aku hotel sekarang." Ucap Ruby saat Helikopter mereka sudah mendarat dengan selamat.
"Untuk apa? kamu bahkan punya rumah mewah yang fasilitasnya melebihi Hotel disini." Tanya Zack sambil menjelingkan kedua matanya, padahal biasanya dia tak banyak protes jika Ruby sudah memberikan perintah.
"Suamiku tahunya aku orang biasa, jadi aku tidak ingin membuatnya curiga." Jawab Ruby yang memang sudah memikirkan hal ini sejak dalam perjalanan tadi.
"Ribet sendiri kan jadinya, itu mengapa aku tidak setuju kamu menikah dengannya!" Ucap Zack dengan nada yang seolah menggebu-gebu, bahkan tanpa rasa segan apalagi rasa takut sedikitpun, karena Zack dan Ruby memang sedekat itu, bahkan walau mereka ketua dan wakilnya, namun seolah tidak ada batasan diantara keduanya.
"Sudahlah Zack, semua sudah terjadi, dan aku lihat suamiku orangnya baik, apa salahnya menikah dengannya." Awalnya Ruby memang sangat keberatan, namun saat beberapa kali dia bertemu secara langsung dengan Abiseka, entah mengapa rasa kesal itu hilang sendiri dengan mudahnya.
"Kamu pikir orang baik saja cukup, bagi seorang anggota Gangster seperti kita?" Cecar Zack kembali, untuk mengingatkan Ruby, bahwa resiko yang akan dia dapatkan tidak sedikit.
"Aku akan melindunginya." Ruby pun paham, bahkan yang paling dia takutkan adalah, ketika musuhnya tahu identitas suaminya dan mengincar hal itu sebagai kelemahannya dan juga sebagai senjata untuk melumpuhkan dirinya.
"Peh... yang seharusnya melindungi seorang istri itu adalah suami, bukan malah sebaliknya!" Cibir Zack dengan tatapan bengis saat melirik kearah Abiseka yang maaih memejamkan kedua matanya.
Jurus totok Ruby memang sangat ampuh, bahkan bisa membuat orang pingsan sampai berjam-jam.
"Ini lain ceritanya, aku yang memang tidak jujur dengan identitasku kepada dia, orang tuaku maupun orang tuanya, jadi aku harus siap menanggung segala resikonya." Jawab Ruby yang memang belum bisa yakin sepenuhnya, namun dia akan berusaha sangat keras demi melindungi suaminya.
"Untuk apa kamu menikah jika hanya menyiksa diri dan menambah beban, sudahlah... kamu ceraikan saja dia!" Ucap Zack yang seolah memberikan perintah, padahal jelas-jelas Ruby ketuanya.
"Sembarangan aja kalau ngomong, bisa ngamuk orang tuaku nanti." Ruby langsung menyepak kaki wakilnya yang tiba-tiba jadi lebih cerewet berlipat-lipat dari biasanya.
"Yang jalanin kehidupan pernikahan itu kamu, bukan orang tuamu, kenapa juga kamu nurut aja, kamu berhak bahagia dengan pilihanmu Ruby?" Zack benar-benar belum bisa percaya jika Ruby dengan mudahnya memutuskan untuk menikah dengan pria yang bahkan tidak dia kenal sebelumnya.
"Aku tidak ada pilihan lain Zack?" Jawab Ruby yang sebenarnya sudah kalut, saat memikirkan efek dari ketiadaan pasangan pengantin diacara resepsi pernikahannya.
"Aku kan ada, kenapa kamu harus pusing-pusing memikirkan jodohmu!" Celetuk Zack tanpa sadar, bahkan dengan lantang.
"Maksud kamu apa?" Tanya Ruby sambil menatap kedua bola mata pria yang selama ini selalu kemana-mana berdua denganya.
"Maksud aku itu, aku kan--- emm---"
"Sudahlah, semua sudah terlanjur, tidak ada gunanya terus mengeluh dan menyesali tentang apa yang terjadi, lebih baik kamu segera pesankan aku Hotel, dan pilih yang kelas paling bawah saja, aku tidak ingin suamiku kembali curiga dengan statusku disini."
Bahkan kamar Hotel yang semakin sempit itu malah lebih bagus untuk pasangan suami istri pikir Ruby, dan mereka tidak harus duduk berjauh-jauhan nantinya, karena memang tak banyak tempat didalamnya.
"Aish... ya sudahlah, biar pengawal kita nanti yang mencarikannya." Jawab Zack dengan wajah putus asanya.
"Kapan kita beraksi?" Tanya Ruby dengan tatapan wajah yang lelah.
"Nanti malam, tepat pukul dua belas, aku sudah mengatur segalanya!" Jawab Zack yang memang selalu cekatan jika itu tentang lawan musuh mereka.
"Kalau begitu kita pisah disini saja, sampai jumpa nanti malam." Ruby tidak ingin suaminya salah paham nanti, apalagi jika suaminya tahu kebiasaan dirinya disini, karena dia sering tinggal satu rumah dengan Zack, walau tidak melakukan apapun.
"Aku ikut denganmu!" Rengek Zack yang seolah tidak ingin pisah dengannya.
"Jangan, nanti suamiku bisa marah kalau kamu nempel terus denganku." Jawab Ruby dengan jujur.
"Suami, suami dan suami, entah mengapa aku kesal sekali saat mendengarnya!" Zack bahkan benci dengan segala apa tentang Abiseka.
"Sudahlah Zack, kenapa sih daritadi marah-marah terus, suatu saat juga kamu pasti akan menikah, bukannya kamu pernah bilang kalau kamu suka dengan seoang wanita disini, kemana dia sekarang, ajak kawin gih sono!" Celetuk Ruby sambil berniat untuk menggoda Zack saat itu, terima kaaih.
Kamulah orangnya!
"Lupakan! dia sudah berkhianat denganku!" Zack akhirnya membuang muka, saat harapannya selama ini seolah terasa sia-sia.
"Benarkah? kenapa bisa begitu?" Tanya Ruby dengan polosnya.
"Aku jemput sebelum pukul dua belas malam, jangan sampai telat, atau ratusan anak buah kita yang akan jadi mangsanya."
Zack langsung memilih keluar dari Helikopter saat mereka sudah mendarat di Markas utama milik mereka.
"Quickly run the car!" Ruby langsung meminta anak buahnya untuk segera mengendarai mobilnya saat Abiseka belum sasar.
"Okey Miss!" Jawab anak buahnya dengan sigap.
Ruby tidak ingin saat suaminya terbangun nanti, dia banyak bertanya, jadi sebelum dia tersadar, Ruby ingin suaminya sudah berada didalam Hotel.
"Aish... kenapa kecil sekali ruangannya?"
Ruby melihat suasana didalam Hotel kelas bawah disana, memang cukup sederhana sekali, tapi tidak ada pilihan lain, karena suaminya sudah pasti akan banyak bertanya kalau dia menyewa Hotel kelas satu, padahal kan dia ngakunya hanya kerja dalam bidang keamanan saja, bukan seorang ketua Gangster yang punya segalanya.
"Argh.. aku dimana? kenapa kepalaku sakit sekali?" Umpat Abiseka sambil melihat-lihat ruangan yang memang terasa asing baginya saat baru membuka kedua matanya.
"Abang, kamu sudah bangun?" Tanya Ruby yang langsung berjalan mendekat kearah suaminya.
"Kita ada dimana? bukannya seharusnya kita masih dalam acara resepsi pernikahan?" Dia masih samar-samar ingat, padahal kepalanya terasa sangat sakit sekali.
"Emm... Abang pingsan tadi, saat kita berada dirooftop Hotel, jadi aku memilih untuk membawa Abang agar bisa istirahat saja." Jawab Ruby dengan senyum simpulnya, bahkan sedikit memijit tengkuk suaminya, karena dia sampai pingsan karena ulahnya.
"Berarti pestanya masih berlangsung dibawah? sepertinya aku sudah enakan, kita bisa kembali menyambut tamu dibawah, ayok?" Pinta Abiseka yang sebenarnya tidak enak hati, takut jika dirinya sudah mengecewakan banyak orang.
Dibawah mana yang Abang maksud, bahkan kita sudah berada dinegara orang Bang!
Ruby sengaja tidak memberitahu keberadaan mereka, bahkan rencananya dia akan menyelesaikan masalahnya malam ini juga dan bisa langsung kembali pulang ketanah air, agar saat pagi menjelang nanti mereka sudah berada dirumah orang tuanya.
Bersambung...