Demi terbebas dari tekanan Melia—ibunya, Olla memutuskan menikah dengan pria pilihan Melia bernama Alvin. Seorang pengusaha muda yang begitu kaku dan sombong.
Ia memberikan semuanya, agar di hari yang sama dia bisa melarikan diri dan hidup bebas.
Namun, kaburnya Olla setelah malam pertama, justru membawa petaka bagi Alvin Perkasa. Bagi Alvin, Olla adalah syarat mutlak agar dia bisa merebut kembali perusahaan warisan milik ibunya yang kini dikuasai oleh ayah dan kakak tirinya.
Bermacam cara Alvin lakukan, hingga akhirnya dia berhasil menemukan Olla, tetapi wanita itu justru selalu berhasil kabur setiap kali Alvin berusaha membawanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon misshel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati Mama
Sejujurnya, Melia juga resah menanti kabar Olla. Ini baru pertama kali Olla marah sampai seperti ini. Dia memang suka kabur, tapi tidak pernah Melia tidak tahu kemana Olla sembunyi.
Anak itu mudah ditebak sebab praktis hanya Nahwa seorang saja teman dekat Olla. Kendati ada rekan dokter, tapi si pendiam Olla sangat pemilih.
Ia merenung sendirian di dapur. Makan kue kering buatan Olla yang gagal dikirim sebab Olla langsung meng cancel semua pesanan di hari dia memutuskan menikah.
"La, Mama hanya mau kamu nggak susah dan jual omongan kaya Mama." Kue jahe buatan Olla memang memiliki kekhasan sendiri, sehingga sangatlah wajar kalau dagangan anaknya ini laku keras.
Melia meratap, meletakkan toples kue jahe yang baru saja ia perhatikan seperti ia memerhatikan Olla sewaktu kecil.
"Mama tahu Mama udah kelewat keras sama kamu, tapi semua demi kebaikan kamu, Nak." Ruangan yang sudah hening ini makin hening dan dingin. Melia menarik napas dalam.
"Pulang ya, La ... Mama takut sendirian di rumah." Air mata Melia jatuh begitu saja. "Mama udah nggak akan kaya dulu, La. Mama mau jadi Mama yang baik buat kamu. Dan Mama janji akan nerima Rere sebagai cucu Mama!"
Ia menyeka matanya. Sungguh, ia baru merasakan namanya kehilangan. Ia merasa berdosa sebagai ibu dan sebagai sesama wanita, ia sadar Olla punya prinsip yang begitu kuat juga mandiri.
"Rumah terasa sepi kan, kalau hanya tinggal sendirian?!"
Melia tersentak kaget. Ia menoleh dan turun perlahan dari kursi tinggi meja dapur. Bibirnya gemetar saat hendak menyapa Demian.
Pria itu terkekeh, matanya jelalatan memerhatikan interior rumah.
"Sangat berkelas meski berada di perumahan biasa," nilai Demian saat pandangannya sengaja dijatuhkan ke wajah Melia. Ia sedang berusaha mengesankan sesuatu pada wanita itu. Mengancam? Sudah jelas ... terbaca dari langkah awalnya masuk ke sini tadi.
"Anda mau apa?" Melia waspada, tetapi dia tidak bergerak sama sekali.
Demian mengerutkan wajahnya, "Ouh, jangan bilang begitu tajam, Bu Mel!"
Ia menoleh ke kursi sofa di ruang tamu yang hanya di batasi partisi kayu jati. "Kita bicara sambil duduk, Bu!"
Melia menghentak seraya berjalan. Ia tidak suka diperintah di dalam pagar rumahnya sendiri.
"Saya sibuk, Pak Demian ... saya harap Bapak bicara seperlunya saja!"
Demian duduk perlahan, menyentuh tanaman hias hidup yang mengawasi di sudut ruangan.
"Memang seharusnya Olla tidak anda biarkan menikah dengan adik saya, Bu ... bukankah dana ganti rugi sudah saya berikan?" Demian memang tidak bisa bicara basa basi. Tapi dia bisa menahan perasaan. Perasaan jengkel dan ingin menghajar wanita sialan ini.
"Masa depan itu gelap, Pak Demian ...." Melia menaikkan pandangan hingga tegak menatap Demian. Ia berkata tanpa gentar. "Saya melihat masa depan anak saya begitu cerah ketika ada pria yang tulus mencintai nya!"
"Hahahaha!" Demian terbahak-bahak sampai memukul bantal sofa berulang-ulang. "Anda lucu sekali, Bu Mel ... sangat lucu! Apa anda punya bakat melawak? Ah, bukan ... anda berbakat sekali membohongi diri sendiri—hahahaha!"
Melia tersinggung, tapi dia tetap teratur. "Hanya orang yang buta yang tidak bisa melihat bagaimana mereka saling mencintai, Pak Demian!"
Bahkan Melia mampu tersenyum sinis demi memenangkan perang. "Jika anda melihat bagaimana anak saya dan Alvin saat ini, harusnya anda bijak ketika memutuskan datang kemari!"
Tawa palsu Demian lenyap. Ada letupan api amarah yang tersulut. Namun belum sempat Demian membuka bibirnya, Melia melanjutkan. Tubuh wanita itu tegak dan angkuh, membalas tatapan kesal Demian begitu berani.
"Saya tidak pernah mengatakan kalau akan menggagalkan bahkan bersedia menjauhkan Olla dan Alvin, Pak Demian ... saya rasa, anda yang harus berhati-hati memilih kata-kata. Dalam hal ini, jika anda berniat melakukan kejahatan atau menuduh saya mengingkari sesuatu yang tidak saya sepakati, Anda harus berpikir dua kali!"
Melia berdiri. "Saya yakin, apapun yang anda lakukan di sini adalah hanya untuk membuat Alvin menyerahkan perusahaan ibunya ke anda, benar, kan? Tapi saya yakin, Alvin tidak selemah yang anda kira!"
Di hardik dan di tuduh begitu kejam, Demian berdiri dan berjalan lebih dekat ke hadapan Melian. "Anda tidak tahu berurusan dengan siapa, Nyonya!"
"Saya tahu dan saya tidak takut!" Melia begitu emosional menantang Demian, hingga cuping hidungnya kembang kempis. "Kejahatan yang anda lakukan tidak sebanding dengan kesakitan dan derita yang Alvin alami! Uang itu milik Alvin, anda hanya pencuri berdasi yang begitu bodoh sampai tidak sadar sudah dikhianati!"
Demian tidak bisa mengendalikan diri, sehingga tangannya melayang menampar pipi Melia hingga wanita itu berpaling.
"Lakukan sesuka anda," ujar Melia masih di posisinya yang menyamping. "Itu adalah jalan pintas anda ke jurang kehancuran! Semakin banyak kebodohan yang anda buat, semakin cepat anda hancur tak bersisa!"
Demian mengepalkan tangan. Jangan-jangan, Melia dan Alvin sengaja berkomplot untuk merugikan dirinya? Astaga, kenapa ini tidak sempat terlintas di kepalanya?
Ia mendengus kasar lalu berjalan keluar setelah memberi tatapan penuh kekesalan pada Melia. Ia berkuasa tapi kalah oleh pion yang dilemahkannya.
Melia menarik sudut bibirnya. "Dasar anak manja!"
ada apa dengan kak misshel?
tumben2an ini
Hanya karena wasiat harus memiliki pasangan baru dapat mewarisi bisnis tersebut, bukti nyata seperti buku nikah sudah cukup untuk memenuhi syarat. Hal seperti cinta tidak dapat dijadikan syarat karena sesungguhnya perasaan adalah suatu hal yg tak bisa di lihat, bisa dibuktikan tapi tetap tidak diketahui bukti tersebut tulus atau tidak.
Jadi, si tua Andika dan Damian kalian yg tidak memiliki perasaan dan hanya dibutakan harta harusnya lebih paham hal tersebut tapi malah sok² bijak/baik + sok tau menilai pernikahan seseorang demi mempertahankan yg bukan milik kalian. Sudah Jelas Tololnya + tak Tau malunya deh😏