Awan tidak pernah menyangka kalau gadis yang akan di jodohkan dengannya itu adalah Senja kekasihnya sendiri. Kedua orang tua mereka sudah sepakat dan akan segera menikahkan mereka. Tapi suatu konflik telah terjadi karena kebohongan orang tua Awan yang mengaku kalau dirinya orang kaya. Pak Agung telah mengetahui kalau Awan bukan anak orang kaya seperti yang di harapkan nya.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Akankah hubungan mereka bisa berlanjut ke jenjang pernikahan setelah hal tersebut terjadi?
Mari ikuti ceritanya dalam Pernikahan Tanpa Restu.
👉 Selamat membaca semoga suka 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristina dinata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mama Andin kecewa pada Senja
Senja tidak jadi berkenalan dengan Jingga karena harus mengangkat telpon dari Papanya yang menyuruhnya segera pulang.
📞"Papa Senja mohon, minta waktu sedikit lagi Senja belum selesai," ucapnya pada sang Papa.
📞"Tidak Senja, kamu harus segera pulang!" bentak papanya di telpon.
Senja terdiam dan segera mematikan ponselnya. Ia mendekati Mama Andin yang masih asyik mengobrol.
Sebenarnya Senja tidak mau mengganggu mereka yang masih mengobrol tapi karna ia buru-buru ia pun memotong pembicaraan mereka. Meminta ijin pada Mama Andin untuk pamit pulang.
"Kenapa kamu buru-buru mau pulang?" tanya Mama Andin tidak habis pikir karena baru saja Senja sampai dan harus pulang lagi tanpa menemui Awan lagi.
"Senja ada keperluan mendadak Tante, maaf yah tidak bisa temani di sini," ucapnya tidak enak.
"Ya sudahlah, kalau begitu gak apa-apa pulang saja!" sahut Mama Andin datar dengan pandangan beda ke arah Senja.
Mendengar ucapan Mama Andin seperti itu Senja semakin sedih sepertinya Mama Andin tidak memerlukan dia lagi karena tidak menahannya.
Senja pun bersalaman dengan semua orang di situ Jingga yang terpaksa harus bersalaman juga dengan Senja karna tidak enak di pandang Mama Andin.
Setelah bersalaman Senja pergi dengan sedihnya.
"Maafkan aku Mas, saat kamu mengalami musibah aku tidak ada di sampingmu aku janji besok aku pasti menemui kamu Mas," lirih Senja sambil berjalan menuju mobilnya.
Jingga memandangi kepergian Senja ia merasa bahagia melihat Senja sudah pergi, karena tidak ada lagi orang lain yang menggangu kebersamaan nya dengan Awan setelah ia sadar nanti. Jingga penasaran siapa Senja sebenarnya ia bertanya pada Mama Andin.
"Tante maaf kalau boleh tau siapa gadis tadi?" tanya Jingga.
"Oh dia Senja, pacarnya Awan," jawab Mama Andin.
"Pacar? jadi itu pacarnya Bang Awan?" tanya Jingga kaget.
"Iya Sayang," jawab Mama Andin datar.
"Tapi kok kelakuannya seperti itu sih, Bang Awan sakit bukannya temenin malah pergi," ucap Jingga, yang sengaja bicara begitu untuk menghasut Mama Andin agar membenci Senja.
"Yah begitulah Jingga, Tante juga gak habis pikir kok dia seperti itu padahal mereka sudah mau tunangan lho," ucap Mama Andin sedikit kesal.
"Tunangan? kapan?" tanya Jingga melotot.
"Sebentar lagi," jawab Mama Andin.
"Tapi Tante mulai ragu dengannya di saat Awan sakit ia tidak ada di samping Awan, malah sibuk dengan urusannya," lirih Mama Andin kecewa.
"Tante tenang saja, karena aku akan temani Bang Awan nanti," ucap Jingga menghibur.
"Iya makasih Sayang, kamu baik sekali," puji Mama Andin.
Jingga hanya tersenyum saja mendengar pujian Mama Andin. Bu Asih ikut tersenyum mendengar obrolan mereka.
Selang beberapa menit saat kepergian Senja, Awan pun sadar. Dokter memanggil Mama Andin untuk segera menemui anaknya. Mama Andin bergegas pergi menemui Dokter dan langsung menayakan keadaan Awan.
"Bagiamana keadaan anak saya Dok?" tanya Mama Andin.
"Anak Ibu sudah sadar silahkan masuk!" ujar Dokter.
Mama Andin bergegas masuk dan menemui Awan. Bu Asih dan Jingga ikut mendekat ingin menyusul Mama Andin.
"Apa kami juga boleh masuk Dok?" tanya mereka bersamaan.
"Apa kalian keluarga Pasien?" tanya Dokter.
"Iya Dok," jawab Bu Asih.
"Oh kalau begitu silahkan! Pasien sudah sadar dan boleh di jenguk," ucap Dokter mempersilahkan mereka masuk.
"Makasih Dokter," ucap mereka.
"Iya sama-sama. Maaf saya harus pergi untuk mengecek pasien lain. Jika ada apa-apa cepat hubungi saya," pesan Dokter.
"Baik Dok," ucap Bu Asih.
Mereka pun ikut masuk menjenguk Awan Jingga sudah tidak sabar lagi ingin melihat keadaan Awan ia buru-buru masuk mendahului Mamanya.
"Permisi...!" ucap Jingga langsung.
Mama Andin dan Awan langsung menoleh ke arah pintu. Mama Andin terseyum ke arah Jingga dan menyuruhnya mendekat. Ia langsung memberitahu Awan kalau Jingga ada di rumah sakit sejak tadi ia juga mengatakan kalau Jinggalah yang sudah menolong dia sudah mendonorkan darah padanya.
"Awan kamu beruntung ada Nak Jingga, dialah yang sudah mendonorkan darah untukmu," terang Mama Andin.
"Awan menoleh ke arah Jingga dan Bu Asih ia pun tersenyum.
"Makasih banyak ya Jingga, aku tidak menyangka kalau kita bisa bertemu lagi," ujar Awan bicara pelan.
"Iya Bang, Jingga senang banget bisa ketemu Abang lagi," ucap Jingga terseyum.
Keduanya sama-sama terseyum. Jingga mendekati Awan mereka saling mengobrol sedangkan Mama Andin dan Bu Asih duduk di kursi memperhatikan mereka yang sedang mengobrol.
"Bu sepertinya Awan dan Jingga serasi seandainya mereka berjodoh ya Bu, pasti kita akan lebih dekat lagi bisa besanan gitu," ucap Bu Asih sambil tertawa.
"Ha-ha-ha iya ya," Mama Andin ikut tertawa dalam hatinya ia merasa kaget mendengar ucapan Bu Asih tersebut karena mengingat Awan sudah punya calon. Ternyata Bu Asih berharap Awan jadi menantunya.
Suster datang mengalihkan semua perhatian mereka. Ia datang memeriksa keadaan Awan.
"Keadaan Pasien sudah membaik. Tolong jangan banyak gerak dulu ya," pesan Suster pada Awan.
Awan mengangguk. Suster memberikan obat padanya.
"Tolong Pasien di beri kesempatan untuk beristirahat ya, untuk menstabilkan keadaan tubuhnya," ucap Suster itu lagi.
"Iya Sus, makasih banyak," ujar Mama Andin.
"Iya Buk sama-sama. Saya pamit mau memeriksa Pasien lain dulu," ujar nya bergegas pergi meninggalkan ruangan itu.
Tiba-tiba Awan memanggil mamanya.
"Ma kemana Senja kenapa ia tidak ada di sini apa dia tidak tau kalau aku kecelakaan?" tanya Awan.
"Senja tau kok, kamu kecelakaan. Tapi ... Mama tidak habis pikir kenapa ia tidak mau menemui kamu," ucap Mama Andin bicara terus terang.
"Masa sih Ma, Senja tidak mau?" Awan kaget.
"Buktinya tidak ada Senja kan di sini yang ada cuma Jingga, itu artinya dia tidak peduli dengan keadaanmu," ujar Mama Andin kesal.
"Hem, itu gak mungkin Ma. Mungkin saja Senja lagi sibuk," timpal Awan tidak mau terhasut.
"Gak mungkin juga dia sibuk, Mama yakin pasti dia sengaja tidak mau menjenguk kamu," cibir Mama Andin.
Awan terdiam Jingga mengalihkan dengan pembicaraan lain. Ia menoleh ke arah Jingga sambil memandangi wajah Jingga sehingga Jingga pun salah tingkah saat di pandangi Awan.
"Bang Awan tidak perlu cari siapa-siapa lagi Jingga akan temani Abang di sini," ujar Jingga semakin mendekati Awan dan duduk di sampingnya.
"Iya Jingga, makasih banyak ya," ucap Awan datar.
Keduanya saling bertatapan mata satu sama lain. Sedangkan Mama Andin dan Bu Asih hanya terseyum memandangi keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Mama Andin tersentak ia langsung berdehem untuk memecah kesunyian saat itu ia karna ia tidak mau semuanya larut dalam pikiran masing-masing ia mengajak semuanya mengobrol. Seketika itu suasana kembali hangat mereka pun saling mengobrol satu sama lain.
ijin follow yaa, follback thor
PaMud mampir