NovelToon NovelToon
Benang Merah Arka

Benang Merah Arka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Xora'

Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 Rasa Sesal III

...----------------...

Rintik hujan yang sedari tadi jatuh kini berubah menjadi guyuran yang deras, seolah langit ingin menyapu bersih sisa-sisa harga diriku yang berserakan. Aku masih terduduk di bangku taman, memeluk lututku yang gemetar kedinginan. Kepalaku terasa kosong, hanya menyisakan gema penyesalan yang berulang kali menabrak dinding batin. Bau tanah basah dan dinginnya malam Bandung seakan mengunci tubuhku dalam keputusasaan yang absolut. Aku merasa seperti debu yang tertiup angin, tidak punya tempat berpijak, tidak punya masa depan, dan yang paling menyakitkan, tidak punya keberanian untuk pulang.

Tiba-tiba, suara deru knalpot motor berhenti tepat di depanku. Cahaya lampu motor menembus tirai hujan, menyilaukan mataku. Seseorang turun dengan jas hujan plastik yang berkibar tertiup angin. Aku tidak peduli siapa itu. Aku hanya ingin lenyap.

"Loh, Arka ya? Lu ngapain ujan-ujan di sini?" suara itu familiar, terdengar begitu asing namun menggelitik memori masa laluku.

Aku mendongak perlahan, mencoba memfokuskan pandangan yang kabur karena air hujan dan air mata. Pria itu membuka helmnya. Wajahnya tidak asing, meski sudah lama sekali tidak kulihat. Itu Rafqi.

"Loh, Rafqi?" suaraku serak, hampir tenggelam dalam suara hujan. "Kok... kok lu bisa ada di sini?"

Aku benar-benar bingung. Rafqi adalah salah satu teman yang dulu ada di lingkaran pergaulanku semasa sekolah, namun komunikasi ku dengannya memburuk setelah kejadian di pesta ulang tahunku. Saat itu, Iksan dengan kesombongan kelas atas telah mempermalukan Rafqi di depan semua orang hanya karena status sosialnya yang berasal dari kalangan orang bawah. Aku, yang waktu itu masih sangat terobsesi dengan gengsi dan pengakuan dari lingkungan beracun, memilih untuk diam dan tidak membela Rafqi. sebuah tindakan yang sampai sekarang, saat aku berada di titik terendah ini, menjadi mimpi buruk yang menghantui setiap malam. Sejak hari itu, Rafqi tidak mengabari ku lagi, dan aku merasa bersalah yang amat sangat namun terlalu pengecut untuk meminta maaf.

Rafqi tidak menjawab pertanyaanku. Dia justru terlihat cemas melihat kondisiku yang kacau. "Duh, gausah bahas di sini. Lu udah menggigil, Ka. Ayo, ikut gue aja dulu. Kita ngobrol di tempat yang kering."

Tanpa menunggu persetujuan dariku, Rafqi menarik lenganku untuk berdiri. Aku yang sudah tidak punya tenaga lagi hanya bisa menurut. Aku naik ke atas motornya, membiarkan diriku dibawa menembus dinginnya malam Bandung, meninggalkan taman itu bersama dengan segala kehancuranku. Aku merasa seperti orang yang baru saja diselamatkan dari dasar laut, namun napas yang kuhirup terasa begitu berat.

Rafqi membawaku ke sebuah angkringan yang cukup ramai di pinggir jalan, sebuah tempat sederhana yang memancarkan kehangatan di tengah hujan yang menggila. Begitu sampai, saat aku hendak menarik bangku kayu untuk duduk, langkahku terhenti. Mataku melebar.

"Loh, Revan? Kok lu di sini?" tanyaku terkejut. Di sana, Revan, sedang sibuk melayani pelanggan dengan seragam pelayan angkringan. Wajahnya yang dulu ceria kini tampak lebih dewasa dan penuh tanggung jawab.

Revan menatapku dengan mata membelalak, lalu pandangannya turun ke pakaianku yang kuyup dan wajahku yang pucat pasi. "Harusnya gue yang nanya kenapa lu di sini, Ka? Terus juga, lu kenapa basah kuyup gitu dah? Lu abis kecemplung kali?" balasnya dengan nada khawatir yang bercampur bingung.

Aku mematung. Ini benar-benar di luar nalar. Dua teman masa kecilku ternyata ada di Bandung. Revan dengan sigap melempar handuk kering yang ia ambil dari belakang konter ke arahku, sementara Rafqi memesankan kopi panas dan beberapa cemilan untukku. Kehangatan angkringan itu terasa begitu kontras dengan kedinginan di hatiku.

"Kalian... kenapa bisa ada di sini sih sebenernya?" tanyaku setelah menyesap kopi yang menghangatkan kerongkongan. Rasa pahit kopi itu seakan menyadarkanku bahwa aku masih bernapas, bahwa aku masih manusia yang punya hak untuk hidup.

Rafqi dan Revan saling pandang lalu tersenyum tipis. "Kita berdua keterima di ITB, Ka," jawab Rafqi. "Jadi ya, setelah lulus sekolah, kita mutusin buat merantau dan tinggal di Bandung buat fokus kuliah. Kita kerja sambilan di sini buat bantu biaya hidup. Enggak gampang, tapi ini jalan yang kita pilih."

Mendengar itu, dadaku terasa sesak sekali. Mereka berhasil masuk ke kampus impian, mereka memiliki tujuan, mereka memiliki masa depan. Sedang aku? Aku hanya pria gagal yang baru saja dipecat, kehilangan rumah, kehilangan tabungan, dan hampir kehilangan kewarasanku sendiri. Aku merasa begitu kecil di depan mereka. Aku hanyalah seorang Arka yang dulu sombong, kini menjadi pengemis nasib yang bahkan tidak mampu memberi makan istrinya sendiri.

"Gue... gue bener-bener gagal ya," bisikku getir. Aku kemudian mulai bercerita. Tanpa topeng, tanpa kebohongan, tanpa ambisi palsu. Aku menumpahkan segalanya kepada Rafqi dan Revan teman yang dulu pernah kuabaikan. Aku menceritakan tentang Iksan, tentang investasi bodoh yang menghancurkan rumah Astrid, tentang bagaimana aku menjual motor istriku demi mimpi yang ternyata hanyalah fatamorgana, dan tentang ketakutanku yang luar biasa untuk pulang ke rumah karena aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan pada Astrid.

Aku menceritakan bagaimana aku melamar pekerjaan dari pagi hingga malam, hanya untuk ditolak mentah-mentah. Aku menceritakan tentang kecerobohanku di gudang logistik yang menyebabkan kerugian tujuh juta rupiah. Aku menceritakan segalanya, sampai air mataku tumpah lagi di atas meja angkringan itu. Rafqi dan Revan mendengarkan dengan seksama. Tidak ada tawa meremehkan, tidak ada penghakiman. Hanya ada suara hujan yang memukul atap angkringan, menjadi saksi bisu dari pengakuan dosa seorang Arka Albian.

Mendengar ceritaku, wajah Rafqi yang tenang tiba-tiba berubah merah. Dia berbucara dengan cukup keras, cukup untuk membuat beberapa pelanggan menoleh. "Bodoh! Kalau emang sekarang lu punya bini jam segini dah balik ka, ini dah jam 8 malem loh, lu laki-laki harusnya lu di rumah nemenin dia! Ayo, pulang sekarang!"

"Gue malu, Qi. Gue gak sanggup ketemu Astrid dengan kondisi kayak gini..." bantahku sambil menunduk dalam, menatap genangan air di lantai. "Gue adalah kegagalan paling besar dalam hidupnya. Kalau gue pulang sekarang, gue cuma bakal nambah beban dia."

Rafqi berdiri, menatapku tajam. Tatapan itu penuh dengan kemarahan, namun kemarahan yang berasal dari rasa peduli. "Arka, dengerin gue baik-baik. Lu itu Cowok! Lu punya tanggung jawab. Lu harus bisa ngejaga Astrid gimanapun caranya. Kalau lu terus menghindar, kalau lu terus lari kayak orang pengecut, gimana caranya lu bisa ngejaga dia? Gimana caranya lu bisa minta maaf?"

Dia berjalan mendekat, mencengkeram bahuku kuat-kuat. "Arka, manis atau pait, lu harus terima segala kebenaran yang terjadi. Lu harus tanggung jawab sebagai suami. Lu pikir Astrid bakal ngerasa lebih seneng kalau dia gak pernah berkomunikasi sama dia? Lu pikir Astrid bakal ngerasa tenang kalau lu menghindar terus? Astrid itu manusia, Ka! Dia butuh lu! Dia butuh suaminya, bukan butuh duit lu doang!"

Kata-kata itu menghantam kesadaranku seperti petir di siang bolong. Selama ini aku menganggap melarikan diri adalah cara untuk "melindungi" Astrid dari keburukanku, padahal itu justru bentuk pengkhianatan terbesarku. Aku telah meninggalkan wanita yang paling mencintaiku sendirian dalam ketakutan, dalam kesepian, dan dalam kekosongan. Aku egois. Aku sangat egois. Aku lebih memikirkan harga diriku yang hancur daripada keselamatan mental istriku.

"Lu bener," suaraku bergetar. "Gue bener-bener pengecut. Gue cuma mikirin diri sendiri selama ini."

"Tepat," sahut Revan sambil menepuk punggungku. "Lu punya waktu buat berubah. Astrid itu orang baik, Ka. Mungkin dia marah, mungkin dia kecewa, tapi dia pasti nunggu lu pulang."

Tanpa menunggu waktu, aku berdiri dengan teguh. "Tolong anter gue pulang sekarang, Qi."

Rafqi mengangguk, dia segera mengambil kunci motornya. Revan menepuk pundakku sekali lagi sebagai bentuk dukungan. Aku naik ke atas motor Rafqi, membelah malam yang masih diguyur hujan. Kali ini, aku tidak lagi lari. Aku pulang untuk menghadapi apa pun yang terjadi, karena aku sadar, dialah rumahku, dan rumah tidak seharusnya kutinggalkan dalam keadaan retak.

Selama perjalanan, aku terus membayangkan wajah Astrid. Apakah dia masih menungguku? Apakah dia masih menangis? Ataukah dia sudah menyerah? Setiap tetesan air hujan yang menghantam wajahku terasa seperti tamparan yang menyadarkanku. Aku telah menyia-nyiakan waktu begitu berharga. Aku telah menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan wanita itu kepadaku.

"Arka," teriak Rafqi di tengah deru hujan. "Kalau lu ngerasa nggak sanggup, tarik napas! Jadi laki-laki itu harus berani! Jangan pernah berpaling lagi!"

Aku mengangguk, meski dia tidak bisa melihatnya. Aku memegang erat jaket Rafqi. Aku tidak lagi memikirkan apa yang akan terjadi esok hari. Aku hanya memikirkan satu hal: aku harus meminta maaf. Aku harus berlutut di kakinya jika perlu. Aku harus jujur tentang semuanya, tentang kebodohanku, tentang kemiskinanku, tentang segala hal yang telah kuhancurkan.

Kami melewati jalanan Bandung yang kini mulai sepi. Lampu-lampu kota yang berpendar melalui kaca helm Rafqi terlihat seperti kunang-kunang di tengah badai. Aku merasa perjalananku menuju rumah kali ini adalah perjalanan terpenting dalam hidupku. Ini bukan sekadar perjalanan pulang, ini adalah perjalanan menuju penebusan dosa.

Jika Astrid menolakku, jika Astrid mengusirku, aku akan menerimanya. Aku akan berdiri di depan pintu rumah itu, menunggunya sampai dia bisa memaafkanku. Aku akan bekerja lagi, aku akan melakukan apa pun, bahkan jika itu berarti aku harus menjadi kuli panggul selamanya. Harga diriku sudah tidak ada artinya lagi dibandingkan keberadaan Astrid di sisiku.

"Itu rumah lu, kan?" tanya Rafqi saat kami berhenti di depan sebuah gerbang besi besar yang tampak tua namun masih berdiri kokoh.

Aku turun dari motor dengan kaki yang gemetar. "Iya, itu rumah gue."

"oke gue pulang duluan ya," kata Rafqi.

Aku mengangguk pelan. Aku melangkah menuju pintu utama dengan jantung yang berdegup kencang seperti genderang perang. Aku menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa keberanian yang tersisa dalam diriku. Aku menempelkan tanganku pada kenop pintu, merasakan dingin besi itu di telapak tanganku.

...----------------...

1
Atishaa
iiiii gregetannn bangettttt nanggung bangett minn, cepet' update dehh penasaran soalnyaaaa
Atishaa
cara buat malunya bener' di buat sejatuh'nya keren sih langsung di kuras hartanya
Atishaa
keren sih si arka ga langsung marah' malah nyari bukti dulu trus juga percaya sama kakanya coba kalo ga percaya pasti kena marah ayahnya gra' si arka mudah di bodohin cewek
darrel fadilasyah
bagus ceritanya 🔥🔥
Xora'
di baca guysss
Atishaa
kerenn rasaa keselnya juga adaaa
Cliff
/CoolGuy/
darrel fadilasyah
keren banget novelnya bikin penasaran 🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!