keputusannya menjadi baby sitter untuk menolong kakaknya, ternyata menimbulkan petaka bagi dirinya sendiri. Ve dijebak menikah dengan bosnya yang misterius dalam situasi yang tidak bisa dia hindari. Ve kira Bosnya angkuh,,, ternyata dibalik sikapnya yang dingin, tersimpan kasih sayang yang besar untuknya.
Namun, Barra yang lebih suka menunjukkan perasaannya lewat tindakan, sering disalah artikan oleh Ve yang menginginkan suaminya mengungkapkan lewat kata-kata.
" Kamu istri saya,,, saya akan memperlakukan kamu layaknya istri...",
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pp_poethree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi
"Mbak beneran bukan Mamanya Rere? terus mbak siapa? ",
" Saya yang ngasuh bu.. ",
" Loh..., kirain Mamanya. Papa Rere yang biasanya ke sini pake mobil gonta ganti kan? yang ganteng tinggi itu? ",
" Iya Bu... ",
" Jangan-jangan mbak simpenannya ya... ",
" Bukan bu.. bukan... ", jawab Ve yang langsung buru-buru masuk ke dalam rumah.
Benar kata Barra, Ibu-ibu disini baik tapi sayangnya julid.
Rere sudah bisa menaiki sepeda roda duanya, hasil dari belajarnya selama 3 hari. Hampir setiap sore dia bermain dengan akamsi alias anak kampung situ. Dia mempunyai beberapa teman baru, teman sebaya yang biasanya bermain dengannya.
Saking senangnya bermain sepeda, Rere sampai tidak kenal waktu. Saat turun hujan, dia menerobos nya. Ve sudah melarang, tapi anak itu bersikeras. Apalagi, terang-terangan Rere meminta izin kepada Daddynya dan diizinkan.
Alhasil, sekarang Rere demam. Rere terserang flu dan batuk. Masih mau makan dan minum. Tapi, Ve semalaman harus berjaga, karena Rere tantrum dan manja. Ini malam kedua Rere demam, untungnya sudah berangsur turun.
"Onty..., Daddy nanti ke sini kan? ",
"Iya.., Daddy masih di jalan..dari luar kota..",
"Rere mau tidur tapi Onty temenin ya.. ",
Ve mengangguk.
Hujan turun lumayan lebat, bersamaan dengan kedatangan Barra yang langsung menuju kamar Rere untuk menemui putrinya.
"Rere... masih sakit nak? ",
"Masih Dad.., Rere agak pusing.. ",
"Ke Rumah Sakit aja ya.. ",
"Nggak usah Dad.., Rere mau tidur aja. Daddy temenin ya... ",
"Oke... ",
Ve terjebak dalam suasana akward. Mereka harus tidur bertiga? Ve memilih untuk beranjak, namun dicegah oleh Rere.
"Onty Ve disini aja... ",
"Kan Rere udah di temenin Daddy... ",
"Onty Ve disini.. ",
Jadilah, mereka tidur bertiga . Rere menjadi penghalang antara Ve dan Barra.
Saking lebatnya hujat, berdampak pada padamnya jaringan listrik. Ini tidak akan terjadi jika mereka masih tinggal di Apartement.
"Dad..., lampunya mati.. Rere takut... ",
" Rere bobo ya.. nanti Onty cariin lilin... ",
"Panas banget Re.., kamu panas nggak? ", tanya Barra.
"Iya Dad, AC nya mati.. ",
Beberapa waktu kemudian, suasana kamar itu hening, tanpa suara. Namun, Ve dikagetkan dengan pintu kamar yang di gebrak-gebrak.
"Woy.. kalian ngapain...? ",
Suara dari seorang laki-laki muda yang berselempangkan sarung m dengan senter yang berada di tangannya.
Ve yang kaget langsung terbangun dari tidurnya.
"Kamu siapa sih??? nggak sopan banget masuk rumah orang.. ",
"Kalian abis iclik ya..., enak ya hujan-hujan gini... bikin malu kampung sini aja..",
"Apa-apaan sih masuk ke rumah orang nggak ngetuk pintu, main tuduh aja. Nggak liat ada anak kecil ya.. ",
Ve menoleh ke samping kirinya, namun langsung dibuat panik ketika Rere tidak ada di tempat tidurnya. Justru ada Barra yang sedang tidur dengan bertelanjang dada.
"Astaga... ",
"Pura - pura kaget ya mbak kamu... ",
Ve langsung mengguncang-guncang Barra yangs sedang tertidur.
"Pak.. bangun pak.. bangun.. ",
Barra membuka matanya.
"Kenapa Ve..? ",
"Pak ada yang masuk.. ", tunjuk nya pada dua orang asing yang masuk ke rumah tanpa permisi.
Satu orang lagi datang, dan berkata ", udah ta laporin ke pak RW, bentar lagi dia kesini.. ",
"Ada apa ini! ", tanya Barra.
"Kamu mas, sama mbak ini? ngapain berduaan di kamar? ",
"Apa urusannya sama kalian? ",
"Lho jelas ada mas, dikampung sini nggak ada yang namanya pasangan kumpul kebo atau pasangan zina. Bisa sial kampung sini.. ",
"Kalian ada bukti..? ",
"Udah mas..., kita selesaikan aja.. ", ucap laki-laki itu memaksa Barra keluar.
"Oke.. oke.. saya keluar sendiri. Kalian jangan anarkis... ",
Entah dari mana datangnya, puluhan warga sudah memenuhi ruang tamu rumah Barra. Ve menunduk menangis. Ve malu dituduh berzina dengan Barra. Pasalnya beberapa ponsel merekam dirinya. Barra sibuk telepon ke sana kesini. Ve sampai tidak memikirkan keberadaan Rere.
"Saya nggak ngapa-ngapain pak..., bu... ini salah paham aja...",
"Mana ada sih, maling yang mau ngaku mbak.. ",
"Kenapa masuk ke rumah saya tanpa permisi mas? ", tanya Barra.
" Lha saya lagi ronda malam..listrik nyala, tapi rumah ini nggak di tutup pintunya. Udah saya ketok-ketok, nggak ada yang nyahut. Saya masuk kamar, malah kalian berduaan tidur.., udah kecapekan? ",
"Kami nggak ngapa-ngapain pak..", ucap Ve memelas.
"Mas.., sesuai hukum kampung kami, kalo ada yang zinah itu di arak keliling kampung telanjang...", ucap bapak-bapak sesepuh kampung .
"Boleh kalian menolak.. tapi.. dengan satu syarat, kalian menikah malam ini juga.., untuk menghindari zina biar kampung kami nggak kena sial... ",
"N--nikah....??? ",
Barra diam.
"Pak.., tolong gunakan power pak Barra, ini kan cuma salah paham pak.. ",
"Ve.. kamu nggak liat yang diluar udah ada yang teriak-teriak? suasanya nggak kondusif Ve.. ",
"Saya divisum saja pak..., saya masih perawan....", ucap Ve yang frustasi.
Ayah Ve tiba. Beliau langsung masuk melewati kerumunan warga.
"Ayah... ",
"Ve..., kenapa ini dek..? ",
"Anak bapak Zinah sama bos nya.. ",
"Nggak... yah.. nggak.. cuma salah paham.... ",
Teriakan, ricuh di luar rumah. Sampai-sampai ada beberapa polisi yang berjaga untuk mengamankan.
"Anda Ayah dari mbak ini? ",
"Iya... ",
"Silahkan berdiskusi, saya sudah menyampaikan konsekuensi apa yang harus diterima karena sudah mengotori kampung ini.. ",
"Adek yang tenang ya.. ", ucap ayah Ve.
"Masa adek mau diarak keliling kampung Yah, kalo nolak adek harus nikah sama pak Barra, kan aneh.. adek nggak ngapa-ngapain... ",
Micel datang, setelah Barra menghubunginya. Micel langsung memeluk sahabatnya, melihat Ve yang menangis tersedu.
"Cel.., kamu jagain Ve ya. Jangan biarin warga nyentuh kalian.. ",
"Om... bisa saya berbicara dengan Om..? ", ucap Barra kepada Ayah Ve.
Barra dan Ayah Ve masuk ke dalam ruang tengah. Berbicara empat mata antara lelaki dan lelaki.
"Sebenarnya gimana ceritanya sih Nak.? ",
"Tadi saya sama Ve cuma nemenin Rere dikamar. Tadi hujan lebat kan Om, listriknya padam. Saya kegerahan, karena baru balik dari luar kota. Saya copot kemeja saking panasnya. Tiba-tiba waktu saya bangun, udah ada warga yang mergokin saya sama Ve di kamar. Rere nggak tau ada dimana.. ",
"Rere ilang..? ",
"Kayaknya pergi sama Bejo, karena mobil saya di depan juga nggak ada.. ",
"Ini gimana Nak Barra...? Om takut sama keselamatan kalian, nggak mungkin juga saya membiarkan Ve diarak keliling kampung... ",
"Nikahkan saya sama Ve Om.. ",
"Nikah...? Saya tahu nak Barra memang sempat melamar Ve.., tapi Ve belum siap menikah Nak.. ",
"Om.. pilihannya ada dua. Ve diarak keliling kampung atau menikah sama saya? Ve perempuan Om, resikonya lebih besar dibandingkan saya yang laki-laki . Om lihat kan tadi? berapa warga yang pakai ponselnya buat rekam situasi ini? Om rela Ve menanggung malu seumur hidup dia? ",
"Nak.. tapi Ve pasti menolak... ",
"Bujuk Ve Om.., sebelum warga kehabisan kesabaran... ",
"Kenapa jadi seperti ini Nak..? ",
"Mama Papa saya sudah datang Om.., saya mau minta restunya . Om.. tolong bujuk Ve biar mau menikah sama saya... ",
Memilih lantai atas, Barra berbicara kepada kedua orang tuanya mengenai niatnya untuk menikahi Ve.
"Barra mau tanggung jawab Pah, malam ini juga Barra mau menikahi Ve.. ",
"Jangan gila ya kamu Bar, kamu udah tunangan.... ",
"Boleh atau nggak, Barra tetap nikah. Barra cuma konfirmasi aja...", dibandingkan mendengar ucapan Mamanya, Barra memilih untuk langsung mengultimatum kedua orang tuanya.
"Pah.. tanya sama keluarga perempuan itu. Damai aja deh, maunya berapa? ",
"Mah.. ini bukan soal uang.. ", ucap Barra.
"Bar.. kamu udah bener-bener pikirkan keputusan kamu ini? ",
"Udah Pah.. ",
"Mama nggak setuju...!!! ",
"Kenapa Mah? karena ada Diana? Mama nggak pikirin Barra ya? Apa kata orang nanti Ma? Barra udah digerebek sama perempuan, tapi Barra nggak tanggung jawab, malah cuma kasih uang. Itu yang Mama mau? Mau deadline beritanya ada dimana-mana? reputasi Barra gimana Ma..? ", perkataan Barra sukses membuat Mama Rossy diam.
"Barra bener Mah.. ", ucap Papa Harsa.
"Mama jangan khawatir, Ve itu sahabatnya Mici, dia berpendidikan. Dari keluarga baik-baik.. emang bukan kalangan kita, tapi keluarganya juga bukan keluarga miskin...., nanti aja Barra ceritain. Barra udah nggak punya waktu lagi. Emangnya, Mama mau? anak Mama satu-satunya, cucu pertama, pewaris keluarga Sanjaya di arak keliling kampung? ",
Suara derap kaki terdengar menaiki anak tangga satu persatu. Dengan nafas tersengal-sengal, micel berkata,
"Kak.. Ve udah setuju nikah sama Kakak.., buruan turun... ",
Barra tersenyum.
"Oke.., kakak ambil kemeja dulu Cel.. ",
biar kapok Barra🥰🥰🥰
tapi jangan buat Ve kecewa ya kak,,
kesel aja trus bikin Bara bere bucin akut Ama Ve😄👍
harusnya dia jujur ke Ve ttg mamanya Rere. lanjut Saffa cantik🥰🥰🥰