Rahel adalah seorang yang kuliah di Jurusan Bahasa Inggris lewat jalur beasiswa. Ia adalah gadis cantik dan cerdas sehingga banyak mahasisiwa yang mengagumi dia.
Sebuah insiden mempertemukannya dengan seorang mahasiswa tampan bernama Harley, yang menyebabkan laptop milik Harley rusak. Rahel pun harus mengganti rugi dengan bekerja paruh waktu di resto milik keluarga Harley.
Seiring dengan berjalannya waktu mereka saling kenal dan saling mencintai. Namun, hubungan asmara mereka tidak semulus seperti jalan tol lantaran status sosial.
Yuk, intip bagaimana hubungan Rahel dan Harley selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Sekti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman Rahel Menghilang
"Apa kita lapor saja kepada pak Justin untuk mencari Ririn, bagaimana teman? Pihak dosen laki-laki saja yang mencari Ririn di malam seperti ini," tanya Zahra kepada teman-temannya. Zahra memberikan solusi untuk segera menemui para dosen untuk mencari Ririn yang diduga hilang.
"Iya. Yuk, kita ke tenda para dosen. Agar mereka mencari Ririn dan ia segera ditemukan," jawab Nindy yang saat itu mencemaskan Ririn.
Lalu Rahel dan beberapa temannya, berjalan menuju tenda yang di tempati oleh Pak Justin. Tidak lama mereka menemukan pak Jastin yang sedang berkumpul dengan para dosen lainnya yang sedang duduk di depan api unggun. Seraya Siska mulai berkata,
"Maaf, kami dari mahasiswa putri ingin melaporkan bahwa Ririn teman kami jurusan Fakultas Bahasa Inggris tidak ada di tempat di mana kami menyalakan api unggun. Kami sudah menunggunya selama dua puluh menit namun masih belum kembali ke tenda." Siska menjelaskan maksudnya kepada pak Justin dan beberapa dosen yang ada di situ.
"Baik. Kita akan segera mencari Ririn hingga ketemu," ucap Justin dengan wajah cemas.
Lalu Justin dan beberapa dosen lainnya mencari Ririn dengan berpencar ke arah yang berlawanan. Sedangkan Rahel dan teman-temannya kembali ke tendanya untuk memastikan bahwa Ririn benar-benar telah menghilang.
"Ririn benar-benar menghilang. Aku takut jika terjadi hal buruk akan menimpanya," ucap Rahel kepada teman-temannya.
Hati Rahel merasa berdebar-debar seperti akan terjadi sesuatu. Ia dan teman-temannya mencoba membuka dan melihat lihat ke semua sisi tenda siapa tahu Ririn ada di dalam tenda.
Lagi-lagi, tenda tersebut masih kosong. Lantas siapa yang menculik Ririn? Mustahil jika diculik oleh orang karena tempat ini sudah dijamin aman oleh pihak pengelola dan sudah mendapatkan izin dari pemerintah.
"Rahel, kamu tenang, ya? Kita tunggu hasil pencarian dari tim dosen yang sudah berusaha mencari." Zahra berusaha menenangkan Rahel walau sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama.
Setelah dua puluh menit, para dosen itu belum menemukan mahasiswi yang bernama Ririn. Mereka sudah mencari ke seluruh penjuru area Bumi Perkemahan, namun Ririn belum juga ditemukan.
Para dosen sengaja tidak membeberkan tentang menghilangnya Ririn secara tiba-tiba, karena dikhawatirkan para mahasiswa putra dan putri merasa panik dan sedih.
Acara camping tersebut bertujuan untuk mengasah mental para mahasiswa agar berjiwa mandiri dan kompak sehingga menumbuhkan rasa persatuan antar mahasiswa serta untuk refreshing dan mendinginkan pikiran yang lelah.
Tidak lama Harley memanggil Rahel dari arah sampingnya.
"Rahel! Aku mau berbicara sebentar dengan kamu!" Wajah Harley terlihat cemas menandakan sesuatu hal buruk terjadi.
"Silakan katakan!" Rahel juga segera ingin mendapat ungkapan dari Harley yang membuat ia begitu penasaran.
"Rahel, aku melihat salah satu temanmu sedang di gubuk kecil di dekat semak belukar sana. Saat aku ingin melihat-lihat suasana sekitar tenda, secara tidak sengaja aku melihat temanmu berlari kecil dengan seorang dosen yang sudah familiar! Aku tadi membuntutinya dan merekam videonya."
Harley ternyata mengetahui keberadaan Ririn. Prasangka buruk yang sempat mampir di benak Rahel ternyata menjadi kenyataan.
"Benarkah? Lalu mereka belum kembali ke sini?" Rahel merasa kaget dan tidak percaya.
Ririn yang terlihat pendiam ternyata mempunyai sifat yang begitu buruk dan melanggar norma kesusilaan.
"Benar. Mereka akan segera ke sini karena saat mereka tengah melakukan adegan asusila, mereka terburu-buru mengenakan pakaian.
Kedua sejoli tersebut seperti curiga kalau mereka merasa sedang diintai. Karena waktu itu, kakiku tidak sengaja menginjak botol minuman, saat itu aku langsung lari menuju ke tempat tenda ini untuk memberi tahu kepada kamu. Untungnya, aku sudah merekam video adegan tersebut."
Harley menjelaskan secara jelas kisah asusila antara dosen dengan mahasiswinya.
"Oke. Tapi kita berpura-pura tidak mengetahui dahulu. Nanti aku akan merekam Ririn saat ia tiba," ucap Rahel kepada Harley yang sedang berdiri di belakang tenda yang agak sepi. Sedangkan teman-teman Rahel yang lainnya masih duduk manyun di api unggun yang masih menyala.
"Siap, Nona. Tapi kamu jangan membahas dan berusaha mengungkap kasus mereka. Aku dan teman-temanku saja yang akan mengungkap kasus tersebut. Kamu cukup istirahat dan mikirin diriku," ucap Harley sambil nyengir kepada Rahel untuk menggodanya.
Tanpa menunggu jawaban dari Rahel, Harley berlari kecil menuju teman-temannya berada. Lalu Harley secara sembunyi-sembunyi menceritakan kejadian asusila tersebut kepada teman-temannya. Dan memperlihatkan konten video yang berhasil direkam oleh Harley. Teman-teman Harley lalu mengumpat dan merasa kaget.
Tidak lama, Ririn berjalan tergopoh-gopoh menuju area tenda yang ia tempati. Rahel sudah menantikan kehadiran Ririn dan mempersiapkan rekaman.
"Ririn? Kamu dari mana? Kok baru nongol?" Kita khawatir lho?" tanya Nindy kaget karena tiba-tiba Ririn datang dan penampilannya sedikit acak-acakan.
"A-aku dari buang hajat. Perutku sakit sekali," jawab Ririn dengan terbata-bata dan berbohong.
"Oh. Kamu tidak mengajak kita untuk menemani? Kamu pemberani juga. Kamar mandinya 'kan jauh." Zahra merasa Heran dan pertanyaannya juga menyelidik.
"Aku tidak sempat mengajak kalian karena kebelet. Saat itu aku berlari kencang ke arah toilet yang dekat dengan perkampungan penduduk." Ririn berusaha mencari alasan agar temannya percaya kepadanya.
"Yasudah. Lain kali kalau mau pergi lama, pamit sama kita. Jadi kita tidak khawatir dan was-was."
Rahel berpura-pura percaya dan menasehati sebenarnya ia sangat geram melihat temannya berbuat asusila. Rahel juga harus membuktikan sendiri bahwa memang Ririn berbuat tindakan yang menodai tempat ini.
Lalu Rahel dan beberapa temannya akan menemui dosen untuk mengabarkan bahwa Ririn telah kembali. Tidak lama mereka sampai di depan tenda para dosen. Rahel menjelaskan hal tersebut sehingga Justin berkata,
"Besok pagi, Ririn segera menghadap saya! Ada hal penting yang harus saya sampaikan. Kalian jangan panik lagi. Saya salut kepada kalian karena telah peduli terhadap teman kalian. Selamat beristirahat dan menikmati momen ini," ungkap Justin secara detail sambil tersenyum kepada Rahel dan temannya.
"Baik, pak," jawab Rahel dengan senyum kalem kepada dosen itu.
Lalu mereka segera ke tenda lagi dan mulai duduk bersila di depan api unggun. Hawa dingin mulai masuk ke tulang-tulang persendian mereka. Oleh karena itu mereka betah menyalakan api unggun. Terlihat Ririn bergabung dengan temannya lagi. Namun terlihat wajahnya sedikit pucat. Lalu Zahra berkata,
"Rin, kamu kok pucat? Kamu sakit, ya? Kamu kalau tidak enak badan di dalam tenda saja tidur." Zahra melihat temannya berwajah pucat. Padahal sebelum dia menghilang, Ririn terlihat ceria dan segar. Zahra sedikit curiga dengan Ririn.
Drrtt drrtt drrtt
Ponsel milik Rahel bergetar. Tertera nama 'Harley'. Lalu Rahel berjalan menuju area yang agak sepi dan segera mengangkat telepon dari Harley.
"Hallo, ada apa Harley?" tanya Rahel kepada Harley dengan nada agak nyaring.
"Rahel. Aku sudah memvideo dosen yang melakukan tindakan asusila dengan temanmu. Dia sekarang sedang berkumpul dengan para dosen lainnya." Harley memberi penjelasan mengenai dosen misterius itu.
"Oh. Ririn juga sudah kembali. Aku sudah merekamnya. Dosen itu bernama siapa, Harley? Kasih tahu aku!" Rahel penasaran dan segera ingin tahu nama dosen misterius itu.
"Bagus. Rekaman yang kamu buat jangan sampai hilang. Dosen itu adalah pak Reno kepala dosen di kampus kita! Sudah dulu ya, sayang. Selamat malam." Lalu sambungan telepon tersebut terputus.
Sontak Rahel kaget karena orang nomor satu di kampusnya melakukan tindakan yang sangat tidak senonoh.
'Kenapa mereka bisa sedekat itu? Ada hubungan apa antara pak Reno dengan Ririn?' desis Rahel di dalam hatinya.
Lalu Rahel mulai bergabung dengan teman-temannya lagi. Di situ Rahel akan memasak air untuk membuat teh manis. Karena ia merasa tenggorokannya kering. Tidak lama Rahel telah selesai membuat teh manis hangat.
"Teman-teman, ayo, kita minum teh bersama! Agar badan kita terasa lebih hangat." Rahel mulai menuangkan teh ke dalam gelas yang sudah ia persiapkan untuk dirinya dan teman-temannya.
Lalu mereka meminum teh bersama-sama sambil bersenda gurau di malam yang penuh bintang. Namun, di malam indah itu Rahel masih memikirkan Ririn, temannya yang selama ini ia percaya baik tapi ternyata dugaannya salah.