Aisyah, seorang gadis yang memilih berhijrah dan menutup wajah nya dengan selembar kain (cadar) semenjak SMA. Gadis yang membuat banyak laki-laki ingin menikahi nya, namun lagi-lagi ditolak oleh nya.
Kemudian, hatinya terperangkap oleh seorang pemuda bernama Fatih, yang ternyata adalah dosen baru di Kampusnya. Meneguk manisnya rumah tangga, hingga akhirnya harus berpisah dengan Fatih suaminya dengan cara yang sangat menyakitkan.
Cerita lengkapnya akan temen-temen baca di novel "MADU" ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noktafia Diana Citra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Hari ini aku bangun pagi-pagi sekali. Bahkan sebelum alarm dan adzan subuh terdengar. Aku ingin membereskan semua yang belum aku bereskan, aku melirik ke arah mas Fatih yang masih tertidur. Mungkin dia sangat kelelahan setelah semalam pergi bersamaku untuk makan malam.
Aku masih sangat teringat, suasana tadi malam. Begitu manis, indah, dan sangat romantis. Alhamdulillah ya Allah, sudah mengirimkan laki-laki sebaik dan seromantis ma Fatih, doaku lirih.
Sekitar jam setengah 4, aku sudah mulai menyiapkan makanan untuk sarapan mas Fatih. Sejujurnya aku bingung, apa suamiku punya alergi sama makanan?, apa yang dia suka?, dia ingin apa?. Ahh..., rasanya ingin membangunkan dirinya dan menanyakan semua itu kepadanya.
Setelah berpikir panjang, aku akhirnya memutuskan memasak sayur sop, sambal, dan ayam goreng. Bismillah..., semoga mas Fatih suka. Aku mulai memotong-motong sayur dan teman-temannya. Aku melirik kearah jam dinding yang terpasang didinding dekat lemari es. Udah mau jam empat ternyata, batinku lirih.
Tepat pukul 04:00 masakan yang baru siap hanyalah sop dan ayam gorengnya. Sedang saat akan membuat sambal, adzan subuh dari masjid sudah terdengar. Aku terpaksa menunda dan segera membangunkan mas Fatih dikamar. Tumben mas Fatih belum juga bangun. Mungkin karena saking capeknya.
"Mas Fatih...., mas, mas bangun mas. Sudah adzan. Ayok jamaah dimasjid mas,". Ucapku membangunkannya dengan pelan-pelan. Mas Fatih masih tak bergeming.
"Mas Fatih, ayok bangun. Nanti telat shalat subuh loh mas. Ayok bangun mas,". Aku mencoba membangunkannya lagi, kali ini aku memberanikan diri untuk menggoyangkan lengan tangannya dengan lembut.
Aku melihat dia membuka matanya, dan kemudian tersenyum kepadaku.
"Jazakallahkhoyr dik, sudah membangunkan mas," Ucapnya di sela-sela kantuknya.
"Wa antum jazakallahkhoyr mas. Ayuk bangun, ambil wudhu terus kemasjid yah,". Ucapku padanya.
Dia bangun dari tempat tidur, dan membuntuti aku dibelakang. Aku mempersilahkan mas Fatih untuk mengambil wudhu duluan agar tidak telat berjamaah dimasjid.
"Mas wudhu duluan saja, biar ngga telat jamaah di masjinya,". Ucapku.
"Iya dik, ini mau," Ucap mas Fatih seraya mengambil wudhu. Aku kembali ke dapur untuk menyiapkan sambal yang tadi belum sempat aku haluskan. Tidak butuh lama, sambal sudah lembut dan siap dimeja makan.
Aku membawa kan baju koko dan kopiah milik mas Fatih untuk digunakan shalat. Aku menunggunya keluar dari kamar mandi.
"Mas, ini baju dan kopiahnya sudah Aisyah siapkan,". Ucapku sambil menyodorkan kepada mas Fatih.
"Terimakasih istriku sudah menyiapkan semuanya,". Ucap dia yang bergegas menggunakan baju koko dan kopiahnya.
"Mas pamit kemasjid dulu ya dik, kamu segera shalat ya sayang. Assalamualaikum,".
Ucap mas Fatih yang berpamitan kepadaku dan seraya mencium keningku. Aku pun tak lupa mencium tangannya.
"Waallaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh,". Aku menjawab salam darinya. Aku lalu berjalan menuju kamar mandi dan mengambil wudhu untuk melakukan shalat subuh. Alhamdulillah rasanya segar sekali pagi-pagi terkena air. Ucapku dalam hati.
Sepulang dari masjid, mas Fatih membawa sebuah keresek untukku. Aku sendiri masih belum tau apa isi keresek itu.
"Dik, ini mas belikan jajanan buat kamu. Hehe..., tadi kebetulan ada tukang jajanan yang lewat depan masjid setelah mas selesai shalat,". Mas Fatih dengan semangatnya membuka bungkusan kresek yang tadi dia bawa dihadapan ku.
Aku melihat isi keresek itu ada beberapa jajan, ada agar-agar, ada pastel, ada kue bolu dll. Entahlah kenapa mas Fatih beli begitu banyak. Padahal dirumah hanya ada dua orang, aku dan dirinya saja.
"Koo belinya banyak banget mas?,". Tanyaku padanya yang masih sibuk menata jajan-jajan yang tadi dia beli dipiring.
"Iya sengaja dik, ngga papa ya. Lagi pula ga akan basi kan walau sampai siang atau sore?, mas pengen santai dirumah sambil ngemil bareng sama kamu dik,". Ucapnya polos.
"Nanti kalo Aisyah gendut gimana mas?, kebanyakan ngemil?,". Tanyaku yang sebenarnya ingin mengajak bercanda suamiku. Tapi mungkin masih kaku.
"Ngga papa sayang, asal kamu sehat. Mas ga mempermasalahkan ko,". Ucapnya lembut.
"Oh iya mas, kita kan sudah ambil ijin dari kampus 1 Minggu, ini sudah hari ke 6. Kira-kira ada yang mas butuhkan untuk mulai mengajar besok tidak?,". Tanyaku padanya.
"Waktu cepat sekali berlalu ya dik, rasanya mas masih ingin libur dan quality time bareng kamu,". Ucapnya dengan nada sedih.
"Kan tiap hari juga bakal ketemu mas. Jangan berlebihan gitu, kan harus tetap amanah,". Ucapku kepadanya.
"Iya juga ya, astaghfirullah... Kayanya ga ada yang mas butuhkan untuk mengajar besok dik,". Ucapnya padaku, dan belum sempat aku mengeluarkan suara untuk bertanya tiba-tiba mas Fatih melanjutkan ucapannya.
"Oh engga, ada satu yang sangat mas butuhkan dik,". Ucap mas Fatih dengan nada yang sangat serius. Aku sendiri sampai penasaran, apa yang dia butuhkan sampai seserius itu.
"Ada?, apa itu mas?, bilang saja ke Aisyah yah. Biar Aisyah bantu,". Ucapku menyakinkannya.
"Mas lupa dik, kalo ternyata mas sangat butuh kamu untuk selalu di sisi mas,". Ucap mas Fatih seraya memandang wajahku dengan sangat dalam. Aku langsung mendudukkan kepala. Entahlah, aku merasa malu ketika ditatap sebegitu lekatnya sama suamiku.
"Ya Allah mas, Aisyah kira beneran ada sesuatu yang mas butuhkan,". Ucapku dengan wajah yang merona.
"Loh itu beneran dik, mas ga bohong. Itu super jujur malah dik. Makanya sayang, bantu mas ya untuk selalu ada di samping mas,". Ucapnya dengan nada yang sendu.
"In syaaAlloh mas. Aisyah akan berusaha semampu Aisyah bisa,". Jawabku meyakinkannya.
"Mas Fatih sudah lapar?, Aisyah sudah masak sesuatu buat mas. Tapi maaf ya kalau kurang enak, atau tidak sesuai yang mas suka dan inginkan,". Ucapku dengan nada yang sedih.
"Wah.. MasyaAlloh. Jadi kamu sudah masak sayang?, kapan kamu masaknya dik?, pantas saja tadi mas mencium bau wangi masakan ketika mau wudhu. Mas pikir itu hanya halusinasi hidung mas saja yang baru bangun tidur, ternyata bidadari cantik ini toh yang bikin mas mencium bau aroma masakan yang sangat lezat?,". Mas Fatih terus menerus menggodaku, memberikan kata-kata yang romantis. MasyaAlloh.
"Jangan gitu mas, Aisyah malu. Tadi sebelum bangunin mas untuk shalat, Aisyah sudah selesai masak mas,". Jawabku.
"MasyaAlloh tabarakallah, jazakillahkhoyr istriku sayang. Ayuk kita makan. Mas sudah ga sabar ingin mencicipi masakan istri mas untuk yang pertama kalinya,". Ucap mas Fatih sambil merangkul pundakku menuju tempat makan.
Aku mengambilkan nasi dipiring untukku dan untuk mas Fatih, serta mengambilkan segelas susu dan air putih untuk mas Fatih. Aku melihat mas Fatih sangat bahagia.
"Wow... Ada sop, ada ayam goreng, dan ada sambal juga. MasyaAlloh tabarakallah,". Ucapnya dengan mata yang berbinar-binar.
"Semoga mas Fatih suka yah. Asiyah tadi bingung ingin masak apa. Akhirnya Aisyah putuskan untuk masak ini semua,". Ucapku padanya.
"MasyaAlloh, enak banget dik. Sungguh masakan kamu enak. Mas ngga berbohong dik. Ini benar-benar enak,". Ucapnya sambil makan dengan sangat lahap. Aku bahagia melihatnya, dan bahagia ternyata suamiku menyukai masakan buatanku. Alhamdulillah ada manfaatnya juga aku belajar memasak sama Umi. Ah, aku jadi sangat rindu Umi, Abi, dan Aldi. Gumamku dalam hati.
"Mas Fatih tidak punya alergi?,". Aku bertanya padanya takut jika dia punya alergi terhadap makanan atau yang lainnya.
"Alhamdulillah dik, mas ga ada alergi apapun. Kamu punya alergi sayang?,". Mas Fatih balik tanya kepadaku.
"Alhamdulillah, Aisyah juga tidak punya alergi mas,". Jawabku sambil menggelengkan kepala.
Aku dan mas Fatih larut dalam suasana sarapan pagi untuk pertama kalinya dalam keluarga kami. Alhamdulillah. Semoga Allah selalu memberikan keberkahan dalam pernikahan aku dan mas fatih. Aamiin..
Aku menikmati masakan hasil buatanku sendiri. Dan benar seperti yang mas Fatih bilang. Ini memang enak, tidak keasinan atau malah bahkan tidak ada rasanya. Alhamdulillah ucapku lirih.
author semangat menulis dan readers semangat membaca./Smug/
kata ibu mertua, harus poligami
dasar novel, bikin greget.
lanjut aku baca