NovelToon NovelToon
My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa
Popularitas:225.2k
Nilai: 5
Nama Author: V Lestari

Tidak mudah menjadi seorang putri dari pengusaha kaya raya yang terkenal. Terlebih lagi jika pengusaha itu adalah pengusaha yang menjalankan bisnisnya di dunia hitam sekali pun. Dunia yang setiap harinya harus bermain dengan obat-obatan terlarang, hingga peredaran senjata api ilegal.

Hal itulah yang terjadi pada Alika Tiffany Raendra. Bukan hanya pihak berwajib yang sering mengincarnya agar dapat menangkap sang ayah, tetapi musuh ayahnya pun kerap kali ingin mencelakakannya, sehingga sang ayah meminta beberapa bodyguard untuk mengawasi Tiffany.

Siapa sangka Tiffany malah jatuh cinta pada salah satu bodyguard bertugas untuk menjaganya, bodyguard itu bernama Rama. Walau pada awalnya mereka kerap bertengkar, tetapi Tiffany akhirnya balik mengejar Rama dan bertekad untuk mendapatkan cinta dari Rama.

Akan tetapi, saat akhirnya Rama mulai tersentuh dengan ketulusan dari Tiffany, sebuah musibah datang.

Apakah musibah itu?
Dan apakah Tiffany dan Rama dapat melewati musibah tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KAMU ADALAH PRIORITAS

"Apa? Siapa yang ayahmu ...?" Rama tidak mampu menyelesaikan ucapannya. Ia memang tidak terlalu terkejut jika Richard melakukan hal seperti itu. Toh menembak seseorang bukanlah hal yang tidak biasa bagi seorang pembisnis senjata api ilegal seperti Richard.

Akan tetapi, kenyataan bahwa Richard melakukan hal itu di rumahnya agak membuat Rama bingung. Lagi pula, siapa yang Richard tembak di dalam rumahnya sendiri?

"Ayo, plis," pinta Tiffani, yang sekarang terlihat semakin pucat.

Tidak tega melihat Tiffani seperti itu, Rama langsung menggenggam tangan Tiffani dan berlari menuju pintu keluar. Ia tidak lagi peduli pada hukuman yang akan Richard beri padanya karena ia membawa Tiffani pergi tanpa izin dari Richard, yang ada di pikiran Rama saat ini hanyalah bagaimana caranya agar Tiffani menjadi tenang dan tidak lagi ketakutan.

Sesampainya di teras, ia langsung menuruni tangga dan menyeberangi halaman menuju garasi.

"Apa mobil yang harus ke kendarai ada di dalam?" tanya Rama, pada seorang penjaga.

"Ya, sedang disiapkan, karena ada beberapa barang yang harus kamu bawa ke gudang baru," jawab si penjaga.

"Oke, trims," ujar Rama, lalu masuk ke dalam garasi bersama dengan Tiffani.

Beberapa penjaga yang berjaga di depan garasi tidak ada yang menghentikan Rama dan Tiffani, karena mereka pikir Rama dan Tiffani telah mendapat izin dari Richard untuk pergi. Dan kebetulan sekali Rama memang sudah mengantongi kunci mobil yang akan dikendarainya menuju gudang.

Mata Rama menjelajah, mencari mobil yang sedang disiapkan oleh beberapa penjaga di antara belasan mobil yang ada di dalam garasi, dan ketika ia melihat mobil tersebut, ia langsung menuntun Tiffani menuju mobil.

"Sudah selesai?" tanya Rama, pada seorang pria yang sedang memasukan beberapa tas berukuran besar ke dalam mobil Rama.

Si penjaga mengernyitkan dahi begitu melihat dengan siapa Rama datang. "Nona, kenapa Anda ada di sini."

Tiffani diam saja, maka Rama yang menjawab. "Bukan urusanmu, jika tugasmu sudah selesai, lebih baik menyingkirlah, nona minta diantar ke suatu tempat."

"Apa Tuan sudah tahu?" tanya penjaga itu lagi.

Rama berdecak. "Tentu sudah, apa kamu pikir aku akan membawa nona pergi tanpa sepengetahuan Tuan?"

"Ah, benar juga. Baiklah, hati-hati di jalan." Si penjaga langsung menyingkir sesuai dengan perintah Rama.

"Ayo, Nona," ujar Rama, membukakan pintu depan mobil dan mempersilakan Tiffani untuk masuk ke dalam.

***

Perjalanan berlangsung dalam keheningan, baik Rama atau pun Tiffani tidak ada yang bicara selama beberapa saat. Tiffani sibuk menangis, sementara Rama sibuk berpikir dan merasa penasaran akan sosok yang Richard tembak. Sebenarnya ia ingin bertanya pada Tiffani, tetapi melihat keadaan Tiffani yang begitu menyedihkan, Rama mengurungkan niatnya.

"Tiffani, ke mana kamu ingin pergi?" tanya Rama.

Tiffani yang sejak tadi menunduk pun mengangkat wajahnya dan menatap Rama. "Menurutmu aku harus ke mana?"

"Ke mana pun aku membawamu, kamu akan ikut?"

Tiffani mengangguk. "Ya, ke mana pun."

Rama tersenyum dan dengan berani ia mengusap air mata Tiffani. "Baiklah, ayo kita pergi ke suatu tempat. Tapi, perjalanannya lumayan lama. Tidurlah, akan aku bangunkan saat sudah sampai."

Tiffani mengangguk dan langsung menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. "Maaf, karena sudah merepotkanmu."

Rama menggeleng. "Jangan minta maaf, aku sama sekali tidak merasa direpotkan."

Tiffani mengarahkan wajahnya ke samping untuk menatap Rama. "Senang rasanya memilikimu di saat seperti ini."

Rama diam saja. Ia hanya tersenyum tipis, dan kembali fokus melanjutkan perjalanan.

***

Sementara itu di ruangannya Richard tengah terduduk di kursi yang ada di balik meja kerjanya. Matanya menatap nyalang pada sosok yang terbaring tak bernyawa di tengah-tengah ruangan. Ia merasa buruk sekali sekarang, bukan karena ia menyesal telah menembak pria misterius itu, tetapi karena Tiffani melihat apa yang telah ia lakukan. Ia tahu apa yang Tiffani pikirkan sekarang tentangnya. Putrinya itu pasti sangat membencinya.

Richard meremas rambutnya yang mulai memutih sambil berteriak, kemudian memukul meja yang ada di hadapannya dengan keras. "Argh! Sial, sial! sial!" Richard tidak tahan membayangkan Tiffani yang mulai membencinya dan menjauh darinya. Padahal hanya Tiffani lah satu-satunya yang ia miliki sekarang.

Pintu mendadak terbuka, dan Damar masuk ke dalam ruangan bersama dengan beberapa pengawal yang membawa sebuah kantong mayat berwarna hitam.

"Masukan pria itu ke dalam kantong, dan bereskan sisanya, jangan sampai ada jejak." Damar memerintah."

Para pengawal mengangguk dan langsung menghampiri pria misterius yang tenggelam dalam kubangan darahnya sendiri.

"Tuan, Anda tidak apa-apa?" tanya Damar, yang melihat kekhawatiran di wajah Richard.

Richard diam saja, ia hanya memperhatikan para pengawal yang membersihkan genangan darah di tengah ruangan. Setelah semua pengawal keluar dari ruangannya, barulah Richard berbicara pada Damar.

"Di mana Tiffani?" tanyanya.

"Mungkin di kamarnya, Tuan, atau mungkin masih berada di halaman samping." Damar menjawab.

"Coba cari tahu di mana Tiffani. Dia melihat apa yang baru saja terjadi. Putriku melihat aku menembak orang itu. Padahal selama ini dia melarangku untuk menyakiti siapa pun secara fisik, itulah sebabnya aku tidak pernah menyakiti siapa pun di hadapannya dengan tanganku sendiri, tapi hari ini dia malah melihat aku membunuh seseorang dengan tanganku. Apa yang dipikirkannya tentang diriku sekarang, Damar? Dia pasti sangat membenciku, dan malu memiliki ayah sepertiku," ujar Richard dengan suara gemetar.

"Jangan bicara seperti itu, Tuan. Mana mungkin Nona Tiffani membenci Anda. Apalagi jika Anda menjelaskan padanya apa yang sebenarnya terjadi. Jika saja Anda Tidak segera melumpuhkan pria itu dan kemudian menembaknya, maka Andalah yang akan kehilangan nyawa."

"Ya, tapi tetap saja, aku adalah seorang pembunuh di mata putriku."

Tok, tok, tok.

Suara ketukan di pintu membuat Richard menghentikan ucapannya.

"Coba lihat siapa yang datang," titah Richard.

Damar mengangguk, kemudian segera melangkah menuju pintu dan membuka pintu ruangan tersebut.

"Halo, Ayah. Di mana Tiffani? Bukankah Ayah memintaku datang kemari untuk menemaninya ke galeri lukis. Tapi semua pengawal di depan mengatakan kalau Tiffani telah pergi dengan bodyguardnya. Ke mana mereka, Ayah? Kenapa Ayah tidak mengabariku kalau Tiffani pergi keluar."

Andrew yang baru saja tiba mengomel kepada Richard. Pria tampan yang berprofesi sebagai dokter itu kemudian duduk di hadapan Richard yang masih belum mengeluarkan suara sedikit pun.

"Ayah mertua, apa Anda mendengarkanku?" tanya Andrew, saat Richard tidak kunjung menjawab pertanyaannya tentang keberadaan Tiffani.

Damar berdeham. "Tolong jaga ucapan Anda, Tuan Andrew," pinta Damar, ia tidak suka pada sikap Andrew yang menurutnya tidak sopan sama sekali saat berbicara dengan Richard.

"Ayolah, Damar, jangan terlalu kaku. Aku dan Tiffani akan menikah, dan Pak Richard akan menjadi mertuaku. Akan lebih baik jika kami berbicara sedikit santai dan tidak kaku."

Damar diam saja. Ia sebenarnya bisa saja mendebat Andrew, tetapi ia tahu jika Richard tidak menyukai perdebatan, apalagi perdebatan yang dilakukan saat

suasana hatinya sedang kacau.

”Jadi Tiffani tidak ada. Dia pergi dengan Rama?” tanya Richard.

Andrew mengangguk. Sementara Damar segera berujar, "Aku akan memeriksa, Tuan, apa benar nona pergi dengan Rama."

"Tidak usah, Damar. Aku yakin Rama akan membawanya kembali dengan selamat."

"Tapi, Tuan--"

"Aku percaya pada Rama." Richard memotong ucapan Damar, membuat Damar tidak lagi mengatakan apa pun.

Akan tetapi, berbeda dengan Andrew. Ia masih tidak terima karena Tiffani pergi bukan dengannya, melainkan dengan pria lain. Walaupun pria lain itu adalah seorang bodyguard, tetapi tetap saja Andrew tidak suka, karena Rama adalah bodyguard paling tampan yang pernah ia lihat bekerja dengan Tiffani.

"Aku akan cari mereka. Aku tidak suka mereka pergi berdua tanpa Mona, bisa saja si Rama itu menggoda Tiffani dan--"

"Mari kita akhiri pertunanganmu dengan Tiffani, Andrew," ujar Richard, memotong ucapan Andrew.

Andrew dan Damar sama-sama terkejut.

"Tuan, apa yang Anda katakan?" tanya Damar.

"Ayah bicara apa? Ayah ingin aku tidak menikah dengan Tiffani?" Andrew begitu terkejut. Ia tidak menyangka jika kalimat seperti ini itu akan keluar dari bibir Richard.

"Apa kalian berdua tidak ada yang mengerti maksud ucapanku? Aku ingin membatalkan pertunangan putriku dengan Dokter Andrew." Richard kembali berujar

"Tapi kenapa?" tanya Andrew.

"Karena putriku tidak mencintaimu. Aku rasa kamu menyadari hal itu, Ndrew. Aku tidak ingin memaksakan kehendak pada putriku satu-satunya." Richard kembali menjelaskan.

Andrew tersenyum miring. Ia sungguh tidak bisa menerima keputusan Richard. Menjadi menantu seorang Richard Raendra adalah impiannya sejak dulu, sejak pertama kali ia mengobati Richard yang terkena luka tembak di punggung beberapa tahun lalu.

"Apa ini semua karena si Rama itu? Jika keputusan Anda Ini memang karena dia, aku akan menghabisi pria itu," ujar Andrew

Richard mengeluarkan senjata api dari dalam laci mejanya dan meletakkan senjata api itu di atas meja kerja. "Coba saja kalau berani. Mungkin aku akan lebih dulu menembakmu sebelum kamu menyentuh Rama. Jangan macam-macam padaku, Ndrew, dan jangan sentuh Rama."

Raut wajah Andrew berubah ketika ia melihat senjata api di depannya. Ia tahu jika Richard tidak pernah main-main pada ucapannya.

***

Matahari mulai tenggelam, sinarnya yang kemerahan terlihat begitu indah meninggalkan gurat-gurat kemerahan di langit yang mulai menghitam.

Rama menghentikan mobilnya di tepi sebuah danau, danau indah yang memiliki air sebening kaca, dilengkapi dengan dermaga dan perahu di tepinya. Sementara di sekitar danau ditumbuhi oleh bunga-bunga dandelion berwarna putih dan kuning. Kupu-kupu yang berterbangan membuat suasana di tepi danau menjadi lebih indah.

Rama mematikan mesin mobil, lalu menatap Tiffani yang tertidur di kursi penumpang, tepat di sebelahnya. Wajah Tiffani begitu lembut ketika sedang tidur, bagai malaikat. Jejak air mata di pipinya membuat Tiffani terlihat rapuh dan menyedihkan, membuat Rama ingin melindungi gadis itu sampai kapan pun dan dengan cara apa pun.

Rama mengulurkan tangan, mengusap wajah Tiffani dengan lembut. "Hai, bangunlah, kita sudah sampai."

Tiffani menggeliat. Perlahan matanya terbuka dan ia tersenyum mendapati Rama berada di dihadapannya.

"Bagaimana perasaanmu? Sudah lebih baik?" tanya Rama, pada Tiffani.

Tiffani mengangguk, kemudian ia segera menegakkan duduknya dan menatap ke sekitarnya. "Wow, luar biasa. Di mana kita?" tanya Tiffani.

"Danau kunang-kunang." Rama menjawab.

Dahi Tiffani mengernyit. "Tapi tidak ada kunang-kunang di sini."

Benar saja apa yang Tiffani katakan, tidak ada kunang-kunang sama sekali di tepi danau itu, hanya kupu-kupu yang beterbangan ke sana dan kemari, hinggap di antara bunga-bunga, ada juga yang terbang menjauh untuk kembali ke rumah.

"Sekarang memang belum, tapi setelah malam semakin larut, kunang-kunang akan berdatangan."

Tiffani terlihat begitu senang. "Benarkah?" tanyanya.

Rama mengangguk untuk menjawab pertanyaan Tiffani yang langsung membuka pintu mobil dan keluar dari dari dalam mobil.

Rama memperhatikan Tiffani yang menjauh dari mobil, ia mengatur napas sejenak sebelum menyusul Tiffani yang telah berlarian di tepi danau.

"Lihatlah Rama, kupu-kupunya pergi saat aku datang. Jahat sekali." Tiffani berteriak.

"Lihatlah Rama, ini dandelion! Apa kamu tahu kalau bunga ini adalah bunga favoritku semenjak aku melihat bunga ini muncul di drama korea kesukaanku." Tiffani kembali berteriak.

"Lihatlah, Rama, ada perahu! Ayo, cepatlah, jangan lelet!" Tiffani berteriak, sambil melompat-lompat kegirangan begitu melihat sebuah perahu yang terikat di dermaga.

Rama hanya tertawa melihat tingkah gadis itu. Ia senang melihat Tiffani kembali ceria, meskipun saat ini ia merasa dadanya sesak luar biasa hingga ia ingin muntah. Senja memang selalu membawa pengaruh demikian ke Rama. Namun, Rama berusaha agar tetap tenang, ia tidak ingin Tiffani melihat kelemahannya, karena hanya dirinya yang bisa Tiffani andalkan di setiap Tiffani memiliki masalah.

"Ini indah sekali. Luar biasa. Apa kamu sering datang ke sini?" tanya Tiffani, yang sudah duduk di atas dermaga.

Rama mengambil tempat di samping Tiffani. Ia duduk sambil menekuk lutut, lalu memandang tenangnya air danau seperti yang Tiffani lakukan.

Tiffani menoleh ke Rama, dan tanpa ragu ia meletakkan kepalanya di bahu Rama. "Benar kata orang, kalau seorang perempuan memerlukan bahu yang kuat untuk bersandar. Aku tidak tahu apa jadinya aku tanpa dirimu," ucap Tiffani.

Rama mengusap puncak kepala Tiffani dengan lembut. "Kamu gadis yang kuat. Tanpa diriku pun kamu akan bisa melewati semua masalah dengan baik."

"Itu tidak benar. Aku tidak sekuat yang terlihat. Aku hanya berusaha terlihat kuat agar tidak ada yang meremehkanku, dan karena aku tahu kalau aku tidak memiliki siapa pun setelah ibuku meninggal. Itulah sebabnya, aku harus terlihat kuat." Tiffani memejamkan mata, membayangkan sosok yang paling ia cintai pergi meninggalkan dunia tepat di hadapannya.

Rama melingkarkan lengan di pinggang Tiffani, membuat jarak di antara mereka semakin terkikis. "Apa yang terjadi pada ibumu?" tanya Rama.

Hening. Tiffani tidak menjawab, hanya terdengar suara desah napasnya di telinga Rama.

"Maafkan aku. Aku rasa pertanyaanku sudah keterlaluan."

"Ibuku ... ibu meninggal saat aku berusia enam belas tahun. Kami diikuti oleh sekelompok pria bersenjata, saat itu aku dan ibu sedang menuju ke rumah nenek di pedesaan. Kaca mobil kami anti peluru, sehingga tidak mungkin jika ada peluru yang menembus kaca dan membunuh ibuku, tapi kenyataannya ibuku meninggal karena tertembak."

"Bagaimana bisa?" tanya Rama.

"Salah satu dari pria yang mengikuti kami menembak ban mobil yang kami tumpangi. Mobil kemudian menabrak pembatas jalan. Saat itu jalanan sepi sekali, seolah tidak ada manusia lain yang hidup di bumi ini kecuali aku, ibu, sopir, dan semua pria jahat itu. Ibu kemudian membuka pintu mobil, dan memintaku keluar agar aku bisa melarikan diri, tapi tidak lama kemudian seseorang menembak ibuku." Suara Tiffani gemetar, dan air matanya semakin deras mengalir.

"Tiffani," lirih Rama.

"Tidak hanya sekali, Ram. Mereka tidak hanya menembak ibuku sekali, tapi berkali-kali. Tubuh ibuku hancur di depan mataku. Ibuku mati dengan dua belas luka tembak di sekujur tubuhnya. Mereka semua binatang! Binatang!" Tiffani menutup wajah dengan kedua tangan dan mulai meraung. Masih teringat dengan jelas bagaimana wajah kesakitan ibunya yang memohon pertolongan.

Rama merangkul Tiffani. "Shuut, shuut, jangan menangis lagi," ucap Rama, semakin mengeratkan pelukannya ke Tiffani.

"Aku takut. Aku takut kalau-kalau suatu hari nanti ayahku, atau aku pun akan mengalami hal yang sama seperti yang ibuku alami. Aku tidak tahan membayangkan ayahku tertembak dan mati seperti ibuku, tapi justru hari ini ayahku menembak orang lain. Ayahku membunuh orang itu, bagaimana jika keluarga orang itu tahu? pasti mereka akan hancur sepertiku juga."

"Ayahmu pasti memiliki alasan, Tiffani, tidak mungkin dia menembak orang begitu saja, apalagi di dalam rumahnya sendiri. Nanti saat kita kembali ke rumah, tanyalah pada ayahmu. Tidak baik menilainya begitu saja tanpa mengetahui kebenarannya."

Tiffani mengangguk.

Rama mengusap air mata di pipi Tiffani, lalu kembali berkata, "Aku turut berduka atas kepergian ibumu. Aku memahami kesedihanmu, tapi tetaplah tegar. Hanya kamu kekuatan ayahmu sekarang. Kamu gadis yang kuat."

"Ram, aku sudah menceritakan padamu apa yang menjadi ketakutan terbesarku. Aku takut kehilangan orang-orang yang aku sayang. Aku takut kejadian yang menimpa ibuku menimpa ayahku juga, dan aku takut jika hal buruk itu menimpamu juga."

Rama merasakan debar di dadanya menjadi luar biasa cepat saat Tiffani mengatakan itu.

"Jaga dirimu baik-baik, Ram. Jika kamu pergi karena sebuah tugas, kembalilah dengan selamat, dan jika kita sedang dalam keadaan terdesak, prioritaskan keselamatanmu, jangan prioritas aku, karena bagiku kamu adalah prioritas."

Bersambung.

1
Fia Canti
anna ceroboh sekali, harusnya dia ga bnyk omong!
Fia Canti
sumpahh dahh Tiffani suka bgt berbuat tololll
Fia Canti
ikuttt kesell gue sama si Tiffani, tolol bgt sumpah
Tuder Hutapea
enak jadi rama
Peni Sayekti
kasian rama dan tiffani. biarkan sembuh dong tjor. biar mereka bisa bahagia lagi
Peni Sayekti
selain hamil,kenapa tiffani mudah pingsan ya
Novia Lestari: Tiffani itu mengidap suatu penyakit, Kak. nanti next episode akan ketahuan. Baca terus, Kak ☺☺💕💕
total 1 replies
Peni Sayekti
kenapa ya tiffani jadi aneh. aps krn banyak pikiran ya?
Novia Lestari: Iya, akak, bisa jadi juga karena dia kebanyakan beban pikiran. 🥲🥲
total 1 replies
Peni Sayekti
waduh nekat juga Ara ini. ternyata bukan gadis yg polos dia
Novia Lestari: bener, Kak, dia cuma tampangnya aja yang polos 🥲
total 1 replies
Fauzatul Azmi
sungguh karya yg luar biasa👍 cerita nya bagus banget waoww kerennn
Novia Lestari: Makasih banget atas bintangnya, Kak. syukurlah kalau cerita sederhana ini menghibur ☺☺
total 1 replies
Crystal
😅😂😂😂
Crystal
Astaga, apa pengasuhnya berpakaian mewah seperti nonanya. Sampe Rama ga bisa bedain🙄
Novia Lestari: pengasuhnya kebetulan sahabat Tiffani sendiri, dan seusia Tiffani. Jadi pengawal barunya nggak bisa bedain 🤣
total 1 replies
Peni Sayekti
kok tega ya damar,padahal tiffani sdh begitu baik. semiga damar sefera mendapat balasan
Novia Lestari: Iya, Kak, kasihan Tiffani jadi kecewa banget sama Damar.
total 1 replies
Peni Sayekti
baru ngeh tiffani sama damar
Novia Lestari: iya, Kak, akhirnya dia baru sadar kalau Damar berusaha untuk bodohin dia.
total 1 replies
Megabaiq
kurang jeli dan jenius pengawalnya..
Megabaiq
aku lbh suka visual org bulee gtu
Novia Lestari: Silakan, Kak, bisa ciptakan visual sendiri sesuai selera. Hihi, orang bule juga oke ☺
total 1 replies
Peni Sayekti
wah bisa perang dunia ketiga nih
Novia Lestari: haha, iya, Kak. Kalau sampai ketahuan sama Rama Squad, Damar lah yang berkhianat bisa perang dunia 😅
total 1 replies
Peni Sayekti
penasaran sama pemasoknya. kayaknya tuan damar deh?
Peni Sayekti
polos banget ternyata tiffani. krn percaya dg damar sampai tdj peka dan curiga dg dokumen2 penting
Novia Lestari: Iya, Kak, karena dia nggak nyangka kan kalau Damar akan jadi pengkhianat, saking si Damar ini udah lama banget kerja sama Richard. Padahal ternyata Damar jadi serakah setelah Richard pergi.
total 1 replies
Peni Sayekti
siapa wanita itu thor"
Peni Sayekti
ya thor dikit banget, oadahal nunggunya lama. semangat thor
Novia Lestari: hehehe, maaf, ya, Kak. Ntar nex dibanyakin episodenya 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!