Akibat kenakalan di masa remajanya, Shanum sampai hamil di luar nikah. Wanita itu menyembunyikan kehamilannya dari Aska—kekasihnya kala itu, dan yang Aska tahu Shanum sudah menggugurkan kandungan.
Hingga Enam tahun kemudian, Shanum bertemu Aska yang baru saja menikah dengan seorang wanita bernama Zara.
Shanum ingin putranya yang dia beri nama Laskar, mendapat kehidupan yang baik karena papa kandungnya menjadi orang sukses. Namun, akankah Aska akan menerima Laskar dengan tangan terbuka? Lalu bagaimana dengan Zara? Sanggupkah wanita itu menerima masa lalu sang suami?
Shanum, alasan apa yang membuatnya sampai dengan tega memberikan anaknya? Apa benar hanya karena Aska kaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinasya mahila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Bunda Kenapa?
“Sepertinya aku di sini hanya untuk kamu pojokan. Mungkin kamu memang tidak berkenan jika aku di sini,” ketus Sekar yang kalah bicara dengan Zara.
Sekar menyematkan tali tas di pundak, lantas bangun dan sewot ketika menatap Zara. Dia kemudian pergi meninggalkan menantunya itu.
Zara sendiri menarik napas panjang dan menghela perlahan memandang kepergian Sekar. Di dalam mobil Sekar terlihat berpikir. Dia pernah sekali melihat Shanum bersama Laskar, hingga membuatnya menebak jika mungkin saja benar anak laki-laki itu adalah anak Aska. Sekar menggigit ujung kukunya, terlihat berpikir dan tiba-tiba saja merasa bersalah.
“Jika benar, berarti anak laki-laki itu cucuku,”gumamnya.
***
Di rumahnya, sejak Zara pulang tadi Shanum masih berada di kamar. Wanita itu duduk termenung dengan tatapan kosong, merasakan beban di kepalanya terasa sangat berat. Ia tak sadar putranya sedang menatapnya yang duduk melamun.
Laskar memandang Shanum sangat lama, bahkan wanita itu sampai tak menyadari kalau bocah laki-laki itu berada di ambang pintu.
Melihat Shanum yang sejak tadi terdiam, membuat Laskar akhirnya mendekat. Dia naik ke ranjang dan duduk di samping sang bunda. Tangan mungilnya langsung menggapai telapak tangan Shanum dan menggenggamnya erat. Shanum cukup terkejut, lantas menoleh dan melihat Laskar yang sudah duduk di sampingnya.
“Bunda kenapa sedih?” tanya Laskar dengan tatapan penuh iba. Dia melihat kesedihan dalam bola mata ibunya.
“Bunda tidak sedih.” Shanum pun mencoba tersenyum untuk melegakan hati Laskar.
“Tapi mata Bunda kelihatan berair.” Tangan mungil Laskar menyentuh pipi Shanum dan mengusapnya lembut.
Shanum menatap sendu ke Laskar, rasanya masih tidak rela jika memang dia harus pergi dari dunia ini meninggalkan putranya seorang diri. Dia tidak tega menatap wajah polos bocah itu, bagaimana hidup Laskar tanpanya nanti.
Shanum pun memeluk Laskar, dia sukses membuat bocah itu kebingungan.
“Bunda jangan sedih! Ada aku di sini.”
Laskar mengusap punggung Shanum dengan tangan mungilnya, dia tidak mengerti beban apa yang sedang ditanggung oleh sang bunda, yang pasti Laskar tahu Shanum baru saja sakit dan mungkin merasa kurang nyaman.
“Apa badan Bunda tidak enak? Mau Laskar pijat?”
Shanum malah merasa dadanya semakin sesak, dia memeluk erat Laskar dan mengusap kepala bocah itu. Membayangkan bagaimana hidup Laskar sejak bayi yang serba kekurangan. Semua kenangan itu kembali terlintas di kepala Shanum, bahkan dia pernah harus memangku bocah itu sambil bekerja, sungguh tidak ada satu orangpun di dunia ini yang mencintai Laskar seperti dia mencintai bocah itu.
“Bunda jangan sedih! Kalau Bunda sedih aku juga sedih, aku minta maaf ya Bunda kalau aku nakal, aku janji akan jadi anak yang penurut,”oceh Laskar sebisanya untuk membuat Shanum tenang.
Akhirnya Shanum pun mengurai pelukan, dia menghapus air mata yang membasahi pipi lalu membelai pipi Laskar.
“Laskar tidak perlu minta maaf ke Bunda, Laskar anak baik kok, Bunda tidak sedih hanya terharu karena akhirnya bisa pulang ke rumah, Bunda bosan di rumah sakit, bau obat dan Bunda kangen bisa membacakan dongeng untuk Laskar sebelum tidur.”
Shanum menggeser badan, dia memposisikan diri berbaring lalu meminta sang putra mengambil satu buah buku cerita favoritnya.
“Bunda beneran sudah sehat? Bisa bacain cerita buat aku?” tanya Laskar dengan sangat polos, dia begitu perhatian dan baik. Membuat air mata Shanum berlinang kembali.
“Iya beneran, sekarang Laskar berbaring, Bunda bacain cerita.”
Shanum menarik selimut untuk menutupi tubuh Laskar, setelah itu dia berniat mulai membacakan buku cerita yang sudah ada di tangannya. Namun, Shanum tiba-tiba meringis, dia merasakan sakit di bagian perutnya lagi.
"Bunda, Bunda kenapa? Bunda sakit lagi?" tanya Laskar khawatir.
recommended...
bahkan setelah baca ini . bakalan banyak bersyukur
Aska kamu berhutang permohonan maaf yg sangat besar ke shanum.
Laskar harus kuat ya nak 💪
bikin anak kehilangan ibuknya...😭😭😭😭😭