Setelah gagal mendapatkan cinta pertamanya, Daniel menutup diri dari dunia percintaan. Ia mengalihkan rasa sakit hatinya dengan terus bekerja dan melupakan segalanya.
Namun, desakan dari orang tua yang ingin menjodohkan Daniel dengan wanita pilihan mereka membuat Daniel mencari wanita lain agar bisa diajak untuk melakukan pernikahan kontrak.
Hingga ia dipertemukan dengan Mayra, seorang pegawainya yang sedang membutuhkan pinjaman uang dengan jumlah yang cukup besar. Hal itu langsung saja dimanfaatkan oleh Daniel untuk meminta Mayra menjadi istri kontraknya.
Bagaimana kelanjutan kisahnya? Akankah benih-benih cinta tumbuh dihati keduanya? Atau Daniel tetap akan menganggap Mayra sebagai istri kontraknya?
****
Spin off dari cerita Pernikahan Balas Dendam, semoga kalian suka ya ....
JANGAN LUPA TEKAN TOMBOL LIKE, KOMEN, SUBSCRIBE DAN VOTENYA YA GENGS!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Isi Hati.
Mayra terdiam mendengar perkataan Daniel, ia masih menangis seraya menatap pria itu dengan tatapan sayu nya. Bibirnya yang sejak tadi terkena air terasa menggigil hebat. Ia tidak menyangka Daniel akan mengatakan hal itu.
"Tuan juga tidak menginginkanku, Tuan hanya menginginkan tubuhku saja 'kan?" ucap Mayra sangat ingat betul kalau Daniel hanya menjadikan dirinya meski produksi anak.
"Aku tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini, aku hanya ingin melindungi mu dan aku sangat benci melihatmu menangis," ujar Daniel mengusap pipi Mayra lembut. "Mungkin ini terlalu mendadak dan kau tidak akan percaya, aku rasa, aku mulai menyukaimu."
Ucapan Daniel selanjutnya membuat Mayra bungkam. Ia menatap mata pria itu seolah mencari kebohongan disana, tapi Daniel menatapnya dengan sangat serius.
"Apakah itu benar?" Mayra bertanya dengan suara lirih.
"Apakah aku pernah berbohong kepadamu?" Daniel tidak langsung menjawab, ia justru mengatakan hal lain dan menatap Mayra semakin dalam.
"Sekarang Tuan sudah tahu siapa aku, apakah Tuan akan tetap menyukai anak har-"
Daniel langsung membungkam bibir Mayra dengan kecupan manis agar wanita itu diam. "Jangan pernah berkata seperti itu Mayra, tidak ada yang namanya anak haram. Kau adalah kau, dan aku menyukaimu karena dirimu, bukan karena masa lalu atau darimana kau berasal," ujar Daniel dengan suara tegasnya.
Tangis Mayra tidak terbendung mendengarkan bagaimana ungkapan hati Daniel yang begitu serius itu. Sekarang bolehkah dia berharap kalau semua ini nyata?
"Aku juga mencintaimu, Tuan." Mayra langsung menghambur memeluk Daniel dengan sangat erat.
Daniel pun segera membalasnya, meski tubuh mereka basah dan dingin, namun tidak bisa memupuskan pelukan hangat itu. Mayra terus menangis di dalam pelukan Daniel membuat pria itu mengurai pelukannya.
"Mulai sekarang jangan pernah lagi menanggap dirimu seperti itu. Kau harus bangga dengan dirimu sendiri, jangan pernah memikirkan orang lain," ujar Daniel dengan suara yang terdengar lembut meski masih dengan nada datar saat mengatakannya.
"Terima kasih," ucap Mayra mengangguk pelan.
Daniel membalasnya dengan senyuman manis. Mayra pun mencoba tersenyum meski matanya masih sembab dan memerah. Melihat hal itu, Daniel menjadi sangat gemas, perlahan dia mendekatkan wajahnya kepada Mayra lalu menempelkan bibirnya ke atas bibir Mayra.
Mayra memejamkan matanya saat merasakan sentuhan lembut di bibirnya. Ia mencoba membalas meski dengan gerakan sangat kaku karena ia tidak pernah berciuman selain dengan Daniel.
Namun, hal itu justru membuat Daniel semakin gemas, ia mengigit bibir kecil Mayra lalu memperdalam ciumannya. Tubuhnya bergerak maju menghimpit Mayra di tembok kamar mandi yang dingin. Semakin lama ciuman itu semakin panas, entah sejak kapan Daniel sudah meloloskan baju Mayra hingga kini melotot sampai ke perut.
"Tuan ..." Mayra merasa malu saat asetnya terpampang dihadapan Daniel.
"Aku sudah melihat semuanya," bisik Daniel menepis tangan Mayra pelan lalu kembali mencium bibir wanita itu.
Puas bermain sebentar, Daniel lalu menggendong tubuh Mayra ke kamar tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Ia merebahkan Mayra perlahan ke ranjang dengan mata yang tidak henti saling menatap.
Beberapa saat kemudian, suara merdu mulai terdengar memenuhi seluruh penjuru kamar. Kali ini mereka kembali melakukan pergumulan panas namun dengan rasa yang berbeda.
******
Keesokan harinya, Mayra terbangun terlebih dulu. Ia menatap Daniel yang masih tertidur telungkup seraya memeluk perutnya secara posesif. Mengingat apa yang terjadi semalam, membuat wajah Mayra memerah malu, ia membuka selimutnya dan semakin malu saat tahu jika ia masih tidak menggunakan apapun.
"Ini semua bukan mimpi?" gumam Mayra memegang pipinya yang mendadak memanas.
Mayra lalu mengalihkan pandangannya kearah Daniel, pandangannya melembut, dengan malu-malu ia mencium pipi pria itu sebelum turun dari ranjang untuk membersihkan dirinya.
"Mau kemana?"
Namun, sebelum Mayra sempat beranjak, tiba-tiba Daniel menarik tangannya hingga ia kembali tertidur.
"Tuan sudah bangun?" Mayra memejamkan matanya singkat, untuk apa ia bertanya, sudah jelas saat ini pria itu sedang menatapnya dengan mata bulatnya yang indah.
"Menurutmu?" sahut Daniel dengan suara serak khas bangun tidur.
"Ehm, aku ingin mandi dan memasak. Bisakah Tuan melepaskan ku?" kata Mayra gugup.
"Tidak perlu masak, sudah ada Bibi yang akan memasak. Tidur lagi saja." Daniel malah kembali memeluk Mayra dengan begitu posesif, ia menenggelamkan wajahnya ke leher Mayra hingga membuat wanita itu meremang.
"Tapi ini sudah siang Tuan." Mayra langsung merasa tidak enak saat merasakan bibir Daniel mulai mengigit kecil lehernya.
"Biarkan saja, aku masih ingin memelukmu," kata Daniel masih tidak mau melepaskan Mayra.
Mayra bergerak tidak nyaman, ia masih belum terlalu terbiasa dengan hal-hal seperti ini.
"Sssh, diam lah Mayra. Kalau kau terus bergerak, aku tidak berjanji untuk tidak menerkam mu lagi," ancam Daniel langsung membuat Mayra tidak berkutik.
Mayra akhirnya diam saja memperhatikan Daniel yang kini wajahnya sangat dekat dengannya. Ia memperhatikan keseluruhan wajah pria itu, dari alisnya yang tebal, hidungnya yang mancung, dan terkahir bibirnya yang memerah. Mayra akui kalau pria ini benar-benar sempurna, apalagi jika Daniel bersikap dingin, ketampanan pria itu malah bertambah berkali-kali lipat.
Cup
"Tuan?" Mayra terkejut saat Daniel tiba-tiba mengecup bibirnya.
"Kenapa terus menatapku?" kata Daniel membuka menatap Mayra.
"Memangnya tidak boleh?" Mayra memberanikan dirinya untuk tidak terlalu kaku dengan Daniel.
"Tidak boleh." Daniel menjawab langsung.
"Kenapa?" Mayra mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Karena ... " Daniel menggantung ucapannya, ia malah mengusap rambut Mayra dengan sangat lembut. "Kau membuatku tergoda untuk menciummu," bisik Daniel menghembuskan nafasnya yang hangat.
Mayra memejamkan matanya singkat, ia mengigit bibirnya untuk menutupi kegugupannya. Hal itu nyatanya membuat Daniel terpancing untuk langsung me lu mat bibir Mayra dan menggulingkan tubuhnya.
Untuk sekali lagi, Daniel menyentuh istrinya dengan perasaan yang lebih membara dari sebelumnya.
*****
Mayra melanjutkan kehidupannya seperti biasa, setiap pagi ia akan berangkat kuliah setelah ia memasak untuk suaminya Daniel. Meski pria itu mengatakan menyukainya, tapi tidak ada yang berubah dari sikap Daniel. Pria itu memang perhatian, tapi tetap dibalut sikap dingin dan kadang juga sangat arogan.
"Hari ini kau ada kelas?" Tanya Daniel disela-sela menikmati sarapannya.
"Iya ada," sahut Mayra seadanya.
"Aku tidak bisa mengantarmu hari ini karena ada klien penting, kau akan di antar supir nanti," ujar Daniel melirik Mayra sekilas.
"Tidak apa-apa, aku bisa naik angkot."
"Ck, sudah aku bilang jangan pernah lagi menaiki kendaraan itu. Kau tahu keselamatanmu tidak terjamin disana, biarkan supir mengantarmu." Daniel berdecak mendengar perkataan Mayra, ia tidak suka jika wanita itu naik angkot karena Mayra pasti akan berkumpul dengan orang-orang dari antah berantah, dan pastinya mereka akan berdekatan.
"Astaga, aku bahkan sudah menaiki kendaraan itu sejak aku bayi. Buktinya aku baik-baik saja sampai sekarang," cetus Mayra menggelengkan kepalanya, Daniel ini benar-benar lebay menurutnya.
"Pokoknya sekarang tidak boleh, aku tidak mau tubuhmu terkontaminasi dengan orang-orang yang membawa kuman didalam angkot," kata Daniel dengan wajah sombong yang tidak bisa ditutupi.
Mayra mengerucutkan bibirnya kesal, Daniel sekali saja seperti itu. Semua orang sepertinya hanya seperti debu jalanan dimata Daniel. Mayra kadang heran kenapa ia bisa jatuh cinta dengan pria seperti Daniel.
Happy Reading.
TBC.