NovelToon NovelToon
Warrior Of The Seven Swords

Warrior Of The Seven Swords

Status: tamat
Genre:Fantasi Timur / Spiritual / Kebangkitan pecundang / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:193.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: IAS

Ketika di Nusantara semuanya masih hidup berdampingan dengan ilmu kanuragan dan spiritual. Siapa yang kuat dialah yang bisa bertahan. Para pendekar pun saling berburu senjata pusaka dan memperkuat ilmu kanuragan agar bisa menjadi yang paling unggul.
Seorang bayi yang terlahir dari sebuah padepokan pedang terkuat, karena intrik dari orang orang dalam menjadi terbuang. Dia di larung di bantaran sungai hingga dia ditemukan oleh seorang petani.
Damar Pawitra, nama itu disematkan oleh sang bapak petani. kisah Damar pun dimulai.
Akankah Damar bisa menjadi pendekar sakti dan kembali mengambil apa yang menjadi miliknya? Siapakah sebenarnya sang petani mengapa ia memiliki pedang pusaka yang diincar banyak orang?
Baru belajar membuat genre seperti ini. Maaf jika banyak kesalahan dan belum memuaskan.
SLOW UPDATE 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kerinduan Indira

Seminggu lebih tidak melihat sang kakang membuat Indira tampak murung. Gadis yang biasa ceria itu tampak menekuk wajahnya. Ia sungguh merindukan kakang nya.

" Hei, kenapa cantik. Jelek amat wajahnya ditekuk gitu."

Indira mendesahhkan nafasnya dengan kasar. Ia sungguh merindukan Damar.

" Paman Mahesa, berapa lama Kang Damar akan berlatih di hutan bersama romo?"

Mahesa kini tahu apa yang membuat gadis kecilnya itu tampak murung. Ia pun duduk disebelah Indira dan mengusap kepala Indira.

" Sabar, kakang mu sedang membuat dirinya semakin kuat untuk ikut pertandingan nanti."

" Apakah harus begitu?"

" Iya, tentu saja. Apa kamu mau kalau Kang Damar mu itu nanti kalah dan terluka di medan pertandingan?"

Indira dengan cepat menggelengkan kepalanya. Kata kata Paman Mahesa hampir sama dengan ucapan ibu dan bibi Wardani.

" Sebaiknya Indira juga berlatih agar kuat seperti Kang Damar nanti."

Indira mengangguk mengerti dengan maksud Mahesa. Dia pun tidak boleh jadi wanita lemah yang nantinya hanya akan menjadi beban untuk sang kakang. Ia harus menjadi kuat agar Damar juga bangga terhadapnya.

" Baiklah paman, Indira akan berlatih lebih giat lagi agar Kakang Damar bangga terhadap Indira."

" Nah begitu baru gadisnya paman."

" Oh iya paman, bolehkan nanti aku ikut ke Kadipaten Gendingan?"

Mahesa menaikan satu alisnya mendengar pertanyaan yang lebih mirip seperti permintaan dari Indira tersebut. Untuk apa gadis kecil ini ikut, pasalnya jumlah murid yang dikirim sudah pas yakni lima orang. Empat orang yang ia dan Lingga latih dan satu orang adalah Damar.

" Paman, aku hanya ingin ikut menemani saja, bukan untuk ikut bertanding."

Seakan tahu apa yang dipikirkan oleh paman gurunya, Indira langsung mengungkapkan maksudnya.

" Oooh begitu, untuk itu paman tidak bisa memutuskan. Tunggu bopo, beliaulah yang bisa memutuskannya."

Indira mendengus, meminta ikut ke Kadipaten Gendingan kepada sang romo pasti akan menguap begitu saja. Kemungkinan besar keinginannya itu akan ditolak oleh romo nya.

" Jangan bermuka masam begitu, kan belum dicoba. Tanyakan nanti saat bopo dan Damar pulang. Paman yakin pasti diizinkan."

" Apakah begitu?"

" Tentu saja?"

" Kalau tidak bagaimana?"

" Kalau tidak makan menunggu lah di rumah dan berdoa agar kami semuanya bisa pulang dengan selamat tanpa kekurangan apapun."

Mendengar ucapan terakhir Mahesa membuat gadis cantik itu kembali merenung. Tampaknya ia sangat begitu egois jika memaksa untuk ikut. Mereka pergi ke kadipaten Gendingan bukanlah untuk main main. Mereka di sana untuk bertanding mengadu kemampuan bela diri. Terlihat picik sekali bila ia hanya ketakutan terhadap kekhawatirannya sendiri yang tidak beralasan.

Indira tersenyum, setelah sekian lama berkutat pada kekhawatirannya terhadap sang kakak, kini ia sudah mengerti akan sesuatu hal.

" Terimakasih paman. Indira kini paham."

Gadis itu beranjak dari duduknya, namun sebelumnya ia memeluk Mahesa sekilas. Indira pun berlalu menuju ke dalam rumah dengan wajah yang ceria.

" Haaah, anak itu benar benar. Bagaimana bisa mereka besar begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku menimang Indira, sekarang anak itu sudah tumbuh jadi gadis yang cantik. Aku jadi sedikit was was jika benar benar dia ikut ke Kadipaten Gedingan. Rasanya kan tidak rela jika melihatnya nanti dilirik oleh pemuda pemuda dari padepokan lain."

Mahesa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sungguh bagai seorang ayah yang khawatir terhadap anak gadisnya yang mulai tumbuh dewasa.

Hingga saat ini belun juga diberi keturunan, baik Mahesa dan Wardani sangat menyayangi Damar dan Indira seperti anak anak mereka sendiri. Sebenarnya saat Indira mengkhawatirkan Damar, ia juga merasakan hal tersebut. Bahkan saat ia memiliki sebuah pemikiran bahwa Damar ini yang begitu mirip dengan gurunya di padepokan dulu membuat Mahesa sungguh menjadi was was.

" Kenapa kakang, ada yang mengganggu pikiranmu?"

Mahesa kini tengah duduk di dipan yang berada di bilik kamarnya. Ia sejenak merenung mengenai Damar. Pertanyaan Wardani pun sedikit tak fi dengar olehnya hingga Wardani menyentuh lengan pria itu dengan lembut.

" Kakang!"

" Maaf dinda, maaf. A-aku sedikit terpikirkan sesuatu."

Wardani menaikkan satu alisnya. Suaminya tidak pernah se gelisah ini sebelumnya. Bahkan saat ini raut wajah Mahesa tampak gugup seperti tengah menghadapi sesuatu yang bahaya.

" Kang, ada apa. Mengapa wajahmu begitu gusar?"

" Dinda, apa kamu tidak merasa sesuatu saat melihat wajah Damar. Maksudku, apa kamu tidak merasa jika wajah Damar itu tidak seperti bopo?"

Kini Wardani mengerti apa yang tengah dipikirkan oleh sang suami. Ia membuang nafas nya dengan sedikit berat.

" Kakang, apa yang kau pikirkan itu sama dengan apa yang ku pikirkan. Aku melihat wajah Ki Wira ada di wajah Damar. Bahkan aku sempat beranggapan Damar adalah putra dari Ki Wira dan Nyi Gayatri."

" Sependapat."

Keduanya sama sama saling menganggukkan kepala. Ternyata apa yang dipikirkan sepasang suami istri itu sama. Kini wajah keduanya malah nampak sendu. Bukan tanpa alasan, jika mereka saja beranggapan begitu berarti nanti pasti mereka yang melihat Damar akan mengenalinya juga. Bukanlah itu akan menjadi sebuah masalah?

Keselamatan Damar mungkin akan terancam. Terlebih jika Duraanjaya pemimpin padepokan pedang sakti tahu, Damar bisa saja dicelakai.

" Terus kita harus bagaimana kakang?'

" Entahlah dinda. Kita tidak bisa memutuskan apapun hingga bopo kembali. Aku yakin bopo sudah tahu akan hal ini dan beliau sudah memiliki jalan keluarnya."

" Betul kakang, tidak mungkin bopo membiarkan Damar ikut tanpa persiapan apapun."

Wardani dan Mahesa meyakini hal tersebut, meyakini bahwa Ki Prama pasti punya solusi. Keduanya akhirnya merebahkan tubuh untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.

🌿🌿🌿

Hari demi hari berjalan dengan Damar semakin lancar menguasai tarian pedangnya. Ya, jurus pedang yang Ki Prama sampaikan kepada Damar adalah sebuah seni tari pedang yang begitu indah saat dimainkan.

" Sini le, berhentilah. Kau sudah sangat menguasainya. Padahal ini baru 4 hari, kamu lebih cepat dari yang ku targetkan."

Damar menurut, ia kini duduk bersila di depan sang romo. Tempak Ki Prama memejamkan matanya dan merapal kan sebuah mantra. Lalu entah dari mana sebilah pedang kini berada di depan mereka. Damar sedikit terkejut, bahkan ia sampai memundurkan tubuhnya.

" Romo i-itu pe-pedang dari mana?"

Ki Prama tersenyum mendengar keterkejutan dari Damar. Bukannya menjawab Ki Prama malah meminta Damar membuka pedang tersebut. Pria paruh baya itu meminta Damar untuk menarik bilah pedang itu dari sarungnya. Bukan tanpa alasan, ia akan melihat reaksi dari pedang pusaka tersebut terhadap tubuh Damar.

Dengan ragu ragu Damar menyentuh pedang tersebut. Pedang yang begitu luar biasa indah yang belum pernah Damar lihat sebelumnya. Ukiran pada pegangannya membuat Damar berdecak kagum.

Tenang tapi pasti, Damar meraih pedang pusaka tersebut dengan kedua tangannya. Remaja 14 tahun tersebut langsung menarik pedang pusaka dari sarungnya.

Ki Prama membelalakkan matanya saat melihat apa yang terjadi di hadapannya.

TBC

1
christin novip
namanya beubah lagi jadi ki balaajaya ?
syah
Cerita yg menarik. Boleh buat siri ke 2 ye/Smirk/
Wan Trado
katanya di kadipaten gendingan tidak ada yg punya kemampuan kanuragan, beladiri ataupun kekuatan spiritual..
lalu bagaimana bisa panitia pelaksana mampu meletakkan token di punggung siluman harimau..??
Winter192: Duh ya ampun kk. Yg di maksud author rakyat kadipaten Gendingan itu yg g pny ilmu Kanuragan dan semacamnya.Petinggi kabupaten, punggawa, tetua kabupaten dan pengawal pastinya pny ilmu Kanuragan sesuai tingkatan. Ya hancur dong jk kadipaten Gendingan tdk pny ilmu Kanuragan sama sekali. Ya harusnya kita reader bisa mencerna sendiri setiap bacaan tanpa hrs di jelaskan scr detail outhornya🤭😄
total 1 replies
Putra_Andalas
kog terngiang² di pelupuk Mata..!?? di telinga kaleee...😂
Putra_Andalas
Nah... Gitu donk ,kan aman jadinya 👍🏻
Putra_Andalas
Pedang aja bisa Setia tuh , masa' loe nggak...
Putra_Andalas
Dewan Pengurus lebih tepat daripada Dewan Pemerintahan...emg itu Kantor Pemerintah ape..??!
ine
Lumayan
Wiwin Winarti
😁😁😁 udah elang skrg serigala,jangan2 semua hewaN mistis bakalan ikut damar🤣🤣🤣
Wiwin Winarti
Luar biasa,seru
A
bagussss bangeett
Dew666
Yah selesai😭 pdhl seru
Dew666
Liat damar kok jd keingat kei ya…. Jd rindu sm kei
Dew666
Ini karya bagus banget 👍
Dew666
Bagus critanya👍
kurnia rahayu
luar biasa 👍👍👍❤❤❤
Andri Haryono
Luar biasa
Andri Haryono
Buruk
◄✥≛⃝⃕ᴹᴿ᭄°Knight⁹⁹🦅™
keren alur ceritanya
◄✥≛⃝⃕ᴹᴿ᭄°Knight⁹⁹🦅™
keren alur ceritanya /Rose//Rose//Coffee/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!