NovelToon NovelToon
MY WORLD

MY WORLD

Status: tamat
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: アリシア

Eta namanya, seorang siswi di SMA 17 yang terkenal di seantero sekolah dengan panggilan Peta. Teman seangkatannya bahkan memberikannya julukan Si Penggila Atlas.

Eta sangat mencintai pelajaran geografis sampai - sampai membuat daftar negara impian yang ingin dikunjunginya suatu hari nanti.

Mungkin, selain mencintai geografis. Eta juga mencintai Ketua OSIS di sekolahnya, perasaan luar biasa itu ia simpan rapat - rapat bahkan dari teman terbaiknya.

"Apa kau menyukai Atlas?"

"Ya, sangat!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon アリシア, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21 - Bercerita Tentang Cita

Esok harinya Eta sudah masuk sekolah. Bahkan dia diantar langsung oleh ayahnya. Siapa pula yang tidak senang? Dengan wajah berseri-seri, Eta memasuki kelas.

Alan menghampiri Eta dan berbisik kepadanya, "Kemarin Ketua OSIS-mu mencarimu."

Spontan Eta meninju pelan perut Alan, wajahnya menjadi seperti stroberi. Alan terkekeh mendapati pipi Eta yang bersemu. Suasana hati Eta berubah secepat kilat.

"Dengar ya, dia mencariku karena ingin memberikan surat pemberitahuan dari OSIS." Eta mendesis kesal.

"Pipimu seperti mochi." Alan tak menanggapi pembelaan Eta. "Oh, apa kemarin dia ke rumahmu atau hanya menitipkan suratnya pada tetanggamu?"

Eta terkejut, "Bagaimana kau bisa tahu?"

"Aku adalah lelaki paling peka di sekolah ini!"

"Sebutan itu menjijikkan."

"Setidaknya kemampuanku dalam menebak hal tidak boleh diremehkan." Alan membanggakan dirinya sendiri, dia memang narsis dari lahir.

"Eh? Jangan-jangan alasanmu selalu mendapat nilai bagus adalah..." Eta menduga-duga.

"Itu benar! Tebakanku tidak pernah salah."

"Yeah, itu hanya berlaku untuk soal dengan jawaban pilihan ganda. Jika tidak belajar, soal esai adalah neraka untukmu."

Eta melalui Alan yang terus menebar omong kosongnya. Padahal ini masih pagi, tapi dia sudah boros mengeluarkan energinya. Pantas saja setelah memasuki periode kelima, Alan sering ketiduran di tengah pelajaran.

...****...

Bel pulang berbunyi sangat nyaring. Eta bergegas ke pintu gerbang. Berjalan menuju halte demi menunggu bus kota.

Ketika asyik menunggu bus kota sambil mendengarkan musik favoritnya. Seseorang berdiri di depannya. Eta mendongak. Dan menemukan Atlas yang tersenyum menatapnya.

"Risa, bagaimana keadaanmu?"

"Huh? Eh... baik..."

"Aku melihatmu menangis, kupikir kau sakit." Atlas duduk di samping Eta.

Eta cepat-cepat menutup peta di tangannya yang sedang ia pelajari. Seperti dugaan Devan, Atlas melihatnya saat menangis. Akan gawat kalau Atlas melihatnya yang sedang menangis di depan Devan, mengadu rindu pada Ayahnya.

"Kak Atlas tidak bawa motor?"

Atlas menggeleng.

"Lalu, kenapa pulang? Apa LPJ sudah selesai?"

"Tinggal di-print saja."

"Itu namanya belum selesai." Eta menatap datar, dia paling tidak suka jika sesuatu dikerjakan setengah-setengah.

"Aku tahu kau akan mengatakan itu. Tapi tenang saja, besok pagi LPJ sudah duduk manis di meja Fahmi."

Lengang sejenak.

Eta memperhatikan setiap mobil yang lewat.

"Ayahmu ternyata sangat protektif terhadapmu." Atlas mendadak mengangkat topik kemarin.

"Oh, Ayah hanya tidak suka jika aku dekat dengan lelaki yang tidak bisa dipercaya."

Atau aku akan berakhir seperti Raya.

"Sejauh ini, Ayah hanya percaya pada satu orang. Dan Kak Atlas pasti bisa menebaknya."

"Devan?"

"Benar." Eta mengangguk. "Dia adalah teman masa kecilku. Ayah jelas mengenalnya sangat baik karena aku sering bersamanya sejak kecil. Tingkahnya memang absurd, tapi dia baik."

Atlas diam mendengarkan. Hubungan baik yang dijalin sejak kecil memang sulit dilupakan. Apalagi jika kita masih berteman baik dengan orang itu seiring bertambahnya usia.

Atlas juga punya teman seperti itu, dialah Yuda. Jadi, Atlas mengerti sekali kenapa Ayah Eta hanya percaya pada Devan. Itu seperti orang tuanya yang sudah menganggap Yuda sebagai anak sendiri, sangat percaya padanya.

"Risa, apa kau percaya pada cinta pada pandangan pertama?"

Eta menggeleng cepat, "Hanya mereka yang serius yang mampu mewujudkannya. Tapi, di masa remaja, hal semacam itu nyaris mustahil. Hanya terjadi di dunia novel atau drama."

"Benarkah?"

"Ya," Eta mengangguk. "Cinta semacam itu seperti trik kecil para pesulap. Akan dilupakan setelah trik selanjutnya ditampilkan. Kita jatuh cinta berkali-kali, atau mungkin hanya kagum. Hanya hati yang tahu mana yang tulus dan mana yang akan berlalu seperti angin."

Atlas diam mendengarkan. Hingga satu pertanyaan lain muncul di benaknya.

"Apa kau punya cita-cita?"

"Tentu saja! Semua orang pasti memilikinya." Eta tersinggung. Apa bagi Kak Atlas wajahnya ini tidak menunjukkan ambisi sama sekali?

Eta memandang cakrawala. Sangat indah, biru jernih sejauh mata memandang. Awan nan lembut seperti kapas terbang mengikuti arah angin. Eta hampir lupa kalau awan itu aslinya sangatlah berat hingga setara 100 gajah.

"Aku ingin menjadi seorang kartografer."

Atlas melirik tak percaya, itu adalah profesi yang tidak biasa untuk dipilih. Umumnya, ketika ditanya mengenai cita-cita, mayoritas akan menjawab dokter, guru, polisi, dan banyak yang lainnya. Jarang sekali yang akan menjawab kartografer.

Tidak banyak yang Atlas tahu tentang profesi kartografer. Yang dia tahu adalah kartografer ini ahli pembuat pemetaan atau orang yang membuat peta. Profesi ini tergolong tidak banyak peminat. Lebih banyak yang masuk Teknik Komputer dan Informatika.

Di sana, Atlas semakin sadar betapa besar kecintaan Eta terhadap peta.

"Oh, bicara tentang peta. Apa bedanya dengan atlas?"

Atlas mendadak tertarik membicarakannya.

"Peta itu gambar permukaan bumi dengan skala pada bidang datar, contohnya adalah kertas. Atlas sendiri adalah kumpulan peta yang telah dibukukan. Jadi, yang ada di perpustakaan sekolah disebut atlas. Mudahnya, peta belum berarti atlas, tapi atlas sudah pasti peta."

Atlas mengangguk paham.

"Jadi, yang mana yang kau sukai? Peta atau atlas?"

"Huh?"

...****...

Saat ini Devan sedang bersantai ria. Televisi dinyalakan namun pandangannya tertuju pada ponsel. Matanya mendelik sebal begitu mendengar bel rumahnya dibunyikan berkali-kali. Tamu yang tidak sabaran.

"Tunggu, atau jangan-jangan Ibu sudah pulang?!"

Dengan langkah secepat kilat, Devan menyambar daun pintu. Pintu terbuka dan ternyata yang memencet bel bukanlah Ibunya, melainkan sang tuan putri yang tengah kasmaran. Devan yang sudah berlari kencang hingga kelingking kakinya terbentur hanya untuk segera membukakan pintu, merasa telah dikhianati.

"Eta, wajahmu semerah tom-!"

Kalimat Devan tertahan. Tas besar menyapa wajahnya dengan amat keras. Suaranya terdengar sangat renyah. Nyaris saja Devan yang bodoh semakin bodoh akibat ulah Eta.

"Kau ini kenapa sih?!" Devan mengusap hidungnya yang memerah setelah dihantam tas Eta.

Eta tidak menjawab. Dia segera berjongkok. Menyembunyikan pipinya yang menghangat. Tanpa blush on, kedua pipinya bersemu merah. Devan benar, dia adalah tuan putri yang sedang kasmaran.

Devan menuruti Eta, dia berjongkok.

"Hei, ada apa denganmu?" Devan berusaha mengintip dari balik liputan lengan Eta.

Bukannya mendapat respons baik-baik. Masih dengan pipinya yang bersemu, Eta menarik kerah pakaian Devan.

"Dia bertanya hal aneh kepadaku!"

Tanpa perlu dijelaskan dua kali. Devan tahu jika perkara ini ada sangkut pautnya dengan si Ketua OSIS yang ramah lingkungan itu.

"Hal aneh seperti apa?" Devan bertanya penasaran.

"Mana yang kau sukai? Peta atau atlas?" Eta meniru Atlas ketika mengucapkannya, lengkap dengan ekspresinya saat itu. "Aku tidak salah sambung 'kan?!"

"Maksudmu salah paham?" Devan mengoreksi.

"Jangan-jangan atlas yang dia maksud bukanlah buku atlas melainkan dirinya sendiri!" Eta berbisik, tapi dia menekankan setiap kalimatnya.

"Kalau demikian, kenapa kau tidak menembaknya? Sebentar lagi kalian lengser 'kan?" Devan mencoba memberi saran.

Tapi, dia lupa. Orang yang dia berikan saran adalah si keras kepala dengan prinsipnya sendiri. Jika Eta bilang bahwa cinta di masa remaja adalah cinta monyet yang sekedar lewat, maka Devan tak bisa melakukan apa pun untuk mendorong Eta maju selangkah ke depan.

"Lagi pula, nama kalian itu serasi sekali. Eta dan Atlas. Namamu diambil dari peta, bukan?"

"Matamu!" Eta menyentil kening Devan dengan keras. "Namaku itu artinya bercahaya. Dan dalam bahasa Georgia artinya udara. Orang tuaku bukan penggila peta meski Ayah menguasainya. Jadi, tidak ada kebetulan dalam nama kami!"

Setelah hidungnya menjadi korban, Devan mengusap keningnya. "Benarkah? Aku ragu."

Eta mendecakkan lidahnya.

"Pokoknya, cinta monyet adalah cinta monyet! Aku takkan terpengaruh untuk mengatakannya walaupun kami sudah lengser."

"Kau akan menyesal, dasar kepala batu."

TBC

1
Fit Ta
suka ceritanya gk melulu soal percintaan
oke lanjut baca
Livia Ava: Sip 👌
total 1 replies
Fit Ta
masih nyimak semangat yuk thor
Chan Baek
padahal ni novel bagus banget ,tapi kenapa yang baca sedikit?
Livia Ava: Sampul novel ini dibuat sesuai dengan isinya, yah sesuailah dengan cerita. Eta kan suka peta sama atlas. Kalau beda nanti pembaca merasa tertipu,
total 3 replies
sunshinegyspy
Saya suka kalau alur dan ceritanya jelas kayak gini nih! Semangka! Semangat kakaaaak~
SongbirdGarden
up dunk ku tunggu yhaaaa semoga sukses
Kekasih Dropper
ditiunggu kelanjutannya thor
SugaryHeaven
cerita ya bagus tapi harus lebih hati hati dengan tulisanya. jangan sampai salah Dan tertukar.
saltsanddanmoothies
thooorr.he authorrr😆 up lge dong thorr. yg bnyakk😍😍 smangattt thorrr😘
Respati Wijaya
Keren kak 🤩🤩 Semangat terus...
Rose
Penulisannya rapi banget thor. Lanjutkan karyamu!
Rania Luthfi
Next thor!
Rania Luthfi
Next thor
Rania Luthfi
Karyanya bagus thor, lanjutkan!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!