Tiara Andni sosok gadis yang begitu sempurna masih muda, cantik, mapan dan memiliki reputasi begitu baik, sungguh kehidupan yang sangat di impikan, namun siapa yang menyangka kesempurnaan hidupnya harus pupus di karenakan sebuah kecelakaan yang meregang nyawa
Saat ia terjaga ia sangat terkejut saat menerima kenyataan yang bahkan sangat sulit di terima logika ini, ia hidup kembali, dan bahkan ia harus hidup di tubuh orang lain yang memiliki nasib yang begitu menyedihkan
Jesika Alisia Hartawan seorang bocah berusia 16 tahun, bocah malang yang menjadi korban KDRT dari papanya
bagai mana kelanjutannya?
Apakah Tiara yang berada di tubuh Jesika akan memiliki akhir yang bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auliya'a Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Mentari pagi kembali melanjutkan tugasnya untuk menyinari bumi dan itu menandakan sudah waktunya untuk segera memulai segala aktivitas hidup sebagai mana mestinya, Jesika dengan sedikit tergesa melangkah menuruni tangga, gadis cantik itu sudah begitu rapi dengan seragam SMA nya, tapi?, jesika menggunakan jins, agar mempermudahnya membawa kendaraan barunya, yah beberapa waktu lalu jesika merengek minta di belikan motor dan bu Emi mau tak mau harus menurutinya, dan dialah si jagoan kesayangan Jesika, motor sport berwarna hijau yang sudah terparkir dengan rapi di garasi rumah
"Ngak sarapan dulu sayang?" Ucap bu Emi dengan nada pelan, setelah Jesika pergi barulah ia akan pergi ke cafe untuk memantau para pekerjanya, ia tentu saja harus tetap beraktivitas, akan sangat membosankan jika sepanjang hari harus di rumah dalam rumah tampa melakukan aktivitas apapun
"Ngak keburu ma, Jesi berangkat dulu" Ucap jesika menyalami sang mama, setelahnya ia segera berjalan menuju garasi
"Hati hati sayang" Ucap Bu Emi dengan nada pelan, dari hari kehari putri kecilnya semakin bersemangat, inilah yang ia inginkan selama ini, ia ingin melihat putri kecilnya bahagia Tampa perlu tertekan dengan keberadaan si bajingan hartawan itu
sepertinya pilihannya untuk meninggalkan keluarga hartawan memang tepat, sudah belasan tahun ia bertahan dengan segala sikap buruk bajingan itu, di masa lalu putrinya lah yang menjadi penyemangat untuk bertahan dalam segala derita namun saat ini putrinya jugalah yang berhasil membawanya keluar dari kehidupan menyedihkan itu, ternyata menjadi orang janda adalah pilihan yang tepat untuk mereka, Bu Emi hanya berharap semoga kelak Jesika tak bernasib malang sepertinya, ia berharap di masa depan Jesika akan hidup dengan pria yang akan selalu mencintainya dan menghargai setiap kekurangan yang ada pada dirinya
"Ia ma, Jesi pamit dulu, Assalamualaikum" Ucap Jesika dengan nada pelan, setelah mendengar jawaban dari sang mama ia segera memutar gas motor, dan dengan pelan motor sport itu bergerak meninggalkan pekarangan rumah menuju SMA Jakarta Sejahtera tempat jesika bersekolah
"Pagi pak amat" Ucap Jesika menyapa satpam yang menjaga gerbang yang hampir tertutup itu, dan jangan lewatkan senyumannya yang lebar itu, senyuman yang ampuh untuk membujuk pak amat, ia sudah sangat berpengalaman dan sangat tau bagai mana menghadapi orang orang di sekolah ini
"Ah non jesi, untung gerbangnya belum ketutup, non Jesi telat lagi, kok bisa sih non biasanya ngak pernah telat tu" Ucap pak amat menunjukan senyum lebarnya,
"Kesiangan pak, belum juga masuk kan, jadi Jesi boleh lah masuk biar masuk ke kelas tepat waktu" Ucap Jesika pelan, pak amat haha terkekeh pelan sembari membuka pintu untuk Jesika
"Makasih pak amat" Ucap Jesika dan setelahnya segera memutar gas motor untuk melewati gerbang yang akan di tutup ini
"Gurunya udah hampir masuk, mendingan neng cepetan deh ke kelas, kemaren bapak liat neng di jemur di lapangan, jangan sampe keulang lagi ya neng, capek berjemur nanti kulitnya bisa hitam loh" Ucap pak Amat yang hanya di angguki oleh Jesika
"Iya pak, besok besok ngak telat lagi, yaudah Jesi pergi dulu ya pak, da pak amat" Ucap Jesika pelan setelahnya kembali memutar gas motor ke parkiran, dengan gerakan cepat ia berlari menuju toilet, bagai mana pun ia tak bisa ikut pelajaran jika menggunakan jins seperti ini, ia harus mengganti jins hitamnya dengan rok abu abu khas anak SMA
"Untung ngak telat" Ucapnya sembari menghela nafas dengan lega sembari terus melangkah menyusuri koridor menuju kelasnya, masih ada waktu beberapa menit lagi, dan ia fikir hari ini ia tak akan terlambat dan tak akan mendapat hukuman lagi
"Pagi" Sapa Jesika pada kedua temanya dan tentu saja di jawab dengan girang oleh keduanya, sosok yang cupu dan culun di masa lalu sudah bertransformasi menjadi mahluk yang sangat cantik imut dan sangat menggemaskan, siapa yang berani menggu mereka?, siapa lagi yang berani menghina mereka dengan perubahan ini, hukum alam memang seperti itu, jika tak cantik maka tak akan di hargai, karena mereka sudah cantik maka mereka akan menghargai diri mereka sendiri, dan ia akan membiarkan siapapun mengejeknya
"Jesi, bikin Acha deg degan tau ngak, dan Jesi tau ngak?, Waktu kita masuk ke sekolah tadi, Acha merasa udah kayak artis udah dua hari loh gini, bikin ngak berani gerak tau ngak sih, di liatin dari ujung sini sampe ujung sana" Ucap Acha dengan nada semangat menceritakan pengalamanya pagi ini, selama ini bahkan orang orang hanya mengatainya bodoh dan cupu, namun?, Hari ini?, Ia bahkan mendengar begitu banyak orang memuji kecantikannya, ia dapat mendengar bisik bisikan yang mengatakan jika dirinya sangat imut dan menggemaskan, untuk hal ini jelas ia merasa sangat senang
"Bener banget, Nina juga seneng banget, akhirnya Nina bisa di lirik sama orang orang, Nina akhirnya mendapat pujian dari orang selain maminya Nina, Jesi tau ngak pagi ini bang Davin muji Nina, dia bilang Nina cantik, coba aja dari dulu gini, Nina pasti ngak bakalan di bully sama teman teman sekolah" Ucap Nina dengan nada pelan, benar selama ini tak pernah ada yang memujinya, semua orang selalu menganggap nya remeh,
"Gue senang dengarnya, nanti kita bikin gempar satu sekolahan, biar mereka tau jika sedang berhadapan dengan siapa" Ucap Jesika dengan tersenyum miring
"Benar, kita harus kuat, jangan lemah dan mudah di bully, mami Acha juga bilang kalo ada yang jahatin Acha harus bales, ngak boleh diam aja" Ucap Acha dengan nada pelan, sebelumnya sang mama memang sering mengatakan hal itu, hanya saja ia merasa jika membalas itu adalah perbuatan yang jahat, karena ia yang diam setiap di hina membuat semua orang besar kepala dan menganggapnya lemah dan tak bisa melakukan apapun
"Sekarang belajar dulu, mikir yang lainya nanti aja" Ucap Acha dengan nada pelan dan tak lama kemudian seorang guru melangkah masuk untuk segera memulai sebuah pelajaran
"Pagi anak anak" seorang wanita sudah melangkah menuju meja guru, dialah bu anjani ibu matematika yang terkenal sangat sportif, dia bahkan memberikan nilai sesuai dengan kemampuan, jika tak memiliki kemampuan dan pemahaman maka bersiaplah di beri nilai jelek
"Pagi bu" Jawab semua siswa secara bersamaan
"Bagai mana kabar kalian?" Ucap si guru dengan senyuman lebar, Bu Tiwi, guru yang memang akan menujukan senyuman di setiap langkah, namun jangan salah sangka ia bisa menjadi begitu kejam saat ujian,
"Baik buk" jawab para siswa dengan nada pelan
"Setelah ngak ketemu minggu lalu, dan berhubung sudah hampir tengah semester hari ini kita bakal ulangan, dan saya harap kalian mengerjakan dengan jujur karena saya tak pernah menerima jawaban dari hasil mencontek jika kedapatan jangan salah kan saya memberi nilai nol" Ucap bu Anjani pelan, ia sudah mengatakan ini berkali kali, ia adalah pengajar yang tidak menyukai kecurangan,
"Baik buk" lagi lagi siswa hanya mengguk dan mengiyakan mukodimah panjang si pendidik,
"Baik lah, tolong letakan catatan di meja saya" ucap bu anjani, perlahan berdiri dan mulai bergerak untuk menuliskan beberapa soal, si ketua kelas mulai bergerak mengumpulkan catatan teman temanya, setelahnya ulangan di mulai dengan tenang.