Dua insan berseteru di depan kolam pemandian air panas.
"Apa yang kau lakukan?!" Gadis itu bertanya dengan raut wajah penuh kesal.
"Aku ingin berendam," jawab si pria, acuh tak acuh padanya.
Gadis itu mengernyitkan dahinya. "Ingin berendam dengan cara diam-diam mengintipku? Hah! Itu tidak masuk akal sama sekali. Aku akan melaporkan perbuatanmu ini kepada ayah!" ancam sang gadis.
Gadis itu adalah Liona, seorang anak manusia yang hidup di keluarga kerajaan serigala. Ia pun lekas pergi, meninggalkan sang pria yang terpaku di tempatnya. Namun, tentu saja pria itu tidak akan tinggal diam. Ia segera menarik Liona agar tidak melaporkannya.
"Liona!"
Namun, bukannya Liona yang tertarik, malah handuk kimono yang Liona pakailah yang tertarik olehnya. Saat itu juga handuk kimono itu terlepas dari tubuh Liona.
Liona melihat sendiri jika handuknya sudah terlepas dari tubuhnya. Ia pun tak terima.
"Dasar mesuuuuummm!!!" Ia berteriak sekencang-kencangnya.
Novel lomba #Percintaan Non-Human
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gaharu Wood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sidang
Di ruang utama keluarga kerajaan...
Ruangan mewah nan megah menjadi saksi Han yang disidang oleh ayahnya. Tentu saja raja mengetahui apa yang terjadi di antara Han dan Liona. Liona pun tampak ditenangkan oleh ibunya. Ratu mengusap-usap punggung Liona agar tidak lagi marah.
"Apa yang kau lakukan terhadap Liona, Han?! Kau membuat ayah malu saja!" Sang ayah tampak hilir-mudik di hadapan Han dengan raut wajah yang amat kesal.
"Maafkan aku, Ayah. Niatku ingin berendam di sana." Han tampak malu. Wajahnya terlihat memerah seraya tertunduk di hadapan ayahnya.
Raja menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak habis pikir dengan putraku sendiri. Kau satu-satunya harapanku untuk meneruskan kerajaan ini. Tapi kenapa selalu saja membuatku malu?!" Raja terheran-heran dengan putranya.
"Suamiku, mungkin Han ingin mandi di sana lalu melihat Liona yang sedang berendam. Dia bingung jadi mandi atau tidak. Mereka kan sudah besar. Bukankah tidak mungkin satu kolam pemandian?" Ratu membela putranya.
"Tapi, Bu. Kenapa dia menarik handukku?" Liona tidak terima.
"Liona." Sang ratu berkata lembut kepada putrinya. "Mungkin Han amat cemas sehingga dia tanpa sengaja menarik handukmu. Maafkan dia, ya. Anggap saja permasalahan ini tidak pernah terjadi. Tidak baik juga jika kalian terus-menerus bertengkar. Kalian harus saling menyayangi dan mendukung satu sama lain." Ibunya memberi pengertian.
Liona menarik napas dalam-dalam. Ia masih tidak terima.
"Kau masih ingin seperti ini lagi, Han?" tanya raja kepada putranya.
"Tidak, Ayah." Han menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kali ini ayah maafkan. Tapi tidak untuk lain kalinya. Jika kau punya masalah kepada Liona, bicarakan baik-baik. Jangan selalu saja membuat ulah!" Sang ayah menegaskan.
Han mengangguk. "Baik, Ayah."
Sang raja pun beralih kepada Liona. "Putriku, maafkan kesalahan Han. Dia tidak sengaja." Sang raja meminta kepada Liona.
Liona pun tampak pasrah. Mau tak mau ia menuruti permintaan ayahnya. Ia mengangguk lalu memaafkan Han.
"Han." Sang ratu pun memberi kode kepada Han agar segera minta maaf kepada Liona.
Han mengerti. Ia menjulurkan tangannya. "Maafkan aku, Liona." Han meminta maaf kepada Liona di depan ayah dan ibunya.
Dengan malu-malu Han meminta maaf kepada Liona. Pertengkaran itupun akhirnya berakhir dengan damai. Han meminta maaf kepada Liona dan Liona pun memaafkannya.
Tidak ada yang tahu jika di dalam hati Liona merasa senang karena Han terkena batunya. Ia merasa puas kala Han diomeli ayahnya. Ia beranggapan jika ini adalah balas dendamnya.
Jika setelah ini kau masih dingin padaku, maka jangan salahkan aku jika mengadukannya lagi kepada ayah. Hei, Pangeran Dingin! Bertekuklah kau di hadapanku!
Liona tersenyum penuh kemenangan setelah berjabatan tangan dengan Han. Sang ratu pun segera memeluk dan mencium putrinya karena dapat memaafkan Han. Keduanya lalu berbaikan setelah belasan tahun menghindar. Sore ini menjadi titik awal akan perasaan yang terpendam. Namun, apakah Han mampu mengungkapkan isi hatinya kepada putri pujaan?
Malam harinya...
Malam semakin larut. Mungkin ada sekitar pukul sembilan. Liona pun tampak memandangi bulan purnama di tepi kolam bunga teratai. Suatu perasaan itu muncul lagi yang menginginkan ia segera keluar dari perbatasan hutan. Entah mengapa hatinya seperti ditunjukkan ke suatu tempat yang jauh di sana. Tapi, Liona bingung bagaimana cara agar dapat ke sana.
"Keluar perbatasan hutan saja tidak boleh. Bagaimana aku bisa melihat dunia luar?" Ia menggerutu sendiri.