Setahun berlalu, Qian mencari tahu keberadaan gadis yang pernah menolong hidupnya, hanya bermodalkan gelang kaki sebagai petunjuk untuk Qian yang terus mencari gadis itu. Keindahannya pada gadis yang tidak ia kenal itu makin menyita hari-harinya.
Ia sudah berjanji pada dirinya untuk menikahi gadis itu bagaimana pun rupanya karena hidupnya terlalu berharga untuknya dari pada memikirkan karakter gadis yang harus ia pilih menjadi istrinya.
Setiap kali ia mencari tahu informasi tentang gadis itu sangat nihil, hingga akhirnya mereka dipertemukan dengan cara yang tidak terduga.
Bagaimana kisah mereka dimulai?
"Apakah Qian Akan menemukan gadis itu?"
"Yuk, ikuti kisah cinta mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Pencabutan Tuntutan
Tuan Raffa menunggu hasil tes DNA milik Khansa untuk membuktikan kebenaran perkataan mantan istrinya.
Setelah dua Minggu menunggu, hasil tes DNA menunjukkan bahwa Khansa adalah putri kandungnya karena kecocokan mereka 99,9% adalah ayah dan anak.
Tuan Raffa menangis sejadi-jadinya karena telah meragukan perkataan mantan istrinya dan juga menzalimi putri kandungnya sendiri.
Tidak ada yang bisa ia lakukan kini selain menyesali perbuatannya dan sekaligus harus bertindak cepat untuk membebaskan putrinya dari tuntutan hukum yang saat ini sedang membelit putrinya.
Iapun segera menghubungi Pengacara Qian kalau ia ingin mencabut tuntutan hukum pada Khansa.
"Terimakasih tuan Raffa atas kebaikan Tuan Raffa pada nona Khansa. Aku akan segera ke rutan pondok bambu untuk menjemputnya.
"Apakah putriku akan memaafkan aku?" Bagaimana kalau dia tidak pernah tahu kalau aku ini adalah ayah kandungnya.
"Untunglah kau sudah mati Karla, kalau tidak aku akan membunuhmu saat ini juga karena telah memfitnah istriku selingkuh." Umpat Tuan Raffa pada mendiang istrinya yang ke dua.
Di tempat yang berbeda, seorang sipir penjara membuka pintu sel tahanan tempat Khansa di tahan untuk mengeluarkan gadis itu dari dalam.
Tahanan Khansa silahkan keluar!" Anda telah dibebaskan hari ini." Ucap Nyonya Isma.
Khansa mengangkat wajahnya yang sejak tadi membaca buku tentang kedokteran yang diberikan oleh Pengacara Qian, nampak termangu mendengar kalau dirinya sudah dibebaskan.
"Khansa!" Itu dipanggil sama nyonya Isma, kamu sudah dibebaskan sekarang." Ucap Erna teman baik satu selnya.
"Iya nyonya!" Saya siap sekarang." Ucap Khansa lalu membereskan buku-bukunya dan dimasukkan lagi ke dalam tas ranselnya.
Ia pun menyalami satu persatu teman satu selnya sambil menangis.
"Selamat jalan dokter Khansa!" Jangan lupakan kami!" Ucap Erna yang sangat dekat dengan Khansa.
"Aku akan menunggu kalian di luar saat kalian bebas." Ucap Khansa lalu memeluk erat temannya Erna.
Khansa berjalan menyusuri setiap lapas tetangganya dengan perasaan gembira. Pengacara Qian yang sudah menunggunya merasa sangat merindukan kekasihnya itu tanpa sadar langsung memeluk Khansa.
"Selamat atas kebebasan mu, sayang!" Akhirnya kamu bebas juga." Ucap Pengacara Qian sambil membuka pintu mobil untuk Khansa.
"Mas Qian!" Panggil Khansa sambil mendorong tubuh mantan kekasihnya itu.
"Apakah kasus ku di tinjau lagi hingga aku bisa bebas?" Tanya Khansa lirih.
"Bukan sayang!" Justru aku baru memasukkan berkas perkara mu untuk ajukan banding.
"Lantas bagaimana bisa aku bebas begitu saja?" Tanya Khansa heran.
"Tuan Raffa sudah mencabut tuntutan hukum padamu karena putranya dokter Raffi sudah sembuh." Sahut Pengacara Qian bohong.
"Benarkah?" Dokter Raffi sudah sembuh?" Semoga bajingan itu tidak lagi mencari masalah denganku." Ucap Khansa geram.
"Tidak akan sayang!" Karena aku akan segera menikahimu." Ucap Pengacara Qian tegas.
"Apakah kamu sedang memenuhi janjimu pada gadis penolong mu itu?" Ledek Khansa membuat Pengacara Qian salah tingkah.
"Apakah kamu bersedia menerima pinangan ku dokter Khansa?" Tanya Pengacara Qian sambil mengedipkan sebelah matanya pada Khansa.
Khansa tersipu malu lalu mengangguk pelan menerima pinangan Pengacara Qian.
Pengacara Qian mengambil cincin berlian yang sudah ia siapkan untuk Khansa. Dan juga satu buket bunga tulip merah untuk kekasihnya itu.
Khansa terlihat malu-malu saat Pengacara Qian menyemaikan cincin berlian itu di jari manisnya.
"Aku menunggu hari ini, setelah sekian lama sudah memendam rinduku kepadamu selama ini. Akhirnya aku menemukanmu, wahai gadis penolongku." Ucap Pengacara Qian lalu mengecup punggung tangan Khansa dengan lembut.
Khansa merasa sangat bahagia, karena bukan hanya mendapatkan kebebasannya saja, tapi ia juga mendapatkan kembali kekasihnya yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
"Ya Allah. Terimakasih atas karunia Mu yang tak terhingga atas diri hambaMu yang hina ini." Batin Khansa.
Mobil mewah itu bergerak membelah jalanan ibukota yang mulai padat merayap.
"Mas Qian mau bawa aku ke mana?" Tanya Khansa karena ini bukan jalan menuju arah kostnya.
"Maaf sayang!" Ibu kost kamu sudah mengusirmu karena kamu dianggap sebagai seorang pembunuh dan itu membuatnya ketakutan walaupun aku sudah menjelaskan bahwa kamu tidak seperti yang ia kira." Ucap Pengacara Qian.
Degggg..
"Terus di mana barang-barang milik ku?"
"Sudah aku pindahkan ke mansion milikku."
"Apakah aku harus tinggal bersama mas Qian, sebelum adanya pernikahan?"
"Di mansion ada nenek Laila dan ibumu Kayla. Mereka akan menemanimu sampai hari pernikahan kita sayang."
"Kenapa mas Qian mau menampung wanita itu di mansion, mas?" Khansa merasa tidak nyaman jika ada nyonya Kayla berada di rumah tunangannya.
"Khansa"
Sebenci apapun dirimu padanya, dia adalah ibu kandungmu yang melahirkan kamu dan itu sesuatu yang tidak dapat terbantahkan, apakah kamu mengerti sayang?"
"Tidak!" Tidak akan pernah. Aku membencinya?" Aku tidak akan memaafkannya." Jawab Khansa makin geram dengan ibu kandungnya.
"Tenangkan dirimu Khansa!"
Kamu tidak sedang berhadapan dengan musuh. Kamu hanya butuh waktu untuk memaafkan perbuatan ibumu di masa lalu.
Jangan terlalu mempersulit keadaan sayang. Seorang ibu memiliki cinta sejati untuk anaknya walaupun anaknya belum tentu mengakui dirinya sebagai ibu."
"Apakah aku akan berada bersama dengannya di rumahmu?"
'Rumahku cukup luas dan banyak kamar kosong Khansa yang bisa menampilkan sepuluh keluarga sekaligus.
Mana mungkin aku membiarkan keduanya menginap di hotel hanya demi menjaga hatimu."
Khansa tidak lagi berbicara. Ia lagi memikirkan bagaimana caranya menghindari ibu kandung agar mereka tidak saling menyapa.
Setibanya di mansion, Khansa turun dari mobil Pengacara Qian dengan wajah tertunduk. Ibunya berusaha mencegah langkahnya untuk memeluk putrinya yang sudah lama ia tinggalkan.
Khansa malah beralih memelihara nenek Laila membuat nyonya Kayla merasa sangat sakit.
Tapi ia menahan dirinya agar tetap tegar walaupun harus menerima penolakan dari putrinya Khansa.
"Sayang!" Akhirnya kamu bebas nak. Nenek sangat kangen kepadamu Khansa. Andai saja kamu memberi tahu nenek sejak awal, nenek tidak akan mengijinkan laki-laki itu menghancurkan hidupmu." Ujar nenek Laila penuh amarah.
"Sudahlah nenek!" Jangan lagi diperdebatkan yang sudah terjadi. Semua orang punya kekuatan untuk menghakimi seseorang yang dianggapnya lemah.
Aku sudah menjalani proses hukumnya dengan baik, jadi aku tidak ingin mengingat mimpi buruk itu lagi nenek."
"Baiklah. Nenek tidak akan membahas kasus mu lagi. Ayo kita makan siang karena ibumu sudah memasak untuk menyambut kebebasan mu!" Pinta nenek Laila sambil menggandeng tangan Khansa menuju meja makan.
Khansa sebenarnya enggan untuk menyicipi masakan ibu kandungnya, namun melihat nenek Laila begitu semangat iapun terpaksa menikmati masakan ibu kandungnya untuk pertama kalinya.
Nyonya Kayla begitu terharu Khansa mau makan masakannya. Ia menatap wajah suaminya yang sedang mengangguk kecil untuk menguatkan hati Istrinya.
Pengacara Qian memuji masakan calon ibu mertuanya.
Usai menyantap makan siang, Pengacara Qian mengajak Khansa untuk bicara sesuatu mengenai dokter Raffi.
"Khansa!" Jika kamu bisa bebas itu karena jasa ibu kandungmu nyonya Kayla, apakah kamu akan memaafkan dirinya?" Tanya Pengacara Qian penuh selidik.
"Berapa dia membayarmu hingga aku bisa bebas dari jeratan hukum?"
"Ini bukan masalah uang Khansa!" Tapi ini ada kaitannya dengan masalalu keluarga kalian."
"Apa maksudmu mas Qian?" Tanya Khansa tidak mengerti.
"Ini mengenai ayah kandungmu dan kamu juga memiliki saudara kandung, kakak tertua mu," Ucap Pengacara Qian hati-hati.
"Mas Qiaan!" Tolong jelaskan kepadaku apa yang ingin kamu sampaikan kepadaku dan jangan berbelit-belit. Aku siap mendengarkan kamu walaupun itu sangat buruk kedengarannya." Ucap Khansa yakin.
"Sebenarnya, ibu nyonya Kayla dan bos mu yang merupakan pemilik rumah sakit di mana kamu bekerja adalah mantan suaminya ibumu, dan tuan Raffa adalah ayah kandungmu Khansa.
Deggg....
"Tidak...tidak...tidak mungkin!" Tolak Khansa karena banyak kejutan datang silih berganti dalam hidupnya seakan memaksanya untuk menerima semuanya karena ia memiliki hubungan darah dengan ketiganya.
"Khansa!" Betapa kuatnya kamu menolak mereka, namun kamu tetap bagian dari mereka sayang. Hubungan darah tidak bisa digantikan dengan kemarahan ataupun penghapusan jejak kehidupanmu karena mereka adalah bagian dari tubuhmu saat ini." Ucap Pengacara Qian.
mmg km lemot pengacara pandai ungkap perkara pelik tp tdk pandai ungkap mslh diri😵💫🙄
kalian mmg rumit sih
tinggalkan saja semua Qian toh km msh bs kerja dg keahlianmu. kl km bela kemauan kakekmu itu hya sebuah alasan sebab Allah punya jalan cerita sendiri buat umatnya