Tak ada yang menginginkan perceraian terjadi, demikian halnya dengan Sabina Carissa. Wanita 32 tahun yang hidup di Jakarta itu harus menelan pil pahit. Pernikahannya dengan Radis yang berjarak usia 12 tahun akhirnya kandas di tengah jalan.
Galih Ahsan, lelaki 25 tahun yang bekerja menjadi reporter surat kabar mendadak terjebak pernikahan dengan Sabina tanpa dihadiri orang tuanya. Tak ada pilihan, dua insan akhirnya memutuskan saling membuka diri, hingga Galih mendapat kabar ibunya sakit dan keduanya harus pulang ke kota kelahiran Galih.
Di kota dengan sebutan kota pelajar, bahtera yang dibangun Galih mulai diterpa badai. Sebuah kebenaran terbuka, ayah tiri Galih yang baru satu tahun menikahi ibunya adalah mantan suami Sabina.
Mampukah Galih mempertahankan keutuhan rumah tangganya sedang Radis mulai menyesali perceraiannya?
"Kamu ngapain selalu ikutin aku? Aku janda, anakku dua. Berhenti ganggu aku!" (Sabina)
"Masa sih? Aku pikir mbak baru lulus SMA!" (Galih)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubu.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGAIMANA PENDAPATKU
"Rumah mbak Arumi besar," kata Sabina saat Arumi mengajaknya berkeliling ke taman di belakang rumahnya.
"Alhamdulillah. Tapi ya itu sayangnya, belum ada malaikat kecil yang meramaikan," lirih Arumi dan Sabina spontan menggenggam jemari Arumi.
"Sabar, Mbak! Pikirkan nikmat Allah lain yang telah diberi untuk Mbak dan keluarga dan jangan terpaku dengan hal yang belum Mbak miliki." Sabina tersenyum usai kalimatnya selesai terlontar, Arumi membalas senyuman itu.
"Kamu wanita baik, Bina. Oh ya, boleh aku tahu apa penyebab perpisahanmu dan ayah anak-anakmu? Maaf itu jika kamu ingin membagi ceritamu".
"Mbak Arumi pasti melihatku hanya dari penampilan luar. Sebetulnya dalam diri setiap orang selalu ada devil yang selalu membisikkan jalan keburukan dan salah tapi dengan tipu muslihatnya kesalahan itu dibuat seolah benar. Demikian juga dengan aku, Mbak. Bahkan aku sendiri sangat merasa bersalah atas perceraian yang terjadi, tapi nyatanya aku kalah dan menyerah. Aku tak tahu bagaimana pendapat Rabbku atas keputusan yang aku ambil, tapi aku berharap hidupku bisa bertambah baik dan lurus setelahnya. Ya, setidaknya aku sedang menebus kesabaran yang pernah tak bersahabat dariku. Aku kalah, Mbak. Aku tak bisa mempertahankan rumah tanggaku yang terjalin dengan perjanjian kuat antara aku, mantan suami dan Rabb kami. Aku tak sesungguhnya baik!"
"Bahkan ucapanmu membuktikan kamu pribadi baik, Sabina." Sabina tersenyum getir.
"Jadi kamu tetap tidak mau bercerita mengenai kegagalan pernikahanmu dulu?" desak Arumi lagi. Arumi sungguh ingin mengenal Sabina lebih banyak, ia ingin bersahabat dan bertambah dekat dengan bertanya masa lalu Sabina padahal Sabina justru tak menyukai pembicaraan semacam itu.
"Maaf aku sudah berjanji tak akan membahas lagi setiap hal yang terjadi di masa lalu. Hal yang kemungkinan besar akan memunculkan lagi kebencian di hatiku. Mbak Arumi tidak marah dengan jawabanku, kan?"
"Berapa usia kamu sebetulnya, Bina? Kamu sangat dewasa."
"Aku sudah tua, Mbak. Sudah menginjak 32," jawab Sabina lagi-lagi sambil tersenyum getir.
"Duh itu sih masih muda, Bina. Bahkan aku sendiri sudah tiga puluh sembilan, tapi aku merasa kamu lebih bijak dari aku." Setiap kalimat dari bibir Arumi terlontar spontan dan tak dibuat-buat, begitu saja terucap.
"Usia bukan patokan kedewasaan, Mbak. Kegetiran dan ujian hidup yang membuatku terlihat lebih tua dari usiaku," lugas Sabina, akan tetapi Arumi tak sependapat.
"Ini masalah pola pikirmu dan bukan penampilanmu Sabina. Secara wajah bahkan kamu terlihat masih muda dan cantik!" Arumi berkata sambil melihat wajah Sabina seksama.
"Hati-hati dengan ucapan Mbak. Jangan memuji wanita lain apalagi sampai didengar suami Mbak. Mbak seolah terdengar kurang percaya diri dan itu tak baik. Mbak itu harus merasa paling cantik di rumah mbak sendiri!" Arumi tersenyum getir.
"Oke kita ganti topik, bagaimana rencana bisnis online kamu Sabina? Kapan kamu akan memulainya?"
"Belum tahu, Mbak. Aku masih mengumpulkan beberapa rekomendasi toko online yang memiliki barang berkualitas. Aku berencana untuk dropship dulu karena belum memiliki cukup modal," lontar Sabina.
"Jujur aku lebih senang jika kamu kembali bekerja di Kafe mas Edo." Sabina dengan cepat menoleh.
"Alasannya?"
"Aku sepertinya akan tenang jika wanita seperti kamu ada di dekat mas Edo!" lugas Arumi membuat Sabina bingung.
"Kenapa begitu?" tanya Sabina lagi.
"Karena aku sekarang percaya kalau kamu tidak mungkin macam-macam sama mas Edo, bahkan kamu bisa menjadi orang kepercayaanku."
"Maksud dari orang kepercayaan?" Sabina tampak bingung.
"Ya, seperti mata-mata. Begitu kurang lebih. Bukan tidak mungkin kan ada karyawan baru yang akan menggoda mas Edo dan mas Edo yang masih kekurangan sesuatu dari aku akhirnya membuka diri untuk yang lain!"
Sabina spontan berdecih. Lagi-lagi ia tak suka dengan ucapan Arumi. "Kita tak sejalan, bisa saya undur diri Mbak Arumi?"
"Ada apa Bina, apa aku salah berucap? Ini masih sore, kenapa terburu-buru? Lihat bahkan Zio sangat senang bermain dengan Galih dan mas Edo!" Arumi dengan cepat mengejar Sabina, ia kini berdiri tepat di hadapan Sabina.
"Aku ingin pulang, Mbak!"
"Jelaskan apa salahku, Sabina!"
Sabina melirik Arumi sekilas. "Mbak sungguh tak menyadari kesalahan Mbak?"
"A-pa?"
"Mbak telah berlebihan bersikap pada pak Edo dan itu akan menjadi bumerang untuk Mbak sendiri!"
"Tapi aku seperti ini karena tak ingin kehilangan mas Edo!"
"Tapi cara Mbak salah! Pak Edo lelaki baik, tapi bisa berubah sebaliknya jika ia tahu Mbak mematainya! Beri kepercayaan saja pada pak Edo, Mbak!"
"Kamu yakin aku harus seperti itu?" Arumi begitu khawatir dan itu tampak jelas di matanya.
"Sangat yakin!" Maaf saya permisi, Mbak!"
"Bina tunggu Bina!"
"Eh, kalian sudah datang? Sudah selesai berbincangnya?" Edo yang melihat dua wanita mendekat segera bangkit dari posisi duduknya dan menyapa Arumi.
"Pak Edo, terima makasih atas jamuan makan malamnya. Saya sangat senang bisa berkenalan dengan keluarga Bapak, tapi saya rasa ini sudah malam dan kami harus pulang." Sabina meraih lengan Zio dan membawa raga Zio merapat pada tubuhnya.
"Tapi ini baru setengah sembilan."
"Ini sudah malam, Pak!"
"Sabina please, sebentar saja lagi. Oh ya aku punya hadiah untuk Zio, tunggu ya!" kata Arumi ia segera membalik badan.
"Mbak____
"Tunggu sebentar Bina, Arumi jarang sekali dekat dengan seseorang. Jangan hentikan dia dan kita tunggu ia turun, o-ke!"
Sabina akhirnya mengangguk lirih melihat ketenangan Edo berbicara. Dalam hati Sabina merasa heran dengan sikap Arumi. Edo jelas-jelas terlihat begitu mencintai Arumi kendati sebelumnya ia pernah menginginkannya, tapi syukurlah Edo telah sadar dengan kesalahannya, dan kini bahkan Arumi yang ingin melakukan kesalahan dengan berupaya menjadikan Sabina sebagai mata-mata suaminya. Sabina sungguh heran dengan kehidupan. Banyak manusia mencari dan berpikir hal yang jauh hingga melupakan hal baik yang dimiliki. Ya, lagi-lagi rasa syukur itu harus tertancap dalam diri, begitu menurut Sabina.
"Ini untuk kamu anak ganteng!" Arumi sudah kembali dan menyodorkan sebuah kotak berisi robot Transformer untuk Zio. Zio tampak begitu bahagia.
"Bilang terima masih pada ibu Arumi, Zio," pinta Sabina mendekatkan wajahnya pada Zio.
"Terima kasih ibu Arumi."
"Ahh panggilan yang manis. Terima kasih Sabina." Setelah bicara pada Sabina, Arumi merendahkan tubuh di hadapan Zio. "Sering-seringlah ajak bunda main ke rumah ibu Arumi ya, Zio!" Zio mengangguk dengan polosnya.
"Baik saya permisi Pak Edo, Mbak Arumi."
"Tunggu Bina! Kamu tidak akan pulang sendiri melainkan akan pulang diantar sopir kami!"
"Betul begitu kan, Arum?" Setelah menahan langkah Sabina, Edo memastikan ucapannya pada Arumi. Arumi mengangguk.
"Tentu saja. Sebentar aku akan minta pak Kadir bersiap." Arumi baru saja hendak keluar, tapi Galih yang sejak tadi menjadi pendengar mendadak bicara.
"Tante Arumi, bagaimana jika Galih saja yang antar Sabina? Bukankah kami searah?" Arumi dan Edo saling menatap.
"Kamu naik motor Gal, udara malam tidak baik untuk Zio!" kata Edo.
"Zio mau naik motor," celoteh spontan Zio membuat Sabina merasa tak enak hati.
"Zi-o ...."
"Tuh kan, Zio saja lebih milih naik motor, Om. Galih janji akan mengemudi pelan-pelan. Boleh kan, O-mm?"
"Kalau kamu memang mau pulang sekalian mengantar Sabina, lebih baik bawa mobil Tante saja, Gal!" lontar Arumi tiba-tiba.
"Nah kalau begitu Om setuju. Aman untuk Zio dan Sabina!"
Galih berpikir sesaat dan mengangguk.
"Kalian sibuk memikirkan bagaimana aku pulang, tapi mengapa tidak ada yang bertanya apakah aku akan nyaman pulang bersama Pak, eh mas Ga-lih!"
Sungguh kata-kata Sabina membuat semua orang di sana tercekat.
____________
Bersambung,😘❤️
beraninya keroyokan.
lawan sendiri kalo berani
Sementara jafi suster pribadinya Galih aja Bina
pastinya ditolong lah ya sisi kemanusiaan Bina kan masih tinggi