Tias tidak pernah menyangka kalau ternyata pilihannya untuk tinggal bersama neneknya malah membuatnya bertemu dengan orang paling menyebalkan yang pernah ditemuinya.
Tias kira dengan jabatan yang cukup disegani di kampung membuat orang itu punya rasa malu untuk sekedar menggodanya di depan umum. Tapi bukannya merasa malu orang itu malah terang terangan berkata ingin menikahinya meskipun banyak warga yang melihatnya.
" Dek Tias mau nggak jadi calon ibu Kades di sini ? Enggak perlu daftar langsung saya terima."
" Nggak."
" Kalau nggak mau daftar langsung saya nikahi aja ya. Gimana ?"
" Ih ! Aku nggak mau punya suami Kepala Desa."
" Jadi dek Tias maunya dapat suami yang kayak mana ?"
" Kayak pemulung."
" Kalau gitu besok saya turun jabatan jadi pemulung. Biar bisa nikahi dek Tias terus kita mungut sampah bareng bareng. Bagus juga keinginannya dek Tias."
" Astaga !" Tias berteriak kencang merasa frustasi menghadapi sikap Kades muda yang sangat menyebalkan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maysar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semangat Nenek
Tias bangun lebih pagi kali ini untuk melihat keadaan Cafe pamannya yang sekarang sudah menjadi miliknya. Tidak ada salahnya kalau waktunya hari ini ia habiskan saja di Cafe itu, sekalian menghindari si Kades yang kurang kerjaan. Sudah sok kenal, sok dekat lagi. Padahal mereka baru bertemu beberapa kali.
" Loh, kok udah rapih banget pagi pagi ?"
Tias tersenyum menatap neneknya yang baru datang entah dari mana. " Iya, mau ngeliat Cafe."
" Sarapan dulu sebelum berangkat ya." pinta nenek Ruwi.
Tias menganggukkan kepalanya kemudian berjalan ke meja makan. Di sana ia melihat sup ayam, sambal kecap, dan goreng tempe. Hm, cukup enak menu sarapan pagi hari ini.
" Ini nenek yang masak ?"
" Nggak, nenek pesan di warungnya buk Dea." jawab Ruwi.
" Pantesan." Tias menuangkan sup ke dalam mangkuknya bersama sedikit sambal kecap. Dengan sendok Tias mencicipi rasanya dari kuah kaldu sup itu.
" Kurang asin dan nggak ada bau merica sama buah palanya nek." lanjutnya berkomentar.
Nenek Ruwi terkekeh mendengar komentarnya. " Kamu itu loh, komentar aja bisanya. Tinggal dimakan apa susahnya sih ?"
" Kurang enak masakannya diselera lidah Tias." jawab Tias tetapi tetap memakan sup tersebut.
" Nggak enak kok masih dimakan." ucap nenek Ruwi mengejek cucunya.
Tias tersenyum menatap neneknya. " Terpaksa karena mau sarapan."
" Bilang aja kamu itu kelaperan." cibir nenek Ruwi yang membuat Tias tertawa.
Untung saja saat ini Tias sudah selesai makan, kalau tidak mungkin ia akan tersedak sekarang. " Wajar nek, namanya belum makan."
" Alah ngeles aja kamu."
Tawa Tias semakin kencang jadinya. " Tias mau manasi motor dulu."
Nenek Ruwi mengangguk lalu mengambil mangkuk kotor bekas Tias makan ke dapur. Cucunya itu kalau sudah memikirkan tujuannya, dia pasti akan lupa dengan tugasnya yang lain. Seperti mangkuk kotor ini contohnya.
Di depan rumah Tias menghidupkan motornya dengan senyuman kecil di wajahnya. Ini adalah hal yang baru untuk dilakukan olehnya. Karena sebelumnya Tias tidak pernah melakukan hal ringan seperti memanaskan motor. Beruntung dulu ia sering melihat supirnya yang setiap pagi rajin memanaskan motor dan mobil di rumahnya. Kalau tidak mungkin Tias akan membawa motornya begitu saja setelah selesai diisi bensin.
Ngomong ngomong tentang nama Cafenya. Tias baru tahu kalau namanya itu adalah Sahara Cafe. Nama yang pernah dulu Tias benci karena nama itu adalah milik dari mantan pamannya sekaligus gurunya di SMA dulu. Rasanya kesal sekali mengingat itu, Cafenya akan menjadi milik Tias tapi namanya milik mantan pamannya. Kalau saja pamannya itu masih hidup Tias pasti sudah mengamuk seperti orang kesetanan saat ini.
" Udah siap ?" nenek Ruwi datang menghampirinya.
Tias menoleh lalu menggelengkan kepalanya. " Sebentar lagi nek, Tias mau manasi setengah jam. Sekarang kurang lima menit lagi."
" Ya sudah, nenek mau ke TK dulu." ucap nenek Ruwi.
" Ke TK ? Untuk apa ?" Tias bertanya bingung, pasalnya neneknya itu sudah tua dan rentan penyakit. Jadi akan aneh kalau neneknya malah pergi ke taman kanak kanak padahal di sana tidak ada cucu atau cicitnya.
" Mengajar." jawab nenek Ruwi.
Mata Tias melebar seketika mendengarnya. " Nenek udah tua loh nek, kok malah mau ngajar lagi. Udah pensiun untuk apa mau ngajar anak orang lagi ?"
" Nenek kan masih belum ingin jadi guru Tias. Yah, walaupun nggak sepintar dulu lagi sewaktu nenek masih muda." nenek Ruwi menjelaskan keinginannya yang malah membuat Tias menepuk keningnya mendengar itu.
Ia tidak habis pikir dengan pemikiran neneknya yang sudah tua dan bertubuh sangat gemuk itu. Padahal baru kemari neneknya mengeluh sakit pinggang karena terlalu banyak berdiri. Sekarang malah ingin mengajari anak anak yang baru berusia dini.
" Nenek di rumah aja yah." pinta Tias setelah berhasil menenangkan dirinya.
Nenek Ruwi menggeleng yang berarti menolah permintaan itu. " Nenek masih ingin berbagi ilmu sebelum nenek dipanggil sama yang maha kuasa. Setidaknya kalau nenek udah nggak ada nanti, banyak orang yang udah kenal nenek. Bukan karena keburukan tapi karena ilmu yang nenek berikan kepada banyak orang semasa nenek hidup ini."
Penjelasan itu membuat Tias langsung mematikan motornya dan berlari memeluk neneknya. " Tias nggak akan biarin nenek pergi ninggalin Tias. Nenek orang baik dan nggak mungkin banyak orang yang nggak kenal sama nenek."
" Nenek kan cuma mengisi waktu." nenek Ruwi menenangkan Tias yang mulai menangis tanpa suara di bahunya.
" Tapi nggak perlu sampai jadi guru anak orang lagi. Nenek kemarin aja udah ngeluh kesakitan karena banyak berdiri. Apalagi sekarang yang ngajar sampai berjam jam. Tias mau pergi ke Cafe, di sana jauh dari sini. Nanti kalau nenek kenapa napa Tias nggak bisa langsung datang." Tias mengucapkan kata katanya dengan suara serak karena menangis.
Nenek Ruwi merasa lucu dengan pemikiran Tias. Padahal kalau seandainya lelah, ia pasti akan berhenti dan mengambil cuti lagi. " Nenek ini strong, kamu nggak usah khawatir."
" Strong dari mana ? Hiks.., nenek kan terong bukan strong." balas Tias disela isakkan tangisannya.
Nenek Ruwi melepaskan pelukan Tias lalu memukul kepalanya. " Heh ! Sejak kapan nenek jadi terong hah ?!"
Tias tidak menjawab tetapi malah tertawa. Ia mengusap air matanya dan tersenyum manis hingga menampilkan kedua lesung pipinya. " Bercanda nek."
Melihat kelucuan Tias, nenek Ruwi akhirnya menjadi ikut tertawa. Tangannya mengusap rambut Tias penuh kasih sayang dengan hati yang terus mengucap rasa syukur.
" Nenek nanti antarkan ke sana ya."
" Loh, masih mau ke sana ?" tanya Tias.
" Ya ampun Tias, ya masihlah. Dibilangin nenek ini strong." jawab nenek Ruwi yang membuat Tias memutar matanya malas.
Sia sia air matanya tadi karena menangisi dan mendalami perannya seperti cucu yang baik hati. Karena berharap kalau neneknya itu akan membatalkan niatnya. Tapi ini yang terjadi bukannya batal rencananya, neneknya malah tambah tidak sabar ingin diantar ke sana.
Kalau begini ceritanya, percuma saja Tias melarang neneknya walau sampai mulutnya berbusa sekalipun.
" Ya udah ayo Tias antar." Tias memakai helm dan memberikan satu helm lagi untuk neneknya.
" Kamu nggak apa apa kan ke Cafe sendiri ? Apa mau nenek temani ?" tanya nenek Ruwi.
Tias menggeleng sebagai tanda menolak. Ia bukan anak kecil lagi yang mengurus hal sepele seperti itu saja tidak mampu. Lagipula kalau neneknya ikut, alamat Tias tidak bisa mengganti nama Cafe itu nanti. Nama yang disematkan pamannya dan membuatnya sakit kepala hanya sekedar mendengarnya saja.
Sahara, Sahara, Sahara. Dari sekian banyak nama yang ada dimuka bumi ini. Kenapa pamannya itu malah memilih nama Sahara ? Kenapa tidak memakai Tias saja ?.
Thanks dah up,Kak..☺️
Lanjuttttt and ttp semangat!!💪
penuh Teka teki....
Semangat,Thor...
Calon adik????🤔
Astaghfirullah
Aq mikirnya apaaaaaa gitu yah Roti sumbu... ternyata ubi kayu...
aaaa Author Somplak!!!
Thanks infonya.....