Bukan bacaan anak di bawah umur, mengandung kata-kata kasar dan adegan ranjang.
Gadis berusia 18 tahun itu nekat mendatangi mansion Tuan Leonel Dankar, demi kebebasan kakaknya yang telah dijebloskan ke dalam penjara usai menggelapkan dana perusahaan Dankar Company. Dan sebagai imbalannya, gadis muda itu harus merelakan keperawanannya untuk direnggut oleh Tuan Leonel.
Namun bagaimana jadinya jika gadis itu malah jatuh cinta pada Tuan Leonel? Sedangkan ia hanyalah dianggap sebagai mainan ranjang tuan. Akankah gadis itu mampu merebut hati Tuan Leonel? Atau justru harus menanggung sakit akibat cinta yang tak berbalas.
~~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PC. Priyanka Chandler, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke cafe bersama Darren
"Aahh,,,, aaahh,,, aaahhh,,,, Tuan,"
"Masih sakit?"
Aku menggeleng pelan, Tuan Leonel tersenyum manis, menatapku dengan sorot mata sangat sayu, teduh.
Ia terus bergerak maju mundur, mengguncang tubuhku yang bergerak naik-turun.
"Aaahh,,,," de.sah Tuan Leonel lolos sambil memejamkan kedua mata, ia menelusupkan wajahnya ke dadaku, tanpa menjeda pergerakannya yang mendesak tubuhku di bawah sana.
"Kau sangat nik.mat, Re, aahhhh..."
Tuan Leonel bergerak semakin cepat, lebih cepat dari sebelumnya, dan aku pun merasakan yang lebih nikmat, jauh lebih nikmat lagi.
Buliran-buliran keringat membasahi tubuh kami, hawa dingin dari AC besar itu tak cukup menyejukkan kami yang terbakar permainan ranjang.
"Aaahhh,,,," Tuan Leonel mencabut adiknya, ere.ngan terus keluar dari mulutnya saat ia mengeluarkannya di atas perutku.
Permainan pertama selesai. Berhenti untuk beberapa waktu, kemudian Tuan Leonel kembali melakukanya hingga beberapa kali, ia tak mengizinkanku untuk sekedar memejamkan mata. Hingga pagi itu tiba. Barulah ia selesai, benar-benar selesai.
***
"Selesai!" ujar Darren menyodorkan buku tulisnya di hadapanku, membuatku kaget dan menyadarkanku dari lamunan tentang malam kelam bersama Tuan Leonel.
Kuterima buku Darren, memeriksanya sebentar, semua jawaban yang ia tulis benar, aku tersenyum, senang, mengacak rambutnya pelan sambil menyerukan kalimat pujian.
"Kau sangat pintar," ucapku jujur, senyum Darren melengkung menampakkan deretan giginya yang putih tertata rapi. Dengan sorot mata yang teduh, manik hitam itu sering kali mengingatkanku akan mata tajam ayahnya.
"Sisil?"
"Iya, Re."
"Hari ini selesai sampai di sini, tolong rapikan bukunya, ya? Aku harus segera ke cafe,"
"Iya, Re."
"Kau akan pergi?" tanya Darren cepat. Aku tengah mengenakan sepatu yang tadi kulepas di lantai dekat tempat tidurnya.
"Iya, aku harus ke cafe. Aku bekerja sebagai pelayan di sana?"
"Pelayan?"
Aku mengangguk.
"Kau pintar, bisa mengajariku, kenapa jadi pelayan? Itu kan pekerjaan rendahan!" seru Darren sepertinya kurang suka mendengar aku menjadi pelayan.
"Rendahan?" aku terkejut mendengar komentar Darren.
"Iya, Mommy yang bilang, bahwa mereka itu rendahan, dan aku tidak boleh dekat-dekat dengan mereka, mereka bukan orang yang baik untuk dijadikan teman, aku ini Tuan Muda Darren, pe_"
"Waris utama Dankar," sahutku cepat sambil mengulas senyum, dan Darren semakin melebarkan senyumannya bangga.
"Kemari," kuangkat tubuh Darren agar ia semakin mendekat, aku turun ke lantai, berdiri dengan tumpuan lutut menghadap Darren yang kududukkan di tepian ranjang.
"Dengar," ucapku tenang bernada serius. Darren mengangguk mendengarkan.
"Tidak ada pekerjaan rendahan selama apa yang dikerjakan adalah kebaikan, bukan hal yang salah dan merugikan orang, apalagi seorang pelayan, profesi sebagai pelayan itu bukan hina, mereka justru orang-orang yang sangat berjasa dalam hidup kita,"
Darren mendengarkan dengan seksama, mungkin otak kecilnya mulai berpikir, antara yang aku katakan dengan nasehat Mommynya.
"Begini, coba Darren ingat-ingat, siapa yang membantu Darren menyiapkan semua kebutuhan, seperti makanan, pakaian bersih, pelayan melakukanya untuk mendapatkan uang, uang yang mereka dapatkan untuk membiayai keluarga mereka, seperti uang yang didapatkan Daddy dari bekerja, untuk membiayai Darren, untuk membelikan Darren baju bagus, makanan yang lezat, mereka juga sama, untuk menghidupi anak dan keluarga mereka, jadi pekerjaan pelayan itu bukan rendahan, mereka adalah pahlawan keluarga mereka,"
Darren mengangguk beberapa kali, apa yang kujelaskan sepertinya mudah ia mengerti.
"Seandainya tidak ada seorang pelayan, siapa yang akan membantu Darren membersihkan rumah sebesar ini? Seharian Darren tidak akan bisa menyelesaikannya sendiri. Iya, kan?"
Darren mengangguk lagi.
"Jadi, apakah pelayan itu orang rendahan?"
Darren tak menjawab, mungkin ia masih mencerna apa yang kukatakan berlawanan dengan apa yang Mommynya katakan.
"Baiklah, tidak perlu terlalu dipikirkan, aku sudah terlambat, aku pergi dulu, Sisil?"
"Iya, Re."
"Titip, Darren,"
"Tentu, Re."
Kuciumi wajah Darren mulai dahi, kedua pipi, mata, hidung, dan kedua tangannya.
"Aku mencintaimu," ucapku tulus sambil memencet pelan hidung mancung Darren.
"Aku juga, aku juga mencintaimu, Re."
Kami saling melempar senyum bahagia.
"Sisil, aku pergi,"
"Hati-hati, Re. Terimakasih untuk hari ini,"
"Iya, sama-sama."
***
Bus tingkat merah yang kutumpangi berhenti di tepi jalan depan cafe, aku lekas turun berlari memasuki cafe yang sudah sangat ramai. Lagi-lagi terlambat, aku terus berlari memasuki pantry, dan sorot mata tajam dari Bass yang menatapku marah menyambut kedatanganku.
"Sorry,,,," lirihku sungguh-sungguh merasa bersalah.
Kuraih nampan hitam berisi 4 cangkir kopi, kubawa keluar mengantarkannya pada meja 10 sesuai catatan kertas di atas nampan. Aku langsung bekerja tanpa mengganti baju pelayan.
***
Saat pukul 9 malam, tak ada lagi pelanggan baru yang datang, aku dan Bass memiliki sedikit waktu senggang untuk sekedar melemaskan otot-otot yang kaku.
Cafe masih cukup ramai dengan para pelanggan yang bercengkrama atau sekedar diam menikmati me time.
Bass menata kopi, aku duduk di kursi menghadap meja pantry, kami saling berhadapan, Bass menata kopi sambil duduk di bagian dalam pantry.
"Apa dia melepaskanmu?"
"Hem? Siapa? Erick?"
"Kenapa membahas bajingan itu? Rasanya aku masih menyesal tak melayangkan tinju ke mukanya waktu itu,"
Tersungging senyum menahan kesal jika teringat akan pengkhianatan yang Erick lakukan, Bass hampir saja memukulnya waktu itu andai aku tak menahan tangannya.
"Terus?" tanyaku pada Bass.
"Tuan kaya raya tampan yang waktu itu datang,"
"Tuan Leonel?"
"Yah,,,, bukankah dia tidak mengizinkanmu untuk tetap bekerja?"
"Aku membangkang, dia pikir dia siapa? Bisa terus mengaturku, memerintahku ini dan itu, aku memang membutuhkan bantuannya, dan berhutang padanya, tapi dia juga mendapatkan imbalan dariku, jadi aku tidak akan menurutinya lagi, tidak akan, enak saja."
Aku masih mengoceh kala Bass tiba-tiba tersenyum cengir kuda, raut mukanya berubah, dan dia turun dari kursi, berdiri sambil mengangguk pelan seperti memberikan salam sapaan.
"Selamat malam, Tuan. Selamat datang di cafe kami," tutur Bass sedikit sungkan.
Sontak aku menoleh ke belakang, karena kaget dan dalam posisi tidak imbang, tubuhku goyang dan hampir saja terjatuh andai Tuan Leonel tak segera menangkapku dengan cepat.
Wajahku membentur dadanya yang bidang, begitu pun dengan kedua tanganku, menahan dada keras itu, aroma musk yang harum terkesan seksi memenuhi penciumanku, seketika mengantarkan gelanyar aneh seperti waktu itu, hangat, hatiku berdebar dan jantungku berdegup kencang.
Kedua tangan Tuan Leonel menyentuh kedua lenganku, kiri dan kanan, mencengkeramnya sedikit kuat.
"Membicarakanku, Nona?"
DEG.
***
Kusuguhkan kopi pesanan Tuan Leonel di atas meja, ia datang bersama Emilio, si pendiam yang tak pernah bersuara, barang sepatah kata. Dan si kecil yang super tampan, dengan pipi bulatnya yang merah seperti apel. Menggemaskan.
"Silahkan,,,," ucapku sambil menaruh dua cangkir berisi kopi ekspresso hitam untuk dua pria dewasa, dan segelas susu putih hangat untuk pria kecilku.
"Inikah pekerjaanmu?" tanya Darren melontarkan pertanyaan.
"Iya, tampan, ini pekerjaanku, kenapa?" aku duduk pada kursi lain yang kosong, berhadapan dengan Darren, menggenggam tangannya lembut, kuulas senyum manis sambil menatapnya tulus.
"Apa yang kau katakan pada Darren?" lontaran kata tegas yang Tuan Leonel ucapkan menarik perhatianku. Aku menoleh menatapnya yang menatapku tajam, yang membuat hatiku sedikit merasa nyeri, sakit, dengan tatapannya yang seperti itu. Itu melukai hatiku.
***
emang klw dilihat dari sufut pandang orang ketiga kelakuan re itu keterlaluan sama tuan leon dan nyonya annora pasti sakit hati banget
ya tapi gimana ya pilih jalan yg terbaik buat kedua sisi ajah
re dan tuan leon saling mencintai
nyonya annora jga gak kan publikasi pernikahannya karena jadi model