Airin Daranize, wanita yang belum menemukan jodohnya di usianya yang ke 28 tahun.
Airin wanita mandiri yang membuka usaha butik yang cukup berhasil. Sehingga waktunya lebih banyak tersita ke butik nya.
Tiba- tiba saja Dika teman masa kecilnya muncul dan melamarnya. Tapi Airin menolak karena tidak mau menerima perjodohan.
Suatu hari Dika sakit, tanpa sengaja Airin tau kalau Dika sedang sekarat . Akankah Airin mau menerima lamaran Dika?
Apakah Dika sembuh dari penyakitnya?
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
Seperti ada magnet yang menarik seluruh dunianya, untuk beralih pada Airin. Sungguh sebuah rasa yang terasa janggal. Tapi menggoda! Mengusik dirinya tapi seolah ada tirai yang membatasi.
Dika benar- benar di buat bingung . Di satu sisi hatinya mencoba luruh oleh sebuah rasa yang sudah akrab mengikat. Tapi di sisi lain semuanya seolah tampak asing, membuatnya gamang.
Betapa tidak! Sekalipun mama telah berkali- kali mengingatkan, kalau Airin adalah istrinya. Tapi dengan tidak adanya kenangan, yang melekat dalam memorinya. Membuat Airin adalah orang asing dalam hidupnya.
Seperti di saat ini, Airin pasti butuh perhatian dan dukungan dari seorang suami pada kehamilannya yang pertama. Bukan beban fikiran kehilangan suami karena amnesa!
Di saat sekarang inilah dia butuh dimanja oleh kehangatan kasih sayang seorang suami, sehingga janin dalam kandungannya dapat bertumbuh dengan baik.
Seperti kata dokter, seorang ibu hamil jangan stres. Suasana hati dan pikirannya harus fresh.
Dika tengah asyik memeriksa beberapa berkas di layar monitor laptopnya. Ketika tiba- tiba ada keinginan dalam dirinya mencicipi makanan asam- asam dan segar. Sebuah keinginan yang rasanya sangat ganjil. Tapi sangat menggoda untuk segera di penuhi.
Air liur Dika hampir menetes membayangkan bayangan buah segar itu. Ada apa ini? Mengapa keinginan itu begitu mendesak untuk di penuhi.
Dika menelepon Riko, supaya datang segera ke ruangannya. Dika menceritakan kalau dia pengen makan buah segar dan pedas. Dalam sekejap saja Riko sudah datang. Seperti anak panah saja lepas dari busur. Melesat, membuat Dika heran dan menatap aneh pada Riko.
" Lho, kok menatapku heran seperti itu?"
" Reaksimu itu, bro?"
" Apa yang salah dengan reaksiku. Justru permintaanmu yang membuatku blingsatan seperti ini. Seperti perempuan ngidam saja kamu ini." kekeh Riko.
" Perempuan ngidam? Ngaco kamu! Memang ada laki- laki ngidam?"
" Beberapa kejadian ada sih. Saat istrinya hamil sang suamilah yang pengen macam- macam. Suami yang merasakan mual dan muntah! "
" Stop!" teriak Dika tiba- tiba. Dika teringat beberapa hari ini dia tidak suka aroma masakan di rumah. Beberapa hari ini dia lebih suka makan masakan Padang. Pengen makan pepes ikan tongkol. Dan diam- diam ia memenuhi semua seleranya itu. Berburu kuliner yang menggugah selera makannya itu.
Mamanya jadi bingung karena dia akhir- akhir ini lebih sering makan di luar. Takut akan mengganggu kesehatannya karena pola makannya yang berubah tiba- tiba. Dan menabrak semua kebiasaannya.
Tapi sejauh ini, dia tidak apa- apa. Tidak ada masalah dengan perutnya. Bahkan perasaannya lebih tenang karena keinginannya itu terpenuhi.
Jadi dia lagi ngidam, ya? Seperti kata Riko? Hati Dika mbatin.
" Hei! Kok malah bengong, sih!" Riko mengibaskan tangannya di hadapan wajah Dika.
Membuat Dika tersadar dari hayalannya.
" Iya, eh kamu ngomong apa sih?" sahut Dika bengong.
" Ya, ampun. Kamu ngajak aku ke sini cuma mau pantengin wajah kamu, yang bego itu ya?"
" Lha, iya. Wajah siapa pula yang bego?"
" Ah, sudahlah. Kamu benar-benar sukses buat aku ilfil!" sentak Riko.
" Sory bro, jangan ngamuk dulu. Gegara kamu juga aku bengong. Apa benar aku ngidam, karena akhir- akhir ini selera makanku juga aneh?"
" Oh, ya. Berarti dugaanku benar. Bukankah Airin tengah hamil? Dan kamu yang ngidam? Kloplah," kekeh Riko membuat kesal Dika.
"Yuk, kita berburu buah yang kamu inginkan. Kalau gak kamu penuhi, anakmu nantinya jadi ileran."
" Apa hubungannya?" sahut Dika bengong.
" Ya, iyalah. Orang ngidam itu harus dipenuhi keinginannya. Kalau gak anaknya akan ada masalah saat lahiran. Yuk, cabut. Mumpung aku berbaik hati, demi si calon ponakanku."
Dika merasa takjub sendiri dengan perkataan Riko. Dika sempat heran juga, selama kehamilan Airin, dia tenang- tenang saja. Gak rewel kayak bumil lainnya, yang biasanya banyak permintaan aneh- aneh.
Malah dia sendiri yang repot, karena banyak maunya.
Semoga saja masa ngidamnya ini segera berlalu. Dan tidak aneh-aneh. Sehingga tidak merepotkannya. Terlalu jauh.
***
Perut Airin kian membuncit, usia kehamilannya sudah memasuki bulan ke enam. Wajahnya makin padat berisi. Tidak tirus lagi seperti bulan- bulan kemarin. Perubahan fisiknya itu membuat Dika suka mencuri- curi pandang.
Dika seolah merasa jatuh cinta. Dan perasaan itu sangat menyiksanya. Lha! Aneh benar, sama istri sendiri tersiksa. Dika pengen mengelus perut Airin, sebuah keinginan yang malu ia ungkapkan.
Kenapa tidak? Perasaan asing itu, kerap datang menggangu. Dika merasa aneh saja, bila menunjukkan perasaannya pada Airin. Mengingat perlakuannya yang acuh selama ini.
Meski kenyataannya, Airin adalah istrinya. Sikap Airin juga yang menjaga jarak, membuat langkahnya seolah mati kutu.
Bukankah dia yang menyangkal selama ini? Menolak mengakui Airin adalah istrinya? Bahkan sempat hadir rasa benci padanya. Sehingga Airin menjauh.
Apakah ia akan memperjuangkan kembali cinta istrinya? Ya, haruslah! Tak bisa ditawar dan ditangguhkan. Dia istri kamu! Sekalipun memorimu hilang, sudah selayaknya kamu berjuang lagi! Sesuara batin Dika menghentak!
Dika jadi bingung mau memulai dari mana. Minta bantuan mama atau Riko? Selama ini Riko tak pernah absen memberi saran. Meski saran yang dia berikan terkadang konyol.
Minta bantuan mama, rasanya lebih afdol. Tentu mama bisa membujuk Airin. Tapi Dika tidak ingin semudah itu pula. Dika ingin berjuang lagi.
Tapi bingung memulai dari mana. Gak mungkin juga langsung mengakui ke Airin, bahwa dia adalah suaminya. Airin jelas tak menampik itu. Airin akan menuruti apa saja kemauannya. Menuntut haknya sebagai seorang suami. Tapi bukan itu masalahnya.
Jika hanya karena hak dan kewajiban, Airin pasti tunduk dan tidak neko- neko.
Tapi Dika yakin, tidak akan ada rasa di sana. Semua akan terasa hambar. Seperti makanan yang kekurangan bumbu.
Dika ingin, bila memang harus memiliki istrinya kembali. Semua karena perjuangannya. Berjuang mencintai istrinya kembali, karena memori tentang istrinya telah hilang.
Selama ini Airin telah berjuang, tapi ia tolak dan halau.
Ujung- ujungnya, harus minta bantuan Riko juga.
Minta saran bagaimana membuat sang istri jatuh cinta lagi.
Dika menelepon Riko tengah malam itu juga. Setelah diangkat. Sebuah makian menerpa telinga Dika.
" Kampret lu. Ngapain nelpon tengah malam begini? Aku lagi enak- enaknya bergelut dengan mimpi!"
" Ketemuan yuk, ada yang mau aku bahas."
" Gila, lo. Ngajak kencan tengah malam begini"
" Kencan, endasmu. Mau gak, kalo gak mau kupotong bonusmu enam bulan ke depan." gertak Dika . Biasanya dengan cara ini, Riko pasti nurut.
" Ya, iya. Gak perlu ngancam dah. Dasar bos somplak. Jumpa di mana. Tempat biasa. Oke." sahut Riko mengiyakan ucapan Dika, sambil salin pakaian. Diraihnya jaket dan kunci mobil. Bergegas keluar.
" Huh! Ngidam apa lagi Dika. Kok aku jadi terseret. Pake ngancam segala lagi." rutuk Riko bicara sendiri. Saat melaju di jalan membelah malam yang tak pernah sepi.***