Syhang nyang cipto gumono, rawuhno sejatining… kang aperojo hing songgobuwono rawuh rawuh rawuh mijil dateng pangarsanisun…
Asap dari bakaran kemenyan membumbung pekat di dalam ruangan. Menebar bau harum menggidikkan ke seluruh area rumah mewah yang baru saja di tempati Mbah Priyo dan keluarga.
Rumah mewah yang dulunya milik paranormal kondang, yang masih berdiri kokoh dengan segala keangkerannya selama empat puluh tahun itu akhirnya berpindah tangan. Dari keluarga Pak Karman ke penghuni baru yang juga seorang paranormal, Mbah Priyo.
Selanjutnya, kisah Mbah Priyo dan segala lelakunya sebagai paranormal dimulai dari rumah dengan tingkat wingit paling tinggi tersebut. Membangkitkan kejayaan paranormal kondang yang telah runtuh dengan kidung-kidung dari alam kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Bayangan Hitam
Sulton memacu motornya menjauhi jalur pematang yang dilewati Bambang. Dia kembali ke jalan semula dan mulai menyisir pinggir sungai menuju rumah. Perasaan tak nyaman semakin bergelayut di dasar hatinya setelah melihat pria yang membacok lengannya.
Angin dingin menyapu wajah Sulton yang tegang. Dia sama sekali tidak menikmati acara minum meskipun sudah berusaha, kesadarannya masih utuh hingga acara selesai dan gelisahnya tak tertahankan di jalan lengang kendaraan.
Samar-samar Sulton mencium bau wangi bunga kantil, bercampur kemenyan yang berbaur dengan bau amis air sungai. Sulton bergidik, bayangan akan terjadi hal mistis pada dirinya terus saja menghantui sejak tau kalau korbannya adalah anak seorang dukun sakti.
Dua sejoli yang jadi mangsanya memang tidak mati, mereka hanya terluka dan masih dalam perawatan dokter. Namun, bukan hal tidak mungkin kalau pembalasan akan jauh lebih kejam dan sangat sadis kan?
Memikirkan hal itu membuat Sulton ingin menangis. Kalau saja ada orang tuanya, dia tidak akan segan datang pada orang tua si gadis untuk meminta maaf. Bahkan dalam kekalutannya, Sulton masih sempat berpikir memilih bertanggung jawab menikahi perempuan itu daripada harus berhadapan dengan murka bapaknya, sang paranormal.
Sulton tercekat. Bayangan hitam yang melayang di atas sungai mencuri konsentrasinya yang sedang ngebut. Meski hanya seperti kabut gelap yang timbul tenggelam mengikuti laju motornya, tapi Sulton merasa seperti dikejar setan. Ketakutan terlihat jelas dari sorot matanya yang selalu mengedar ke sekitar.
Sulton spontan menoleh ke belakang saat merasakan ada hawa aneh datang. Dua cahaya merah terlihat mengejarnya, dan hanya sepersekian detik sudah menghantam punggungnya dengan telak. Sulton menjerit kencang saat sadar di depannya ada satu mobil truk tepat menghadang motornya yang sedang melaju kencang. Tak ayal, tabrakan pun tak terhindarkan.
BRAK!!!
Suara motor Sulton beradu keras dengan truk, berhenti total setelah masuk ke bagian bawah kepala truk dan terlindas ban depan kanan. Sulton dan motornya terjepit, satu raungan keras menggema lalu hening seketika. Mesin mobil terdengar dimatikan lalu dua orang laki-laki turun untuk melihat keadaan.
"Gimana kondisinya, Yan?" tanya pria tambun yang tadi memegang kemudi. Perutnya menghalangi kepala yang hendak menunduk untuk melihat keadaan di bawah mobilnya.
"Kejepit motornya sendiri plus kejepit ban mobil, Lek! Gimana ini, mana tempat sepi jauh penduduk gini. Telepon polisi tah, Lek?" Kernet mobil mengarahkan senter keliling mobil untuk mempelajari keadaan korban.
"Wah bisa jadi masalah ini kalau kita ketangkep pas korban mati begini." Sopir truk mengambil ponsel di saku celana lalu sigap melakukan panggilan.
"Dipenjara ya, Lek? Gimana kalau kita kabur aja?" Kernet mobil bernama Yanto yang merupakan ponakan si sopir mulai gemetar ketakutan. "Orange nggak bergerak sama sekali, pingsan apa mati ya, Lek?"
Setelah menerima jawaban dari orang yang dihubungi, sopir dan kernet truk berusaha memberikan pertolongan pertama pada Sulton. Mereka berdua mulai mengoperasikan dongkrak mobil untuk mengurangi tekanan ban yang melindas motor Sulton.
Sedikit demi sedikit ban terangkat dan Sulton bisa bernafas sedikit lega karena kakinya yang terjepit mulai terasa lagi.
BRAK!!!
Suara bak truk berbenturan dengan sesuatu yang keras membuat kedua orang yang sedang dalam suasana tegang tersebut terkejut.
Hening. Bau wangi kemenyan menyebar dan menghampiri dua orang yang sedang saling pandang. Detik berikutnya, dua bayangan hitam dengan sorot mata tajam muncul dari belakang mobil.
Lutut Yanto bergetar hebat, mulutnya menganga hendak bicara tapi lidahnya kelu. "Uhg, akh … Lek No!"
***
apa ini sukma bambang