spin-off dari novel Menjadi Istri Tuan Muda.
Karena menunggu di kamar seseorang yang menjadi Nyonya Mudanya. Bunga Florencia harus mengalami kejadian yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Dia harus kehilangan kesucian yang dia jaga selama ini.
Maxime Anderson pulang dalam keadaan mabuk dan masuk ke dalam kamar orang yang dicintainya, dan berpikir untuk memilikinya seutuhnya. Tapi tidak pernah dia duga jika gadis yang menghabiskan malam bersamanya adalah gadis lain yang dia ketahui sebagai pelayan pribadi Kakak iparnya.
Karena kejadian itu mereka akhirnya menikah, Akankah keduanya akan sama-sama membuka hati dan membuat cinta akan bersemi diantara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 1PM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Max dan Bunga menatap wanita yang memanggil Maxime.
"Dia lagi," gerutu Max.
Dan Bunga langsung menoleh ke arah suaminya begitu mendengar apa yang dikatakan Max.
Tampak wanita itu mendekat ke arah Max dan Bunga, kemudian menatap Bunga dari atas ke bawah seperti sedang menilainya.
"Hai Max," kata wanita mengulurkan tangannya pada Max.
Max menatap tangan yang terulur itu lama. Hingga uluran tangan wanita itu pun terbalaskan tapi senyum lebar yang dia tunjukkan seketika luntur ketika melihat siapa yang membalas uluran tangannya.
Bunga tersenyum lebar saat membalas uluran tangan wanita itu. Membuat Max tersenyum tipis kemudian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
"Hai, maaf suamiku tidak bisa membalas uluran tangan Anda, karena dia alergi jika menyentuh wanita cantik dan sexy seperti Anda," kata Bunga balas menatap wanita itu dari atas sampai bawah seperti apa yang tadi wanita itu lakukan padanya.
Wanita itu kemudian memaksakan senyumnya dan mencoba melepaskan tangannya dari tangan Bunga, tapi terasa sulit karena Bunga menjabat tangannya dengan erat.
"Anda siapa? Apa aku tidak salah mendengar? Anda jangan mengaku sebagai istrinya, Karena yang kulihat Anda sangat tidak cocok dengannya," kata wanita itu yang kini berbicara dengan Bunga ketus, merasa kesal karena telapak tangannya sangat sakit karena tadi Bunga sengaja mengeratkan tangannya.
"Anda tidak salah dengar Nona, aku istrinya, atau Anda perlu konfirmasi langsung dari suamiku?" Kata Bunga.
Bunga menatap Max harap-harap cemas, dia takut kali ini Max tidak mengakui dirinya sebagai istrinya.
"Please kali ini saja! Katakan jika aku istrimu! Kau tidak akan mempermalukanku kan?" Ucap Bunga sambil menatap Max penuh harap.
"Apa benar apa yang dia katakan Max?" Kata wanita itu mengalihkan pandanganya yang sekarang jadi menatap Max dengan rasa penasaran yang memenuhi pikirannya.
Max terdiam hanya menatap keduanya bergantian. Bunga semakin gugup jawaban apa yang akan diberikan suaminya, jari jemarinya saling meremas kuat ikut merasakan ketegangan yang tiba-tiba meliputi ketiganya.
Bunga hendak pergi dari tempat itu, tiba-tiba tangannya ditarik hingga kepalanya membentur benda keras yang ternyata adalah dada bidang suaminya.
Max melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya dan menempelkan hingga merapat pada tubuhnya.
"Apa yang tadi Anda dengar, benar adanya Nona Gracia. Mari saya perkenalkan secara resmi jika wanita yang disampingku ini memang istriku, kata Max kemudian menggenggam tangan Bunga dan mengecupnya punggung tangannya penuh cinta.
Jawaban yang Max katakan baru saja membuat Bunga tersenyum menang, membuat wanita yang baru Bunga ketahui bernama Gracia itu menggeram kesal. Dam jawaban wanita itu selanjutnya membuat Bunga ternganga.
"Max kamu jangan berbohong! Kau pasti mengatakan itu untuk menghindar kan?" Tanya Gracia tidak percaya atas apa yang baru didengarnya.
"Terserah Anda mau percaya atau tidak Nona Gracia, tapi apa yang saya katakan memang benar adanya, dan apa ada hal lain yang ingin Anda katakan? Jika tidak saya harus pergi sekarang!" Kata Max hendak berlalu.
"Tunggu Max! aku kemari mau mengucapkan terima kasih, karena kamu sudah menghentikan gosip yang kemarin telah beredar," kata Gracia mencegah kepergian Max.
"Tidak masalah Nona Gracia, karena memang itu yang harus saya lakukan, dan Anda jangan merasa senang terlebih dahulu, karena saya melakukan itu semua bukan untuk Anda melainkan untuk istri saya," kata Max kemudian berlalu pergi meninggalkan Gracia dengan menggenggam tangan Bunga lembut hingga menuju tempat dimana mobilnya berada.
Sementara itu Gracia mengepalkan kedua tangannya erat melihat Max lagi-lagi mengabaikannya.
Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, Bunga dan Max lagi-lagi hanya diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Kamu jangan salah paham dengan apa yang tadi aku katakan padanya," kata Max mencoba memecah keheningan.
"Ya, aku tahu," kata Bunga yang memang tahu jika suaminya pasti akan mengatakan itu. Bunga tidak peduli karena yang paling penting suaminya mau mengakui dia di depan orang lain saja, dia merasa itu cukup.
"Bukankah dia seorang model yang digosipkan denganmu kemarin?" Tanya Bunga yang kemudian merutuki kebodohannya dalam hati, karena menanyakan hal itu.
"Kamu melihat gosip itu?" Bukannya menjawab Max justru kembali bertanya.
"Ya, aku melihatnya" jawab Bunga yang kemudian menyandarkan punggungnya menyilangkan kedua tangan di atas perutnya sambil memejamkan mata.
"Apa yang kau pikirkan tentang itu?" Tanya Max lagi.
"Tidak ada," jawab Bunga masih dengan memejamkan matanya.
"Kenapa kau tidak menanyakan kemarin tentang itu?" Tanya Max lagi tapi tidak kunjung-kunjung mendapat jawaban dari istrinya. Hingga kemudian dia menolehkan kepalanya melihat ke samping dimana istrinya berada dan ternyata di dapatinya istrinya kini tampak tertidur.
Max menepikan mobilnya sebentar dan setelah itu dia menurunkan sedikit tempat duduk istrinya, agar istrinya merasa nyaman. Kemudian dia menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.
"Maaf aku mengatakan itu karena aku tidak mau kamu berharap lebih dan bilang jika aku hanya pemberi harapan palsu. Aku juga tidak tahu, kenapa aku mengatakan hal tadi di depan wanita yang terus menggangguku itu. Aku kira aku melakukan itu hanya untuk mengusir wanita itu pergi, tapi sepertinya tidak, ada hal lain yang aku rasakan, yang tidak aku tahu itu apa. Yang aku tahu aku sangat lega saat mengatakan kepada orang lain bahwa kamu adalah istriku," kata Max dalam hati sambil menatap wajah damai istrinya yang kini terlelap.
"Padahal belum lama kamu bangun dari tidurmu, tapi kamu kini sudah terlelap lagi," gumam Max sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Setelah menempuh perjalanan hampir 20 menit akhirnya mereka sampai di depan sebuah gerbang yang tinggi, yang tak lama gerbang itupun terbuka hingga membuat Max langsung masuk hingga di pelataran kediaman orang tuanya yang megah.
Dia melihat ke arah sampingnya, Bunga masih saja tampak nyenyak dalam tidurnya.
Pengawal datang membukakan pintu untuk Max, dan dia pun langsung turun dan mengitari mobilnya ke sisi yang lain, melarang pengawal membuka pintu sampingnya hanya meminta pengawal untuk menunggunya sebentar, selagi dia menggendong Bunga untuk keluar dari dalam mobilnya.
Setelah itu Max, tanpa di suruh pelayan yang tadi membukakan pintu, langsung masuk ke dalam mobil di kursi kemudi dan memasukkan mobil Max ke basement.
Pelayan membukakan pintu agar Max bisa masuk ke dalam dengan Bunga yang masih ada dalam gendongannya.
Stevano dan Jasmine yang sedang asyik menonton drama hanya berdua, karena Alno masih betah di rumah nenek dan kakeknya, langsung menoleh saat mendengar suara langkah seseorang masuk.
"Kak apa yang terjadi pada Bunga?" Tanya Jasmine khawatir saat melihat Bunga dalam gendongan Max.
"Tidak apa-apa dia hanya tertidur," kata Max dengan suara pelan agar tidak mengusik tidur istrinya.
Kemudian Max pun hendak menaiki anak tangga tapi Jasmine mencegahnya.
"Kenapa lagi?" Tanya Max melihat Jasmine menghentikannya.
"Kak Max mau bawa Bunga kemana? Di sana kamar Bunga berada," kata Jasmine menunjuk sebuah kamar tamu. Jasmine sengaja mengatakan hal itu karena dia penasaran dengan jawaban Max selanjutnya.
"Dia tidur di kamar itu?" Tanya Max yang mendapat anggukan dari Jasmine.
"Sudahlah aku akan membawanya ke kamarku saja!" kata Max memutuskan kemudian kembali melangkah menaiki anak tangga.
Jasmine dan Stevano saling pandang, kemudian mereka berdua tersenyum penuh arti menatap kepergian Max.
, , .
,
,