Jika biasanya seseorang dijodohkan dengan orang berbeda levelnya, maka berbeda dengan Seorang pewaris Dari Keluarga Kingston. Aorion kingston di Jodohkan dengan seorang wanita yang jati dirinya disembunyikan, namun wanita tersebut adalah seorang Anak dari Triliuner di London. Alona Queen Hanzel.
Keduanya di jodohkan karna ikatan persahabatan antara keluarga Kingston dan Hanzel.
Dapatkan keduanya menerima perjodohan ini..? hubungan yang dipenuhi dengan begitu banyak intrik dan juga pertumpahan darah.
Ataukah masing-masing dari mereka memiliki takdir yang lain..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Christ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Katakan Rahasiamu
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
"Kau sudah bangun..?" suara Aorion terdengar di indra Queen saat mata gadis itu baru saja terbuka, entah sejak kapan ia tertidur yang pasti tubuhnya kini sudah terasa lebih nyaman.
"Hem, maaf karena membuatmu menunggu lama" Queen merasa tidak enak karena sudah membiarkan Aorion menunggui dirinya yang tertidur entah berapa lama.
"Ayo ku antar kau pulang." suara Aorion terdengar berbeda dari biasanya, entah memang seperti itu atau hanya perasaan Queen saja, ia tidak mau ambil pusing.
"Dimana Jessy, sebaiknya aku berpamitan dulu." Queen bangun dari tempat tidur dan mengambil barang-barang yang ia bawa sebelumnya.
Saat keluar dari kamarnya apartemen itu keadaan sudah sangat sepi, tidak menampakan sosok sang pemilik apartemen di sana.
"Apakah adikmu sudah tidur," tanya Queen yang berlalu begitu saja dengan Aorion yang mengikutinya di belakang.
''Sepertinya begitu.'' sahut Aorion, tak seperti sebelumnya.
Saat keluar dari apartemen, barulah Queen melihat anak buah Aorion yang berjaga disekitaran apartemen mewah milik Jessy.
Aorion membukakan pintu mobilnya untuk Queen lalu menyusul masuk setelahnya. Sepanjang perjalanan Aorion menjadi lebih diam dari sebelumnya.
Karena Aorion tak bicara, maka Queen pun tak memiliki topik yang ingin di bahas. Beruntunglah ponselnya berbunyi, sehingga ia tak harus merasa canggung sepanjang jalan.
David lah yang menghubungi ponsel Queen. ''Ya, ada apa?'' sahut Queen setelah ponsel menempel ditelinga nya. David menanyakan keberadaan Queen seperti biasa; "Aku sedang dalam perjalanan pulang.'' ujar Queen lagi, membuat Aorion mendelik ke arahnya.
"Baiklah, aku akan segera kembali'' kata Queen lagi, lalu menutup panggilan dari David. Ia melirik sekilas kepada Aorion, namun pria itu terlihat begitu fokus pada jalanan.
Queen pun tak ambil pusing, lagi pula apa hubungannya ia dan perubahan wajah Aorion, biarkan saja pria itu dengan perilakunya.
"Apa kalian memang begitu dekat?" Suara Aorion tiba-tiba menginterupsi Queen.
Queen mengerutkan keningnya, "Siapa maksud mu, David..?" sahut Queen, yang di balas anggukan oleh Aorion.
Kenapa dia tiba-tiba bertanya seperti ini? apa dia sedang cemburu..
Memikirkan pertanyaan Aorion membuat Queen tertawa. "Apa kau sedang cemburu, hem?" tanya Queen disela tawanya.
Aorion menyipitkan mata sesaat lalu membuang wajahnya ke luar jendela. "Aku sedang bertanya, bukan sedang cemburu." Sahut Aorion sedikit mendengus kesal dengan sikap Queen yang begitu tidak peka.
"Ya, kami dekat. Itu sudah berlangsung sangat lama, sejak aku berumur tiga belas. Kenapa kau bertanya..?" bukannya jawaban yang Queen dapatkan namun pertanyaan Aorion menjadi bertambah.
"Apa kau menganggapnya sebagai seorang Pria..?" kata Aorion lagi.
"Tentu saja. Bukankah kalian sejenis..?" Queen paham kemana arah pembicaraan Aorion hanya saja menyenangkan baginya untuk melihat sisi Aorion yang seperti ini.
"Aku dan dia jelas berbeda. Aku calon suami mu!" ralat Aorion dengan angkuh.
"Aku tidak pernah mengatakan kau bukan calon suami ku." jawab Queen masa bodoh dengan sikap Aorion yang mulai posesif pada dirinya.
''Jadi kau mengakui aku calon suami mu?" ulang Aorion.
''Bukankah itu memang jelas? Tapi aku tetap tidak akan menikahi mu.'' Entah Queen sengaja atau memang begitulah yang sebenarnya, namun yang pasti, Aorion merasa kesal atas sikap Queen.
''Kau akan menikah dengan ku Lilie, Kita sudah melakukannya. Seharusnya kau tau itu.''
''Itu hanya percintaan satu malam Rion, kita bukan anak kecil. Lagi pula aku bisa mengurus diriku.'' sahut Queen dengan entengnya, membuat Aorion meminggirkan mobilnya, untuk berhenti.
''Kau apa Lilie? bagaimana jika kau hamil, malam itu aku tidak menggunakan pengaman, dan itu pertama kalinya bagi mu, kau harus menikahiku, karena aku yang akan bertanggung jawab pada dirimu.'' jelas Aorion, membuat Queen sedikit terkejut.
''Sepertinya posisi kita terbalik.'' ujar Queen. ''Aku heran mengapa kau yang ngotot untuk menikahi ku, padahal aku yang harusnya melakukan itu, tapi mengingat kau lah prianya, tentu aku akan mengurungkan niat ku untuk menikah.'' Sekali lagi Queen tertawa.
''Kau pikir ini lucu, Lilie? jika kau hamil, aku akan menikahi mu saat itu juga.'' kecam Aorion, lalu kembali melajukan mobilnya.
Hamil? Queen bahkan tak pernah memikirkan tentang itu.
Setelah perdebatan kecil itu, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut keduanya, mereka sama-sama terdiam dan larut dalam keheningan malam sambil melanjutkan perjalanan..
Tak lama kemudian mobil Aorion sudah memasuki gerbang megah kediaman Hanzel.
"Terima kasih untuk hari ini." ucap Queen hendak keluar dari mobil setelah berpamitan pada Aorion, namun dengan cepat tangan pria itu menggenggam tangan Queen, membuat Queen kembali ke posisi nya.
"Apa tidak ada yang ingin kau katakan kepada ku?" Suara pria itu terdengar rendah.
Jantung Queen sudah berdetak tidak karuan, namun ia berusaha tetap tenang. "Tentang apa..?"
Jangan katakan kau sudah tau semuanya.
"Tidak apa-apa, mungkin saja kau ingin mengatakan jika kau akan merindukan ku malam ini." Sahut orion mengalihkan topik.
Belum saat nya ia menuntut penjelasan pada Queen, tidak sampai ia benar-benar menemukan jawaban yang ia inginkan.
Jantung Queen sudah berdegup tak karuan, sangkanya Aorion sudah menemukan rahasia di balik bahunya yang terluka.
"Ya, mungkin saja aku akan merindukan mu" Jawab Queen mengikuti topik yang Aorion berikan.
Perlahan tangan Aorion naik dan berhenti di belakang tengkuk Queen, ia membawa wajah wanita itu lebih dekat padanya, dan ******* lembut bibir Queen.
"Selamat malam." Aorion melepaskan ciumannya dan membiarkan Queen turun dari mobil, setelah wanita itu masuk barulah Aorion melajukan mobilnya meninggalkan kediaman keluarga Hanzel.
Baru saja Queen ingin naik ke kamarnya suara David kembali menginterupsi Queen. "Apa kau baik-baik saja..?" wajah David terlihat cemas.
"Kau terlalu berlebihan Dav. Tidak ada hal buruk yang akan terjadi padaku, tidak selama aku bersama calon suamiku". Jawaban Queen begitu menohok hati David,
Setelahnya, Queen berlalu menaiki tangga menuju ke dalam kamarnya, sementara David juga mengikuti di belakang Queen. "Hal penting apa yang terjadi..?" tanya Queen tanpa basa-basi, pasalnya tadi David menghubunginya karena ada hal mendesak yang ingin David sampaikan langsung padanya.
"Aku hanya ingin kau cepat kembali, aku selalu cemas jika kau bersama pria itu." Jawab David jujur.
Mendengar hal itu sontak membuat Queen berhenti dan berbalik arah pada David sambil berkacak pinggang.
"Apa kau sedang mempermainkan ku..?" tegur Queen yang sudah tampak kesal.
"Bukan seperti itu my Lady, aku hanya mencemaskan mu."
"Jangan pernah lakukan itu lagi" Queen memperingatkan David. Ia benar-benar tidak menyukai sikap berlebihan yang di tunjukan pria itu pada dirinya.
Queen tidak ingin orang lain terlalu ikut campur urusan pribadinya, apalagi harus mencemaskan dirinya seperti yang David lakukan.
Meskipun sejak dulu David memang seperti itu, namun sekarang semakin berbeda bagi Queen, ia tidak ingin ada orang yang mengekang dirinya dengan alasan keselamatan.
Mendengar peringatan Queen membuat David terdiam. Ia tau Queen akan merasa terbebani jika ia terlalu mencemaskan wanita itu, tapi mau bagaimana lagi, David begitu mencintai Queen, dan sangat mengkhawatirkan keselamatan wanita itu.
Jika saja Mr.Abraham tidak menjodohkan Queen, mungkin saat ini sudah menyatakan perasaannya pada Queen dan wanita itu tidak harus bersama dengan pria lain.
...❄️❄️...
"Katakan semuanya." Perintah Aorion pada informan yang saat ini sedang berdiri di hadapannya dengan membawa sebuah rekaman yang sudah ia kumpulkan.
Luca juga berdiri di sana, turut menyaksikan informasi apa yang di bawa orang-orangnya, ia harus memastikan tidak ada kesalahan begitu informasi sampai kepada tuannya.
"inilah yang kami temukan tuan. Hari itu, nona Queen memang tidak berada di dalam cafe seharian. Ia hanya masuk sebentar kemudian pergi melalui pintu belakang, itu keterangan salah satu pegawai di sana. Dan, ini juga rekaman untuk memperkuat hal itu."
Informan itu menyerahkan video yang berisikan Queen keluar melalui pintu belakang kemudian pergi dengan mengendarai mobil lain.
"Kau bisa pergi". kata Aorion yang sudah mendengar langsung informasi yang ia minta.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan? kenapa kau harus pergi dengan cara seperti itu?" Aorion bergumam pada dirinya sendiri.
''Tuan, dari hasil yang saya temukan, nona Queen sepertinya memang mahir menggunakan senjata. Namanya terjadi telah menjadi klien tetap di Akram club selama tiga tahun terakhir.- Mungkinkah nona Queen juga terlibat dengan RED milik Hanzel Grup?" ujar Luca, yang memang sedikit mencurigai hal tersebut.
Aorion mengangguk, sambil mencerna semua informasi yang selama ini sudah ia kumpulkan. ''Akram club,- selidiki lagi keterlibatan di antara Queen dan juga Red, tidak mungkin Kevin membiarkan Queen ikut di dalam kelompok tersebut.''
Sekali lagi, semua kemungkinan memang bisa saja terjadi, namun apapun itu, Aorion harus berhati-hati.
...❄️❄️...
...Mension Hanzel.....
"Ayah, kenapa pulang begitu larut..?" tanya Queen pada Abraham yang baru saja kembali ke mension.
"Oh, Lilie, kapan kau datang sayang?" Abraham menghampiri Queen untuk memeluk dan mencium kening putrinya.
"Kemarin, bersama Rion." sahut Queen.
Abraham tersenyum mendengar hal itu, putri ya kini sudah semakin akrab dengan calon menantu nya.
''Bawa Aorion untuk makan siang bersama besok, Ayah ingin bicara padanya?" pinta Abraham pada Queen.
"Oh. maafkan aku Ayah, besok aku harus kembali ke singapore, pekerjaan ku menanti di sana, lagi pula aku hanya berkunjung sebentar bukannya untuk liburan." sahut Queen dengan sebenarnya.
Kini Queen sudah kembali menjadi dirinya yang workaholic, membuat Abraham hanya menggelengkan kepala singkat.
"Baiklah kalau begitu, kau sebaiknya istirahat" Abraham mencubit pelan hidung mancung putrinya.
"Baiklah Ayah, kau juga harus lebih banyak beristirahat, selamat malam." pamit Queen, sekali lagi memeluk ayahnya. ''Terimakasih untuk semuanya Ayah. Aku mencintai mu.- Selamat malam.''
"Ayah juga mencintaimu, selamat malam sayang."
Saat tiba di kamarnya, Queen mengirimkan pesan pada Aorion, yang mengatakan jika besok ia akan kembali bersama David dengan penerbangan pertama.
...❄️...
...❄️...
...❄️...
dan perasaaan cinta David yg TDK bersambut.
oleh queen.tapi...
selamanya sahabat sejati...tiada yg mengkhianati.semuanya selesai dg baik dan masing masing dpt menerima keputusan nya.
senang lihat queen bersatu dg Rion.
pokoknya ceritamu thort....
membuatku termehek mebel..
syukurlah ternyata bukan.
Hidup memang misteri....
yg penting kita jalani aja semampu kita.
aku suka karyamu thort.
TDK membosankan bcnya.
penuh misteri...ada juga lucunya...🥰🥰🥰
bukan rion
aku curiga...
tapi kenapa dia melindungi qieeen
atau taktiknya aja
ku rasa Romero adalah megguel
ceritamu kerennn thort
cuma aku ngga tau siapa kamu thor...
kurang jelas
rahasia apa di balik pertunangan queen dan Rion...