Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Sang Dalang
Angin malam berhembus membawa bau tembaga yang pekat dari tiga mayat ksatria di tanah. Valerius berdiri membatu, menikmati keheningan absolut yang tersisa setelah simfoni jeritan kematian Rurik berakhir.
Matanya yang hitam kelam menatap sisa-sisa darah segar di bilah pedang tumpulnya. Rasa hangat dari darah musuh itu membangkitkan kenangan lama tentang eksekusi-eksekusi rahasia yang pernah ia perintahkan di dunia asalnya.
Di dunia lamanya, ia adalah dalang bayangan yang tidak pernah sekalipun mengotori tangannya sendiri. Kekuasaan baginya adalah tentang membuat orang lain membunuh untukmu, sementara kau duduk nyaman menyesap anggur merah di ruang kedap suara.
Namun di Benua Aethelgard ini, ia menemukan jenis kepuasan primitif yang secara aneh terasa sangat memabukkan. Merasakan daging terkoyak dan tulang patah di bawah tangannya sendiri memberikan sensasi kendali yang absolut atas takdir seseorang.
Layar merah sistem tiba-tiba muncul menyala, memecah lamunannya dengan suara dengungan mekanis yang dingin.
[Misi 'Darah Dibayar Darah' (Tahap 1) Berhasil Diselesaikan.]
[Hadiah Penyelesaian: +200 Poin Dosa, Pemulihan Stamina 100%, Peningkatan Kapasitas Mana Maksimal.]
Cahaya keemasan tiba-tiba meresap ke dalam pori-porinya, mengusir rasa lelah yang sempat menggerogoti otot-otot tubuh barunya. Valerius menghela napas panjang, merasakan energi murni mengalir seperti sungai deras di dalam setiap pembuluh darahnya.
Ia menunduk menatap mayat Kaelen yang matanya masih melotot ngeri seolah melihat neraka terbuka. Dengan gerakan tanpa emosi, ia berjongkok dan merampas pedang baja panjang yang masih tergenggam erat di tangan ksatria mati itu.
Pedang baja itu jauh lebih ringan dan seimbang dibandingkan senjata tumpul rongsokan yang ia gunakan sebelumnya. Ia juga melucuti jubah pelindung Kaelen yang terbuat dari bulu serigala malam yang tebal dan hangat.
Jubah itu masih berbau keringat dingin dan ketakutan sang ksatria pengecut tersebut. Valerius memakainya dengan santai, menganggapnya sebagai piala pertama dari kemenangannya pada malam berdarah ini.
"Dunia ini sangat jujur dalam menunjukkan wujud aslinya," gumam Valerius sambil menatap bulan ganda di langit ungu. "Yang kuat akan selalu memangsa, dan yang lemah hanya bisa memohon di bawah lutut yang menginjak leher mereka."
Valerius mulai melangkah meninggalkan area pembantaian itu tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Sepatu botnya menginjak lumpur hitam tebal dan tulang-belulang yang berserakan di sepanjang jalan setapak Lembah Tengkorak.
Lembah ini bukan sekadar kuburan masal yang terlupakan, melainkan monumen keputusasaan yang sengaja ditinggalkan oleh para dewa dan manusia. Setiap udara yang ia hirup terasa sangat berat, dipenuhi oleh sisa-sisa kutukan dari ribuan jiwa yang mati penasaran.
Bagi penduduk normal Benua Aethelgard, tempat ini adalah mimpi buruk nyata yang bisa membuat pikiran mereka gila dalam semalam. Namun bagi pikiran bengkok seorang Valerius, aura kematian murni di sini terasa seperti pelukan hangat dari seorang ibu tua.
Ia terus menggunakan skill Mata Penilai Iblis secara pasif selama perjalanannya melintasi lembah. Dunia di sekitarnya berubah menjadi kanvas hitam putih yang mengerikan, dengan pendaran energi kehidupan dan bahaya yang menyala samar.
Pohon-pohon mati yang menjulang tinggi di sisi jalan tampak seperti tangan-tangan kerangka raksasa yang mencoba menggapai langit malam. Semak berduri yang tumbuh liar di sekitarnya menyimpan racun pekat yang bisa melumpuhkan seekor beruang gunung dalam hitungan detik.
Valerius berjalan dengan tingkat kehati-hatian layaknya seorang pembunuh bayaran veteran yang sedang mengintai targetnya. Ia sama sekali tidak terburu-buru, membiarkan tubuh barunya beradaptasi secara sempurna dengan aliran Mana dari alam sekitar.
Tiba-tiba, insting memburunya berteriak keras memberikan peringatan bahaya yang sangat mematikan di dalam otaknya. Bulu kuduk di belakang lehernya berdiri tegak, merespons tatapan mengancam dari dalam kegelapan pekat di depannya.
Sebuah bayangan raksasa terlepas perlahan dari dinding tebing batu hitam di sebelah kanannya. Suara geraman rendah yang sanggup menggetarkan tanah terdengar menggema, memancarkan niat membunuh yang sangat murni dan primitif.
Dua mata kuning terang menyala tajam di balik kabut beracun Lembah Tengkorak. Mata buas itu memancarkan rasa kelaparan luar biasa yang seolah telah dipendam selama ratusan tahun di neraka.
Makhluk itu melangkah maju membelah kabut, memperlihatkan wujud aslinya di bawah siraman cahaya bulan perak. Itu adalah seekor Cakar Malam, monster mutan perbatasan yang memiliki bentuk mengerikan seperti macan kumbang bersisik baja tebal.
Ukurannya sangat tidak masuk akal, dua kali lipat lebih besar dari kuda perang lapis baja milik prajurit elit. Ekornya memanjang seperti pecut, diakhiri dengan duri tulang beracun yang terus berayun agresif mencari celah kelemahan mangsanya.
Monster itu mendengus keras, mengeluarkan uap panas yang berbau seperti tumpukan daging busuk langsung dari moncongnya. Ia menatap Valerius bukan sebagai sebuah ancaman, melainkan sekadar sepotong daging segar berdarah yang kebetulan lewat di teritorialnya.
Valerius tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut yang diharapkan oleh sang monster. Ia justru tersenyum lebar, sebuah senyuman asimetris yang memancarkan kegilaan terkendali dari seorang psikopat sejati.
Di mata hitam Valerius, monster raksasa ini hanyalah sebuah karung berisi tumpukan Poin Dosa yang sedang berjalan ke arahnya. "Kau menatapku seolah aku adalah hidangan penutup yang manis," bisik Valerius seraya mencabut pedang baja barunya dari sarungnya.
Cakar Malam itu meraung memekakkan telinga, melompat menerkam dengan kecepatan kilat yang tidak sebanding dengan tubuh besarnya. Mulutnya yang penuh deretan taring setajam silet terbuka sangat lebar, mengincar leher rentan Valerius untuk memutuskan nadinya.
Alih-alih menghindar ke samping atau mundur dengan panik, Valerius merendahkan tubuhnya hingga berlutut menyentuh tanah. Ia membiarkan bayangan besar monster yang melayang itu melintas dengan sangat dekat, tepat di atas kepalanya.
Dalam sepersekian detik yang krusial itu, Valerius mengayunkan pedangnya ke atas dengan mengerahkan seluruh kekuatan fisiknya. Bilah baja itu bergesekan keras dengan sisik tebal di perut monster tersebut, menciptakan percikan api terang di udara malam.
Kulit perut monster itu berhasil robek secara dangkal, meneteskan darah hitam pekat yang langsung mendesis saat menyentuh tanah. Cakar Malam itu mendarat dengan canggung dan tergelincir, melolong sangat marah karena rasa sakit yang sama sekali tidak ia duga.
Rasa laparnya yang rakus kini tergantikan sepenuhnya oleh amarah buas yang meledak-ledak. Monster itu memutar tubuh besarnya dengan cepat, mengayunkan ekor berdurinya ke arah kepala Valerius seperti sebuah cambuk pemecah batu.
Valerius bereaksi cepat menangkis serangan brutal itu dengan sisi datar bilah pedangnya. Benturan keras tak terelakkan terjadi, membuat kedua lengan Valerius mati rasa sejenak akibat kekuatan fisik sang monster yang mengerikan.
Tubuh Valerius terdorong mundur hingga beberapa langkah ke belakang, sepatu botnya menggores tanah berlumpur dalam-dalam. Ia segera menyadari bahwa pertarungan adu kekuatan fisik murni melawan binatang ini bukanlah pilihan yang bijak bagi tubuh barunya.
Ia harus menghancurkan mental dan rasa percaya diri makhluk ini terlebih dahulu sebelum membunuhnya. Valerius menatap tajam langsung ke mata kuning monster itu, memancarkan niat membunuhnya yang jauh lebih pekat, dingin, dan kelam.
"Kau hanyalah seekor binatang buas menyedihkan yang digerakkan semata-mata oleh insting dasar," ucap Valerius dengan nada pelan dan mengejek. "Dan insting pertama yang diajarkan alam saat kau terluka adalah sebuah ketakutan absolut."
Valerius memfokuskan skill Mata Penilai Iblis untuk memindai mencari titik anatomis terlemah dari lawannya. Sebuah aura merah terang tiba-tiba berkedip-kedip di sekitar sendi kaki kiri belakang monster bersisik tersebut.
Cakar Malam itu kembali menerjang ke depan, kali ini dengan pola serangan yang jauh lebih brutal, cepat, dan acak. Cakar-cakar depannya merobek udara malam, meninggalkan jejak angin tajam yang sanggup mengiris batu menjadi dua.
Valerius bergerak menari lincah di antara serangkaian serangan mematikan itu dengan keanggunan seorang penari yang mengerikan. Jubah kulit serigalanya robek tersambar angin di beberapa bagian, namun tidak ada satu pun cakar maut yang berhasil menyentuh kulitnya.
Ia terus menghindar, menunggu momen yang paling tepat dengan kesabaran mematikan layaknya seorang eksekutor hukuman gantung. Saat monster raksasa itu mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi untuk bersiap melakukan serangan pamungkas, Valerius melesat maju.
Ia menyelinap masuk ke dalam sudut kebutaan di bawah perut monster itu dengan kelincahan yang terasa mustahil. Dengan satu tebasan presisi yang mematikan, pedangnya menebas sangat dalam ke arah sendi kaki kiri belakang yang sedari tadi memancarkan aura merah.
Tendon yang tebal dan tulang sendi terputus seketika, diiringi suara retakan basah yang sangat memuakkan telinga. Cakar Malam itu seketika kehilangan daya topang keseimbangannya, jatuh menghantam tanah keras dengan raungan kesakitan yang menyayat hati.