Adzkia Laila Tamin, kerap di sapa Laila. Gadis cantik dan periang. Ia jatuh cinta pada seorang pemuda yang bernama Fajri. Fajri adalah seorang pemuda yang begitu tampan dan berkarisma.
pertemuan awalnya dengan Fajri membuat
Laila sangat terhipnotis dengan semua yang dimiliki Fajri. Sampai dia tidak bisa lagi membendung perasaannya.
Pada saat yang tiba Fajri di minta oleh ayah Laila menjadi supir pribadinya. Saat itulah Laila sering bertemu dengan Fajri. Semakin hari Laila tidak bisa lagi membendung perasaannya sehingga memberanikan diri megungkapkan perasaannya. namun ternyata, Fajri bukan Ia menolak atau menerima sehingga Laila merasa dipermainkan.
Bagaimanakah sebenarnya perasaan Fajri pada Laila?
Dan kankah cinta Fajri, Laila dapatkan?
Simak kisah mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Masrianiani Hijab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 Laila geram pada karyawan ayahnya
Hari pertama bagi Laila menginjakkan kaki di kantor ayahnya, rasa tak percaya dan kagum melihat kantor ayahnya ternyata begitu besar.
Wajar saja jika karyawan di kantor ayahnya tidak ada yang mengenali Laila, karena David Tamin memang sengaja menyembunyikan identitas keluarganya, dengan alasan takutnya ada orang yang mengambil keuntungan lewat keluarganya untuk menghancurkannya.
"Kamu yakin kita akan kerja disini?" Mala dan Rani terus mengikuti langkah kaki Laila.
Semua mata menatap tiga wanita itu. tampaknya beberapa karyawan mulai berbisik. karena Penampilan Laila yang mengenakan hijab dan baju syar'i.
Sampai di lantai enam Laila bertanya dimana ruang direktur. Pegawai di sana melihat Laila dan dua sahabatnya dari atas sampai bawah.
"Maaf, ada yang salah dengan pakaian kami?"
" Maaf, anda siapa? dan maaf sebelumnya kami tidak bisa menunjukkan ruang direktur jika anda belum membuat janji dengan beliau." resepsionis itu menghadang Laila dan sahabatnya.
"Apa? kalau misalkan saya mengatakan jika saya keluarga direktur apa bisa saya bertemu dengan beliau?" Laila bertanya
Resepsionis itu kembali melihat Laila, tampak terdengar dibelakang Laila membicarakan dirinya.
" Masa iya sih..... keluarga seorang direktur penampilan seperti itu, gak salah tuh."
Laila berbalik dengan tatapan begitu menusuk jantung. Terus melangkah dan mendekati wanita yang menggunjing dirinya sedari tadi.
"Laila tersenyum. "Jangan terlalu mementingkan semua pakaian bermerek Anda, karena yang dibawa mati hanya kain kafan. Riasan terbaik adalah senyuman. Perhiasan terbaik adalah kerendahan hati. Pakaian terbaik adalah kepercayaan diri dan aku percaya diri dengan diriku sendiri bukan jadi orang lain. jadi, tolong jangan merendahkan orang lain hanya karena melihat segi penampilan mereka. Sekarang saya bertanya pada anda apakah di kantor ini ada aturan dilarang seorang tamu memakai syar'i datang kemari?"
Mala dan Rani hanya tersenyum melihat Laila menceramahi karyawan ayahnya. mereka tidak sadar siapa Laila sebenarnya.
"Kenapa kalian diam?" Laila mengeraskan suaranya membuat karyawan lainnya menoleh dan penasaran ada apa.
Seorang anak magang wanita berkacamata datang dan menenteng begitu banyak pesanan makanan. Laila melihat terus gerak gerik anak magang itu tampak seperti pelayanan restoran membagikan makan pada karyawan lainnya.
"Oh...... jadi sepertinya, disini anak magang dijadikan budak, bagus betul peraturan kantor ini." Laila begitu geram.
" Seorang karyawan wanita berdiri dan menghampiri Laila karena merasa tidak terima perkataan Laila. "Hei..... kamu siapa, mau protes? disini anak magang harus mematuhi perintah kami dan kami tidak memaksanya."
" Ya... kamu tidak memaksanya secara langsung." Laila tampak semakin geram.
Wanita berkaca mata itu datang dan menghampiri Laila
Dari jarak jauh sekertaris Haris dan Fajri yang baru tiba dari meeting tampak penasaran dengan sosok wanita berhijab. sekretaris haris melihat dengan jelas.
"itu kan tuan putri." lirih Sekretaris Haris. Fajri menoleh.
" Tuan putri maksudmu?" Fajri menimpali.
"Coba lihat, bukankah itu putri direktur? "
" Fajri melihat dan tidak percaya sepenuhnya jika itu adalah Laila.
Sekertaris Haris terus berjalan bersama Fajri dan mendengar semua perkataan Laila.
"Maaf nona saya mau sendiri kok melakukan ini." sahut wanita berkacamata itu tampak ketakutan.
"Apa, kau yang mau? kenapa kamu begitu tenang saat orang-orang disini merendahkan dirimu. Kau disini untuk magang bukan sebagai pembantu. Jangan pernah merendahkan diri sendiri untuk menghormati orang lain, aku heran orang kantor disini."
"Jaga ucapan kamu nona." wanita itu hendak menampar Laila.
Sebuah tangan kokoh menghentikan dan menghempaskan dengan keras tangan itu. Laila membuka matanya dan melihat siapa dibelakangnya.
" Apa kamu tidak sadar, dan apa kamu tahu siapa dia?
wanita itu dan semua karyawan di sana bungkam juga penasaran maksud perkataan Fajri.
"Dia adalah.....
" Aku bukan siapa-siapa." potong Laila. "tapi aku adalah manusia yang masih punya hati, terimakasih." ucap Laila melihat Fajri.
Entah mengapa saat didekat Laila detak jantung Fajri berdenyut secara tiba-tiba. sampai dia tidak tahu mau berkata apa. mungkinkah karena rasa kagum?
Sekertaris haris menundukkan kepala pada Laila dan segera mencairkan suasana.
"Mari tuan putri saya antar keruang direktur." sekertaris haris mempersilahkan Laila membuat para karyawan di sana bertanya pada diri sendiri siapa sebenarnya perempuan itu sampai sekertaris Haris dan tuan Fajri begitu menghormatinya.
"Baiklah, tapi beri peringatan dengan ketat perusahaan ini agar tidak Semena-mena pada orang lain.
Saat Laila berlalu. semua karyawan di sana bertanya siapa wanita tadi.
" Aku memiliki firasat aneh. Jangan-jangan dia putri direktur. oh.... astaga......" sahut karyawan di sana membuat karyawan wanita tadi yang hampir menampar Laila dan pegawai yang satunya terlihat ketakutan.