Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Pagi hari berikutnya, tepat pukul delapan, limosin hitam mewah milik Adhitama Group benar-benar sudah terparkir di depan lobi apartemen Alana.
Sesuai dengan perintah mutlak Devran, Alana dan Leo dibawa langsung bukan ke kantor pusat, melainkan ke sebuah restoran privat di lantai teratas gedung pencakar langit milik keluarga Adhitama yang telah dikosongkan seluruhnya untuk mereka.
Aroma kopi arabika yang pekat berpadu dengan wangi bunga lili putih di tengah meja.
Devran duduk dengan setelan jas hitamnya yang sempurna, sementara di hadapannya, Alana menatap pria itu dengan pandangan yang sarat akan pertahanan.
Di sudut ruangan, Leo sedang asyik bermain dengan tablet militer barunya, ditemani oleh dua orang pelayan yang menyajikan es krim buah.
"Minum kopimu, Alana. Kamu tampak tidak tidur semalam," ucap Devran memecah keheningan, suaranya berat dan tenang seperti biasa.
"Aku tidak bisa tidur di tempat yang pintunya bisa dibuka kapan saja oleh orang asing, Tuan Adhitama," sindir Alana tajam, membiarkan cangkir kopinya tetap mengepul tanpa disentuh.
"Langsung saja pada intinya. Mengapa kamu membawaku ke restoran kosong ini?"
"Jika ini tentang progres desain Bali, aku bisa menyerahkan laporannya pada Reno."
Devran meletakkan cangkir kopinya perlahan, menimbulkan bunyi dentingan halus di atas piring porselen.
Pria itu memajukan tubuhnya, menumpukan kedua tangannya di atas meja kaca, menatap Alana dengan intensitas yang menekan.
"Ini bukan tentang Bali, Alana. Ini tentang masa depan kita. Lebih tepatnya, tentang masa depan Leo," ujar Devran datar.
Alana seketika menegang, tangannya mengepal di bawah meja.
"Apa maksudmu? Leo sudah sembuh. Dia tidak butuh apa-apa lagi dari keluarga Adhitama."
"Dia butuh, Alana. Dan kamu tahu itu dengan sangat baik," sahut Devran, matanya menyipit tajam.
"Adrian baru saja menyerahkan laporan medis lanjutan subuh tadi. Kelainan genetik rhesus negatif dan struktur antibodi langka milik Leo membuatnya rentan terhadap syok anemik berulang jika dia mengalami kelelahan atau stres psikologis."
"Dia membutuhkan lingkungan dengan fasilitas medis darurat tingkat pertama yang selalu siap dua puluh empat jam. Sesuatu yang tidak akan pernah bisa kamu berikan di dalam apartemen sempitmu itu."
"Aku bisa membawanya kembali ke Swiss! Fasilitas medis di sana jauh lebih baik!" balas Alana dengan suara yang mulai meninggi, menahan kepanikan.
"Dengan paspor yang masih ada di dalam saku jas jaksaku? Jangan mimpi, Alana," desis Devran dingin, sebuah senyuman tipis penuh kemenangan muncul di bibirnya.
Pria itu kemudian merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah map dokumen hukum berkulit hitam, lalu menggesernya ke hadapan Alana.
"Karena itu, aku menawarkan sebuah solusi yang paling logis untuk kita semua. Pernikahan kontrak resmi."
Alana tertegun, matanya membelalak sempurna seolah baru saja mendengar petir di siang bolong.
"P-Pernikahan kontrak...? Kamu gila, Devran?!"
"Baca pasalnya sebelum kamu menghakimiku," perintah Devran tenang.
"Pernikahan ini akan berlangsung secara legal di mata hukum dan agama. Kamu akan mendapatkan status penuh sebagai istriku, akses tanpa batas ke seluruh fasilitas medis Adhitama Medical Center untuk Leo, dan perlindungan keamanan mutlak dari unit khususku."
"Alasan resminya di depan publik dan dewan komisaris adalah demi kesehatan dan stabilitas masa depan anak."
Alana tertawa getir, sebuah tawa yang sarat akan rasa sakit dan penghinaan. Ia mendorong map hitam itu menjauh tanpa berniat membukanya sedikit pun.
"Demi kesehatan Leo? Alibi yang sangat indah, Devran Adhitama!"
"Kamu benar-benar seorang pebisnis ulung yang bisa mengemas keegoisanmu menjadi sebuah aksi kemanusiaan!"
"Ini adalah kesepakatan terbaik untukmu, Alana. Kamu mendapatkan jaminan keselamatan anakmu, dan aku memastikan darah dagingku berada di tempat yang semestinya," kata Devran, suaranya tetap datar meskipun rahangnya sedikit mengetat mendengar penolakan Alana.
"Darah dagingmu?!" Alana berdiri dari kursinya, napasnya memburu, matanya berkilat penuh amarah yang meledak-ledak.
"Akhirnya kamu mengatakannya, kan? Kamu menawarkan pernikahan kontrak ini hanya karena kamu ingin menguasai Leo!"
"Kamu ingin mengikatku dalam pernikahan palsu agar publik tidak mengendus skandal masa lalu kita!"
"Alana, kecilkan suaramu. Leo ada di sana," tegur Devran, melirik ke arah sudut ruangan di mana Leo tampak pura-pura tidak mendengar namun jemarinya telah berhenti bergerak di atas layar tablet.
"Aku tidak peduli, Devran! Aku menolak! Aku menolak keras tawaran konyolmu ini!" teriak Alana dengan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya.
Devran ikut bangkit berdiri, tubuh jangkungnya menjulang, memberikan tekanan visual yang intimidatif bagi Alana.
"Beri aku satu alasan yang masuk akal, Alana Kirana. Mengapa kamu menolak jaminan hidup mewah dan aman untuk anakmu sendiri?"
"Apakah egomu jauh lebih penting daripada nyawa Leo?"
"Alasannya sangat sederhana, Devran!" Alana melangkah maju, menatap langsung ke dalam sepasang mata elang Devran dengan keberanian yang luar biasa.
"Karena aku tidak ingin menjadi bayang-bayang Siska Lorenza di dalam rumahmu!"
Suasana di restoran privat itu mendadak membeku. Kata-kata Alana seolah menghentikan seluruh pasokan udara di sekitar mereka.
Devran mengerutkan dahinya rapat-rapat. "Siska? Apa hubungannya wanita gila itu dengan pernikahan kita?"
"Hubungannya sangat besar, Devran!" Alana mencengkeram tepi meja dengan tangan yang gemetar hebat.
"Selama lima tahun ini, seluruh Jakarta tahu bahwa Siska adalah calon tunanganmu. Kamu membawanya ke mana-mana, kamu membiarkan dia bertingkah seolah dia adalah calon ratu di Adhitama Group!"
"Dan sekarang, setelah kamu menendangnya ke penjara, kamu ingin membawaku masuk ke dalam mansionmu lewat pernikahan kontrak?"
Alana menarik napas dalam-dalam, air matanya akhirnya luruh melewati pipinya yang tirus.
"Aku tahu bagaimana cara kerja duniamu, Devran. Publik akan mengira aku adalah wanita simpanan yang berhasil mendepak Siska karena memanfaatkan anak ini!"
"Aku akan dicap sebagai pelakor, sebagai wanita oportunis yang haus harta!"
"Dan yang paling membuatku muak... di dalam pernikahan kontrak itu, aku hanya akan menjadi boneka pengganti posisi Siska demi menjaga nama baik silsilah keluargamu agar tetap terlihat bersih di mata kakek buyutmu!"
Devran menatap Alana dengan tatapan yang sangat rumit.
Amarah karena penolakan Alana mendadak luluh ketika ia melihat kerapuhan dan luka mendalam yang tersembunyi di balik kata-kata wanita itu.
Alana tidak sedang menolak perlindungan untuk Leo, wanita itu sedang mempertahankan sisa harga dirinya yang telah hancur lima tahun lalu akibat konspirasi keluarganya.
"Aku bukan Siska, Devran," bisik Alana, suaranya bergetar hebat penuh penekanan.
"Dan aku tidak akan pernah sudi membiarkan anakku tumbuh di dalam sebuah keluarga yang menganggap pernikahan sebagai transaksi bisnis di atas kertas kontrak."
"Aku lebih baik hidup miskin di apartemenku daripada harus menjadi Nyonya Adhitama palsu yang hidup di bawah bayang-bayang masa lalu wanitamu yang lain."
Devran terdiam seribu bahasa. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, argumen bisnisnya yang logis dipatahkan sepenuhnya oleh prinsip moral seorang wanita.
Pria itu menatap map hitam di atas meja, lalu kembali menatap Alana yang kini sedang menghapus air matanya dengan kasar.
Di sudut ruangan, Leo perlahan meletakkan tabletnya. Bocah kecil itu berjalan mendekat, lalu menggenggam jemari dingin Alana.
Ia mendongak menatap Devran dengan pandangan yang sangat dewasa untuk anak seusianya.
"Om seram... maksudku, Papa," panggil Leo, sengaja menggunakan kata panggilan itu untuk meredam ketegangan.
"Taktik negosiasimu kali ini benar-benar gagal total. Sebagai seorang CEO, Papa sangat payah dalam memahami perasaan seorang wanita."
Devran mengembuskan napas panjang, menunduk menatap putranya, lalu beralih menatap Alana yang langsung memalingkan wajahnya ke arah jendela besar.
"Kontrak ini tidak akan kubatalkan, Alana. Dokumen ini akan tetap berada di sini," ucap Devran dengan nada suara yang melembut, kehilangan seluruh keangkuhannya.
Ia mengambil map hitam tersebut dan memasukkannya kembali ke balik jasnya.
"Aku akan memberimu waktu untuk berpikir. Tapi ingat satu hal, aku tidak pernah menganggapmu sebagai pengganti siapa pun."
"Dan aku akan membuktikan padamu bahwa pernikahan ini sama sekali bukan transaksi bisnis seperti yang ada di dalam kepalamu."