Dua puluh tahun berlalu, Zaki dan Adhelia sudah hidup berbahagia bersama kedua putra mereka Farel Al Farabi, dan Muhammad Fathan Al Farabi. Kebahagiaan keluarga mereka semakin lengkap dengan adanya Mutiara Salsabilla, putri bungsu Bi Ita yang sudah dianggap anak oleh Zaki dan Adhelia.
Zaki dan Adhelia sudah berencana menjodohkan Farel dengan Tiara. Namun sayangnya Farel justru tewas dalam kecelakaan satu hari sebelum pernikahan digelar. Akhirnya, Fathan si bungsu memutuskan untuk menggantikan posisi kakaknya : Menikah dengan Tiara.
Nb : Kisah ini hanya fiktif dan murni hasil pemikiran penulis. Jika ada kesamaan peristiwa, waktu dan tempat kejadian itu hanya kebetulan semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Trie Afni Ramadhany II, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Adhelia menatap tajam pada Zaki, kemudian mendengus kesal.
"Baiklah, itu artinya aku harus mengabdi kepadamu seumur hidupku. Itu kan yang ingin kamu katakan? Gak perlu diperhalus dengan bahasa yang sok sweet."
Ucap Adhelia dengan nada sarkas.
Zaki menggeleng perlahan sambil menatap Adhelia dengan tatapan sendu.
Astaghfirullah Adhel.. Kenapa hati kamu begitu keras. Kenapa kamu tidak bisa melihat sedikitpun ketulusanku. Apakah kamu tidak melihatnya dari sorot mataku, apakah kamu tidak mengerti bahwa aku mencintai kamu.
Aku hanya ingin membimbing kamu menjadi wanita soleha, seperti amanah yang di cita-citakan orangtua kamu. Aku ingin pernikahan ini menjadi ladang pahala bagi kita, dan mendekatkan kita ke surga.
Batin Zaki.
"Kenapa kamu memandangku begitu? Apakah kamu pikir dengan tatapanmu itu bisa membuatku luluh?
Jika itu wanita lain, mungkin iya mereka akan lumer dengan tatapanmu itu.
Tapi itu tidak berlaku terhadapku. Kamu harus ingat, aku ikut denganmu ke kota ini karena kekeliruanku. Jangan berpikir yang lebih dari itu. Dan satu lagi, aku sama sekali tidak bisa memasak dan mengurus rumah. Jadi kalau kamu.."
"Aku sudah meminta yayasan penyalur ART untuk mengirimkan orang.
Kamu gak perlu khawatir soal itu."
Jawab Zaki memotong ucapan Adhelia kemudian menduluinya masuk kedalam rumah tanpa berkata apapun.
"Ruangan ini akan jadi kamar kamu. Aku akan tidur di kamar lain. Kamu gak perlu takut aku akan melakukan hal aneh kepadamu, lagipula aku tidak selalu tidur dirumah. Aku lebih senang ber i'tikaf di masjid."
Ujar Zaki sambil membuka salah satu pintu ruangan yang agak luas.
"Karena belum ada perabotan, untuk sementara kita akan menginap di hotel."
Adhelia mendelik menatap Zaki.
"Kenapa, kamu mau tidur di lantai? Kalau memang kamu mau tidur di lantai silahkan, tapi dirumah ini juga belum ada listrik."
Ucap Zaki sambil menunjuk ruangan yang masih kosong melompong.
Adhelia menelan ludah.
"Hei.. Kita tidak akan tidur di kamar yang sama kan?"
Tanya Adhelia berusaha memastikan.
"Kenapa, ada masalah dengan itu?
Kamu istriku kan? Lagipula kita sudah tidur satu kamar saat dirumah ayahmu."
Zaki menatap Adhelia dengan sorot mata tajam.
Adhelia mundur beberapa langkah hingga tubuhnya tersudut di tembok ruangan sedangkan Zaki semakin menghimpit tubuhnya.
Kedua tangannya ditopangkan pada tembok dan mengunci tubuh Adhelia dihadapannya.
"Kamu mau apa? Hei, jangan macam-macam denganku atau aku akan teriak."
Ancam Adhelia.
"Lalu apa yang akan kamu katakan jika orang-orang datang, hm?
Apa kamu akan mengatakan aku mencoba melecehkanmu?
Kau lupa kalau aku suamimu yang sah?"
Zaki masih menatap Adhelia dengan sorot mata tajam.
Kesabaran itu memang tidak ada batasnya. Namun kemampuan manusia menahan kesabaran itulah yang terbatas. Dan saat ini Zaki sebagai manusia dan lelaki biasa, sedang berada di ambang batas kemampuannya.
Tubuh Adhelia bergetar, wajahnya tampak pucat.
Kilasan peristiwa saat di kamar hotel bersama Ricky kembali terbayang dibenaknya.
Secara spontan Adhelia langsung mendorong tubuh Zaki dengan keras.
"Pargi! Pergi Ricky! Tolong jangan lakukan ini padaku. Pergi!"
Adhelia kembali meracau.
Dengan sigap Zaki meraih pergelangan tangan Adhelia dan menarik istrinya kedalam pelukannya.
Zaki mendekap tubuh Adhelia dengan sangat erat.
Dia merasa sangat bersalah telah membuat Adhelia ketakutan dan malah berakhir seperti ini.
"Maaf. Maafkan aku. Adhelia, jangan seperti ini."
Adhelia masih meracau sambil berusaha berontak melepaskan diri, namun tenaganya kalah jauh dibandingkan tenaga Zaki.
"Ssst. Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin menjagamu. Kamu tidak perlu takut lagi. Ricky tidak akan berani mengganggu kamu karena aku yang akan melindungi kamu. Jangan takut."
Kemudian Zaki melantunkan ayat suci Al-Qur'an.
Entah kenapa, Adhelia merasa sangat tenang saat Zaki memeluknya. Apalagi saat dia mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan oleh Zaki, dia merasa semua bebannya hilang begitu saja.
"Ricky jahat.. Aku takut sama Ricky. Ricky jahat. Suruh dia pergi. Usir dia."
Ucap Adhelia dengan lirih sebelum akhirnya tertidur dipelukan Zaki.
"Adhelia, tenanglah. Kamu tidak perlu takut. Aku ada disini, aku akan melindungi kamu. Kalau Ricky mengganggumu lagi, katakan padaku. Biar aku yang akan memberinya hukuman, seperti yang dulu selalu dilakukan grandpa pada anak-anak lain yang menjahilimu."
Gumam Zaki sambil mengecup kening Adhelia dengan lembut.
Ya Allah.. Kasihan Adhel. Dia pasti sangat trauma karena kejadian itu. Apakah karena itu juga dia selalu bersikap ketus kepadaku? Karena dia takut aku akan menyakitinya seperti yang dilakukan oleh Ricky. Adhelia.. Tolong ceritakan semua keluh kesahmu kepadaku, jangan pernah menyimpannya sendiri. Melihat kamu seperti ini aku merasa sangat berdosa. Aku merasa gagal sebagai suami kamu.
Aku merasa gagal melindungi kamu.
Batin Zaki.
Adhelia sudah benar-benar terlelap.
Zaki merasa tak tega membangunkannya, akhirnya Zaki menggendong tubuh Adhelia dan membawanya ke mobil.
Sebelum tiba di Jogja Zaki sudah lebih dulu mem booking hotel secara online.
Setibanya di hotel dan menunjukkan bukti transaksi kepada resepsionis, akhirnya Zaki mendapatkan kartu akses ke VVIP SweetRoom yang sudah dia booking.
Akhirnya mereka tiba dikamar yang terletak di lantai 6, dan Adhelia masih tertidur dengan lelap. Dia bahkan tidak bergeming saat Zaki mencoba membangunkannya.
Setelah melaksanakan sholat maghrib, Zaki meraih telepon di atas nakas untuk memesan makanan.
Tepat pukul sebelas malam Adhelia baru terbangun dari tidurnya, dan merasakan sesuatu menindih perutnya. Ternyata itu adalah tangan milik Zaki.
Dia terlelap disamping Adhelia, sambil memeluknya.
Adhelia menatap wajah Zaki dengan intens. Sejujurnya, dia sangat mengagumi ketampanan Zaki sejak pertama kali bertemu. Apalagi sorot matanya yang teduh, menenangkan hati siapapun yang melihatnya.
"Tampan.."
Gumam Adhelia sambil memainkan Alis tebal milik Zaki.
Tanpa diduga, Zaki justru menggenggam erat tangan Adhelia dan membuka matanya.
Adhelia yang terkejut langsung bangkit dan nyaris berteriak, namun Zaki dengan sigap menarik tubuh Adhelia kedalam pelukannya.