NovelToon NovelToon
Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintamanis / Perjodohan / Nikahmuda / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Tamat
Popularitas:65.2k
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nurpadilah

Biarlah semua berjalan sebagaimana mestinya. Biarlah ku tanggung semua sendiri. Terluka sendiri, kupendam segala rasa. Karena aku tak bisa mengharapkan cinta yang tak pernah ada.

~Arkan

Silva tidak pernah berpikir untuk hidup dengan lelaki lain, apalagi putus dengan Faris. Bahkan, ia sudah merencanakan masa depan hubungan mereka hingga nanti setelah menikah. Namun, Arkan datang menghancurkan semuanya.

Semua harapan Silva hancur karena kebrengsekan yang dilakukan Arkan demi mendapatkan dirinya. Silva hancur bersama mimpi-mimpinya. Hingga sempat ingin mengakhiri hidupnya.

"Aku akan bebasin kamu untuk milih masih sama aku atau enggak."

"Aku maunya kamu! Apapun yang aku pilih, nikah atau berkarir, aku pengen kamu yang selalu nemenin aku."

Lalu, apakah Arkan dapat memiliki Silva? Atau harus menerima kenyataan pahit bahwa Silva tetap memilih Faris? Bagaimanakah kisah mereka? Akankah berakhir indah atau sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nurpadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Ditinggal Bunda

Dering ponsel mengganggu tidur Arkan. Ia menggeliat di atas tempat tidurnya dan perlahan membuka matanya. Mengerjap beberapa kali, ia melirik ke arah nakas tempat ponselnya berada. Satu tangannya terulur meraih benda pipih yang menyala dan berisik itu. Ah, ternyata sang papa yang menelponnya. Pasti ada hal penting yang akan disampaikan padanya. Arkan segera bangun terduduk dan menjawab panggilan tersebut.

"Halo, Pa!"

"Halo, kamu pasti baru bangun, ya?" tebak Setya.

Arkan meringis dan menggaruk kepala belakangnya. "Hehe, iya, Pa."

"Jangan dibiasakan bangun siang! Seharusnya kamu sudah bangun jam 5 tadi," peringat Setya yang sudah Arkan hapal karena sering diucapkan padanya.

"Iya, Pa. Maaf, Arkan kesiangan soalnya semalam begadang ngerjain tugas," jawab Arkan sembari menyisir rambutnya ke belakang.

"Sesibuk apapun kamu, calon pemimpin harus tetap memenuhi kewajibannya! Jangan diulangi lagi!" tegas Setya.

"Iya, Pa. Arkan gak akan ngulangin lagi."

Terdengar helaan napas di seberang sana. "Ya sudah, Papa maafkan kali ini. Kalau kamu ulangi lagi, Papa akan hukum kamu!"

Arkan menelan ludahnya diam-diam dengan wajah yang tegang.

"Sebenarnya Papa telepon kamu ingin pamit. Papa dan om Hanum harus pergi ke luar negeri untuk mengurus proyek kami. Mama dan tante Laras juga ikut untuk menemani kami karena kami pergi cukup lama, sekitar satu bulan. Nesya dan Silva sendirian di rumah, jadi kamu harus jagain mereka, ya!" lanjut Setya menyampaikan pesannya.

"Iya, Pa. Aku pasti jagain mereka," sahut Arkan setelah mengangguk. Sebenarnya ia tidak yakin bisa menjaga Silva karena keadaan jantungnya yang selalu berdebar jika berada di dekat gadis itu.

"Oke, kalau begitu Papa tutup teleponnya. Jangan sampai kamu kesiangan berangkat sekolah!" peringat Setya lagi.

"Iya, Pa. Kalian hati-hati di jalan, ya. Umm... Sampein salam Arkan buat mama, ya."

"Kamu ngomong aja sendiri! Gak kuat Papa denger pesan dari bucinnya mama," sindir Setya lalu suaranya mengecil karena memanggil Laras.

Arkan memutar bola matanya lalu berdecih. "Tak sadar diri! Sendirinya juga bucin," balas Arkan pelan.

"Halo, Sayang!" Terdengar sapaan suara sang mama di seberang sana.

"Ma, hati-hati di jalan, ya! Jangan lama-lama pergi sama papa, jangan lupain anak-anak loh, ya! Dan pulang nanti jangan sampe nambah anggota lagi!" peringat Arkan.

"Sembarangan! Kamu pikir kami pergi buat bulan madu? Mama kan mau nemenin papa kerja, bukan liburan," protes Lisa yang membuat Arkan terkekeh. Kalau sang mama ada di hadapannya sudah dipastikan pinggangnya akan terkena cubitan panas.

"Iya, iya, percaya," balas Arkan sambil terus terkekeh.

"Bocah gendeng! Ya harus percaya lah!" 

Saat Arkan tenggelam dalam tawanya, suara sang mama kembali tergantikan oleh sang papa.

"Sudah, sudah! Jadi kamu yang pacaran sama mama, sih! Sekarang giliran Papa berduaan sama mama. Sudah ya, baik-baik kamu, jangan lupa jaga adikmu dan calon istrimu! Papa tutup!" pamit Setya lalu terdengar panggilan terputus.

Arkan menatap layar ponselnya dengan senyum masih mengembang. Namun, senyumnya terganti oleh kedua mata yang melebar saat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 6.30. Sudah dipastikan ia akan terlambat. Segera saja Arkan bangkit berjalan tergesa ke kamar mandi.

***

Sementara di bandara, Silva sedang memeluk pinggang sang bunda dengan manja berusaha menahan kepergiannya.

"Kenapa Bunda harus ikut sih, Yah? Biasanya juga Ayah pergi sendiri aja gak masalah, tuh," protes Silva bersandar manja di dada Laras.

Hanum menghela napasnya pelan lalu mengelus rambut Silva lembut. "Kalau biasanya, Papa cuma observasi proyek saja, tapi sekarang, kami akan hadir di pertemuan bersama para pemegang saham. Pertemuan ini sangat penting bagi kami, makanya, harus didampingi istri masing-masing. Lagian, bukannya kamu udah biasa ditinggal bunda pergi sama Ayah?"

Berdecak kesal, Silva menggeleng dalam pelukan Laras. "Itu kan gak lama perginya, ish Ayah! Ini mah sebulan, lama!"

Laras melirik Hanum yang dibalas gedikan bahu oleh suaminya itu. Pertanda ia sudah menyerah membujuk anak mereka.

"Sayang, jangan manja, ya. Ayah sama Bunda ke sana buat kerja, bukan buat liburan. Makanya, kita gak ngajak Vava, karena pasti kamu bakal bosen di sana. Jadi, Vava di sini aja, ya. Bunda janji bakal sering hubungin Vava. Nanti, kalau Vava libur sekolah, baru kita liburan sekeluarga, oke?" bujuk Laras dengan lembut sambil tangannya mengusap surai Silva.

Silva menghela napas, ia sama sekali tidak luluh karena bujukan sang bunda, hanya saja, ia mencoba mengerti. Silva menegakkan duduknya. "Ya udah deh, gak apa-apa. Aku bisa kok sendirian di rumah. Ayah sama Bunda hati-hati, ya!" jawabnya dengan lesu.

"Loh, kok lemes gitu jawabnya? Mana senyumnya, ayo? Jangan cemberut gitu ah, nanti Ayah sama Bunda gak tenang perginya, kepikiran Vava terus. Ayo mana senyumnya!"

Silva mau tidak mau mengikuti permintaan Laras. Ia pun tersenyum manis meski sedikit dipaksakan.

"Nah, gitu dong! Ya udah, sekarang Vava pulang, ya!"

Silva langsung memeluk Laras kembali. "Nggak mau! Mau nunggu Bunda terbang dulu!"

"Oh, jadi Ayah gak ditungguin, nih?"

"Nggak! Ayah jahat, bawa-bawa bunda terus kalo kerja! Udah gede masih aja manja sama bunda!"

Pasangan itu pun terkekeh gemas melihat tingkah lucu sang anak semata wayang.

***

Arkan berjalan tergesa menuju lapangan indoor tempat ia dan anggota klub basket lainnya biasa melakukan latihan. Ia agak terlambat karena tugas yang harus ia selesaikan dulu. Semua ini tidak akan terjadi jika ia tidak bangun kesiangan, membuat dirinya telat masuk sekolah dan berujung dihukum membersihkan seluruh toilet laki-laki. Paginya benar-benar buruk.

Saat sampai di lapangan indoor, Arkan melihat tim basket sudah bersiap di posisi dan akan memulai pertandingan antara tim basket senior dan junior.

"Maaf, gue telat!" seru Arkan menundukkan kepalanya sedikit.

"Ya udah, hukumannya lo yang ngelatih anak kelas satu abis sparing. Sekarang, lo ganti baju aja, terus langsung pemanasan!" balas Mario--si kapten basket.

Arkan mengangguk lalu mengikuti perintah sang kapten. Ia beranjak ke ruang ganti.

Satu jam menunggu, pertandingan sudah selesai sejak 15 menit yang lalu. Kini, giliran Arkan untuk melatih anggota tim basket yang masih duduk di kelas satu. Ia mulai dengan berdoa lalu menjelaskan kesalahan-kesalahan yang banyak dilakukan oleh mereka saat pertandingan tadi yang menyebabkan kekalahan mereka. Dilanjutkan dengan ia memperagakan teknik yang tepat untuk memperbaiki cara yang kurang tepat. Ia melatih dibantu oleh beberapa anggota kelas tiga. Sementara kelas dua dilatih oleh Mario dibantu beberapa orang senior.

***

Selesai sudah latihan tim basket. Sekarang, mereka sedang beristirahat sebelum pulang. Arkan yang tidak betah dengan pakaian yang penuh keringat, segera mengganti bajunya di ruang ganti. Sementara yang lain, justru malas karena terlalu lelah. Mereka lebih memilih duduk-duduk di lantai sambil mengobrol santai.

"Mana nih ayang lo?" tanya Dion sambil kaki kanannya menyenggol satu kaki Faris yang terjulur di sampingnya.

"Iya, ya? Kok belum keliatan? Biasanya setiap latihan selalu nemenin," sahut Mario melirik Faris dengan badan telentang di lantai.

"Ayangnya capek katanya nungguin Faris, gak peka-peka," timpal Kevin menatap Faris jahil.

"Jiaaakh!!" seru Kevin dan Rafan bersamaan lalu bertos ria.

Faris hanya memutar bola mata malas. "Silva gak sekolah, tadi pagi dia nganter ayah bundanya ke bandara," jawabnya dengan lesu.

Arkan menghentikan langkahnya saat tidak sengaja mendengar perkataan Faris. Jadi, orang tua Silva juga pergi, pikirnya.

Sesaat kemudian ia menepuk keningnya. Ia lupa jika sang papa sudah memberitahunya tadi pagi bahwa orang tua Silva juga ikut pergi karena salah satu koleganya.

Dan sekarang ia ingat pesan mamanya untuk menjaga Nesya dan Silva. Ia mengangkat tangannya memeriksa jam yang melingkar di pergelangan.

"Eh, udah jam tujuh? Cepet amat perasaan. Balik deh," gumam Arkan lalu beranjak.

"Guys, gue duluan, ya!" pamitnya melambaikan tangan lalu bergegas keluar lapangan.

"Kenapa dia? Gak biasanya buru-buru gitu?" tanya Mario pada Faris.

Namun, Faris hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya.

... Bersambung......

gimana part ini guys? semoga suka ya... krisar dibuka kok

luv yu all❤️🧡💛💙🖤💘💝💓💕💌💟💜💚💗💖

salam

Didilove💖

1
Hilda Naning
sebenarnya sp yg memperkosa silva ky g jelas..
Sophia Aya
bagus cerita nya thor 👍
𝐂͢𝐞ℓ᰻ᥢ𝐞⍣
Tp ini lbh baik utk mereka ber 2 ke depannya. Jd gk ada byg2 lgi tentang ank mereka kelak😊.
𝐂͢𝐞ℓ᰻ᥢ𝐞⍣
Lam kenal kk Diah,,se jauh ini aku baca bagus isi ceritanya😊..
pi kolom komentar kayanya gk ada y kk🤔.
Diah Nurpadilah: terima kasih udah baca dan suka sama ceritaku😊 iya nih, komentarnya sepi setelah ceritanya tamat
total 1 replies
Saae
semangat... selalu mendukungmu kak..
yyyyyy
lanjut lagi lah thor
Diah Nurpadilah: boleh boleh, tapi nanti yaaa jangan sering2 baca yg uwu2 nanti authornya kepengen, kan bahaya wong masih jombs🤭
total 1 replies
Fadiylah19
uwuw bgt sih bang arkhan,jg g rela kan klo critanya harus berakhir,,,💞💞💞
yyyyyy
ku kira masih panjang ceritanya
TyR
yaaaahh end 😥😥😥
gaada part 2 gitu thorr masih berbunga ini sama bang arkhan dan silva
Fadiylah19
loh kok end,,, 🥺🥺🥺 lanjut season 2 g nih abis extra partnya?,,,masih kesemsem sma babang arkhan,,,
Fadiylah19: lanjoooot doongg,,,tebar kebucinan gituuhhh🤪🤪🤪🤭
total 2 replies
Fadiylah19
absen hadir thor,,, 😉🥰🥰
Fadiylah19
lanjut,,,,
Diah Nurpadilah: bab selanjutnya bisa dibaca jam 8 pagi nanti ya
total 1 replies
Fadiylah19
oh astaga,,,no koment thor,,,
Fadiylah19
othor,, maaf aq baru hadir,,baru isi pulsa 🙈🙈🙈 jd maraton deh bacanya,,,,
Fadiylah19: sma,,aq jg kngen,, apalagi sma cerita mu🥰🥰
total 2 replies
yyyyyy
lanjut thor
Diah Nurpadilah: siap! jam 8 udah bisa dibaca ya bab selanjutnya
total 1 replies
Saae
Like mendarat...
Niaa
koq jd gini sih,, kan udah GK ada penghalang LG, harus nya Arkan & Silva bersatu thor 😭
Diah Nurpadilah: aduh calm down, gurl😂 aku sebagai author yg baik pasti akan memberikan yg terbaik juga buat para tokoh kesayanganku eaaak hihi🤭 untuk sekarang, biarkan semuanya berjalan sesuai alurnya dulu, oke😉 jangan lupa dukung terus lapak ini ya, like dan komen kalian berharga bgt bagi author😊
total 1 replies
Saae
Boom like mendarat, jangan lupa untuk saling dukung..
yyyyyy
lanjut thorrr
Diah Nurpadilah: bab selanjutnya
total 2 replies
yyyyyy
lanjutt thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!