Gadis bernama Shanum tidak pernah menyangka bahwa dia akan terlibat hubungan cinta terlarang (cinta se-jenis).
Setelah lepas dari cinta terlarangnya, dia dipertemukan dengan laki-laki yang malah merenggut mahkotanya secara paksa karena dendam.
Tapi Tuhan Maha Adil, pada akhirnya dia dipertemukan dengan laki-laki yang bisa menerima dia apa adanya, mencintai dengan tulus dan mendapatkan kebahagiannya hingga akhir hayatnya.
Hi reader, kalau sekiranya Novel ini kurang nyaman dibaca, silakan memilih bacaan yang sesuai umur dan tipe Novel yang disukai 🥰❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Merona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setapak Kenangan
"Kiri, Mang," teriak seorang gadis sebagai kode agar supir angkutan kota menghentikan laju kendaraannya.
Ini bukan jalan menuju rumahnya, tapi menuju tempat favoritnya. "Taman Kota". Dia sengaja menghentikan angkot yang dinaikinya lebih awal, karena ingin menapaki setiap jengkal kenangannya bersama Abna.
Hal yang paling Ia sukai adalah daun-daun yang berguguran, baginya memiliki artistik tersendiri, membuat pikirannya menjadi lebih tenang dan suasana hatinya terasa jauh lebihbaik.
Shanum berjalan melewati jalanan aspal yang mulai tertutupi dedaunan. Dia menatap ke sekeliling, menatap ke arah pepohonan, lalu senyuman manis merekah begitu saja tercipta dari bibir tipisnya. Dia menutup kedua matanya dan merasakan hawa sejuk di sekitarnya.
"Ah, begitu menenangkan," batinnya.
Perasaan cintanya pada Abna, bukan sekedar perasaan sesaat, buktinya hingga saat ini perasaannya tidak pernah pudar atau berkurang sedikitpun.
Dia sungguh merindukan kekasihnya. Meskipun Abna bukan tipe laki-laki yang romantis menurutnya, tapi dia begitu sweet dan hangat. Perhatian-perhatian kecil yang diberikannya, membuat benang-benang cinta tersimpul semakin kuat di hatinya.
...~~~...
"Uh, tamannya tumben sepi, karena udaranya dingin banget mungkin ya." Shanum berbicara sendiri.
Sejenak dia melupakan kegusaran yang menerpa, yang nampak di wajahnya kini hanya senyuman dan mata penuh binar.
Terlihat kursi kosong yang biasa dia duduki bersama kekasihnya. Kursi yang mengarah langsung ke danau di taman itu. Dia berjalan ke arahnya dan mendaratkan bokongnya di sana.
"Andaikan di sini ada Abna"
"Aku kangen kamu"
"Masih ingatkah kamu akan cerita kita?"
"Masih ingatkah kamu akan danau ini yang menjadi saksi bisu di mana kamu menyatakan cinta?"
"Huh..."
Lagi dan lagi Shanum berbicara sendiri, untungnya suasana di taman saat itu sedang sepi, jadi kesempatan untuknya berekspresi sesukanya.
Sementara itu di balik pohon yang rindang,
"Yang ... ?"
"Hm ... ?"
"Kamu masih suka nggak sama Shanum?"
"Ya?" tanya Abna dengan kening mengerut.
"Kalau misal kamu ketemu dia lagi, kira-kira bakal baper nggak?"
"Hahaha ... apa sih sayang, kan sekarang yang ada di kehidupan aku cuman kamu, gak usah bahas cewek lain apalagi cewek kaya Shanum sahabat kamu itu," jawab Abna sambil Ia mencubit hidung kekasih barunya.
"Ish, najis kalau harus sahabatan sama orang kaya dia, tar aku digrepe-grepee lagi."
"I...yu...h," celetuk Shopia sambil menggidikan bahu seolah jijik.
Tanpa Shopia sadari, jauh di lubuk hati Abna, hanya tersirat satu nama, Shanum Melodia. Baginya, Shanum sempurna tanpa celah. Andaikan tidak ada foto itu, andaikan tidak pernah ada video-video itu, sampai saat ini dia pasti masih bahagia bersama Shanum.
...*Hanya Tuhan ...
...dan dirinya yang tahu...
...Rasa rindu yang membuncah pada cintanya...
...yang harus kuat-kuat ia tahan dan redam*...
...Serta kini ada hati lain yang harus ia jaga...
...Walaupun hubungan ini bukan atas kemauannya....
...~~~...
Flash Back
"Shop, gue mampir ke rumah Lu ya, gue lagi pusing nih butuh teman curhat", rengeknya di balik telepon.
"Tumben bener Lu, ada masalah?"
"Tar deh gue ceritain, ya"
"Tapi inikan udah malem"
"Gimana, boleh nggak?"
"Ya sudah, mumpung di rumah lagi sepi juga, jadi Lu bisa leluasa curhat sama gue"
Abna menyandarkan punggungnya di sofa ruangtamu yang terasa nyaman baginya. Dia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Heh, diminum dulu nih jus jeruknya, biar fresh."
"Ah, thanks Shop."
Abna terus saja menutup wajahnya, sesekali dia menarik rambutnya dengan kencang. Kepalanya dia jatuhkan pada sandaran kursi. Shopi yang melihatnya seperti itu seolah mendapat jalan mulus untuk mendekati lelaki yang dia sukai (lebih tepatnya dia terobsesi).
Dia mendekati Abna dan berbisik di telinganya, yang sontak membuat Abna terkejut.
"Ada masalah apa?" bisiknya.
"Hah?"
Abna seketika bangkit dan duduk dengan tegak, pada awalnya dia terlihat ragu-ragu menceritakan masalah apa yang sedang dia hadapi namun akhirnya semuanya mengalir begitu saja dari bibirnya. Shopia yang mendengarnya shock tidak percaya, dia menutup mulut dengan tangannya. Tapi di satu sisi lain dia merasa senang, jalannya semakin mulus pikirnya.
Shopia, memeluk lelaki itu seolah ingin menenangkannya. Abna yang terbawa suasana, membalas pelukannya dengan erat. Lalu dia menatap gadis di hadapannya yang dalam bayangannya adalah Shanum.
Menatap semakin dalam dan hangat, membuai siapapun tanpa penolakan. Dan sebuah kecupan mendarat di bibir Shopia. Dari kecupan lama-lama menjadi ciuman yang panas dan menuntut lebih.
...***...
MESKI ALUR CERITA LAMBAT...TAPI NGGAK BIKIN BOSAN.