NovelToon NovelToon
Cinta Beda Keyakinan

Cinta Beda Keyakinan

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Berondong / Tamat
Popularitas:85.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nai

Menjalin hubungan dengan beda keyakinan tak membuat rasa cinta gadis bernama Tamara Adisti berkurang sedikitpun.
Namun saat Tara membulatkan tekad untuk berhijrah, ia terpaksa harus memutuskan tali cinta yang telah membuncah dihati mereka.

Vano yang sudah terperosok ke dalam lubang cinta dengan sosok gadis sederhana bernama Tara itu tak terima akan keputusan yang Tara berikan atas putusnya hubungan mereka.

"Dua tahun bukan waktu yang sebentar, Tar! Jalan yang kita lalui untuk kita bisa bersama seperti sekarang ini juga tidaklah mudah. Kenapa kamu seperti ini? Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa kamu tidak akan mempermasalahkan keyakinan kita yang berbeda. Terus kenapa sekarang kamu menyerah hanya karena keyakinan? Apakah sepenting itu, Tar. Sampai kamu rela mengorbankan cinta kita!"

Bagaimanakah kisah kedua remaja labil itu?
Mari ikuti kisahnya....

(MASIH DALAM TAHAP REVISI)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 22

Sepulang dari mengikuti Tara berbuka bersama dan jalan-jalan bersama teman-temannya, Vano kembali kerumahnya setelah mengantar wanitanya pulang.

Tak tahu kenapa ia sangat senang sekali malam ini. Apalagi saat melihat wajah Tara dan teman-temannya selepas ibadah, ada suatu ketenangan yang ia rasakan namun tak ia sadari. Apa karena selama ini ia jarang beribadah dan mengunjungi gereja? Ya, Vano bukan orang yang religius dalam beragama. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali pergi ke gereja.

Berto yang berada dimeja makan heran saat melihat putranya tersenyum sedari memasuki rumah hingga ke meja makan.

"Kamu dari mana, Van? Seneng banget kayaknya."

"Nemenin Tara berbuka bersama, Pa."

"Nemenin berbuka bersama?" tanya Berto lagi dan diiyakan Vano.

"Cuma makan malam doang, kan? Kenapa kamu sebahagia ini?"

Vano mengedikkan bahunya. "Biasa aja sih, Pa." 

"Kamu jangan macam-macam ya, Van!" peringat papanya.

Vano yang mengerti hanya mengangguk saja tanpa menyahuti perkataan Berto.

...

H-1 lebaran.

Seharian Tara tak bisa dihubungi, hal itu membuat Vano uring-uringan. Sebucin itu Vano pada Tara, pesannya yang tidak dibalas dalam dua jam saja dia bisa menelfon Tara hingga belasan kali, apalagi satu hari penuh seperti ini.

Seharusnya Vano menemui Tara ditokonya tadi siang, tapi ia ketiduran hingga sore. Vano belum berani untuk bertamu kerumah Tara. Selain wanita itu tidak pernah menawarinya untuk mampir, ia juga belum ada keberanian untuk datang kesana apalagi sendirian.

Malam hari pukul 22:24 ponsel Vano berdering menandakan adanya panggilan masuk. Vano yang sedang berada ditoilet samar-samar mendengar dering ponsel, namun ia mengabaikan begitu saja. Saat ponselnya berdering lebih dari tiga kali, Vano menghentikan aktifitasnya. Ia melihat beberapa panggilan tak terjawab dari 'Future Wife'  Vano langsung saja menekan tombol panggilan video.

Saat Tara menjawab panggilannya, raut bahagia tak dapat disembunyikan dari wajah tampannya.

"Hai, Pacar. kamu kemana sih seharian nggak bales pesan aku dan nggak angkat telfon aku? Sesibuk itukah sampai kamu lupa sama aku? Kamu tuh seharian ini buat aku galau tau nggak sih." Vano meluapkan semua keluhannya pada Tara.

"Lebay banget sih," gerutu Tara.

Vano memberengutkan wajahnya mendengar ucapan Tara, sedangkan Tara hanya terkekeh saja disebrang sana. 

"Maaf ya, Sayang. Aku tadi kerja nggak bawa ponsel. Sampe rumah juga harus bantu ibu beres-beres rumah buat persiapan besok lebaran."

"Kamu lelah ya?" tanya Vano saat melihat mata panda Tara meski sedikit samar dilayar ponselnya.

"Lumayan."

"Yaudah, tidur gih. Pacar Devano gak boleh sakit."

"Besok ke rumah ya, Van." Vano terbengong mendengar permintaan Tara. Kerumah?

Vano mau banget main kerumah Tara, tapi apa dia sudah siap?

"Aku takut orang tua kamu nggak suka sama aku," ucap Vano ragu.

Tara tertawa. "Orang tua aku baik kok, walau sedikit nyebelin. Aku gak jamin kamu bakal suka mereka, tapi aku jamin kamu akan cepat akrab dengan mereka."

Keesokan harinya Tara sudah memberi kabar pada Vano melalui pesan chat bahwa ia free di jam sebelas keatas karena sebelum itu ia harus mendatangi rumah kerabat yang tak jauh dari rumahnya setelah sholat ied.

Sudah sejak pukul sembilan tadi Vano berdiri didepan cermin dengan beberapa baju berserakan diatas kasur. Hampir seluruh isi lemari ia keluarkan namun tak satupun yang ia pilih untuk dikenakan saat berkunjung ke rumah Tara nanti. Ini bukanlah kebiasaan Vano.

Ttookk ... Ttookk ...

Suara ketukan pintu membuat Vano menghembuskan nafasnya panjang. Ia melangkah menuju pintu lalu membukanya, terlihat Deska berdiri didepan pintu.

"Kakak kenapa?" tanya Deska saat melihat wajah kusut Vano. Rambutnya yang masih basah menandakan bahwa Vano sudah mandi, tapi wajah pria itu seperti orang yang tidak mandi selama satu minggu.

"Ngapain sih, Ka." Vano memasuki kamar meninggalkan Deska yang masih diambang pintu. Ia merebahkan tubuhnya diatas kasur demi menghilangkan pusing yang tiba-tiba menghampiri.

Deska terbelalak melihat isi kamar Vano. "Astaga, Kakak!" pekiknya kaget.

"Berisik," gumam Vano pelan.

"Kakak abis ngapain berantakan gini?"

"Kakak kamu ini lagi pusing, bingung mau pake baju apa ke rumah calon mertua nanti."

"Kakak mau kerumah Kak Tara?" tanya Deska antusian. Vano hanya menganggukkan kepalanya malas.

Deska mendudukkan tubuhnya disamping Vano yang sedang rebahan. Ia mengelus bahu Vano manja. "Aku ikut ya, Kak." 

Vano berfikir sejenak kemudian ia mendudukkan tubuhnya dan menatap Deska dengan binar bahagia. Lebih baik Deska ikut dengannya agar ia tak terlalu gugup saat bertemu orang tua Tara.

"Kamu bantuin Kakak cari baju dulu ya, Ka."

"Jadi, boleh nih?" Vano menganggukkan kepalanya mengiyakan.

Dibantu Deska, Vano akhirnya memakai kemeja lengan panjang berwarna maroon dan celana bahan hitam serta sepatu pantofel hitam. Terlihat formal, right!

Setelah menunggu Deska yang sedang bersiap, mereka berangkat tepat pukul sebelas.

Setiba didepan jalan rumah Tara, Vano dan Deska langsung saja menuju rumah Tara yang pintunya memang sudah terbuka lebar.

Tookk ... Tookk ...

"Sebentar," sahut seorang wanita dari dalam.

Jantung Vano dag dig dug menunggu datangnya seseorang dari dalam rumah. Hingga tibalah seorang wanita paruh baya bertubuh gempal dengan senyum manisnya.

"Ya, Dek?"

"Em, saya," Vano berfikir mau nyebut pacar atau teman, " saya pacarnya Tara, Tante." Akhirnya kata 'pacar' lah yang tercetus dari bibir manisnya.

"Oh, ayo masuk. Sebentar ya, Ibu panggilkan Tara-nya dulu." Astaga, ternyata ibu-ibu itu tidak terkejut mendengar Vano mengatakan bahwa dia pacar anaknya.

Ibu Tara yang bernama Minah itu berjalan menuju kamar anak gadisnya.

Tak lama Tara keluar dengan long dres hitam dan sebuah hijab maroon, membuat Tara terkesan lebih anggun dari biasanya.

"Eh, ada Deska juga." Tara cipika cipiki bersama Deksa dan duduk disamping gadis cantik itu.

"Kak Tara cantik banget pake hijab."

Tara tersipu malu mendengar pujian dari Deska. Ia jarang sekali berhijab jika tidak ada acara penting atau dipaksa.

"Kamu juga cantik kok, Ka," puji balik Tara kepada Deska.

Ada suatu ketenangan yang tak disadari Vano saat ia memandang Tara yang mengenakan hijab. Vano menggelengkan kepalanya pelan, jangan sampai ia berfikir yang tidak-tidak.

"Formal banget, Van. nggak sekalian pake jas?" Tara terkekeh pelan, namun ia suka melihat Vano rapi seperti itu.

Vano mengusap tengkuknya, apa ini berlebihan?Sepertinya tidak!

Lama mereka berbincang disertai canda tawa, hingga datanglah seorang pria berwajah oriental memasuki rumah Tara bersama seorang wanita cantik berhijab hitam yang bertubuh padat.

Pria dan wanita itu berjabat tangan dengan Vano dan Deska kemudian mereka duduk tak jauh dari tempat Vano duduk.

"Itu adik aku yang ke dua, dan itu pacarnya. Mereka udah pacaran lima tahun lebih," jelas Tara kepada Vano.

"Tubuh adik Kak Tara lebih besar ya," seru Deska.

"Kamu ini, mulutnya dijaga bisa gak?" Vano menyenggol lengan Deska.

Tara hanya tertawa. "Iya, Kak Tara emang kurus. Padahal udah makan banyak, tapi masih aja gini badannya." Tara membenarkan ucapan Deska.

"Assalamu'alaikum," seru seorang pria payuh baya dari arah pintu masuk.

Semua menjawab kecuali Vano dan Deska.

"Sam, udah dari tadi?" Pria paruh baya itu menghampiri pria bernama Sammy yang tadi datang bersama adik Tara.

"Sudah, Yah."

Yah? Ayah? Itu ayah Tara?

Sedekat itukah hubungan pacar adik Tara dengan orang tuanya? Bagaimana dengannya?

Lamunan Vano buyar saat pria paruh baya itu menghampirinya dan duduk tepat didepannya.

Vano tersenyum kikuk, ia berdiri lalu meraih tangan ayah Tara dan mencium punggung tangannya, begitu juga dengan Deska.

"Jadi ini yang namanya Vano ya?" 

"I—iya, Om."

"Santai aja, Vano. Ayah nggak makan orang kok." 

Terlihat jelas jika pria itu tengah menahan gugup, membuat ayah Tara terkekeh.

"Gadis cantik ini siapa?" tanya ayah Tara menunjuk Deska.

"Saya Deska, Om. Adik kak Vano."

Mereka berbincang cukup lama. Tak sedikitpun ayah Tara menyinggung tentang keyakinannya, begitu juga dengan ibu Tara yang ikut bergabung bersama mereka. Baguslah, batin Vano.

Memang benar apa yang Tara katakan, orang tua Tara memang sedikit menyebalkan, tapi mereka asik menurut Vano. Sepertinya mereka sangat mudah akrab dengan orang baru.

"Ayo diminum, Vano, Deska. Dirumah Tara nggak ada apa-apa, cuma buat ginian doang."

Vano meminum minuman kaleng bergambar burung yang ada pada kemasannya. Setelah menawarkan minum, orang tua Tara berpamitan pergi karena mereka harus melanjutkan silaturahim kerumah tetangga sekitar.

"Kita ke rumah Nata, yuk. Pasti mamanya bikin banyak makanan," ajak Tara. Vano dan Deska mengiyakan saja.

Mereka lebih dulu memasuki mobilnya, sedangkan Tara membereskan bekas minum serta bekas piring kue Vano dan Deska.

"Fan, bilang ayah sama ibu, aku ke rumah Nata sama Vano."

"Tar, tunggu?" Fani sedikit berteriak.

Fani menghampiri Tara lalu membisikkan sesuatu. "Cowok lo ganteng banget." Tara menoyor kepala adiknya. "Gila," umpatnya.

Setelah berpamitan pada Fani, Tara bergegas menuju mobil Vano. Ia memilih duduk di kursi penumpang bersama Deska tapi Deska memintanya duduk didepan bersama Vano, jadilah Deska sendirian dibelakang.

Mobil Vano berhenti di depan rumah berlantai dua yang sangat sederhana. Ternyata rumah Nata tak jauh dari rumah Vano, hanya berjarak sekitar 1 km.

"Katanya kalian temen kecil, kenapa rumah kalian jauh banget?" tanya Vano heran.

"Dulu mereka tinggal dirumah kontrakan sebelah rumahku, sekarang mereka udah punya rumah sendiri," sahut Tara. Vano hanya mengangguk kemudian mereka segera turun dari mobil.

Lingkungan rumah Nata terlihat sepi, mungkin hari sudah menjelang siang membuat orang-orang mengistirahatkan tubuhnya di rumah masing-masing.

"Assalamu'alaikum." Tara memasuki rumah Nata setelah mengucap salam.

"Astaga nih orang. Belum juga tuan rumahnya keluar, dia udah main masuk aja," gumam Vano pelan.

Vano dan Deska belum masuk, mereka lebih memilih menunggu diluar hingga yang punya rumah mengizinkan mereka masuk.

******

Ditunggu Like, Coment, serta Vote nya...

Jazakamallah khair..

1
Bukhori Muslim
keren
Sulaiman Efendy
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sulaiman Efendy
ENDING YG MMBAHAGIAKN... SMOGA MEREKA SAMAWA DI DUNIA HALUNYA, DN SAMAWA JUGA BUAT YG PRNH ALAMI SPRTI YG DI NOVEL INI..
Sulaiman Efendy
KULIAH JUGA NGGK JAMIN DPT PKERJAAN, BNYK TU SARJANA2 PENGANGGURAN..
Sulaiman Efendy
LO HRSNYA NGERTI SBAGAI UMAT MUSLIM, HARAM WANITA BRSUAMI MNJALIN HUBUNGN, MSKI HNY PRTEMANN DGN LAKI2 YG BKN MAHRAMNYA, KRN UNTUK MNGHINDARI FITNAH, APALAGI LKI2 TRSEBUT MNYUKAI SI WANITA..
Sulaiman Efendy
UDH DIINGATKN DESKA, MSH NGEYEL,, KN DESKA UDH BILANG LO PSTI AKN KECEWA DAN SAKIT HATI..
Sulaiman Efendy
KURANG AJAR SI RAKA, CURI START, SEMOGA TARA MNOLAK LMARAN RAKA
Sulaiman Efendy
KERENNN ABISS DI DESKA YG POSESSIF KE CALON KK IPARNYA SI TARA, RAKA YG GELAGATNYA MMG MNYUKAI TARA, LGSUNG DI SKAK DESKA
Sulaiman Efendy
BAGUS DESKA,, HRSNYA RAKA LBH FAHAM KLO LKI2 TDK BOLEH DUDUK BRDEKATAN DGN WANITA YG BKN MAHRAMNYA
Sulaiman Efendy
ALHAMDULILLAH, AKHIRNYA DESKA JUGA MNDAPATKN HIDAYAH ..
Sulaiman Efendy
BARAKALLAH,, SEMOGA VANO ISTIWOMAH KRN ALLAH, BKN KRN MNGHARAPKN PNGAKUAN MANUSIA, BKN KRN MNGHARAP CINTA MNUSIA, TTPI MURNI LILLAHI TA'ALAA
Sulaiman Efendy
PASTI SI RAKA, SEMOGA TARA TDK MNERIMA RAKA, KRN KYKNYA RAKA SKA MA TARA
Sulaiman Efendy
SIAPA BILANG VANO BSA MLUPAKAN LO, KLO BSA LO PRGI LGI YG JAUH, BILA PERLU KE JOGYA TEMPAT RENA..
Sulaiman Efendy
SKRG HMBATAN TK ADA BUAT VANO UNTUK PINDAH KYAKINAN.. KRN KDUA ORTU NYA SDH MNINGGAL,, TINGGAL KMNTAPAN HATI DN NIATNYA..
Sulaiman Efendy
SEMOGA LEWAT BG MALIK SUAMI FANI, VANO DPT HIDAYAH, DN MAU BLAJAR ISLAM SUNGGUH2, BKN KRN INGIN BSA NIKAH SAMA TARA, TPI KRN ALLAH, DN MNCINTAI JUGA KRN ALLAH...
Sulaiman Efendy
YAA LO JELASIN MASALAH SYARIAT ISLAM, BHWA LO TDK BSA MMAINKN AQIDAH LOO..
Sulaiman Efendy
HRSNYA LO OMONGIN KE VANO, KLO MMG DIA SERIUS KE ELO, TTG VANO UNTUK IKUT KYAKINAN LO, JLSKN KE VANO TTG SYARIAT ISLAM,, LO LIAT, SERIUS GK DY.. JGN SAMPE LO BRBUAT SEMI ZINAH DGN DIPEGANG2 & DIPELUK2 VANO
Sulaiman Efendy
BLM MAHROM KNP MAU DIPELUK2, LO KN SKRG PKE HIJAB, HRSNYA LO KSIH PNGERTIAN KE VANO, BHWA WANITA MUSLIM TDK BOLEH DISENTUH APALAGI DIPELUK2 LKI2 YG BKN MAHRAMNYA..
Sulaiman Efendy
LO KAN UDH SERING IKUT TAUSIYAH, DN LO UDH TTG SYARIAT ISLAM, BHWA WANITA MUSLIM ITU HRS NIKAH DENGN IJAB QABUL DN ADA WALINYA, KLO LO NIKAH DI CATATAN SIPIL, LO NIKAH TNP IJAB QABUL, TNPA WALI, HNY SAH DIHUKUM NEGARA, TNP HARAM DI MATA ALLAH... KONSEKUENSINYA LO TAUKN, LO BRZINAH SEMUMUR HIDUP, INGAT, LKI2 ITU IMAM BUAT WANITA, GMN LO MAU JDIKN VANO IMAM LO, SDGKN VANO NON MUSLIM, HRSNYA LO SHOLAT ISTIKHARAH BUAT MINTA PTUNJUK SAMA ALLAH..
Sulaiman Efendy
LO GK TAKUT NANGGUNG DOSA LO FHAISAL, HRSNYA LO SETUJU DGN SYARAT SI VANO HRS IKUT KYAKINAN KALIAN
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!