Zia dan Zion, yang memiliki keterikatan sejak kecil, terpisah cukup lama lalu bertemu lagi saat salah satunya menjadi hantu. Bersama mereka menghadapi dan mengungkap peristiwa-peristiwa ganjil yang terjadi di sekitar mereka. Akankah akhirnya mereka bisa bersama menyelesaikan semua misteri yang mewarnai hidup mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Pelakor Ngenes
Zia duduk di kursi mobil dengan wajah malas. sementara tuan mudanya duduk dibalik kemudi tanpa suara.
Di jok belakang, ada setumpuk gaun yang dibeli si tuan muda untuk nanti dipakai Zia menghadiri acara ulang tahun Veronika.
"Nanti biar tukang make up yang akan pilihkan, seleramu payah soalnya."
Ketus si tuan muda dari balik kemudi.
Zia tak menyahut. Ia malas menoleh juga, karena hantu butik itu sekarang duduk diantar dia dan majikannya.
Sementara Zion entah kemana dicari tak ada, bahkan sampai Zia pulang Zion juga tak muncul.
"Tampaaan..."
Hantu butik itu berusaha mengusap pipi Zion manusia.
"Dia mengingatkanku pada pacarku,"
Tiba-tiba hantu butik itu menangis. Air matanya yang merah bercampur darah membasahi wajahnya yang pucat.
Pemandangan ini mengingatkan Zia pada peristiwa Murni.
"Laki-laki itu, dia menghamiliku dan pergi..."
Tangis hantu butik itu lagi.
"Salahmu sendiri kenapa mau dihamili...!!"
Zia tak tahan karena suara hantu itu begitu berisik.
"Apa? Siapa yang hamil??!"
Tanya Zion manusia yang kaget Zia tiba-tiba berteriak.
Zia mendengus.
"Sudahlah lupakan, hanya hantu."
Kata Zia.
"Hantu?"
Zion manusia melirik Zia yang wajahnya menempel pada kaca mobil.
Gadis aneh. Pikirnya.
Mobil kemudian memasuki pelataran rumah.
Zia turun dari mobil dan membuka pintu belakang mobil. Diraihnya semua gaun yang dibelikan tuan mudanya.
"Buat apa coba semua gaun ini, bukannya ngajak aku makan, malah beli gaun segini banyak."
Zia misuh-misuh.
Hantu butik mendekatkan wajahnya ke samping wajah Zia.
"Kamu mau nolongin akuuuu..."
Katanya.
Zia mendengus.
"Kenapa banyak hantu minta tolong sih."
Zia mengomel sambil membawa gaun-gaun itu menuju lift.
Tuan mudanya juga masuk ke dalam lift.
Hantu butik mendekatkan wajahnya ke wajah Zion manusia.
"Tampaaaan..."
Tangannya meraba wajah Zion manusia.
"Hhh... Malam ini cuaca dingin sekali."
Kata Zion manusia.
Zia hanya melirik saja.
Jelaslah, wajahnya diusap-usap hantu. Batin Zia.
Lalu...
Lift sampai ke lantai tiga dan pintu terbuka.
Zia baru akan keluar dari lift saat kakinya lagi-lagi menginjak ujung gaun hingga nyaris terjatuh, untungnya lengan kekar itu cepat menangkap tubuhnya.
"Cium... Cium... Cium..."
.
Hantu butik mengompori. Meniupkan energi negatif. Tapi...
Zion manusia cepat melepas tangannya dari Zia.
"Kamu ini, bisa ngga jalan pake mata."
Kesal Zion manusia, lalu bergegas meninggalkan Zia yang jadi ikut kesal.
Ish... Zia mendesis. Mana ada coba orang jalan pake mata.
"Yaaah... kenapa ngga ciuman."
Kata hantu itu kecewa.
"Dasar mesum."
Zia memarahi hantu itu.
Zia akhirnya masuk ke dalam kamar. Hantu butik itu mengikuti Zia terus.
"Kenapa kamu ngikutin aku sih."
Zia kesal.
"Karena kamu lihat aku."
"Oh my God..."
Zia menepuk keningnya. Setelah Zion, sekarang hantu wanita ini. Nasib banget. Zia mengasihanj diri sendiri.
"Trus mau kamu apa?"
Zia melempar semua gaun ke atas springbed.
"Aku ingin sekali lagi melihat pacarku."
"Memangnya kalian ngga janjian ketemu di mana gitu."
Zia asal.
"Dia nyuruh aku ke butik. Aku di suruh milih gaun. Aku sudah memilih gaun itu. Sudah mencobanya. Aku Selfi dengan gaun itu, aku kirimkan ke hpnya, tapi hpnya ngga aktif."
Jiaaaah...
Zia mengurut kepalanya.
"Aku menunggunya dan terus menunggunya, sampai kemudian aku ditelfon perempuan, katanya dia istrinya."
Hantu butik itu menangis lagi.
Zia kali ini garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Trus abis itu kamu bunuh diri?"
Tebak Zia.
Hantu butik itu mengangguk.
"Aku tadinya cuma mengancam, aku minum obat nyamuk, aku pikir jika aku sekarat dia akan lebih memilihku, ternyata aku mati."
Hantu itu menangis. Tapi Zia malah terpingkal-pingkal.
"Ya ampun, ternyata ada pelakor Ngenes."
**-------**
Zion hantu akhirnya pulang, ia masuk melewati jendela kamar. Zia masih main hp, biasa main games kalau susah tidur.
"Kenapa belum tidur?"
Tanya Zion.
Zia menekan tombol pause.
"Kenapa lagi kalau bukan nungguin orang yang tiba-tiba ilang, dan ngga pulang-pulang."
Sewot Zia.
Zion mengulum senyum.
"Kamu khawatirin aku?"
Tanya Zion.
"Nggak. Aku bilang orang, bukan hantu."
Kata Zia.
Zion kaget melihat tumpukan gaun di atas springbed, tapi ia lebih kaget lagi ada perempuan yang tidur meringkuk di dekat tumpukan gaun itu.
"Siapa dia?"
Tanya Zion pada Zia.
"Dia ngikutin aku dari butik. Korban cinta segitiga."
Sahut Zia.
Zion duduk di tepi tempat tidur, di samping kaki Zia yang selonjor.
"Aku nyari hantu kecil itu lagi, tapi seharian sama sekali ngga ada. Hantu di sana ngga ada yang mau kasih tau."
Ujar Zion.
"Memangnya kamu mau nanyain apa?"
Tanya Zia.
"Hari itu, saat aku baru pulang rapat, aku ingin tahu siapa yang hari itu membawaku."
"Kamu bilang laki-laki bertato ular itu."
Zion mengangguk.
"Ada tiga orang. Bisa jadi salah satu dari mereka justru yang menyelamatkanku."
Zia terdiam sejenak. Mencoba memacu kerja otaknya agar sedikit cepat.
"Ngga mungkin jika aku tiba-tiba bisa diselamatkan bukan?"
Tanya Zion meminta pendapat.
Zia mantuk-mantuk.
"Jadi kamu ingin tanya pada hantu kecil itu, karena dia punya banyak komplotan di sana."
"Ya."
Zion mengangguk.
"Jika aku tanya sendiri, mereka ngga akan mau bekerja sama."
Zia mengerti.
"Hey tampaaaan..."
Tiba-tiba hantu butik sudah bangun, dia menggelayut manja pada Zion.
Zion yang kaget tiba-tiba hantu itu menggelayut padanya langsung berdiri, lalu melayang ke atas lemari.
"Kamu..."
Hantu butik itu menatap wajah Zion dari dekat, Zion menabok wajah hantu itu keras-keras hingga terpental.
"Ya ampun, kamu kasar banget sama perempuan."
Zia protes.
"Salah dia mesum."
Kata Zion kesal.
Hantu butik itu meringis di lantai, lalu merangkak, dan merayap ke atas lemari di mana Zion duduk.
"Mau lagi?!"
Bentak Zion bersiap mengarahkan tangannya ke wajah si hantu.
Tapi...
"Ah benar... kamu si tampan itu."
Hantu wanita itu mengendus aroma Zion. Lalu...
"Malam itu, kamu diculik dan hampir dibunuh kan..."
Kata hantu itu lagi.
Zion menatap Zia yang bangun dari posisinya.
"Aku melihatmu... aku melihatmu karena aku ada di sana... hari itu aku juga baru mati... aku baru mati..."
Hantu itu menangis.
Zion meraih tubuh hantu wanita itu.
"Katakan lagi, katakan lagi apa yang kamu tau, cepat!!"
Pinta Zion.
Hantu wanita itu meringis.
"Aku melihat dari atas jembatan. Sebuah sepeda motor mengejar mobil. Seseorang yang membonceng menembak ban mobil hingga mobil itu oleng dan menabrak badan jembatan."
"Dua laki-laki yang naik sepeda motor turun, mendekati mobil, menodongkan pistol ke dalam mobil itu. Tak ada yang bergerak. Aroma anyir darah segar membuat banyak hantu berdatangan. Kami melihat dua orang itu menyeret keluar sesosok tubuh."
Zion dan Zia mendengarkan dengan jantung berdegup kencang.
"Sebuah mobil warna hitam berhenti. Laki-laki separuh baya keluar dan membukakan pintu mobilnya. Tubuh sekarat itu dimasukkan ke sana."
"Tubuh siapa itu? Tubuh siapa itu?"
Tanya Zion tak sabar.
Hantu wanita itu menyeringai.
"Kamu."
**--------**
yang over penakut lah . yang ga suka adventure lah . dsni lagi ...anak kek zizi dibilang nakal n bikin darting . padahal itu biasa banget. bukan anak bandel sama sekali. just normal act of a child.
padahal cerita mayan ok. tapi krn karakter2ny dibuat lebay jadi sering skip pen cpt2 lanjut krn cm pen liat alur cerita .