NovelToon NovelToon
Lika-Liku Asmara Aldo-Thea

Lika-Liku Asmara Aldo-Thea

Status: tamat
Genre:Romantis / Duniahiburan / Fantasi Urban-Percintaan Modern / Tamat
Popularitas:23k
Nilai: 5
Nama Author: IG @nuellubis

Aldo, Thea, dan segala cerita dilema mereka nan konyol dan tak berfaedah.
Mulai dari Thea yang minta putus demi sebuah idol group bernama JKT48, masalah pihak ketiga, hingga segala perjuangan keras Aldo demi Thea, kekasihnya. Bahkan, saking kerasnya Aldo berjuang, cowok wota itu sampai harus tersasar hingga Korea Selatan.

DISCLAIMER:
Ini hanya cerita fiksi. Mohon maaf jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan peristiwa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IG @nuellubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Show Me The Love

Show Me the Love

oleh: Alethea Anastasia

Tak pernah kusangka 

akan seperti ini kisahnya

mengapa-mengapa-mengapa kau tiada pernah mengerti

tapi memang aku tidak pernah minta 

Let love answer that, Baby!

Walau 'ku takut s'makin kacau

Di sini aku pun tak tahu

tak tahu menahu ujungnya

Kenapa harus seperti ini 

Mungkinkah cinta itu ada?

b'rada di tengah tiga insan

Sikapmu sungguh membingunganku; haruskah mendua dan plin-plan?

T'rus kau katakan cinta 'tuk dua insan

apa mungkin bisa begitu? 

Kita sudahi sajakah?

Sepertinya begitu yah, Baby?!

Cuz you care for her too much, my love!

Namun aku ragu tampaknya

Hontou ni kimi daisuki da 

Reff: Still you love me?

Cuz I don't feel like that

Still you love me?

Please show me that love

Tokyo, 14 Desember 2015, Pukul 08:45, 

Semuanya mengalir apa adanya. Thea tidak pernah memaksakan dirinya untuk kembali menciptakan satu lagu di hari keduanya selama di Tokyo. Mulanya ia hanya jengah dengan kekurang-pekaan Aldo. Ia lampiaskan kekesalannya di atas tuts-tuts piano keluarga Kim yang diletakkan di ruang tengah. Perlahan, di saat sibuk memainkan beberapa lagu yang Thea ketahui not-notnya, sederet kalimat beserta solmisasi-nya mengerjap begitu saja di pikiran. Lalu, mulutnya mulai berusaha untuk menyinkronkan antara syair tersebut dengan solmisasi-nya. 

"Enggak jelek juga," desah Thea mengikik. "Ternyata gue berbakat juga jadi penulis lagu. Siapa sangka masih bisa menciptakan lagu selama di Tokyo ini."

Derap tepuk terdengar di belakangnya. Thea menoleh. Ternyata Kim Sarang yang tersenyum padanya. Senyum itu lebih mirip sebagai suatu kekaguman. Apalagi sorot mata itu juga telah memberi-tegas bahwa Kim Sarang memang mengagumi lagu baru yang Thea ciptakan secara aksiden tersebut. 

"Eh, Kim," hela Thea tersenyum kecil, lalu kembali menghadap buku partitur yang diletakkan di atas tuts-tuts tersebut. Jangan salah, partitur itu tak berisi lagu baru tersebut. Itu malah berisi lagu-lagu klasik. Salah satunya, "Pernikahan Figarro"-nya Wolfgang Amadeus Mozart. 

"Yang tadi itu lagu ciptaanmu kan?" konfirmasi Kim Sarang. "Soalnya aku belum pernah mendengar ada lagu yang seperti itu. Entah itu lagu Jepang, Korea, Amerika, maupun Indonesia. Ya kan? Jangan bilang aku salah."

Masih tanpa menoleh, Thea mengangguk, memainkan lagu itu, dan berkata singkat, "Iya."

"Aku enggak menyangka, Thea, kamu benar-benar berbakat juga menulis lagu. Aku kira kamu hanya bisa dance, nyanyi, dan--yah kalau melihat dari bentuk tubuhmu, kamu cocok jadi model."

Thea tak menggubris. Ia terus bermain piano. Mungkin karena kehadiran gadis Korea tersebut, ia sengaja memainkan pianonya sehingga terdengar begitu kencang sekali. Seperti orang yang sedang marah saja, lalu melampiaskannya ke sesuatu hal. 

Kim Sarang terkekeh. "Thea, ada yang mau kutanya. Sebetulnya sewaktu masih di Jakarta, aku ingin menanyakan hal satu ini. Tapi aku enggak berani. Yah aku takut kamu jadi malah membenciku."

Thea berhenti. "Mau tanya apa?"

"Lagu yang barusan itu..." Kim Sarang menelan ludah sejenak. "...sepertinya dari pengalaman pribadi yah? Ya kan?" 

Thea masih bergeming. Ia menghela napas sekali lagi. Matanya masih belum mau bersua dengan mata perempuan itu. 

"Kamu enggak lagi mencemburui aku kan?" Langsung saja Kim Sarang sangkil. "Ya maaf kalau misalnya aku terkesan percaya diri seperti ini. Hanya saja selama ini perhatianmu ke aku itu--"

Thea mulai merasa tertohok. Diliriknya sekilas Kim Sarang yang mulai menerbitkan sebuah senyuman. 

"--agak dingin. Mungkin itu cuma perasaanku saja, atau kamu kelihatannya enggak begitu suka aku berada di sekitar kamu dan Aldo. Walau kamu berusaha menutupinya, aku masih tetap bisa melihat kamu enggak begitu menyukai kedekatanku dengan pacarmu itu."

Agaknya Thea mulai berani memandangi Kim Sarang secara blak-blakan. Ia tersenyum lagi. Yang diberikan senyuman itu juga memberikan senyuman balik. Mereka berdua bersitatap. Mungkin terlihat begitu tegang. Bagaimanapun pihak yang satu saja sudah merasa ada yang tidak beres dengan pihak yang lain. 

"Eeee..." Kim Sarang mengertakkan gigi. "...ya sudahlah, lupakan. Mungkin kamu belum siap untuk menjawabnya. Lebih baik kita fokus ke soal lagu barumu itu. Kamu tahu lagumu itu keren juga. Hanya butuh pengubahan sedikit dari kata-kata atau mungkin nada-nadanya. Tapi aku suka lagu-lagu berirama jazzy seperti itu. Apalagi juga ada unsur klasiknya. Oh iya, sewaktu di bandara, aku sempat baca satu selebaran gitu. Soal kontes menciptakan lagu yang diadakan di DiverCity Tokyo Plaza. Nah, gimana kalau kamu ikutan saja? Nanti kubantu proses-prosesnya, deh."

Thea terbelalak. Kim Sarang ini sungguh baik orangnya. Salah sepertinya jika Thea malah terus bersikap setengah hati pada perempuan Korea itu. Lagipula bukankah sebaiknya ia berkata jujur saja soal sesuatu yang sudah lama ia pendam?  

*****

Seoul, 15 Desember 2015, Pukul 11:05,

Kim Min-soo begitu energik sekali memainkannya. Kaki-kakinya bergerak sangat lincah mengikuti pola demi pola gerak tari yang harus diikuti. Malah terlalu lincah. Bisa-bisa mesin itu jadi rusak hanya karena permainan kaki-kakinya yang terlalu brutal. 

Saking brutalnya, tanpa Kim Min-soo sadari, beberapa pengunjung COEX Mall begitu memberikan sorot mata panas padanya. Mungkin kalau ia mau saja memperhatikan sekitar, ada beberapa sorak dan pujian yang para pengunjung itu berikan. Tak hanya itu, sindiran pun ada. Ada satu-dua pengunjung yang mengira dia tak waras. 

Saat seseorang datang mendekat, Kim Min-soo baru sadar. Apalagi saat sosok lelaki itu berseloroh, "Wah, kamu ini begitu semangat sekali bermainnya. Apa kamu ini sedang berlatih untuk audisi menjadi anggota girlband?"

Kim Min-soo berhenti. Beberapa penonton merasa kecewa. Mereka merasa kehilangan atraksi termenarik di mal tersebut. 

"Go Hyun-dae!" seru Kim Min-soo. 

"Tak disangka kamu masih ingat sama aku," ujar Go Hyun-dae tersenyum. "Oh iya, kamu kakaknya kan?" Mungkin karena dilihatnya gadis itu begitu mengernyitkan dahi, ia memperjelas maksudnya, "Maksudku, Kim Nami--maaf."

Kim Min-soo mengangguk, tersenyum. Perlahan Go Hyun-dae beringsut lebih dekat. Gadis itu agak begitu canggung. Meskipun lelaki itu mantan adiknya yang gay, tetap saja kan, pria yah pria. Naluri seorang wanita memang seperti itu tatkala seorang lelaki (apalagi memang Go lumayan tampan) menghampiri. Jantung Min-soo-ssi agak deg-degan pula. Namun gadis itu tak berani berasumsi bahwa itu karena getaran cinta. Bisa saja karena rasa suka semata. Wajar, bukan, seorang perempuan merasa tertarik dengan seorang laki-laki berambut klimis, berwajah mulus tanpa jerawat, mata agak melebar, dagu tirus, dan dada Go Hyun-dae yang terbentuk hasil dari rutin masuk gym tiga kali seminggu.

"Kamu sedang apa di sini?" tanya Kim Min-soo yang terlihat ngos-ngosan. Tak usah heran, gadis itu kan begitu bersemangat sekali memainkan salah satu permainan yang digemari di arena bermain yang ada di COEX Mall tersebut.

Go Hyun-dae berdeham agak lama, lalu menerawang ke arah kiri. "Hanya merelaksasikan diri setelah letih berlatih."

"Berlatih?"

Go Hyun-dae mengangguk. "Yah berlatih. Kamu tidak tahu bahwa aku sudah diterima di  FC Seoul?"

"FC Seoul?" Kim Min-soo serasa tak percaya apa yang didengarnya. "Jadi kamu ini seorang pemain sepakbola? Aku kira kamu bekerja sebagai trainer di gym."

"Hanya untuk mencari uang saja," tutur Go Hyun-dae. "Bagaimanapun kita perlu uang, bukan? Mimpi sih boleh-boleh saja. Tapi urusan perut, tidak boleh dikesampingkan."

Kim Min-soo mengangguk sembari tergelak. "Iya, kamu benar. Tapi jujur saja, aku baru tahu kamu itu seorang pemain sepakbola. Kamu malah tak pernah terlihat sebagai pemain sepakbola. Aku juga belum pernah melihat namamu di deretan pemain FC Seoul."

"Kan selama ini aku berada di tim junior. Baru tiga bulan lalu, aku dipromosikan ke tim senior." ucap Go Hyun-dae masih dengan tersenyum. "Oh yah, lebih baik kita duduk. Yah biar lebih leluasa mengobrolnya."

Kim Min-soo mengikuti Go Hyun-dae menuju bangku kosong yang masih tersedia. Selama Go Hyun-dae memesan beberapa sajian ke pelayan yang datang menghampiri, Kim Min-soo terus memandangi paras lelaki tersebut. Lelaki itu cukup sempurna di matanya. Tak ayal Kim Nami bisa tergila-gila. Ah andai kata Go Hyun-dae itu straight, sudah dari dulu ia mengejar-ngejarnya.

"Jangan memandangiku seperti itu ah," kata Go Hyun-dae. "Aku risih, tahu."

"Mianhae--maaf," Kim Min-soo menundukkan kepala.

"Oh iya, kamu sendiri itu sedang apa di sini, Min-soo?"

"Yaa, aku ini lebih tua dari kamu. Panggil kakak kek. Seenaknya saja kamu memanggil namaku. Bagaimanapun selain kamu itu mantan adikku, usiamu pun lebih muda dari aku."

Go Hyun-dae terkekeh. "Tapi aku tidak suka menganggapku sebagai kakakku."

"Maksudmu?" Kim Min-soo mengernyitkan dahi. "Jangan bilang kamu ini biseks?!"

"Yaa, jangan kencang-kencang bicaranya!"

"Maaf sekali lagi,"  Mungkin perut Go Hyun-dae mulai terasa mulas melihat ekspresi Kim Min-soo itu. "Tapi, maaf juga dengan pertanyaanku ini, apa kamu tidak risih dengan orientasimu itu? Kamu kan sudah diterima di FC Seoul yang jelas-jelas bermain di K-League Classic divisi teratas di kompetisi sepakbola di negeri ini. Cepat atau lambat, media pasti akan tahu juga."

"Kamu ini menyimak berita olahraga juga yah?" kata Go Hyun-dae tergelak ringan.

Kim Min-soo nyengir. "Hanya karena ada Mauricio Molina."

"Sudah kuduga seperti itu. Jangan-jangan tiap suporter perempuan FC Seoul datang ke stadion itu hanya untuk melihat pemain Kolombia itu?"

Kim Min-soo balas terkekeh.

"Oh iya, apa yang kamu beli?" Go Hyun-dae merogoh kantong plastik yang ada di atas meja, yang tadi terus ditenteng Kim Min-soo. Tanpa meminta ijin, ia mengecek isinya. Lelaki itu terbata-bata membaca huruf demi huruf yang tertera di CD musik tersebut. "Apa itu J-K-T-4-8?" Oh iya, dua angka diucapkan dalam bahasa Korea.

"Nama girlband asal Indonesia."

"Oh begitu,"

"Aku tahu, untuk pria sepertimu, kamu pasti lebih menyukai boyband daripada girlband kan?"

"Jangan meledekku, kumohon," kata Go Hyun-dae nyengir. "Lagipula sebetulnya aku masih straight."

"Hah? Kamu serius? Lantas apa maksud hubunganmu dengan adikku itu?"

"Aku terpaksa. Dan sebetulnya, aku lebih menyukai kamu daripada Kim Nami itu. Sejujurnya juga aku menjalin hubungan dengan Kim Nami biar dia tetap semangat dan terus tersenyum. Itu saja."

Kim Min-soo begitu melongo mendengar pengakuan lelaki tersebut.

"Aku juga sebetulnya ingin mencoba jujur padanya. Tapi selalu urung. Aku tak pernah mendapatkan waktu yang tepat hingga kematian datang menjemputnya. Kalau saja ia masih ada, aku ingin bilang bahwa sebetulnya aku lebih menyukai kakaknya."

Kedua pipi Kim Min-soo memerah. Entah itu karena tersipu, entah pula karena kesal.

*****

Tokyo, 14 Desember 2015, Pukul 09:15,

Tak dihiraukan segala celotehan Kiriko itu. Dari atas, mungkin karena suara dua perempuan itu yang lumayan kencang, Aldo jadi terpekur. Benarkah seperti itu? Benarkah dugaan Kim Sarang tersebut? Apalagi seringkali, tak sedikit juga, seniman yang menciptakan karya berdasarkan kisah nyata. Bukankah penikmatnya itu jauh lebih menyukai kisah yang terinspirasi daripada sekadar fiksi belaka?

"Aldo-kun, why?" tanya Kiriko mengernyitkan dahi. Tampak gadis itu rada tersinggung karena dianggap angin lalu.

Aldo menggeleng. Sekelabat begitu saja muncul ide untuk memberikan suatu kejutan bagi Thea. Langsung saja lelaki itu turun untuk menghampiri Thea dan Kim Sarang. Saat baik kedua perempuan itu coba mengkroscek (Kali saja lelaki itu tak sengaja menguping beberapa poin yang tak seharusnya didengar), Aldo dengan entengnya berdalih, "Enggak kok, aku baru saja turun. Memangnya kalian lagi ngomongin apaan? Enggak lagi ngomongin aku kan?"

1
Helen Apriyanti
nyimak
nuellubis
Yang minta dikunjungi balik itu banyak. Alhasil nggak semuanya dapet komentar. Ada yang cuma dikasih like aja. Cuma mampir dan kasih like. Belum sempet dibaca sama aku. Maaf ya.
nuellubis
oke, udah semua ya dikunjungi balik. Ga semua dibaca, tapi pasti di like. semangat!
nuellubis
thank you udah mampir. nanti kalo sempet, aku kunjung balik. 😊
Alexa Havid
kok putus sih, kasian Aldo 🙃🙂
nuellubis: nggak kok. nggak putus. malah ending nya nikah. hehe
total 2 replies
Moon Aeri
Halo thor ijin promosi yaa
Dan hai teman-teman aku punya novel romance nih judulnya LOVE HIGH, cerita ini tentang 2 remaja yang berlibur ke korea, tapi malah terlibat Cinta sama member boy band... Hmmm bukannya Cinta sama idol itu rumit ya dan pastinya banyak scandal, penasaran?? Sambil nunggu episode terbaru novel "Lika-Liku Asmara Aldo Thea" Mampir yukkk...

Makasih mantemann
Makasih juga authorr, semoga sukses selalu
Andriani Salsabila
next kk😀aku udah mampir ni bawa boom like di tunggu up nya ya 😁 salam dari GARIS TAKDIR 💕 Mampir ya kalau ada waktu saling dukung 😁
Min Kocheng: Hallo kak😀
mampir juga ke novelku yuk,judulnya:

JATUH CINTA PADA MUSUH AYAHKU.

Jangan lupa tinggalin jejak yaa :?
total 1 replies
nuellubis
thank ya yang udah mampir. ditampung dulu. nunggu antrian ya.
_sshinta
Mampir di ceritaku juga ya kak "BERI AKU KEBAHAGIAAN" terimakasih. Like, komen, dan vote juga ya kak

Mari saling dukung😍
Memey
semangat thor🖎💪👍

salam dari
SORRY MY HEART😊

jgn lupa
Like, rate 5, comen & vote

mari saling dukung thor🤗
kartika jilan
hai kak, aku udah boom like dan rate 5 yaa
Ceritanya bagus bangat

jangan lupa mampir kenovel aku yaa 🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!