NovelToon NovelToon
Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Contest
Popularitas:524k
Nilai: 5
Nama Author: ayunda siti.f

Jihan Ayudia seorang remaja cantik bertumbuh tinggi dan rambut lurus panjang dan tebal. Kehidupannya sangat menyenangkan walaupun hidup di sebuah desa yang jauh dari keramaian dia dan ke tiga sahabatnya di cap sebagai bad girl karena seringnya berkelahi baik dengan teman sebaya ataupun preman pasar. Namun kehidupannya tidak selamanya baik dia di nikahkan dengan seorang yang tidak pernah dia kenal seorang remaja tampan dari kota anak dari teman papnya saat kecil bernama Dwi Putra Suseno dan saat pernikahan pun dirinya tidak mengetahuinya. Dia mencoba untuk menerim semua keputusan yang di buat oleh orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda siti.f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cemburu

Saat Jihan menyelesaikn mencuci piring tiba tiba seseorang masuk, seseorang yang sangat Jihan rindukan walau hanya pergi sebentar. Jihan lalu berbalik dan memeluknya erat di susul seorang lagi di belakangnya membuat Jihan berlari berganti memeluknya sedangkan Dwi hanya mencium tangan kedua mertuanya.

"Loh kamu makan beli Ji" tanya Mama yang baru saja sampai rumah.

"Iya Mah, biasa kalau minggu males bangun terus kak Dani beli sarapan ya udah kita makan" ucap Jihan.

"Oh terus kemana Dani" tanya papa.

"Bilangnya mau ke rumah temen, mama sama papa istirahat aja dulu" ucap Jihan.

"Iya, ngomong ngomong Wi gimana Jihan pas kita tinggal" tanya Mama Anggun.

"Jihan urusin Dwi dengan baik kok mah" ucap Dwi.

"Baguslah, kalau dia bisa urusin kamu soalnya urus diri sendiri aja belum mahir" ucap Mama.

"Terus ejek terus, kenapa gak sekalian bilang kalau tidur suka merem" cibir Jihan.

"Emang kalau tidur ada yang melek" ucap Dwi.

"Kalian udah nikah tapi gak pernah akur ya apa perlu mama tinggal lagi" ancam mama.

"Jangan dong Ma, gak ada Mama satu hari aja sepi banget" ucap Jihan.

"Benarkah" tanya Mama menggoda.

"Beneran Mah" ucap Jihan.

"Yaya, mama mau istirahat dulu bye" ucap mama.

Jihan hanya menatap mamanya aneh pasalnya mamanya tidak pernah se lebay itu menurutnya tapi hari ini sangat aneh, Jihan tau kalau mamanya sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.

"Ji mau temenin mas gak" tanya Dwi.

"Kemana" tanya Jihan.

"Ke dokter Ridwan" ucap Dwi.

"Dokter kamu sakit" tanya Jihan khawatir.

"Gak, cuma mau main aja kamu tau rumahnya kan" tanya Dwi.

"Tau deket juga dari sini" ucap Jihan.

"Ya udah kita mandi dulu nanti ke sana" ucap Dwi.

"Ya udah duluan mandi sana" ucap Jihan.

"Kamu duluan biasanya cewek lama" cibir Dwi.

"Yayaya terserah, paling juga mau kerja dulu" ucap Jihan berlalu.

Dwi hanya menggelngkan kepalanya, Dwi lalu menyusul Jihan ke kamarnya benar yang Jihan bilang kalau Dwi harus menyelesaikan pekerjaan kantornya lebih dulu baru akan mandi. Jihan mandi dengan cepat saat keluar Jihan melihat Dwi yang masih berkutik dengan laptopnya.

"Mandi dulu sambung nanti" ucap Jihan duduk di sebelah Dwi.

"Iya sayang bentar lagi selesai kok" ucap Dwi.

"Ya sudah kalau begitu saya tutup rapat ini saya ingin satu minggu lagi kalian serahin revisi kalian ya" ucap Dwi sangat berwibawa.

Dwi menutup laptopnya, Dwi melihat ke arah Jihan aneh karena Jihan melihatnya tanpa kedip.

"Kamu kenapa, awas jatuh cinta" ucap Dwi.

"Ih, gak ya kamu tadi lagi meeting kenapa gak ngomong kalau tau kan gak aku ganggu tadi" ucap Jihan merasa bersalah.

"Gak apa apa lagi, ini juga orang orang aku semua" ucap Dwi.

"Ya tetep aja gak enak, tapi sekarang kan minggu kenapa ada meeting" tanya Jihan.

"Iya, untuk menyelesaikan sebuah masalah" ucap Dwi.

"Oh, gitu" ucap Jihan ber oh ria.

"Udah jangan ngelamun mulu, nih kalau kamu pemasaran apa yang sedang aku kerjakan" ucap Dwi memberikan laptopnya ke pangkuan Jihan.

"Eh kenapa, lagian buat apa cari tau kalau gak bisa bantu" ucap Jihan menaruh laptop Dwi di meja.

"Terserah kamu" ucap Dwi tersenyum.

"Sudah mandi gih bau tau" perintah Jihan.

"Iya sayang, bau dari mana wangi gini" ucap Dwi.

Jihan tidak menjawab hanya menatapnya. Dwi merasa aneh dengan tatapan Jihan pun tersenyum lalu berlalu ke kamar mandi untuk mandi.

"Punya berapa sisi dia ya, cara ngomongnya tadi beda banget sangat berwibawa, sebenarnya dia siapa " ucap Jihan lirih.

Jihan bersiap dan memoles wajahnya tipis, tak berselang lama Dwi keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk di pinggangnya membuat Jihan menelan salivanya karena tubuh Dwi so perfeck.

"Kenapa gitu liatnya mau pegang" ledek Dwi.

"Eh gak, pakai baju sana" ucap Jihan melihat arah lain sembari berdiri.

Bukannya pergi untuk memakai baju Dwi justru mendekati Jihan dan memeluknya dari belakang membuat Jihan terperanjak. Dwi mengendus leher mulus Jihan membuat Jihan geli dan membalikkan badannya.

Dwi tidak menyia nyiakan kesempatan langsung menarik pinggang Jihan sehingga mereka tidak ada jarak, wajah mereka juga sangat dekat membuat Jihan membatu. Jihan memundurkan wajahnya namun dengan cepat tangan Dwi menarik tengkuknya dan mengecup bibir Jihan. Karena tidak ada perlawanan dari Jihan Dwi melanjutkannya dengan me****t bibir Jihan walau tidak ada balasan namun Dwi menyukainya karena tidak ada protes dari Jihan.

Dretttt... dretttt .. drett.....

Suara ponsel Dwi membuat Dwi menyudahi ci***nnya.

"Siapa si ganggu aja" ucap Dwi kesal.

"Mas" ucap Jihan melepaskan diri dari Dwi.

"Hm, ambilkan kaos aja" ucap Dwi melepas Jihan walau berat.

"Baiklah" ucap Jihan menunduk dan berlalu.

Jihan mengambilkan baju untuk Dwi, Jihan mendengar saat Dwi sedang mengangkat telfonnya membuat Dwi tersenyum karena Jihan begitu serius. Dengan cepat Dwi menutup telfonnya.

"Ini mas" ucapnya memberikan baju.

"Terima kasih" ucap Dwi mengambil baju yang Jihan bawa sembari menariknya membuat Jihan maju beberapa langkah kemudian Dwi mencium pipinya.

"Udah dong" ucap Jihan.

"Kenapa, malu" tanya Dwi.

Jihan hanya mngangguk seperti anak kecil yang ketahuan berbohong diam dan menunduk.

"Baru gue cium belum yang lain, kalau mas minta itu gimana" ledek Dwi.

"Mas" rengek Jihan.

"Hehe iya sayang, ya udah yuk berangkat kita pakai motor aja ya" ucap Dwi.

"Jalan kaki aja, orang deket" ucap Jihan.

"Iya deh terserah tuan putri" ucap Dwi.

Jihan dan Dwi berangkat ke rumah dokter Ridwan, Dwi dan Jihan berpamitan untuk pergi dengan berjalan kaki Dwi mengikuti Jihan yang memilih berjalan di jalan sempit.

"Jalannya kok sempit banget si yang" ucap Dwi.

"Kamu aja yang kegedean" jawab Jihan.

"Gede dari mananya, ini tuh atletis" bela Dwi.

"Ya terserah kamu, kita lewat sini biar cepet sampai tau kalu lewat jalan besar naik banget males" jelas Jihan.

"Iya, bilang aja sama cari jalan yang sepi biar kita bisa berduaan iya kan" ucap Dwi.

"Bisa gak si jangan ke GRan" ucap Jihan.

Dwi hanya diam saat melewati jalan yang agak besar Dwi lalu mengejar Jihan dan menggenggam tangan Jihan erat. Jihan hanya pasrah tidak mau berdebat dengan Dwi.

"Siang dok" ucap Jihan saat ada seseorang sedang berkebun dan memunggunginya.

"Siang" ucapnya membalikkan badan.

Jihan tersenyum saat Dokter Ridwan melihat ke arah nya membuat Dwi cemburu.

"Eh Jihan siang Ji, ada apa tumben" tanya Dokter Ridwan.

"Iya gue yang ajak" ucap Dwi memajukan bibirnya.

"Eh Dwi, kamu bener ini Wi ada apa nih" ucap Ridwan saat menyadari Dwi ada di situ.

"Mau nanya terus gak di suruh masuk nih panas tau" cibir Dwi.

"Eh iya lupa, masuk Ji" ucapnya.

"Terima kasih dok" ucap Jihan.

"Giliran sama istri gue aja lo lembut gitu" ujar Dwi.

"Istri" tanya Ridwan tidak percaya.

"Iya, kenalin dia istri gue Bang maaf kemarin gak sempet ngundang gak tau rumahnya soalnya" ucap Dwi.

"Ternyata lo duluin gue ya cil" ucap Ridwan.

"Cil cil, gue udah bukan bocil lagi kali Bang" cibir Dwi.

"Yaya, tuan CEO " ucap Ridwan.

"Ngomong ngomong selamat ya atas pernikahannya, gak nyangka Ji lo udah di gaet orang" ucap Ridwan tersenyum.

"Udah lo Bang, jangan liatin istri gue lama lama kasian nanti cantiknya luntur" ucal Dwi cemburu.

"Cie sepupu gue cemburu, cepet kasih debay ya" ledek Ridwan.

"Sebentar, kalian sepupuan " tanya Jihan penasaran.

"Iya, kenalin dia Abang sepupu mas dan satu satunya dokter di keluarga mas" ucap Dwi.

"Oh, yayaya emang yang lain kerjanya apa" tanya Jihan polos.

"Polos bener istri lo Wi" ucap Ridwan.

Dwi hanya tersenyum lalu mengacak acak rambut Jihan membuat Jihan memajukan bibirnya.

"Ji kamu gak angkat telfon Jovan" tanya Dwi.

"Gak, bawa ponsel juga gak" jawab Jihan.

"Nih, pake siapa tau penting" ucap Dwi memberikan ponselnya.

"Iya, terima kasih" ucap Jihan mengambil ponsel yang Dwi berikan.

"Hallo, Bang tega banget lo baru telfon gue biasanya sampai langsung telfon" marah Jihan.

"Iya iya Adik cantikku maafin Abang, soalnya Abang baru bangun kemarin sampai udah malem banget ada kendala di jalan" jawab Jovan di sebrang.

"Oh tapi Abang oke kan" tanya Jihan.

"Abang oke, gimana udah proses belum" ucap Jovan.

"Proses apa" tanya Jihan bingung.

"Proses, kasih kabar calon ponakan Abang" ujar Jovan berakhir dengan gelak tawa.

"Tawa aja terus ejekin terus males udah males telfon Abang" ucap Jihan mematikan telfonnya.

"Udah kok cepet" tanya Dwi.

"Udah, Abang nyebelin" ucap Jihan jutek.

"Gak boleh gitu, terus Abang yang nyebelin juteknya sama mas" ucap Dwi.

"Iya iya maaf, kelepasan" ucap Jihan.

"Sini minta maaf yang bener" ucap Dwi menyuruh Jihan untuk duduk di sebelahnya yang kosong.

"Mulai deh ceramah pasti" cibir Jihan tapi menuruti yang Dwi katakan.

"Duduk diem udah, gini" ucap Dwi terpotong.

"Stop, Jihan udah tau mau ngomong apa" ucap Jihan lalu menyandarkan kepalanya di pundak Dwi sembari memainkan ponsel Dwi.

Dwi tersenyum kemudian melanjutkan ngobrolnya dengan sepupunya. Jihan hanya serius main game tanpa menghiraukan ke dua orang yang melihatnya aneh. Karena terlalu lama Dwi mengobrol sesuatu yang bahkan Jihan tidak tau apa yang mereka bicarakan Jihan beberap kali merubah posisinya.

"Mas masih lama gak si" tanya Jihan.

"Kenapa capek" tanya Dwi lembut.

"Iya, nih ponselnya maksih Jihan keluar ya" ucap Jihan.

"Udah" ucap tanya Dwi.

"Udah, Jihan keluar ya pusing denger kalian ngomong" ucap Jihan.

"Iya tapi jangan ninggalin, mas gak tau jalan soalnya" ucap Dwi.

"Iya mas di depan doang kok gak percaya Jihan buka pintunya lebar lebar ya" ucap Jihan.

"Terserah kamu" ucap Dwi.

.

.

.

.

.

.

.

Jangan lupa kan Author...

Maaf mksudnya jangan lupa Like Vote dan Komennya ya...

1
Ricky Rang Guccy
bisa gk, Jihan nya kalau ngomong gk pakai lu gue
Tina Martina
kapan up lg thor
Tina Martina
senangnya liat Jihan dan bs bersatu kembali jgn pisahkan lg mereka thor
Fitri Muaidah
ko gc up lagi ka
Tina Martina
jangan pisahkan lagi Jihan SM Dwi Thor satukan mereka sudah cukup lm Mereke menderita dlm hubungan mereka biar kan Mereke bersatu
Lutfie Wachad
status Dwi mau dibikin apa Thor..?
Lutfie Wachad
kenapa Dwi ga ambil sikap apakah mempertahankan pernikannya dengan Klara atau menyudahinya setelah Jihan kembali.bersama anak-anaknya.
Lutfie Wachad
Jihan kembali ke perusahaannya dengan tujuan mau tau apa yang sedang terjadi disini
Lutfie Wachad
rumit juga percintaan Jihan dengan Dwi kapan bahagianya mereka...🤔
Tina Martina
Tolong Thor satukan kembali keluarga Dwi SM Jihan sudah lama mereka menderita aku ingin melihat mereka hidup bahagia tanpa ada yg mengganggu lg
Lutfie Wachad
lanjut Thor...
Tina Martina
Maaf ya Thor,dr pertama aku baca novel ini aku kok kurang mengerti ya jln ceritanya SM ceritanya kok berbelit2 sekali
Nora Delfina
dwi gak tegas tinggalin aja
Nora Delfina
tegas dwi jangan plinplan kalau kayak gitu mendingan jihan sama ray aja tor
Nora Delfina
dwi cerai kan saja klara kan bukan tanggung jawab kamungurusin mereka sementara anak kandung samaistri lu sakit hati dan terluka
Fitri: Assalamualaikum... maaf mbak kemarin2 saya jg uda minta d revisi, emang uda ada yg d revisi... tp saya kn minta klara m dwi pisahan.... yg bnyk salahkn klara jd dia harus bertanggung jawab, buatlah tokoh dwi itu tegas... dan buatlah mereka jd keluarga yg sakinah mawwadah warromah... semoga d terima y mbak usul saya,... dan jgn bnyk cerita yg kemarin2 buatlah tokoh jihan itu jd ibu yg menjadi contoh yg baik.. buat jd dewasa lg, lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT... buatlah perubahan seperti itu... biar tambah menarik ceritanya... 😘😘😘😘🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Lutfie Wachad
semoga Jihan bisa kembali hidup bahagia dengan Dwi dan anak-anaknya
Lutfie Wachad
dilanjut Thor..
Lutfie Wachad
syukurlah Jihan mulai bisa menerima Dwi....karena anak-anaknya membutuhkan ayahnya.
Lutfie Wachad
gimana tuh perasaan Jihan setelah berpisah lama dengan Dwi semenjak hamil hingga anak-anaknya lahir dan saat ini udah sekolah tahu-tahu suaminya udah punya istri lagi...apakah Jihan akan bersama dengan Dwi apa memilih hidup dengan anak kembarnya...
Fitri
Assalamualaikum... mbak, klo bisa dwi uda cerai dr clara biar bersatu jihan dwi dan anak2ny... masih ku tunggu revisimu mbak...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!