Menceritakan perjuangan seorang gadis bernama Lissa dalam mencari kebahagiaan, dari segala masalah yang dialaminya sejak ia masih kecil.
Hingga takdir mempertemukannya pada pemuda tampan bernama Vino, yang membawa sejuta harapan padanya.
Keduanya saling mencintai meski harus melewati rintangan yang tak mudah.
Membuat mereka terkadang harus menyerah pada keadaan.
Sementara tanpa Lissa sadari ada pemuda lain bernama Rio yang selalu menaruh perhatian padanya.
Meski memiliki sikap acuh dan dingin, hal itu tak mengurangi pesona yang Rio miliki sejak lahir.
Walau terkadang sikapnya membuat Lissa semakin membencinya.
Bagaimanakah kisah hidup Lissa diantara kedua pria tampan ini?
Simak ceritanya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal menggemparkan di sekolah
Tak butuh waktu lama bagi kami sampai di sekolah.
Vino yang begitu lihai mengendarai motor dengan cepat memacu laju motornya.
Sesampainya kami diparkiran Vino langsung melepaskan helm yang masih menempel di kepalaku.
Dirapikannya rambutku dengan sapuan tangannya yang lembut.
Aku tersenyum melihat sikapnya yang begitu manis dan penuh perhatian.
Kemudian aku berjalan melenggang hendak menuju kelas, kupikir Vino akan mengikuti langkah disampingku.
Tapi begitu terkejutnya aku saat membalikkan badan dan kulihat Vino masih terpaku berdiri melihat ke arahku di samping motornya.
"Ada apa Vino? kenapa kamu masih berdiri disana?" aku berjalan kembali menghampirinya.
Dia masih diam sambil mengerutkan dahinya, benar-benar lucu.
"Lissa, apa kamu sebegitu tidak pekanya padaku? aku udah nunggu kamu lama tadi, coba aja kalau aku tadi enggak jemput kamu, pasti kamu akan datang terlambat ke sekolah hari ini." ucapnya dengan bibir manyun.
Aku yang melihat ekspresi menggemaskan itu mencubit pipinya dengan lembut.
"Ishh, pacarku ini bener-bener bikin gemes" batinku.
"Maaf sayang, aku lupa ngucapin terima kasih tadi." ujarku sambil menarik tangan Vino.
Tapi dia tetap tidak bergeming.
"Apa lagi sekarang Vino!" aku masih bingung dengan sikapnya.
"Hanya ucapan terima kasih?" sambungnya berdecak.
"Memangnya mau apa lagi sayang?" tanyaku bingung.
"Seperti ini mungkin, Cup..." tiba-tiba Vino mencium pipiku dan berlalu pergi sambil tersenyum puas bisa mengerjaiku.
"Vino! kamu nakal." akupun berlari mengejarnya.
Namun seberapa pun kencangnya aku berlari tetap saja tidak bisa mengejarnya.
Sampai tiba-tiba didepan perpustakaan aku menabrak seseorang.
Gubraaak!!!
Akupun kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh, tapi seseorang dengan sigap menangkapku.
Dalam sekejap tubuhku saat ini sudah ada dalam dekapannya.
"Rio" gumamku kemudian.
"Dasar ceroboh." ucapnya.
Mata kami pun bertatapan saling mengunci pandangan.
Tapi Rio masih belum juga melepaskan dekapannya.
Sampai kemudian Vino datang dan menarik tanganku.
Aku langsung kaget melihat ke arah Vino.
Kulihat matanya menunjukkan ketidak sukaannya kepada Rio.
Sementara Rio hanya diam dan balik menatap tajam Vino.
Kemudian Vino meletakkan kedua tangannya di pipiku seraya melempar senyum sinis ke Rio.
"Kamu baik-baik aja kan sayang?" Vino mengusap lembut pipiku.
"Aku baik-baik aja kok Vino." jawabku sedikit gugup.
"Maafkan aku udah ninggalin kamu lari sendirian dibelakangku, lain kali aku enggak akan ulang,"
"Aku enggak rela bila ada orang yang memanfaatkan kesempatan itu untuk meraih dan memegang tubuh kamu saat kamu hilang dari pandanganku" Vino bicara sambil menatapku manja.
Tapi entah kenapa aku merasa Vino melakukannya dengan sengaja untuk menyindir Rio.
Seketika suasana berubah tegang, seperti ada perang dingin antara mereka berdua.
Kemudian kulihat Rio dengan tatapan datarnya hanya berlalu meninggalkan kerumunan teman-teman kami yang penasaran melihat kejadian barusan.
"Cie cie udah go publik sekarang ya, jadi udah enggak sembunyi-sembunyi lagi nih."
"Mereka beneran udah jadian?"
Banyak lagi suara suara riuh yang kudengar dari mulut teman-temanku.
"Iya, doain langgeng sampai pelaminan ya temen-temen." ucap Vino sedikit berteriak.
"Aamiin." sahut mereka bersamaan.
"Sebagai rasa terima kasih atas doa kalian, di jam istirahat nanti aku bakal traktir kalian semua makan di kantin sepuasnya." teriak Vino yang disambut riuh oleh yang lainnya.
Aku sendiri merasa malu dan kurang nyaman karena sekarang hubungan kami diketahui oleh satu sekolah.
Kemudian aku berjalan meninggalkan Vino yang masih tertawa girang.
"Tunggu aku Lissa." Vino berlari mengejarku.
Akhirnya ujian di les pertama selesai.
Kemudian Vino menghampiriku dan mengajakku ke kantin.
"Kita ke kantin yuk sayang, aku laper nih." ajaknya.
"Aku lagi males Vin, kamu aja gih sana, aku mau baca buku untuk ujian di les berikutnya." jawabku.
Sebenarnya aku merasa sedikit kesal karena Vino terang terangan mengakui bahwa kami sudah pacaran.
Entah kenapa aku merasa risih menjadi perhatian banyak orang.
Sebagaimana di ketahui, Vino adalah siswa yang cukup populer di sekolah dan banyak gadis yang sangat menggilai dan mencoba mendekatinya.
Lalu sekarang mereka tau kalau aku adalah pacarnya Vino.
Jadi sudah bisa dibayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Mereka pasti akan membeciku karena merasa cemburu, terutama Cintya.
"Ayo sayang, nanti kamu sakit." bujuk Vino setengah memaksa.
"Vino, aku benar-benar lagi males." aku masih menolak ajakannya.
"Baiklah, tunggu aku sebentar disini, aku akan beli makanan kesukaan kamu dan membawanya kesini." Vino kemudian berlari ke luar kelas.
Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang sedikit kekanakan.
Tapi yang aku suka darinya dia tidak pernah memaksakan kemauannya padaku.
Dia selalu menghargaiku.
Vino adalah sosok yang sangat perhatian dan pengertian.
Aku tengah asyik membaca buku, kebetulan didalam kelas aku hanya sendirian.
Tiba-tiba Cintya dan teman-temannya datang menghampiriku.
Aku yang tau kedatangan mereka mencoba tidak ambil pusing.
Aku tetap saja fokus membaca buku.
kemudian Cintya meraih dan mencampakkan buku dari tanganku.
"Enggak usah sok rajin Lissa, karena sepintar apapun dan serajin apapun kamu belajar tetep aja nasib kamu jadi gembel, pelayan rendahan." ucap Cintya pedas.
"Maksud kamu apa Cintya?" aku masih mencoba menahan kesabaranku.
"Jangan pura-pura **** gitu dong Lissa, pasti kamu uda ngerti kan maksud kedatangan kami kesini." kali ini Cintya bicara sambil sedikit melotot.
"Aku enggak punya waktu buat ngeladeni kalian." kemudian aku berdiri hendak meninggalkan mereka dari kelas.
Tapi teman-teman Cintya menghadangku, aku masih tetap berusaha tenang.
"Mau kamu apa sih Cintya, aku enggak punya urusan dengan kalian terutama denganmu Cintya." aku menatapnya dengan tajam.
"Oh dia udah mulai berani rupanya." Cintya menghampiriku dan dia mendekatkan wajahnya tepat di hadapanku.
"Memang benar sih kamu cantik, tapi percuma kalau hanya dipakai buat merayu tunangan orang, dasar cewek murahan!" ucap Cintya sambil mendorong tubuhku kebelakang.
"Harusnya kamu tau diri Lissa, kamu itu tidak sebanding dengan Vino," ucapnya angkuh.
"Aku peringatkan padamu, jauhi Vino karena sebentar lagi kami akan bertunangan!" Cintya masih mencoba menekanku.
Mendengar ucapannya aku hanya tersenyum melihat ke arahnya.
"Masih mau tunangan kan, tapi maaf Cintya, nyatanya saat ini akulah yang dipilih Vino untuk menjadi pacarnya." jawabku tak mau kalah.
"Kamu juga cantik Cintya, tapi masih kalah dariku, jadi jangan membuatku merasa kasihan melihatmu yang ngemis cinta pada pria yang sama sekali tidak tertarik padamu!"
Aku tidak tau entah dari mana aku mendapatkan keberanian seperti ini.
Aku hanya tidak ingin terlihat lemah dimata Cintya.
Mendengarku yang berkata demikian Cintya semakin tersulut emosinya.
"Kurang ajar kamu Lissa, pasti orang tuamu enggak pernah mendidikmu dengan baik, maklum aja orang miskin seperti kamu pasti hanya ingin menjerat pria kaya agar bisa kalian manfaatkan bukan?"
"Jangan-jangan kamu mendapatkan sifat ini dari orang tuamu." ujarnya semakin terlihat menyebalkan.
Aku marah mendengarnya bicara begitu.
Mungkin mereka memang bukan orang tua yang baik.
Tapi aku tidak terima bila ada orang yang mencoba merendahkan orang tuaku.
Aku tak masalah bila mereka menghinaku.
Tapi tidak bila menyangkut kedua orang tuaku.
Kutatap tajam wajah Cintya, kudorong balik tubuhnya, ingin rasanya menampar mulutnya yang pedas itu.
Tapi teman-temannya menghadangku.
Kemudian Cintya menarik tanganku dan mau menarik rambutku.
"Ada apa ini ! hentikan Cintya!" Vino berteriak sangat kencang.
Vino datang dengan langkah besar sambil membawa minuman dan roti lapis kesukaanku.
Kemudian Vino berjalan ke arah kami.
Sementara diluar kelas orang-orang sudah berkerumun karena mendengar ada keributan.
Vino menatap tajam ke arah Cintya, dia kelihatan sangat marah.
Kemudian aku melepaskan cengkeraman tangan Cintya dariku, aku menghampiri Vino dan melingkarkan tanganku ke lehernya. Kutatap manja wajahnya yang saat ini terlihat cukup heran melihat sikapku.
"Sayang, mereka ini enggak percaya kalau aku ini pacar kamu, apa kita perlu membuktikannya?" ucapku melirik Cintya.
Cup...
Kucium bibir Vino dengan lembut di depannya.
Vino hanya terdiam menerima perlakuan tiba-tiba dariku.
Kudengar teman-temanku bersorak riuh dari luar kelas.
Sementara Cintya,...
Kalian bisa bayangkan bagaimana ekspresi wajahnya saat ini?
jngan lama² dong klo ngilang😔😔kan kngen ma rioo😘😘
thoer kpn ni rencana up lgi,??
msak nunggu 3xpuasa ma 3x lebaran lgi😁😁✌️