NovelToon NovelToon
JODOHKU MAJIKANKU

JODOHKU MAJIKANKU

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Cintapertama / Cintamanis / Perjodohan / Tamat
Popularitas:92.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nie Junie

Risha yang akan dijodohkan memilih kabur dari rumahnya, dan akan bertahan dengan bekerja menjadi ART.

Namun siapa sangka ternyata tempat ia bernaung adalah rumah lelaki yg akan dijodohkan olehnya.

Bagaimana Risha mengahadapi perjodohan ini, bagaimana lika liku yang akan dihadapi Risha?

Nantikan ceritanya disini yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nie Junie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 20 - GADIS DI FOTO

"Kita jalan malam yuk" ajak Rayhan melihat Risha yang sudah berdiri dari duduknya, ia menggelengkan kepalanya.

"Kenapa?" tanya Rayhan mengerutkan keningnya.

"Aku capek, mau tidur" Risha tak ingin membuat Rayhan letih karena mengingat besok ia akan keluar kota.

"Nanti aja habis kamu pulang dari Bandung" lanjut Risa dan mendapat anggukkan kepala dari Rayhan.

"Aku ke kamar dulu ya" Risha kemudian pamit undur diri. Namun saat ia baru membalikkan badannya tangannya di cekal oleh Rayhan.

"Kenapa lagi?" tanya Risha heran. Rayhan pun melepaskan cekalan tangannya di pergelangan tangan Risha.

"Aku lapar Ris, buatin steak ya" Rayhan menatap Rayhan dengan sorot matanya memohon.

"Iss tadi ditanya ga dijawab sekarang bilang lapar, apa sih maunya" Risha bersungut karena ia sudah mulai merasa mengantuk.

"Ya udah tidurlah sana" ucap Rayhan lemas.

"Tunggu sebentar" ucap Risha, ia pun berlalu dan langsung menuju dapur membuatkan makanan untuk Rayhan.

Risha mengambil daging di chiller, kemudian ia marinasi sebentar kemudian dimasaknya. Sambil menunggu ia pun membuat saus steak dan memasak makanan pelengkapnya.

Lima belas menit Risha berkutat di dapur akhirnya masakannya selesai. Ia langsung menaruh semua piring saji di nampan dan membawanya ke lantai dua menuju kamar Rayhan.

Risha yang merasa Rayhan sudah tahu kalau ia akan membawa makanan untuknya langsung masuk ke kamar Rayhan. Ia pikir Rayhan masih di ruang kerjanya maka ia tak mengetuk pintu terlebih dahulu. Namun saat ia melihat Rayhan yang masih di ruang kerja tengah memandangi sebuah foto yang Risha tahu foto tersebut sering berada di lemari milik Rayhan. Ia pun langsung merasa kesal sendiri.

"Salahnya gue ya ga tanya dulu, kok gue sakit hati gini sih" Risha tanpa sadar telah menekuk wajahnya seiring ia mendekat ke arah Rayhan.

Rayhan yang tidak mengerti perubahan raut wajah Risha karena apa sempat mengabaikannya, berpikir itu hanya perasannya saja. Sampai saat Risha sudah selesai meletakkan nampan ke atas meja kerja Rayhan dengan sedikit kasar ia pun terhenyak, Risha kenapa pikirnya.

"Kamu kenapa yang?" tanya Rayhan bingung.

"Ga apa-apa" jawabnya ketus, kesalnya datang lagi.

"Kamu mau kemana?" tanya Rayhan bingung melihat Risha tak menungguinya untuk makan, tapi ia malah berlalu menuju pintu keluar ruang kerja.

"Aku mau tidur" masih ketus. Risha pun berhenti sejenak namun tak membalikkan badannya.

"Kamu ga temanin aku makan yang?" tanya Rayhan lagi menatap punggung Risha.

"Ga usah minta sama aku. Sama foto aja!" ucap Risha kemudian ia berlalu, menutup pintu ruang kerja sedikit dibanting, begitu juga saat ia menutup pintu kamar Rayhan.

Rayhan terhenyak mendengar ucapan Risha baru saja, ia kemudian menatap ke samping lengannya yang ia letakkan di meja kerja. "Kenapa minta temanin sama foto? Apa dia udah tahu?"

Rayhan yang sadar dengan maksud Risha akhirnya memutar rekaman CCTV yang ada di ruang walk in closet miliknya pada laptopnya. Ia memperhatikan setiap pergerakan Risha saat berada di sana dan benar saja dugaannyaa, Risha sudah melihatnya.

"Shit!" umpatnya kesal.

"Kenapa ga dari kemarin-kemarin sih gue singkirin nih foto!" Rayhan menjambak rambutnya kasar.

Sebenarnya foto yang ia lihat hanya disimpannya selama ini tanpa ia pernah lihat lagi sekalipun. Ia membawa foto tersebut ke ruang kerjanya dengan niat akan merobek foto tersebut karena kini ia sudah memiliki Risha, jadi gadis di foto tersebut sudah tidak penting lagi untuknya.

Kini Rayhan segera berdiri dan membawa kembali nampan yang Risha taruh tadi di meja kerjanya. Ia akan meminta maaf malam ini juga, karena esok pasti sudah tidak sempat. Ia pun segera berlalu keluar ruang kerjanya dan keluar dari kamarnya. Menuruni tangga denga tergesa-gesa dan dalam sekejap ia sudah berada di depan kamar Risha, namun tak kunjung ia mengetuk pintu.

Cemas rasanya melihat Risha yang tiba-tiba berubah raut wajahnya tadi. Ia seperti kesal bercampur marah, Rayhan tak pernah melihatnya seperti itu. Meskipun sering dibuat kesal tapi tak seperti itu wajah yang Risha tunjukkan, apa ia cemburu?

Rayhan memutar otaknya, memikirkan apa yang ia akan utarakan nanti. Sudah lima menit ia berpikir tapi tak juga mampir di otaknya apa yang harus ia bicarakan apalagi yang akan ia lakukan. Bi Zah yang melihat Rayhan dari tadi hanya diam saja di depan kamar Risha memberanikan diri untuk menghampiri dan bertanya.

"Mas Ray ada apa?" tanya Bi Zah pelan.

"Ga ada apa-apa Bi" ucap Rayhan tersenyum, tak ingin membuat yang lainnya bingung.

"Ya udah bibi ke kamar dulu ya" ucap Bi Zah lagi kemudian berbalik badan hendak meninggalkan Rayhan. Namun cepat Rayhan memanggil Bi Zah.

"Bi Zah" ucap Rayhan membuat Bi Zah menghentikan langkahnya untuk ke kamar.

"Iya Mas Ray" Bi Zah membalikkan lagi badannya menghadap Rayhan.

"Risha kalau tidur jam berapa ya? Aku ada perlu sama dia tapi ga enak nanti ganggu" ucap Rayhan lagi, dan herannya mengapa kata ini yang keluar dari mulutnya.

Bi Zah tersenyum kemudian melirik ke arah nampan yang dibawa oleh Rayhan tadi. "Biasanya jam segini udah tidur, tapi kayanya sekarang sih belum".

Bi Zah tahu pasti makanan tersebut Risha yang membuatkannya namun Rayhan gengsi dan malah menanyakan hal tersebut.

"Mas Ray kenapa sih, berantem apa sama Risha" Bi Zah tersenyum kecil mengingat Rayhan yang sepertinya tak mengerti menangani perempuan yang sedang ngambek.

"Ya udah Bi, makasih ya" ucap Rayhan masih tetap berdiri di tempatnya, sedangkan Bi Zah sudah berlalu dari hadapan Rayhan.

Tok... Tok... Tok...

Akhirnya Rayhan memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Risha karena sudah tak ada pilihan lain menurutnya. Ia mendekatkan telinganya ke daun pintu, mencoba mencuri dengar karena sepertinya di kamar Risha tak terdengar suara apapun.

Saat Rayhan sudah hilang harapan, ia meletakkan nampan makanannya di lantai depan pintu kamar Risha. Ia kemudian berbalik hendak ke kamarnya lagi karena sepertinya Risha sudah tidur. "Kelamaan mikir sih lo!" Rayhan merutuki dirinya.

Namun baru selangkah ia melangkahkan kakinya terdengar suara pintu terbuka, sontak Rayhan langsung membalikkan badannya dan tersenyum saat wanita yang sedari tadi ia tunggu telah berada di depannya tengah mengucek matanya yang mungkin masih berat ingin terpejam. Rayhan mendekat dan langsung menggenggam tangan Risha erat.

"Kamu marah sama aku?" tanya Rayhan langsung ke intinya dan di jawab anggukkan oleh Risha, ia jujur.

"Aku mau buang foto itu, tadi cuma mikir--" ucapan Rayhan terjeda dan cepat di sambung oleh Risha.

"Mikirin mau sama dia kan?" ucap Risha cepat masih sambil mengumpulkan separuh nyawanya.

"Bukan" Rayhan menggeleng cepat tak mau Risha kembali salah paham.

"Aku berpikir kenapa ga dari dulu aku sama kamu, aku bodoh banget nungguin orang yang ga pasti" lanjut Rayhan, ia ingin semuanya baik-baik saja saat akan pergi dinas ke luar kota.

Risha tak langsung percaya, ia melepaskan genggaman tangan Rayhan dan langsung masuk ke dalam kamarnya tak mempedulikan Rayhan yang ada di depan kamar. Dengan cepat Rayhan ikut masuk ke dalam kamar Risha dan duduk di lantai karena Risha hanya duduk di tepi ranjang.

"Ngapain?" tanya Risha bingung melihat Rayhan yang ikut masuk ke dalam kamar.

"Ga ngapa-ngapain, kan pintunya juga ga kukunci" jawab Rayhan seadanya.

Risha berdecak kemudian mengambil selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya karena ia menggunakan pakaian tidur kini. Ia menggerutu kecil hingga tak terdengar oleh Rayhan, namun Rayhan tahu Risha masih kesal dengannya.

"Maafin aku, aku ga ada maksud apa-apa. Kamu masih ga percaya sama aku?" tanya Rayhan memelas, ia masih belum bisa menaklukkan hati kekasihnya.

"Emang dia siapa? Inggit." tanya Risha langsung tepat sasaran namun tak membuat Rayhan heran karena ia tahu pasti Risha tahu nama wanita itu dari balik fotonya, Rayhan lah yang menulisnya.

"Dia...masa lalu. Tapi belum sempat sampai berhubungan kaya aku sekarang sama kamu. Dia yang selama ini aku tunggu, memberi janji manis tanpa kepastian" jawab Rayhan menjelaskan garis besarnya.

"Ga akan cukup waktu buat aku ceritain semua, tapi yang jelas dihati aku sekarang cuma kamu the only one Risha" Rayhan kembali mencoba melunakkan hati Risha, di pegangnya tangan Risha, tak ada penolakan.

"Sebegitu dalamnya?" tanya Risha menatap netra coklat Rayhan.

"Dulu, sebelum aku sama kamu. Kalau sekarang itu udah ga pantas diungkit" Rayhan tersenyum kecut mengingat bagaimana ia dulu memuja wanita bernama Inggit.

"Aku dan kamu pasti punya masa lalu Risha, tapi untuk masa depan kita akan bersama selamanya" ucap Rayhan meyakinkan Risha kalau ia sudah tak ada rasa apa-apa lagi kepada wanita yang bernama Inggit.

"Ya udah aku percaya. Tapi sekali kamu bohong ga aku maafin, karena sekali ia pendusta akan tetap seperti itu selamanya" ucap Risha mantap membuat Rayhan menelan ludahnya karena ternyata Risha cukup keras untuk prinsipnya.

"Lebih baik kamu jujur sama aku walau terasa pahit dari pada manis di depan aku tapi ternyata kamu ngasih aku racun yang membunuh aku perlahan. Nyakitin" lanjut Risha karena ia memang paling tak suka dibohongi.

Rayhan hanya bisa diam saat sang kekasih tengah berbicara, ia tahu apa yang Risha sampaikan adalah keluhannya juga atas sikap Rayhan, maka Rayhan hanya mendengarkan agar kelak tak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Risha terlihat sudah lebih tenang saat ini, tangannya masih setia berpegangan dengan Rayhan dan saat ia melihat nampan di luar kamarnya ia pun mengernyitkan dahinya.

"Itu kenapa di luar?" Risha menunjuk nampan yang tadi ia bawa ke kamar Rayhan dengan jari telunjuknya.

"Aku belum makan, langsung kesini mau nemuin kamu. Kamu masih marah?" tanya Rayhan lagi.

Risha tersenyum, ia tak habis pikir kalau Rayhan ternyata memang sudah mencintainya. Kemudian ia berdiri , berjalan menuju pintu dan membawa makanan tersebut ke dalam kamar agar Rayhan segera memakannya.

"Di makan, kasihan cacing-cacing di perut kamu" ucap Risha memberikan nampan makanan kepada Rayhan sambil tersenyum.

Hati Rayhan menghangat melihat senyuman itu terhias lagi dibibir kekasihnya, meluluhkan hati seorang Risha tak cukup mudah ternyata. Ia pun mengambil garpu dan pisau yang sudah tersedia, di potongnya daging tersebut menjadi beberapa bagian. Dimasukkannya potongan daging ke mulut Rayhan, Risha hanya memperhatikan Rayhan yang sangat teratur saat makan, namun tak cukup teratur untuk masalah hatinya.

"Kamu mau?" tanya Rayhan saat sedang menusuk potongan daging lagi.

"Ga, kamu aja" ucap Risha sambi menggelengkan kepalanya.

"Kenapa? Takut gemuk? Nih makan, sekali aja" Risha pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari Rayhan.

Mereka akhirnya makan bersama di dalam kamar Risha, sesekali Rayhan menyuapi Risha dengan tatapan yang penuh damba. Memang sudah tak ada siapapun lagi di hati Rayhan, semua telah terisi dengan nama dan senyuman Risha. Namanya telah terpatri disana maka tak ada lagi siapapun yang akan mengisi hatinya walau hanya seperempat bagian, itu tidak lagi mungkin.

Tanpa mereka sadari sepasang mata tengah memperhatikan mereka di sudut lain, merekam dan memfoto adegan keceriaan mereka di sana. Sangat terlihat kalau keduanya adalah pasangan yang sangat serasi juga harmonis.

*******

Keesokan harinya

"Mas Ray" Risha sudah berada di depan kamar Rayhan berniat membangunkannya karena sudah memasuki waktu sholat Shubuh.

Risha yang sudah lelah memanggil Rayhan akhirnya memutuskan untuk membuka pintu kamar Rayhan yang pasti tidak terkunci. Ceklek!

"Mas Raaaayy" teriak Risha kepada Rayhan yang masih bergelung di bawah selimut.

"Lima menit" jawab Rayhan cepat sambil mengacungkan kelima jarinya ke udara.

"Ga pake lima menit. Nanti mau tugas ke Bandung, cepat bangun Rayhan!" ucap Risha sedikit berteriak.

Risha kemudian menyingkap selimut tebal milik Rayhan kemudian dilipatnya. Dan saat ia sedang berjalan akan mengambil remote AC di atas nakas tangannya langsung ditarik oleh Rayhan membuatnya terjatuh tepat di dada Rayhan.

"Iss kamu apa-apaan sih" kesal Risha, namun Rayhan hanya tersenyum merasai Risha yang berada tepat di dadanya.

"Pagi sayang" ucap Rayhan tersenyum manis, tepat di telinga Risha membuatnya bergidik geli.

"Aku mau bangun nih" ucap Risha merengek karena tangannya tak kunjung di lepas oleh Rayhan.

"Kiss dulu" Rayhan menunjuk pipi kanannya masih dengan senyum dibibirnya.

"Ga mau" ucap Risha masih mencoba melepaskan genggaman tangan Rayhan, namun ia kalah tenaga.

"Sekali aja sayang, pelit kamu" Rayhan merajuk layaknya anak kecil yang minta dibelikan mainan.

"Lepas dulu" Risha memberikan penawaran agar bisa terbebas dari Rayhan, dan tangannya pun dilepaskan.

"Udah sana sholat dulu" Risha mendorong tubuh Rayhan agar ia lekas ke kamar mandi dan berwudhu, namun Rayhan tetap kembali ke tempatnya, menunggu Risha menepati perkataannya.

Namun Risha hanya duduk di tepi ranjang tanpa melakukan apa-apa membuat Rayhan menunggu, akhirnya tanpa aba-aba Rayhan yang mencium pipi Risha. Ia pun terkejut dan wajahnya bersemu, memerah. Dan pelakunya sudah kabur ke kamar mandi

"Kamu aku tungguin ga kiss, aku ajalah" teriaknya dari balik kamar mandi sedangkan Risha hanya menggelengkan kepalanya.

Risha segera berjalan menuju walk in closet untuk mengambil pakaian yang akan dikenakan oleh Rayhan. Lalu terdengar suara Rayhan memanggilnya.

"Rishaaa" teriak Rayhan dari balik kamar mandi.

"Kenapa?" Risha pun berteriak menimpali sambil berjalan menuju pintu kamar mandi.

"Tolong siapin baju aku buat seminggu di Bandung, aku belum packing" ucap Rayhan lagi, ia pun lupa meminta Risha untuk menyiapkannya tadi malam.

Akhirnya Risha mengambil beberapa setel pakaian kerja untuk Rayhan nanti di Bandung dan beberapa setel pakaian santai untuk Rayhan setelah seharian bekerja. Ia juga tak lupa mengambil dasi dan beberapa pakaian dalam untuk Rayhan di sana.

Saat Risha sedang menyusun pakaian Rayhan di tempat tidur Rayhan sudah mengambilkan koper untuk mengepak pakaiannya. Risha langsung mengambil koper tersebut dan menyusun pakaian Rayhan ke dalam koper. Rayhan yang sudah disiapkan pakaian muslim oleh Risha langsung ke kamar mandi untuk mengenakannya.

"Aku sholat dulu ya yang" ucap Rayhan sambil menggelar sajadahnya di lantai.

"Kamu mau sarapan apa?" tanya Risha sebelum Rayhan mulai sholat.

"Apa aja, kamu temanin aku ya. Apa yang kamu masak aku makan kok" ucap Rayhan lagi sambil tersenyum, hati Risha pun menghangat.

Rakaat pertama sudah selesai Rayhan jalankan saat Risha sudah selesai berkemas barang milik Rayhan. Ia juga sudah menyiapkan pakaian yang akan Rayhan kenakan saat perjalanan nanti.

Ia pun segera turun untuk membuat sarapan. Risha bergegas membuatkan teh manis hangat dan nasi goreng telur mata sapi, ditambah irisan timun dan tomat sebagai pemanis.

Dua puluh menit Risha memasak, kini sudah ia letakkan di piring siap saji. Dua porsi nasi goreng dan dua teh manis hangat untuk mereka berdua. Rayhan sudah turun dari kamarnya membawa koper saat jam masih menunjukkan pukul setengah enam pagi.

"Pagi sayang" sapa Rayhan saat sudah di tangga terakhir dengan senyumnya.

"Pagi juga" Risha pun menjawab sapaan Rayhan dan tersenyum ke arah Rayhan.

"Dimakan sarapannya" Risha kemudian mendekatkan piring milik Rayhan ke depan Rayhan.

"Makasih yang" ucap Rayhan, Risha hanya tersenyum. Ia belum bisa membalas ucapan sayang Rayhan untuknya, belum terbiasa.

"Kamu nanti hati-hati ya di jalan. Jangan lupa sholatnya" ucap Risha sambil menyiapkan sendok dan garpu untuk Rayhan.

"Iya, kamu jangan nakal ya. Jaga diri ga ada aku" ucap Rayhan kemudian ia mengusap puncak kepala Risha. Risha pun tersenyum mendapat perlakuan manis dari Rayhan.

"Mau kupakein sekarang dasinya apa nanti aja?" tanya Risha karena melihat Rayhan belum memakai dasinya.

"Nanti aja habis makan" Rayhan kemudian menyendokkan nasi goreng buatan Risha ke dalam mulutnya.

"Masih panas Ray" ucap Risha tiba-tiba karena melihat Rayhan yang sudah memasukkan nasi goreng tersebut ke mulutnya, tapi terlambat.

Risha langsung memberikan minum air putih untuk Rayhan, dan langsung diminumnya sampai tandas.

"Panas Ris buka pedas" ucap Rayhan saat ia sudah meletakkan gelas kosong di hadapannya.

"Tapi diminum, habis lagi" Risha tertawa kecil melihat kelakuan Rayhan.

"Mau ga mau aku" jawab Rayhan lagi asal.

Mereka pun makan bersama di meja makan yang besar hanya berdua, karena para penghuni rumah belum terbangun dan lagi hari ini adalah hari libur. Dan setelah selesai Risha memakaikan dasi untuk Rayhan dan sudah tanpa bantuan Rayhan lagi.

1
nisa
mksih kk ok critanya👍👌
Dewi Anggriani Efendi
ZzzZu
Anyta Djami Lay
visualnya
Aldy Yhla
💖💖💖💖
nie junie
buat pembaca novelku ini, yang mau ikutin kisah anaknya Risha dan Rayhan bisa ke apk yang lambangnya G ya...
terima kasih semua...
salam sayang...
TK
👍
StrawCakes🍰
aku mampir kak💖
StrawCakes🍰: sama-sama kak Junie
total 2 replies
❤ yüñdâ ❤
modus oohh modus 😂😂😂
nie junie: harus dong kak...biar tambah lengket 😂😂
total 1 replies
Bang Regar
👍👍👍👍👍👍
❤ yüñdâ ❤
nerus lg bacanya 🙈🙈🙈
nie junie: maacih kak yun 😗😗
total 1 replies
Neti Jalia
10 like untukmu🤗🙏
🜲 P̶e̶a̶c̶e̶M̶i̶n̶u̶s̶O̶n̶e̶
hmmm
ㅤㅤ ㅤ𓂃𑁍ࠬ·ꗥₜₐₗₗᵧ·🫧 ||
next
🏘⃝Aⁿᵘᴠͥɪͣᴘͫ✮⃝ȋ⏤͟͟͞R🍒⃞⃟🦅
tap tap neng
🏘⃝Aⁿᵘᴠͥɪͣᴘͫ✮⃝ȋ⏤͟͟͞R🍒⃞⃟🦅: udah masuk list..sabar ya🤣
total 2 replies
TK
salam Anne dan Anna 🙏✌️
TK
next Thor
🌷Srie❤💋🍆
baru mampir lg
Rahmalia Maricar
next kak
TK
2 jejak semangat
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ ve
Siapa yg tergila-gila dengan mama Risha, sehingga anaknya jadi korban penculikkan 😱

Semangat thor nie 🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!