Alyra Almeera adalah gadis sederhana, Setelah kematian sang ibu, membuatnya menjadi wanita yang senang mengurung dirinya di rumah, dia hanya menghabiskan waktu, dengan melanjutkan bisnis usaha kue milik peninggalan ibunya.
Dahulu saat dia baru saja kuliah di pertengahan semester delapan, tiba-tiba harus menghentikan kuliahnya, akibat terhambat biaya yang bentrok dengan biaya kebutuhan sehari-hari, dia malah terus mendorong sang adik untuk terus sekolah kejenjang yang lebih tinggi. Dia berharap sang adik yang akan meneruskan cita-citanya.
Tidak ada kisah cinta sebelumnya, hingga sang ayah sakit, dia rela jadi pembantu demi biaya pengobatan sang ayah yang tiba-tiba harus di operasi.
Dia hanya mengabdi pada ayah dan adik satu-satunya. Semua kasih sayang hanya tercurah untuk keduanya.
Hingga dia bertemu dengan pria yang bernama Bayu Samudra, juga keluarga lainnya, dia tidak menyangka jika pertemuan setiap hari akan membuat keduanya jatuh cinta.
ikuti kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ekha dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BDS. Chapter 21( Nasi Liwet)
Tinn...
Tinn..
Clakson panjang terdengar di depan rumah besar itu, Baru saja Uni akan memulai ceritanya.
"Siapa kakak?"
"Nggak tahu."
Lyra mengedikan bahunya lalu bangun mengusap ngusap baju belakangnya yang mungkin saja berdebu.
"Ayo kita lihat kedepan!"
Ajak Lyra meraih tangan adiknya, nampak sorot bahagia terpancar tulus dari si cantik dengan suara yang serak khas itu.
"Sales."
Mobil berhenti di depan rumah Bayu, nampak para pekerja sibuk menurunkan semua yang sudah di beli oleh Bayu.
"Siapa yang membeli ini kak Ly?"
"Mungkin kakak mu."
Ada kasur king size yang nampak sedang di turun juga, "punya siapa?" Lyra menatap wajah sang adik. Murni senyum senyum sendiri.
Ternyata kakak ingin bulan madu di rumahnya, makanya beli kasur baru.
Gerutu Uni dalam hati dengan wajah merah merona, dia nggak kebayang bagaimana sikap jutek kakaknya akan menikmati malam indah dengan gadis di hadapannya.
"Nona, tolong tunjukan kamar Nona?"
pinta para pegawai itu, dan Lyra mengerut kan Alisnya, "Uni mau ganti kasur?"
"Ikhhh...kakak nggak peka banget sih, ya kamar kakak, kalian kan yang pengantin, masa aku ganti kasur."
Suara Murni di iringi senyum riang, melihat Lyra tersipu, bagaimana mereka menghabiskan malam, padahal Lyra tidak tahu maksud sang tuan menikahinya.
Para pekerja sibuk mengeluarkan semua barang-barang yang ada di gudang, semua di pindahkan ke garasi yang tidak terpakai.
Saat mereka, sedang mengangkut barang-barang sebuah pigura foto terjatuh di hadapan Lyra, dia tertegun melihat foto keluarga suaminya.
Nampak di foto itu wajah mereka penuh dengan senyum kebahagiaan, dan dia melihat wajah suaminya terlihat berbeda, saat senyum tercetak indah dari bibirnya.
Dia bahkan belum pernah melihat senyum seperti itu, setelah sebulan bekerja disana.
"Uni, boleh tanya nggak?"
Lyra ragu saat akan menunjukan pigura yang dia sembunyikan di belakang punggungnya.
"Ada apa kak?"
Lyra dengan ragu memperlihatkan foto dalam pigura itu. Murni menangis melihat foto itu, dan terlihat mimik muka kecewa yang terjadi saat itu juga.
"Buang semua itu kak!"
Pinta Uni dengan napas naik turun. Lyra menatap wajah adik iparnya, "Seperti nya ada yang tidak beres dengan keluarga ini." Gerutu Lyra dalam hati menatap manik coklat wajah si cantik Uni.
Lyra meraih tubuh yang terlihat sendu, dia merengkuh dan mengusap perlahan punggungnya. "Kakak cepat simpan foto itu jika kakak Bayu tahu dia akan marah besar."
Lyra tercenung ucapan yang semakin membuatnya penasaran, dia kembali menatap foto itu dengan seksama, dan dia menatap wajah gadis di hadapannya.
Ternyata warna bola mata Murni titisan dari ayah-nya. dia melihat wajah mereka satu persatu dan bola mata Bayu turunan sang ibu, dan bola mata Suci turunan antara ayah dan ibunya.
Di lihat sekilas nampak mereka saat dalam foto itu sedang penuh dengan kebahgiaan. Lyra tidak menyimpan foto itu ke gudang namun dia menyimpannya di dapur di bawah meja kompor.
Dia ingin tahu apa yang membuat mereka pergi, "Uni mau bikin makan siang apa?" tanya Lyra sambil melihat seksama pada wajah gadis itu.
"Sekalian kita bikin nasi liwet, persis seperti di rumah kampung halaman ibu kakak, mau coba?"
"Boleh kak, aku juga sering saat kita makan di Resto sunda, kakak Bay suka banget loh."
"Benarkah."
Murni mengangguk dan mereka sibuk di dapur, dan para pekerja hampir selesai menata kamar Lyra, sekarang terdapat jendela kamar yang tembus langsung pada arah belakang rumah mereka, terlihat bangunan yang ada di belakang rumah mereka terlihat jelas.
Ternyata rumah mereka dalam kawasan tertinggi, Lyra sadar, rumah itu jauh dari kata kumuh dan banjir.
Semua barang-barang di angkut semua, dan para pekerja sudah memasang lemari dan meja rias di kamar itu.
Entah kenapa Lyra tersentuh melihat itu semua, diam-diam suaminya perhatian juga. Namun hatinya kembali gundah, ada apa dengan semua ini, dia takut ada hal yang akan menyakiti hatinya.
Hingga para pekerja telah memasang dan menata kembali seperti ke inginannya Bayu."Sepertinya aku akan tertidur terpisah, dia sengaja memberiku kasur agar dia tidak terganggu sepertinya."
Gerutu Lyra sambil menuang bumbu daun salam sereh, iris bawang merah, dan minyak goreng pada nasi Liwetnya.
"Kakak, ini ikan asin cuminya, aku sengaja minta pak satpam belikan ikan asin di kios depan dekat rumah nasi padang yang ada di depan komplek."
Papar Murni sambil menyimpan kantong plastik di hadapan Lyra, "Uni mau kuliah lagi nggak?"
Pertanyaan yang dari kemarin ingin Lyra sampaikan, "Aku nggak tahu kak, aku masih takut."
"Kenapa?"
"Aku sering di sudut-kan keluarga korban pelakor."
Lyra terhenyak, "itu pembulian Uni, kenapa nggak kamu lapor pada pihak sekolah?" "mana berani dia pemilik dari kampus tersebut."
Lyra menatap wajah cantik di hadapannya, "Sekarang pasti wanita itu sudah pergi, banyak kampus kenapa hanya itu yang kamu mau."
"Disana ada kelompok peserta sekolah musik yang terbaik kak."
Lyra menatap dalam gadis itu, "Uni tertarik pada sekolah menyanyi?" tanya Lyra sambil mencuci baby cumi di wastafel.
"Nggak tahu kakak, aku males, terlalu banyak intrik masuk kelas itu."
"Kenapa?"
"Semakin dekat dengan penerbit dan orang orang dalam kita akan mudah terkenal, jika kita tidak mau menuruti kemauan mereka, mudah saja kita di depak dari sana."
"Ilmu itu penting, jadikan hobby menyanyimu sebagai ranah hiburan, kamu pokus pada pelajaran umumnya.
Artis tidak akan menjanjikan di masa tua, tapi ilmu akan bermanfaat sampai kelak kita tua, kita harus mendidik dan menjaga amanah tuhan di masa mendatang."
Murni termenung, untuk pertama kali ada manusia yang menerobos masuk merobek pertahan hatinya, untuk tidak lagi berkenalan dengan dunia umum penuh intrik.
"Kamu tahu, kakak ly hanya mampu sekolah sampai delapan semester, karena tidak ada biaya, karena berpikir sang adik juga harus sekolah, terpaksa kakak melupakan semuanya."
Lyra nampak sendu mengingat takdir hidupnya, hanya sebatas tukang kue yang setiap hari bermain tepung, "tapi Alhamdulilah Luna adik kakak satu satunya tetap bisa sekolah dan sebentar lagi wisuda."
Jelas Lyra sambil meracik bumbu balado, dia ingin membuat sambal baby cumi hari ini, lalapan dengan makan di gelar di halaman belakang rumah suaminya.
Wangi bumbu nasi liwet, sudah mengeluarkan aroma wangi nasi liwet jempolan, juga tumis sambal baby cuminya sudah mengeluarkan aroma sedap di hidung.
Uni jadi tidak sabar ingin segera makan.
mereka antusisan menggelar karpet di belakang, timun, terong lalapan, daun singkong sambal matah, sambal baby cumi dan kerupuk sebagai pelengkap terhampar di baki bundar yang di lapisi daun pisang.
"Wangi sekali."
DEG.
Suara itu membuat jantung Lyra berdetak tidak karuan, pencurian kiss di pagi hari yang membuat jantungnya serasa ingin loncat kembali dag dig dug.
"Kakak sudah pulang?"
"Pulang dulu sebentar, akan ada acara di hotel nanti."
Jelas Bayu namun matanya tidak memindahkan sedikitpun pada gadis berkerudung dengan baju tunik warna Baby pink. terlihat jelas, rona wajahnya bersinar siang ini, lagging warna senada dengan kulitnya, hampir susah membedakan antara kain dan kulit si cantik Lyra.
Bayu tercenung tidak ada sambutan dari gadis itu, dan dia melihat gadis itu menunduk.
Apakah dia marah saat tadi pagi aku mencuri ciuman di pipinya.
Gerutu Bayu dengan hati tidak karuan, jika berada dekat dengan gadis bermata bulat itu jantungnya menjadi labil, serasa mondar mandir tidak mau diam.
"Mas Bay mau makan bareng kami?"
Wajahnya merah, menahan malu, bagaimana bibir pria itu mendarat di pipinya tadi pagi. untuk pertama kalinya seumur hidup.
"Emang boleh?"
Bayu duduk di samping Lyra dan Lyra semakin kaget, saat pria itu mendekat dan dia memejamkan matanya, padahal Bayu meraih air cuci tangan yang persis di hadapan Lyra.
Lyra malu sendiri, dan rona wajahnya semakin merah, semua adegan itu tidak luput dari pengamatan Uni, ntah kenapa dia bahagia melihat interaksi mereka, yang kadang jutek-jutekan kadang terlihat malu malu.
"Ayo kita mulai baca do'a dulu, mas pimpin ya, ayah juga biasanya yang memimpin saat kita akan memulai makan."
"Apa?"
"Kenapa?"
Lyra kaget saat Bayu mengeraskan suara nya saat di suruh mulai baca do'a. Bayu terdiam, kapan dia berdo'a saat akan makan kecuali saat dirinya teka dulu.
Lyra membaca surat Al-fatihah lalu di lanjutkan do'a makan.
Bayu tersentil hatinya, hal hal kecil seperti itu yang mereka lupakan selama ini, justru masih ada yang melakukan itu semua, dan itu istrinya. Dia merasa semakin lapar, saat nasi mulai di angkat ke atas daun pisang yang terhampar, aroma daun salam, sereh, bawang, dan asap mengepul memenuhi rongga paru-parunya.
"Wangi Mantaaap."
Suara Edo terdengar masuk, dia terperangah melihat karpet terhampar di belakang, dan terlihat menu makan siang yang mengaduk ngaduk cacing di perutnya semakin membuatnya lapar.
"Gila lu Bay, nggak ajak-ajak makan siang, dasar pelit."
Rutuk Edo sambil duduk di samping Murni, dia tidak menunggu do ajak langsung akan melahap sajian di hadapannya.
"Cuci tangan dulu."
Perintah Murni dan jari tangan Eso menggantung, dia malu menggaruk kepala yang pasti tidak gatal, dia tersenyum nyengir dan berdiri mencuci tangannya di wastafel.
Saat akan melahap nasi, suara orang berlari terdengar, Uci, mengendus aroma yang menggiurkan.
"Ada apa ini, Waw?"
Dia mencuci tangan dan langsung menggeser Edo, "mantan pergi jauh-jauh nggak usah dekat-dekat, tak guna."
Bersuara tanpa melihat reaksi Edo yang terlihat merajuk, benar-benar gadis itu mengajaknya putus, padahal dulu gadis itu yang meminta dia untuk jadi pacarnya.
"Ayo makan, jangan berdebat."
Pinta Lyra dan sukses, membuat semua mata memandang, Lyra cuek sambil menyendok sambal baby cumi ke hadapannya.
Mereka makan dalam satu wadah, berkumpul satu lingkaran, dan terasa hangat kekeluargaan yang hilang beberapa tahun ini.
Bayu merasakan hatinya tenang saat berdekatan dengan gadis di sampingnya.
Yang terlihat banyak menunduk hari ini.
Dia jadi merasa bersalah, atas sikap yang tadi pagi dia lakukan, dia tidak berpikir, mungkin saja gadis itu mempunyai kekasih yang dia tunggu, dan dia malah menyeretnya masuk pada kehidupannya.
Tapi masa bodoh dengan itu semua, yang penting sekarang dia miliknya.
Makan seperti kerasukan setan, mereka begitu menikmati sajian makan siang itu, lidah mereka begitu termanjakan dengan hidangan sederhana namun dengan kenikmatan tiada banding.
Entah sudah berapa lama, Bayu tidak merasakan makan enak seperti itu, jika di ingat-ingat itu, ketika ibu dan ayah mereka masih waras saja.
"Alhamdulillah."
Suara Lyra terdengar, dan makan siang ludes tanpa sisa, bahkan tangan Uci, dan Uni memperebutkan sambal baby cumi yang hanya tinggal dua biji.
"Rakus."
"Gembul."
"Husstt."
Peringatan dari Lyra menempelkan jari telunjuk di bibirnya, membuat mereka seketika terdiam, dan nampak keduanya tersenyum kikuk.
Bayu menemukan dunia lain dalam hidupnya, seperti terlahir di dunia baru dengan wajah baru, rasa baru binar, baru kasur baru hahai pengantin baru.
Menghangat rindu suasana seperti itu. entah sudah berapa ribu purnama tidak pernah ada suasana seperti itu di rumahnya, terakhir kali, saat itu ada yang datang mengaku sedang hamil oleh ayah mereka, dari sanalah keretakan tidak bisa terelakan.
Kiki mereka sudah selesai acara makan siangnya, mereka ada yang masuk pada kamar masing masing untuk sekedar ganti baju, dan Murni masih asyik di lantai tiga rumahnya, lebih tepat di rooftop rumahnya melihat mesin cuci baru yang baru saja sang kakak beli.
Edo menunggu bossnya di ruang keluarga, sambil melihat siaran di TV.
Kembali pasangan pengantin itu kikuk, Lyra masih malu atas kejadian tadi pagi.
"Maafkan aku."
Suara Bayu terdengar di samping istrinya, "untuk apa?"
Pertanyaan yang sebenarnya membuatnya bingung menjawab untuk apa, Bayu untuk pertama kalinya merasa kikuk di depan wanita, biasanya dia yang menguasai suasana.
"Mas, untuk apa sebenarnya kamu menikahi ku, aku yakin bukan karena cinta, benar-kan?"
Pertanyaan Lyra terbilang wajar dan masuk akal, wanita mana yang tiba-tiba di serang, dan harus menerima sebuah pernikahan tanpa asal usul yang jelas.
Lyra menunggu jawaban dari bibir suaminya, dia menatap sekeliling kamar yang sudah di rombak menjadi terlihat semakin luas.
Kenapa ada pertanyaan seperti itu, membuat Bayu di landa kebingungan.
Bibirnya terkunci, Sesak galau apa jawaban yang tepat.
"Aku ingin kamu tetap bersama dengan adik-adikku."
"tanpa harus ada ikatan pernikahan pun aku tidak akan meninggalkan mereka tuan."
Lyra entah kenapa harus sedih saat alasan itu yang terdengar, padahal itu alasan paling wajar untuk saat ini, terlalu bodoh jika Bayu ingin menikahinya. bahkan dia tahu selama ini tak pernah ada yang benar-benar mencintainya, bahkan dia mencoba untuk tidak mengenal semua itu.
Cinta terpendam ribuan hari untuk sahabatnya pun, bahkan sampai sekarang masih tersimpan rapat dalam relung hatinya.
"Terimakasih telah jujur padaku tuan, aku tidak akan menghalangi mu dalam melakukan apapun, karena aku sudah tahu, Niat pernikahan ini tercipta hanya untuk menjaga kedua adikku, aku mengerti sekarang."
Lyra mengangguk lalu pergi dari sana. dia tidak tahu kenapa harus sedih. apalagi first kiss tadi pagi berarti semua itu, hanya untuk menggodanya, dan dia merasa begitu rendah dan mudah masuk pada perangkap Bayu.
Bayu ingin meraih tangan gadis itu, hatinya sedih saat mendengar Lyra kembali memanggilnya tuan.
Bayu melihat wajah Lyra datar, dan dia yakin jika Lyra akan lebih kecewa saat dia mengetahui pernikahan itu untuk balas dendam.
Dan dia menyesal memberitahu Sonia akan misi itu, dia ketar ketir mengingat semuanya.
semoga aja mey jodoh nya derek