Menghindar dan bersembunyi dulu aku lakukan, tapi tidak untuk sekarang.
Demi membalaskan kematian orang yang ku sayang, aku harus kuat!
"Apa, apa yang lo tahu, lo bukan siapa siapa gw, jangan masuk dalam kehidupan gw."
"Gw suka kesunyian ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MILA KARMILA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21
Sore harinya, setelah kembali dari sekolah, Leon dkk juga Nesya dkk menuju ke mansion Queen, berniat untuk menjenguk dan memastikan kenapa Queen dua hari tidak datang ke sekolah.
"Wiuh gede bener nih mansion." Takjub Devan yang baru pertama kali datang ke mansion Queen.
"Norak lu." Celetuk Aluna mengejek Devan.
"Tapi emang iya sih, mansion Queen wouw banget." Sambungnya juga mengakui keindahan mansion Queen, meski bukan pertama kalinya dia kemari, tapi matanya tetap tidak bisa berbohong.
"Yeeee Neng, lu juga norak kalo itu." Ejek Devan menyenggol lengan Aluna yang dibalas keplakan oleh Aluna.
"Mau masuk kaga nih, ngobrol mulu lu pada." Tegur Arkan, sontak Nesya langsung masuk terlebih dahulu.
"Buset." Ucap Arkan yang langsung mengikuti langkah Nesya, juga diikuti yang lain.
Nesya membunyikan bel mansion itu dua kali, keluarlah Bi Inem.
"Bi, masih inget kita?" Tanya Nayla muncul dari belakang Nesya. Sontak Bi Inem melihat satu persatu wajah Nesya dkk, juga Leon dkk.
"Oh, ini temen temennya non Queen, kan ya?" Ucap Bi Inem mengingatnya.
"Iya Bi, betul." Senyum Aluna disamping Nesya.
"Masuk dulu, Bibi buatin minum, pasti kalian cape, habis pulang sekolah langsung kesini." Ucap Bi Inem mempersilahkan untuk masuk, Nesya dkk juga Leon dkk duduk di ruang tamu mansion.
Taklama Bi Inem kembali membawa beberapa gelas minum dalam satu nampan.
"Ini, ayo diminum." Ucap Bi Inem.
"Ah ya Bi, makasih ya." Ucap Devan.
"Bi, sebenarnya kita kesini mau ketemu sama Queen, soalnya dia dua haru udah nggak masuk ke sekolah, kita khawatir gitu Bi, kali kali ada sesuatu sama Queen, kita kan bisa bantuin." Ucap Nesya mengucapkan maksudnya datang kemari.
"Begini Non, Bibi sebenarnya juga nggak tahu non Queennya kenapa, tapi kata den Alex, mereka lagi ada urusan." Jawab Bi Inem.
"Urusan apa, Bi?" Tanya Leon yang malah menjadi penasaran.
"Kurang tahu Den, den Alexnya nggak bilang urusannya apa." Jawab Bi Inem.
"Atau jangan jangan bener kata si Aluna, Queen ditangkep sama polisi." Ucap Devan.
"Hah?! kenapa gitu Den?" Tanya Bi Inem yang terkejut.
"Emmmm, gini Bi, sebenarnya dua hari yang lalu, Queen mukulin tiga orang, sampai mereka masuk rumah sakit." Jawab Nayla menjelaskan dengan ragu.
"Aduh... siapa yang dipukuli Non, Bibi khawatir sama non Queen sekarang." Ucap Bi Inem langsung khawatir akan kondisi Queen sekarang.
"Anu Bi, sebenarnya yang Queen pukulin itu anaknya orang terkaya dinegara ini, putri keluarga Adhitama." Jawab Arvino yang sedari tadi diam menyimak.
Bibi yang mendengar itu langsung terkejut, menutup mulutnya yang membentuk huruf O, bagaimana tidak, Queen sudah bertemu dengan salah satu keluarga Adhitama, pasti akan terjadi sesuatu, secara Bi Inem sudah tahu kejadian sepuluh tahun yang lalu, juga Queen yang merupakan pewaris satu satunya yang tersisa dari keluarga Aurora, keluarga terkaya di dunia.
"Ada apa, Bi?" Tanya Nesya yang melihat ekspresi Bi Inem yang tidak biasa.
"Tidak apa apa, Bibi hubungi den Alex sebentar, siapa tahu dijawab." Ucap Bi Inem langsung menuju telpon mansion yang setia bertengger ditempatnya.
Setelah beberapa kali menelpon nomor Alex, Alex akhirnya mengangkat panggilan Bi Inem.
"Den, non Queennya baik baik saja, kan?" Tanya Bi Inem, sontak yang lain langsung menyimak dengan seksama.
"......"
"Oh gitu Den, Bibi lega dengernya, ini kebetulan ada temen temen non Queen di mansion."
"......"
"Tujuh orang den, yang kemarin sama ada tiga laki laki."
"...."
"Yaudah den, Bibi tutup panggilannya."
Bi Inem langsung menutup panggilannya, dan kembali pada Nesya dkk.
"Gimana Bi? Queennya baik baik aja?" Tanya Aluna.
"Non Queen baik baik saja, Non Queen nginep di rumah den Alex, sekarang mereka mau kesini sebentar lagi, kalian semua disuruh tunggu disini." Ucap Bi Inem tersenyum lega.
"Oh gitu Bi, yaudah kita tungguin aja Bi, kita juga udah kangen sama Queen." Senyum balik Aluna.
"Kalau bosen keliling aja Non, Den, kalau mau ditaman belakang aja, ada tempat buat santai sama kolam renangnya." Ucap Bibi.
"Emmm, boleh Bi?" Tanya Nayla ragu.
"Boleh dong Non, kan kalian teman temannya non Queen, baru kali ini ada temen non Queen dateng kesini loh." Ucap Bibi tersenyum.
"Yaudah Bi, boleh, Bibi anter aja ya Bi, takutnya kita nyasar gitu." Ucap Nayla, Bi Inem langsung mengangguk berjalan mengantarkan Nesya dkk diikuti Leon dkk ke taman belakang mansion.
"Nah nih, main aja, Bibi masak dulu." Ucap Bi Inem meninggalkan taman.
"Makasih, Bi." Ucap Arkan.
"Gilek! nih taman bisa dibuat foto foto guys, auto jadi selebgram nih gw." Senang Aluna langsung mengeluarkan handphone nya untuk berfoto foto.
Sedangkan para laki duduk disudut taman, melihat para ciwi ciwi yang sedang asik berfoto ria.
"Emang ya kalo cewek, lihat apa aja yang bagus langsung jepret sana jepret sini, apa lagi kalau dikasih seblak, beuhhhh gila langsung cling." Ucap Arvino.
"Hahaha bener tuh, bener banget, sama kayak nyokap gw, setiap marah langsung dikasih seblak sama bokap gw." Ucap Arkan yang menyetujui ucapan Arvino.
"Apa lagi kalau PMS." Imbuh Devan.
"Sa ae lu pada." Ucap Leon yang tertawa kecil akan lelucon teman temannya, tapi dia juga menyadari bahwa memang seblak adalah makanan kesukaan para kaum hawa.
"Gw ke toilet bentar." Ucap Leon langsung berdiri meninggalkan area taman.
"Eh emang dia tahu dimana toilet?" Ucap Arkan.
"Tau, biarin aja, palingan juga ntar tanya sama yang didalem." Jawab Arvino cuek.
Sementara Leon terus berjalan mencari keberadaan toilet, hingga dia menemukan satu ruangan kecil, yang dia kira adalah toilet, tanpa berpikir panjang, dia langsung memasuki ruangan itu.
Namun saat dirinya masuk, Leon bukan mendapati sebuah toilet, melainkan ruangan yang diisi beberapa senjata juga beberapa foto yang terpasang.
"Apanih?" Leon mulai mengekspor ruangan itu, mengamati satu persatu foto disana, membaca satu persatu nama yang ada dibawah foto tersebut.
"Glan Aurora, Absa Glan Aurora, Kirana Aurora." Ucap Leon membaca semuanya, ia langsung bergeser pada foto lainnya.
"Elqueena Aurora, Alqueena Aurora" Leon membaca dan melihat foto El dan Al kecil, mereka berdua sangatlah sama, bahkan sangat identik.
"Apanih, mukanya mirip banget sama Queen, namanya juga sama, cuman beda satu huruf depannya doang, apa dia kembarannya? tapi semuanya Aurora."
"Nih juga, senjata keren keren abis." Ucap Leon mengamati satu persatu senjata api yabg terjejer rapi disana.
"Mending gw keluar aja, dari pada gw kenapa kenapa, lagian beginian doang di gw banyak." Sambung Leon langsung meninggalkan ruangan itu, saat keluar dia berpapasan dengan Bi Inem.
"Loh Den, kenapa disini?"
"Ah engga Bi, saya cuman cari toilet, kebelet Bi." Jawab Leon.
"Oh disana, Den." Tunjuk Bi Inem pada arah toilet, Leon langsung mengangguk pergi ke toilet.
Setelah beberapa saat di toilet, Leon telah kembali bergabung bersama dengan teman temannya, namun dia malah terus asik menatap layar handphone nya, entah apa yang dia lihat, hingga matanya sampai membulat.
"Hah, j-jadi keluarga Aurora keluarga terkaya di dunia itu, tapi kenapa disini ditulis kalau seluruh anggota keluarganya meninggal dunia, tapi foto tadi, apa dia adalah satu satunya yang tersisa, apa mungkin Aurora masih menyandang gelar keluarga terkaya karena ada satu anggota yang tersisa, tapi disini tidak tertulis ada yang tersisa, bahkan tertulis Elqueena tidak memiliki saudara." Batin Leon setelah membaca keseluruhan berita yang tersaji dalam web yang cukup akurat dan terpercaya.
"Tapi kalau emang bener dia salah satu, atau bahkan satu satunya yang tersisa, dia bakal muncul buat balas dendam sama pelakunya, tapi siapa pelakunya?" Batin Leon lagi terus berpikir.
"Lu kenapa? dari tadi bengong mulu lu." Ucap Arkan menyenggol lengan Leon.
"Kaga, ntar gw kasih tahu di rumah." Ucap Leon memasukkan handphone nya kedalam saku celananya.