Di sarankan membaca "SANG PENGANTIN BAYARAN" lebih dulu, karena semua tokoh berkaitan erat dalam novel tersebut.
Alexavier Bancroft, menjadi duda di usianya yang masih muda. Istrinya, Melanie Rendra, meninggal satu hari setelah melahirkan bayi perempuan cantik secara prematur yang di beri nama, Sunny Chalondra Bancrof.
Berbagai tekanan dari keluarga mertuanya membuat Alex berusaha move on dari masa lalunya, namun sulit bagi dia untuk kembali membuka hati pada wanita manapun yang ia temui.
Keluarga Rendra, menjodohkan Alex dengan keponakan mereka bernama Felicia, namun hati Alex berkata lain, ia tertarik pada wanita yang menjadi pengasuh putrinya, Nora Arabella.
Akankah Alex bisa bertahan dengan hatinya untuk memilih Nora, atau memilih untuk mundur dan menerima perjodohan itu dengan rela?
---
WARNING 21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vey Vii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Pesta
Felicia menawarkan diri karena kegiatannya hari ini memang kosong. Semua kebutuhan dari aksesoris hingga gaun yang akan ia pakai untuk mendatangi undangan bersama Alex sudah beres.
"Bagaimana? apa aku boleh ikut?" tanya Felicia sekali lagi.
"Hmm, apa nggak merepotkan?"
"Aku senggang."
"Baiklah. Sepertinya aku juga akan butuh bantuanmu," ucap Alex.
Mereka meninggalkan mall dan langsung menuju rumah Alex, namun Felicia terkejut, ternyata yang di maksud Alex bukanlah rumah dari keluarga Rendra, melainkan rumah yang lain.
"Rumah siapa ini?" tanya Felicia saat mereka sampai di gerbang rumah.
"Rumahku bersama Melanie. Mulai besok, aku akan membawa Sunny tinggal bersamaku."
"Kamu yakin? lalu siapa yang mengurusnya?"
"Aku sudah memilih pengasuh untuk merawat Sunny selama aku bekerja," jawab Alex. "Dia sudah mulai kerja 2 hari ini di rumah papa dan mama, sebagai percobaan sekaligus mama ingin mengawasi kinerjanya," lanjutnya.
"Hmm, itu bagus. Mencari orang kepercayaan di jaman seperti memang sulit. Kamu harus selektif apapun tentang Sunny," ucap Felicia.
"Tentu saja, aku melakukan segalanya untuk Sunny. Dia pusat dari hidupku."
Memasuki halaman rumah, Felicia sudah melihat banyak sekali tanaman bunga yang tertata rapi di setiap sudut. Terdiri dari tanaman air seperti teratai, hingga bunga mawar dan lili berwarna putih. Ada juga beberapa jenis anggrek yang tergantung dengan cantik.
"Aku tau semua itu favorit Melanie," seru Felicia.
"Rupanya, kamu tau banyak hal tentangnya. Aku berusaha tetap merawat semua yang ia sukai. Aku masih merasa dia disini," ucap Alex, matanya mengedarkan pandangan pada sekeliling taman.
Dulu, meskipun Melanie sering kambuh karena tubuhnya merasa nyeri luar biasa, wanita itu selalu sempat menyiram setiap jengkal tanah di taman ini, ia tidak pernah mau tugas itu di kerjakan orang lain selain dirinya.
Melanie merawat semua tanaman yang ia miliki dengan penuh kasih sayang, setiap hari ia sibuk dengan kegiatannya merawat bunga-bunga yang masih kuncup dan baru mekar. Setiap satu minggu sekali, ia rutin meminta tukang kebun untuk membeli berbagai pupuk penunjang kesuburan tanamannya.
Alex memang mengkhawatirkan keadaan Melanie saat itu, namun melihat istrinya selalu tampak ceria dan bahagia, membuat Alex menahan diri untuk memberikan larangan, ia hanya sekedar membatasi jam-jam kesibukan Melanie agar lebih mengutamakan istirahat.
"Rencananya, aku akan beli beberapa alat permainan, seperti ayunan, jungkat-jungkit, perosotan, dan semacamnya. Aku ingin Sunny betah tinggal di rumah ini," ucap Alex pada Felicia.
"Anak seumuran Sunny memang belum waktunya untuk fokus belajar, ia harus mengenal lingkungan lebih baik dan menghabiskan masa kecilnya dengan bermain. Itu lebih bagus untuk merangsang perkembangan otaknya," ujar Felicia.
Alex pun mengangguk setuju, itulah alasannya ia belum pernah memikirkan mencari guru pendamping ataupun memasukkan Sunny ke sekolah kanak-kanak. Bagi Alex, umur Sunny masih belum cukup, Alex lebih ingin memastikan Sunny puas menjalani masa kanak-kanaknya yang menggembirakan.
Alex masuk bersama Felicia, beberapa pelayan yang sibuk membantu dekorasi ruangan menatap penuh heran. Semenjak kematian Melanie, Alex tidak pernah sekalipun membawa wanita ke rumah ini.
"Mau minum apa? aku akan minta pada pelayan," tawar Alex.
"Ah, nggak usah repot-repot."
"Baiklah, aku akan cek dekorasi kamar Sunny dulu. Kamu bisa duduk dan meminta sesuatu pada pelayan jika ingin," ujar Alex, lalu ia berlalu pergi meninggalkan Felicia yang duduk di ruang tamu.
Ruang tamu yang tidak terlalu mewah, nampak minimalis dengan gaya klasik seperti kesukaan Melanie, Felicia mengedarkan pandangan menelusuri setiap jengkal dinding.
Terpajang dengan rapi foto-foto pernikahan Alex bersama Melanie, foto-foto kebersamaan mereka selama menikah, juga beberapa foto yang memperlihatkan Melanie dengan perut buncitnya.
Felicia mendekati meja di pojok ruangan, ia mengambil foto Melanie dalam pigura kecil berbentuk hati.
"Hallo, Sister. Aku rindu," gumam Felicia pelan, ia mengelus wajah Melanie yang tersenyum sambil membawa buku majalah.
Dulu, saat mereka masih kecil. Melanie lah yang menyemangati Felicia untuk bisa menjadi model, karena sedari kecil Felicia suka sekali berpose di depan kamera, berdandan cantik dan berlenggak lenggok layaknya peraga busana.
Berbeda dengan Melanie, wanita itu lebih suka menulis, menciptakan karangan berupa puisi atau novel fiksi. Sejak usia Melanie 15 tahun, buku yang ia tulis sudah naik cetak hingga terjual ribuan buku. Melanie juga menyukai dunia peran, namun kegiatan itu ia hentikan setelah mengetahui kanker bersarang di tubuhnya. Sejak saat itu, Melanie fokus menulis karya-karya hebatnya tentang pejuang leukimia.
Felicia duduk sambil terus memandang wajah sepupunya, berbagai ingatan ketika bersama berlarian di kepalanya. Indah, ia merasa sangat menyesal karena tidak bisa bertemu dengan Melanie untuk yang terakhir kalinya.
Saat kembali meletakkan foto ke tempatnya semula, ia di kejutkan dengan sapaan pelayan.
"Nona, ini minumnya," ucap pelayan tersebut.
"Oh, ya. Terimakasih," ucap Felicia sopan.
Setelah mencicipi minuman yang di hidangkan, Felicia ikut membantu orang-orang yang sibuk mendekorasi ruang tamu.
Sekali lagi, ingatan itu muncul. Saat pesta ulang tahun Melanie puluhan tahun yang lalu, kala itu mereka masih berusia 13 tahun, Melanie sangat menyukai dekorasi pesta dengan kombinasi warna merah muda dan putih.
"Bisakah tulisan itu di geser ke arah sana. Karena itu nanti bisa di pakai untuk backgraund foto," saran Felicia pada seorang laki-laki.
Beberapa saat orang tersebut tampak berpikir, kemudian menyetujui saran Felicia.
"Kue ulangtahun seperti apa yang akan di pesan nanti?" tanya Felicia pada pelayan.
"Seperti ini, Nona." Pelayan memberi sebuah foto tentang rencana kue yang akan di beli.
"Pakai dekorasi merah muda dan putih untuk pinggiran kuenya. Uukuran tidak menjadi jaminan kue itu bagus, pastikan rasanya juga enak," ujar Felicia lagi.
"Oh ya Satu lagi, seharusnya bunga-bunga yang di pajang hanya ada dua warna, biar nggak terlalu ramai, itu norak. Pakai merah muda dan putih, kesannya kalem dan tenang," lanjut Felicia.
Beberapa orang yang sedang ikut andil membantu, merasa penasaran dengan sosok Felicia di hadapan mereka. Wanita cantik dengan rambut di kuncir kuda itu mempunyai selera yang hampir mirip dengan majikan mereka yang telah meninggal, siapa sebenarnya Felicia?
Semua orang penasaran, kecuali Alex. Laki-laki berambut silver itu di buat kagum dengan selera Felicia yang menyamai Melanie. Tidak heran, foto mereka sewaktu masih kecil bagai pinang di belah dua.
Alex mendekati orang-orang, ia meminta semuanya mengikuti saran-saran Felicia, Alex pun sependapat dengan apa yang Felicia katakan, tentang dekorasi, warna dan kue.
"Kamu sangat membantu, Fel. Terimakasih banyak," ucap Alex.
"Senang rasanya. Ini ulang tahun keponakanku, aku bahagia bisa membantu."
🖤🖤🖤